Chris & Martina: The Final Set

Chris & Martina: The Final Set

Download Indonesian Subtitle

Release info

Chris and Martina The Final Set 2026 NF WEB H264-EDITH
A Commentary by tedi
Retail NF | 1:37:50

Tags

webdl
Published on: 2026-06-26
Downloads: 20
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Harap segera duduk.

Dilihat dari jumlahnya, mereka telah mencatat rekor baru penonton di stadion.

Chris Evert Lloyd melawan Martina Navratilova.

Dua petenis terbaik dunia.

Ini pasti akan seru.

Pertandingan ini takkan dimenangkan dengan mudah.

Benar.

Dia mencapai bolanya, tapi tak berhasil memukulnya!

Poin yang mengagumkan!

Kunci rivalitas adalah membuat satu sama lain lebih baik.

Dan menjadikan cabor mereka lebih baik. Itu mimpinya.

Poin mengagumkan lainnya.

Ini bagai Godzilla melawan Mothra.

Rivalitas mereka sengit.

Permainan mereka agresif.

Dari semua rivalitas seru dalam olahraga…

Ali, Frazier.

Dua juara yang bertarung sebaik mungkin.

Larry Bird hampir membalaskan dendamnya

dalam pertarungannya melawan Magic Johnson.

Tak diragukan lagi, ini rivalitas terdahsyat dekade ini.

Bagiku, tak ada rivalitas dalam cabor mana pun

yang setara dengan Chris Evert melawan Martina Navratilova.

Mereka berduel 80 kali.

Itu benar-benar dahsyat.

Sosok pengejar kejayaan paling agresif dan tenang di bawah tekanan

yang kita temui seumur hidup kita.

Kurasa mereka enggan mengakui sengitnya rivalitas mereka.

Advantage, Navratilova.

Astaga!

Mereka terus bertarung di lapangan tenis.

Kini mereka berusaha menyelamatkan satu sama lain.

2023 - KOTA NEW YORK

Aku masih merasakan trauma datang ke sini.

Ya.

Itu kurasakan saat hadir di US Open karena aku selalu bahagia berada di sini.

Tapi tujuh pekan penuh penderitaan itu sungguh berat.

- Tok, tok. - Halo!

- Astaga, hai. Kau cantik. - Halo. Terima kasih.

Kau cocok berambut pendek.

Tapi aku beberapa kali dikira laki-laki.

- Senter. - Julurkan lidahmu.

Aku gugup. Ini pemeriksaan pertamaku

sejak pengobatanku selesai empat bulan lalu.

Tarik napas dalam-dalam.

Aku didiagnosis mengidap kanker payudara dan tenggorokan.

Aku menjalani lumpektomi di payudara kanan.

Lalu ada terapi proton dan kemoterapi pada tenggorokanku.

Situasinya sangat berat.

Pengobatanmu belum lama selesai.

Bagusnya, sesi kemoterapimu sudah selesai,

tapi jika kau melihat panduan pemantauan untuk kanker kepala dan leher,

kurasa ada baiknya kau menjalani PET scan dalam setahun.

Jantung yang kuat. Tolong berbaring.

Sekarang aku bisa berjalan 0,8 kilometer

dan itu sama sekali tak menggangguku.

Bagus. Kau minum obat pereda nyeri?

- Tidak. Tak ada. - Oke.

- Maaf. Pusarku agak sensitif. - Ya.

- Itu dimasukkan lewat hidung… - Ya. Tak apa?

Bernapaslah lewat hidung.

- Katakan, eee. - Eee.

Bagus.

Bagus sekali. Wow.

Julurkan lidahmu.

- Astaga! - Sudah. Tak apa.

Sial!

Tak apa-apa, Lulu.

Santai saja sekarang.

Tinggal menunggu saja.

Berikutnya dr. Wong.

Menunggu untuk tahu apakah aku sudah bebas kanker

dengan stres akibat kanker yang terus membayangiku.

Terakhir kali kita bertemu, kau tak mengalami simtom apa pun.

Benar.

Sayangnya, kali ini,

kabarnya kurang baik.

PET/CT mendeteksi sel kanker.

Aku bertanya pada timku, dan kami semua setuju

kau harus menjalani kemoterapi agresif.

Jadi, pertama, kau akan mengalami kelelahan, rambutmu rontok.

Kita tahu itu akan terjadi. Akan kami pantau…

Begini. Aku baru saja senang dengan pertumbuhan rambutku.

Sekarang akan rontok lagi? Kau bercanda?

Aku tahu. Maaf. Ya.

Kita akan terus berjuang. Kau pejuang. Aku pejuang. Oke?

Sekarang kita…

Aku kena kanker ovarium dua tahun lalu.

Sekarang kankernya kambuh lagi.

Kupikir, oke,

ini pertempuran hidup atau mati.

Aku harus fokus.

Aku harus membereskan masalah apa pun yang kuhadapi dalam hidup.

Sebagian kekuatanku saat bermain tenis membantuku menghadapi kanker ini.

Daya tak berwujud,

baik emosional maupun mental.

Jika fokus pada sesuatu,

aku akan bekerja paling keras dibandingkan semua orang.

Dan aku akan mewujudkannya.

Pada tahun 1970, tenis putri makin populer.

Ada banyak petenis hebat.

Rosie, Virginia, Billie Jean.

Billie Jean King, juara tenis dunia

dan pemimpin revolusioner wanita yang istimewa.

Banyak perempuan jadi lebih baik.

Mereka merasa berhasil. "Aku tak perlu minta uang orang tuaku.

Aku berhasil karena andal. Uang itu hasil kerjaku."

Lalu muncullah Chrissie.

Aku pertama kali melihatnya di US Open.

Dulu semua orang memakai teknik serve and volley, bermain di depan net.

Tiba-tiba, gadis berusia 16 tahun ini

memukul bola ke arah lawan dari baseline,

mengubah segalanya.

Evert.

Jika ada yang gugup di sini, jelas bukan Christine Marie Evert.

Aku hadir di stadion

menonton pertandingan pertama Chrissie melawan Mary-Ann Eisel.

Dia tertinggal enam poin.

Gadis itu bangkit.

Chrissie Evert.

Dan dia menang.

Aku terperangah.

Aku tak mengira kau bisa menjadi pemain hebat sebelum dewasa.

Dan Chrissie mewujudkannya.

Chrissie Evert melawan Billie Jean King.

Lob lagi, yang bisa meraih poin!

Semua menganggap dia imut.

Kalian tak harus melawannya.

Chrissie meraih poin.

Berita penting hari ini, pesan ekonomi Presiden Nixon

dan masa depan hubungan dagang Jepang-Amerika dan sebagainya.

Tapi bagi banyak orang, sosok yang penting adalah gadis 16 tahun dari Florida.

CHRIS EVERT KECIL

BINTANG BARU

Ada satu masalah besar.

Kau harus masuk kelas pukul 08.05 di St. Thomas Aquinas.

Kau bisa datang?

Ya, aku akan datang walau setengah tertidur.

Chrissie, sepanjang pekan, semua membahas tentang tekanan pada gadis 16 tahun.

Apa kau merasa tertekan?

Aku tak merasa tertekan. Aku akan melawan petenis terbaik,

jadi, aku takkan rugi, dan mereka bisa rugi besar.

Chrissie Evert belum pernah kalah sejak Maret.

Chris Evert menang. Kalian dengar pengumumannya.

Tapi petenis putri profesional tak bersikap baik padanya.

Mereka berpikir,

"Kami kerja keras, melewatkan enam pekan bersama reporter Newsweek.

Dan fotonya dipajang di sampul."

Para wanita yang lebih tua tak senang aku menjadi pusat perhatian.

BAHAGIA BISA MENYAMBUT CHRIS

Tak ada yang mengajakku bicara saat aku ke ruang ganti.

Banyak petenis putri tak suka

karena dia gadis cantik dan manis

yang berhasil mengalahkan mereka semua.

Kurasa itu yang menyebalkan.

Dia sangat hebat.

Dia buktikan di usia belia.

"Ini tempatku."

Aku agak lebih muda dari Chrissie dan aku terkesan padanya.

Dia muncul ketika mereka membutuhkan pemain baru

dan seseorang yang bisa menarik perhatian penonton.

Kau melihatnya dan akan terkesan dengan kecantikannya.

Feminin, tapi mematikan di lapangan.

CHRIS EVERT PERPANJANG REKOR KEMENANGAN

Aku senang karena selalu khawatir cabor tenis membutuhkan superstar.

SUPERSTAR TENIS

Kupikir, "Dia akan jadi superstar."

Dalam tiga tahun terakhir, jumlah orang yang bermain tenis berlipat jadi 20 juta.

Chrissie berhasil.

Tenis putri kini sangat populer.

Demam Chrissie telah dimulai.

Kubilang pada para wanita,

"Kita mulai dengan baik, tapi kita butuh generasi kedua."

Mereka pintar. Pikirkanlah.

Hatiku meyakini superstar berikutnya sudah ada.

Pertandingan usai. Chris Evert menang.

Kemenangan Chris Evert yang ke-84.

Ini championship point bagi Nona Evert.

Nona Evert memenangkan gelar juara Wimbledon.

Chris Evert, juara 1974, kini menjadi unggulan pertama.

Saat tumbuh dewasa, aku berlangganan majalah World Tennis.

Chris Evert muncul di majalah itu.

Kupikir itu keren.

REVNICE - REPUBLIK CEKO

Aku tumbuh di luar Praha.

Ayo.

Lima tahun, mulai memukul bola ke tembok.

Kata Ayah, "Bilang jika bisa pegang raket dengan satu tangan."

Jadi, selama dua tahun, aku memukul bola ke tembok dan main berjam-jam,

melatih backhand ke tembok.

Kami di klub tenis seharian.

Saat akhir pekan dari pagi sampai malam. Kami cuma pulang untuk makan siang.

Begitulah hidup kami.

Lalu saat usiaku tujuh tahun,

di lapangan inilah aku mulai memukul bola pertamaku.

Melewati net.

Ayahku menghabiskan berjam-jam di lapangan denganku.

Itu caraku menghabiskan waktu bersama ayahku dan aku suka.

Tank dan infanteri Rusia telah menduduki Cekoslowakia

dan menggulingkan kepemimpinan baru negara kecil itu.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left