The first 200 lines.
- Na. - Ya, Pak?
Kau yakin si berengsek itu akan datang ke pelabuhan ini?
Ya. Orang kaya seperti dia pasti akan kabur.
Pelabuhan ini milik teman ayahnya.
Mau ke mana lagi dia?
Dia tak bisa ke bandara karena polisi berjaga di sana.
Benar, 'kan?
Tolong.
- Astaga. - Kenapa menurunkan jendelanya?
Kau kentut?
Lagi? Sialan.
Jangan buka pintunya. Semua orang akan tahu kita di sini.
Kita harus duduk di sini dan mencium kentutmu? Pergi buang air.
- Tidak, kita harus menangkap dia. - Dia masih lama.
Aku bisa melewatkannya.
- Pergilah buang air. - Kau gila?
- Siapa kau... - Diam.
- Astaga. - Kembali ke dalam. Tutup pintunya.
- Aku mau muntah. - Kita bisa ketahuan. Tutup jendelanya.
Aku kentut banyak sekali.
- Turunkan jendelanya. - Dia datang.
Tersangka di sini.
Unit Investigasi Tiga butuh bantuan.
Dia memukuli gadis sampai mati.
Apa dia dibesarkan oleh iblis?
Lihat, dia begitu tak peduli.
Apa tim bantuan akan segera datang?
Sepuluh menit lagi.
Baik. Kita tunggu.
Dasar berengsek.
Ran, kau tak mau menunggu?
- Menunggu apa? - Ayolah.
Kau tak mau menunggu? Mereka akan segera tiba.
Ayo.
PIMDAO
Nomor yang Anda hubungi sedang berada...
PIMDAO
Jangan bergerak! Berhenti!
Jangan lari. Berhenti!
Kalian, mundur. Aku mencari Wisarut.
Mundur. Angkat tangan.
Tenang, Aran. Mari bicara. Aku di pihakmu.
Kata siapa? Aku bukan polisi korup sepertimu
yang dipecat dan bekerja untuk bos besar. Mundur.
Ini pelanggaran serius. Mundur.
Kubilang, mundur.
Pak.
Kami tak bersenjata.
Kau mau menembak orang tak bersenjata?
Kalian bilang aku tidak adil?
Sialan, Ran.
Berhenti, Wisarut.
Siapa kau?
Kenapa kau menembakku?
Aku akan lapor kepada ayahku.
Namaku Aran.
Bilang kepada ayahmu, aku yang akan memasukkanmu ke penjara.
Bangun, Berengsek.
Letnan.
Terima kasih.
Pusat Layanan Darurat 112.
Ini Sub-Letnan Polisi Irin.
Tolong aku.
Ada yang mencoba membunuhku.
Tolong aku.
Ada yang mencoba membunuhku.
Anda di mana?
Aku tak tahu.
Di gang di daerah Maen Si.
Taksi mengeluarkanku di tengah perjalanan.
Tunggu sebentar.
Ada apa?
Wanita di telepon bilang
ada yang mencoba membunuhnya.
Dia tak bisa mengatakan alamat pastinya. Sepertinya dia terluka.
- Sambungkan kepadaku. - Baik, Pak.
Tenanglah, Nona.
Coba jawab pertanyaanku.
Bisa beri tahu posisi Anda?
Lihat ke sekitar Anda.
Apa ada bangunan di dekat sana?
Halo, Nona?
Halo?
Hubungi dia lagi.
Tunggu apa lagi?
Kenapa tak menghubungi dia lagi?
Jangan takut. Kalau tidak,
kau tak bisa bekerja di departemen ini.
Baik, Pak.
Halo, Nona.
Halo.
Halo.
Tolong aku.
Bisa beri tahu lokasi Anda?
Sudah kubilang aku tak tahu.
Tolong aku.
Tolong aku.
Nona?
Nona?
Nona?
Nona?
Nona?
Nona?
Nona?
Kumohon jangan bunuh aku.
Lepaskan aku.
Anakku membutuhkanku.
Kumohon jangan bunuh aku.
Seharusnya kau tak melakukan itu.
Nona?
Halo?
PISAMAI'S
Astaga.
Ini dia.
Sudah semua.
PIMDAO TUJUH PANGGILAN TAK TERJAWAB
Bagaimana tanganmu, Ran?
Aku sedang berobat.
- Ini tumis kangkungnya. - Apa itu antibiotik?
Dengar.
Jangan di sini sampai malam.
Aku sendiri. Tak ada Sa yang membantu.
Apa? Sa tidak ada?
Tidak ada.
Sial, aku pergi saja.
Astaga.
Mulutmu manis sekali.
Jika ingin mendekatinya, kau harus gerak cepat.
Banyak pria mendekatinya.
Aku tak akan menghalangi dia ingin berkencan dengan siapa.
Tapi jika ingin mengencani polisi,
aku akan katakan satu hal.
Dia harus bersabar.
Jangan sampai Sa mengencaninya.
Tak boleh kencan dengan mereka.
Ayolah.
Berhenti mengekangnya.
Sa tak akan melirik polisi miskin seperti kalian.
Lupakan saja.
Ayolah.
Kau tak pernah tahu.
Jika kita bekerja keras,
kita bisa membuat kagum Kepala dan dipromosikan.
Bagaimana? Habis buang air lagi?
Bagus. Kenapa tidak dari sebelum bekerja?
- Aku memang begini. Cium jariku. - Sial.
Omong-omong promosi,
kurasa jika aku tetap bekerja dengan kalian,
kita tak akan panjang umur. Lupakan saja soal promosi.
Kau akan dipromosikan ke pangkat yang tinggi.
Itu jika dia tidak mati saat bertugas.
Kau tak mau jadi jenderal?
- Aku harus naik berapa pangkat? - Tujuh.
LETNAN DAN
Istrimu menelepon untuk mengomel karena kau tak mengundangnya.
Ini Dan.
Dia akan mengomeliku karena tak menunggu bala bantuan.
Ajak dia kemari.
Hei, Letnan Dan. Ayo marahi aku.
Kau harus ke tempat Mai. Semuanya ada di sini.
Dao menghubungimu hari ini?
Kenapa kau bertanya tentang istriku?
Apa kau menyukainya?
Kenapa? Dia menghubungiku.
Aku tak menjawab. Kenapa? Ada apa?
Masalahnya...
Biarkan ambulansnya lewat.
Telah terjadi pembunuhan
di gang Rong mai dekat Wat Saket.
Itu dekat. Bergabunglah dengan kami di sini.
Jadi,
kami menemukan sebuah dompet
di TKP.
Kami menemukan KTP milik...
Dao.
Berengsek, lelucon macam apa ini?
KTP Dao ada padanya.
Bagaimana bisa ada padamu?
Bisakah kau coba
menelepon Dao?
Kami sedang mencari sidik jari
dari korban.
Dan.
Jika kau terus bercanda seperti ini,
aku akan menelepon istriku.
Akan kutendang bokongmu
dan menghajarmu.
Tidak.
Aku menghubungimu
karena wajah korban dihajar secara brutal.
Wajahnya hancur
sampai tak bisa dikenali.
Baiklah. Tunggu.
Tunggu aku. Aku akan menghajarmu.
Dia bilang istriku mati.
Sialan. Leluconnya keterlaluan. Akan kuhajar dia.
Ini sudah melewati batas.
- Sangat tidak sopan. - Hubungi istrimu.
Mau yang lainnya?
Aku tunggu sampai kau kembali.
No comments yet. Be the first to leave one.