The first 200 lines.
Tahun 1976 belum berakhir
dan kami masih melihat penculikan dan pembunuhan
pemimpin serikat, José Raquel Mercado,
kesuksesan musik vallenato di pedesaan,
perilisan film berjudul Deep Throat di Kolombia,
kediktatoran Indira Gandhi di India,
kekalahan Pambelé di kejuaraan dunia,
nasibku sebagai ayah baru,
dan terutama kehampaan dan ketidakhadiran Eva.
Camilo?
Apa, Luisa? Apa?
Aku tak kuat lagi.
Bayinya terus menangis dan aku tak tahu harus apa.
Aku juga tak tahu. Aku tak tahu harus apa.
Jangan bawa ke sini. Aku harus menulis. Ini harus kuserahkan besok.
Kurasa yang kau tulis tak lebih penting dari putramu.
Tapi...
Kau hanya memikirkan Eva, ya?
Jangan tinggalkan dia di sini. Luisa!
Tenanglah...
Tenanglah.
- Bisa hentikan tangisannya? - Ya!
- Dia bisa membuat kami gila. - Ya.
Jangan tinggalkan aku dengannya.
Camilo.
Camilo!
Kau dengar perkataan ayahmu?
- Apa? - Nak, dengarkan.
Ayah bicara dengan ibumu.
Ingat kami menabung untuk membeli taksi baru?
Kami memutuskan akan menggunakan uang itu untuk pergi ke Amerika Serikat.
Di sana, kau bisa bertemu Eva lagi.
Bagaimana, Nak?
Kau bisa mengubah ekspresi tertekan selama 15 hari itu.
Bagaimana menurutmu?
Aku tak lapar. Aku akan ke kamarku.
Anak konyol. Ada apa?
Dia tak memedulikan perkataanku.
Beberapa minggu berlalu sejak telepon Luisa...
Kurasa aku hamil.
...dan aku tak hanya hanyut dalam bayangan
menghadapi tanggung jawab memiliki anak, yang tak siap kupikul,
dan kemungkinan reaksi orang tuaku dan Salcedo,
tapi terutama apa artinya semua ini terkait Eva.
Karena situasi eksternal yang memisahkan kami,
tapi bisa diatasi, adalah satu hal.
Namun, ini berarti berubah menjadi Romeo bodoh,
yang karena kesalahannya
merusak peluangnya untuk memiliki wanita yang dia cintai.
Hai, Bu.
Nak, Ibu akan panaskan makan siangmu. Ibu harus menyelesaikan ini.
Ya, tak apa.
Ada apa, Camilo?
Aku punya masalah, Bu.
Ibu sudah tahu itu.
Mau bicara? Mau memberi tahu Ibu?
Tunggu.
Aku kembali.
EVA LASTING
SURAT-SURAT KEPADA PENYAIR MUDA
Selamat datang, Nak.
Anggap di rumah sendiri. Aku senang kau datang.
Terutama karena si bodoh ini tertekan dan dia tak makan.
Ya? Tapi dia tampak tak senang melihatku.
- Tidak, aku senang... - Dia senang.
Hanya saja aku masih belum percaya.
Sulit memercayainya karena berapa lama kau pergi? 15 hari?
Itu cepat. Ada apa?
Ayahku memutuskan untuk bernegosiasi dengan pemerintah
dengan memanfaatkan "celah gelap",
yang pada dasarnya merupakan amnesti
untuk pencucian uang bisnis ganja.
Dia harus mengembalikan semuanya.
Dia menjadi tahanan rumah, aku bisa kembali dan tinggal bersamanya.
Keluarga yang baik.
Lalu? Apa kalian merindukanku?
Entahlah.
- Dengarkan jawaban si bodoh ini saja. - Tentu.
Bagus ayahmu membereskan masalah dengan polisi dan kau kembali.
Dia tak membereskan semuanya.
Dia tak bisa keluar rumah.
Dan ingatlah, keberadaan ayah di rumah seharian
bisa mengerikan.
Ya, tapi kau punya Granados untuk menghiburmu, bukan?
Syukurlah kalian bisa bersama sesuai harapanmu.
Kami muak melihat pria ini menangisimu.
- Hentikan. Tak benar. - Serius.
Maaf Salcedo tak bisa ikut merayakan. Kita rayakan, 'kan?
Kau baru memanggilnya, Kawan.
Salcedo! Lihat siapa yang datang!
Hai, Eva.
Hai, Martín.
Kau tak senang melihatku?
Tidak, bukan itu.
Lalu apa?
Ibuku ditelepon dari Popayán tadi.
Luisa kabur dari asrama. Entah dia di mana.
Kasihan sekali Martín.
Tapi aku senang Luisa kabur.
Aku sedih tak bisa mendukungnya.
Hei, bagaimana ayahmu?
Dia pasti di kantor dengan pengacaranya
mencoba mencari cara untuk membereskan situasi serius yang dia hadapi.
Masuklah.
Itu situasi yang aneh.
Aku tahu cepat atau lambat
aku harus turun ke neraka dan membicarakan apa yang terjadi.
Kucoba menyembunyikan rasa sakitnya dalam tawa gugup.
Bodoh!
Akankah kau menceritakan apa yang terjadi?
Kenapa kau sedih hari ini?
Tidak.
Jangan menyangkal karena saat Álvaro bilang
aku ada di sini untuk menghiburmu, kau terlihat sedih.
Itu sangat jelas, Camilo.
Tidak, hanya saja...
Begini.
Kita harus bicara.
Tentang apa?
Tentang Luisa.
Kau tahu dia di mana?
Tidak.
Tidak.
Tapi...
Dengar.
Entah harus mulai dari mana. Ini...
Masalahnya adalah...
Luisa hamil.
Tidak, serius.
Itu terjadi saat...
kami berdua di sini.
Dia hamil.
Dia menelepon dari Popayán dan...
Kurasa karena itu dia kabur dari asrama.
Maaf aku memberitahumu, tapi aku merasa kau harus tahu dan...
Aku juga malu.
Aku juga marah.
Aku marah pada dunia.
Aku marah pada diriku.
Kenapa kau tak bilang padaku?
Aku tak tahu cara memberitahumu.
Lalu Luisa?
Entahlah. Aku tak...
Kami hanya bicara sekali, jadi aku tak tahu.
Eva, maafkan aku, ya? Kumohon maafkan aku.
Jika bisa, aku akan memutar balik waktu
dan tak mendekati gadis lain selain kau... Sumpah.
Itu tak penting sekarang.
Apa maksudmu itu tak penting?
- Ya! - Aku mencintaimu dengan segenap hatiku.
Tidak.
Saat ini, kita harus fokus mencari Luisa
karena dia pasti sangat tertekan.
Kemarilah.
Bagaimana dengan kita?
Tidak, Camilo, tak ada "kita" lagi.
Tidak.
Jangan berkata begitu. Tak adil untukmu mengatakan itu.
Kurasa tak adil karena aku mengacau, membuat kesalahan,
apa yang kita miliki hancur.
Itu memang benar!
SURAT-SURAT KEPADA PENYAIR MUDA
Bacalah di rumah.
Aku tak mau bicara.
"Jangan mengira cinta yang diberikan padamu saat kecil sirna.
Atau bisakah kau menyangkal harapan besar dan baik tumbuh di dalammu?
Dan tekad yang masih kau pegang hingga saat ini?
Kupikir cinta tetap kuat dan teguh dalam ingatanmu
karena itu adalah kesendirian pertamamu
dan tugas batin pertama dalam hidupmu."
Tak diragukan lagi,
perkataan Rilke adalah cara Eva memperjelas
bahwa kisah cinta kami hanyalah ingatan yang kuat sekarang.
Dari buku Surat-Surat kepada Penyair Muda karya Rainer Maria Rilke.
Bu Ana, boleh aku tanya?
Apa putramu ingin menjadi fakir?
Mau mati kelaparan?
Kenapa memainkan makanan tanpa memakannya?
Bagaimana jika aku tidak lapar?
Harus dibersihkan. Ambil minyak jarik.
- Minyak jarak. - Apa?
Minyak jarak, oke.
- Bersihkan dia. - Tak masuk akal.
Jangan bicara seperti itu. Awas.
Aku muak pada Ayah!
Ayah selalu mengkritik gerak-gerikku.
Urus urusan Ayah. Jangan ganggu aku.
- Akan kuajak bicara. Ini tak normal. - Tenanglah.
Dengan segala hormat, saat ini Camilo tak butuh ibunya.
Dia butuh ayahnya.
José, jangan memperburuk keadaan.
Aku akan membantu si bodoh yang tak tahu apa-apa ini
cara menangani hubungannya dan dia merusaknya.
Dia butuh nasihat, dan akan kuberikan.
Maaf karena bicara seperti itu. Tak akan terulang lagi.
Tak apa, Nak.
Ayah paham.
Tak berarti itu boleh terulang, tapi Ayah paham.
Ayah pernah mengalami hal serupa.
Aku sebenarnya...
No comments yet. Be the first to leave one.