The first 200 lines.
Pukul 11.47
Pada hari Jumat
-Sudah lihat Teenage Mutant Ninja Turtles? -Belum.
Kartunnya luar biasa. Film-filmnya bahkan lebih halus.
Lihat harganya.
-Belum pernah? -Kalian lihat apa?
Sofa baru. Kami singkirkan yang lama, tapi harganya gila-gilaan.
Gila. Kurasa sebaiknya kita menyewa seperti waktu itu.
Kalian menyewa sofa?
Ya, dan kami hanya bayar bunganya.
Berapa bunganya?
Kecil. Hanya 25 dolar seminggu.
Berapa lama?
-15 tahun, Kawan. -15 tahun, ya.
20.000 dolar untuk sofa yang tak pernah kalian miliki?
-20.000? Dari mana hitungannya? -Tidak.
Setahun, 52 minggu. 25 dolar per minggu. 15 tahun...
19.500 dolar.
-Sepertinya aneh. -Itu bisnis yang sangat buruk, Kawan.
Aku bingung kenapa harga-harga sekarang sangat tinggi.
Inflasi.
-Benar, ya, inflasi. -Yah, benar. Maksudku...
Karena inflasi.
Kalian paham arti inflasi, 'kan?
-Ya, tentu saja. -Ya.
Tapi demi argumen, anggap kami tak paham.
Inflasi adalah ketika harga barang dan jasa naik.
-Ya. -Ya.
Frank! Syukurlah. Hei, aku diusir!
Pemilik menaikkan uang sewa, aku tak bisa bayar.
Tanganku kulem ke pintu agar mereka tak bisa mengusirku.
Sebentar, Deandra.
Inflasi terjadi ketika permintaan lebih banyak daripada persediaan.
-Ya. -Mereka tidak...
-Mau kujelaskan? -Ya, Charlie.
-Diam! Kau tak mengerti. -Itu tak benar!
Aku belajar banyak tentang bisnis tinggal bersama Frank.
Bicara soal itu, aku punya ide investasi
yang ingin kutawarkan ke kalian jika...
-Paddy's. -Jangan ditutup...
Charlie, kami tak mau dengar. Frank, lanjutkan.
Pemerintah berusaha membatasi inflasi dengan menaikkan suku bunga,
agar pinjaman dan pembelian berkurang.
Baiklah, jadi jika harga naik, bisakah kami naik gaji?
Tidak, jika kunaikkan, uang kalian lebih banyak.
-Ya. -Dalam hal ini, itu tidak baik...
Tidak!
Itu akan meningkatkan inflasi.
-Ya. -Kita tak mau itu meningkat, 'kan?
Jadi, mungkin kita sebaiknya menurunkan gaji. Aku paham.
-Tapi itu akan menyebabkan resesi. -Ya.
Yang dapat menyebabkan depresi.
-Jadi, tak bisa. -Tak bisa.
-Tak bisa. -Ya.
-Potong gaji, atau naikkan. -Benar.
Tidak.
-Itu menjanjikan. -Itu menjanjikan.
Intinya, tergantung cara kita, 'kan?
Seperti berapa banyak pengeluaran per bulan, 'kan?
Kita hemat atau boros?
Berapa pengeluaran kalian per bulan?
-Banyak. -Aku tak mau bahas...
Ya, aku berpikir kalian boros.
Coba simpan sebagian. Kalau tidak, semuanya habis.
Itu yang rumit karena nilai uang tak selalu sama.
-Nilainya tak sama. -Berbeda.
Bagaimana nilai uang bisa berbeda? Uang adalah uang.
-Tidak, sedolar tak bernilai sedolar. -Ya.
-Kini bernilai 25 sen. -Nah.
Satu dolar senilai 25 sen?
-Ya. -Kuberi kau 50 sen untuk sedolar.
Hei!
Kurasa itu terdengar bagus.
Ya.
Frank, kau harus mengirimiku uang! Mereka membuka...
-Baiklah, aku hanya punya 10 dolar. -Kuberi lima dolar.
-Itu untung! Ayo. -Bagus. Ya!
Sepakat.
MARKAS ELANG PHILADELPHIA
Mac, aku sedang menghitung.
Aku mulai agak mencemaskan keuangan kita.
Berapa yang kau habiskan untuk minuman energi Dwayne Johnson ini?
Lumayan. Bisa dibilang, kini, aku hidup dengan itu.
Mungkin kau bisa mengurangi sedikit.
Kau tak perlu membeli semua barang The Rock.
Menarik. Apa ini?
Sini. Duduklah.
Astaga!
-Sofa angin. -Ya.
Itu sangat murah, Kawan.
Ini hanyalah opsi sementara sampai uang kita cukup
untuk membeli sofa yang sebenarnya.
-Benar. -Itu akan mengurangi uang kita,
karena kita tak menyewa. Dennis, kita memilikinya.
Bicara soal uang, aku juga membeli... ini.
-Kau serius dengan itu, ya? -Ya!
-"Kacang Mewah." -Ini sangat mewah.
-Oh, ya? "Tiga dolar". -Ya, hanya tiga dolar.
Kita bisa hidup dengan ini berminggu-minggu.
Dengar, aku tak terlalu tertarik dengan...
kacang curah kalengan murahmu,
tapi menurutku ide sofa ini cukup menarik.
Memberiku ide lain tentang bagaimana kita bisa
mengembangkan hal-hal sedikit lebih besar.
Ini tak bisa ditiup lagi, nanti meletus.
Itu hanya kiasan.
Tidak, percayalah. Sudah kucoba. Aku sudah meletuskan dua tadi.
-Oh, ya? Baiklah. -Ya.
Aku terus memompanya... lalu, dor.
-Baiklah. Tak apa. -Sebaiknya jangan. Berbahaya.
-Aku mengerti. -Aku serius. Jangan ditiup terus.
Tidak. Aku mengerti. Itu sudah sangat jelas.
Baiklah.
Charlie!
Lihat ini. Lampu baru.
-Seperti bekas. -Ini lampu baru.
Kenapa kau selalu pulang membawa sampah?
-Itu lampu ke-50. -Tenang. Mau ditaruh di mana?
Taruh di lemari penyimpanan atau apa.
Penyimpanan, ya.
Bisa bicara soal ide investasi yang kudapat?
Karena ini...
Tempat ini penuh sesak!
Benar, jangan berantakan. Dengar, ini bisa sukses besar.
Aku sudah cari informasi, mencari uang dari internet...
Apa, kripto? Aku tak tertarik.
Mungkin akan lebih jelas jika kutunjukkan video ini.
-Ada video... -Tunggu!
Apa ini? Itu toilet?
Ya.
Maksudmu, selama ini kita tinggal di sini,
kau tak pernah bilang kita punya kamar mandi?
Itu sangat berisik. Berbunyi terus. Tidak bagus.
Kita kencing di kaleng, Charlie.
Kau selalu BAB di lorong. Itu sistem yang bagus.
Apa lagi yang kau sembunyikan?
Tak ada, Frank. Aku mencoba membahas bisnis denganmu.
Ada apa di balik pintu itu?
Itu pintu tetangga!
-Pegang lampu ini. -Jangan, berhenti, Frank!
Dengar, aku tak mau harus selalu membersihkan toilet...
-Astaga! -Ya, ya.
Apa ini?
-Ya, baiklah. -Ini kamar?
Maksudku...
Maksudmu, selama ini, kita punya dua kamar dengan kamar mandi,
tapi kau tak pernah bilang?
Aku tak berniat menyembunyikannya, hanya saja...
Aku tak suka tidur di kamar dengan ruangan kosong di belakangku.
Kau paham, 'kan? Itu menyeramkan.
-Kau seharusnya tidur di sini. -Ya, tapi aku hanya...
Baik! Kalau mau buka pintu, aku harus berjalan jauh.
Makanya aku tak mau ada banyak ruang, Frank!
Ya, sebentar! Baik! Astaga!
Aku butuh naungan. Aku mau bicara dengan Frank.
-Apa itu? -Pintu. Lupakan.
-Frank! -Dia tak dengar.
-Dia di ruangan lain. -Ruangan lain apa?
Frank! Ada Dee!
Sekarang kami harus memasang interkom di dinding. Ini gila!
Ada apa ini?
-Astaga, Charlie! -Ya.
Ini gila. Kenapa kau tak memakai ruangan ini?
Aku suka hidup simpel. Aku tak mau hidup di labirin, tahu?
Aku tak tahu! Boleh aku tidur di sini?
Tidak boleh.
Ada orang lagi di pintu! Aku harus berjalan jauh lagi!
Aku harus mempekerjakan kepala pelayan.
Sebentar! Tunggu!
-Apa? -Di mana Frank?
-Kenapa? -Kami tak perlu memberitahumu!
Dia di ruangan lain.
Ruangan lain apa?
Ruangan lain di sana! Di situlah dia.
-Kau punya ruangan lain? -Ya.
Apa-apaan ini?
Sepatu kita akan rusak karena kebanyakan berjalan.
-Tunggu. -Astaga! Apa ini?
Charlie, selama ini, kau punya ini?
Ya! Ini bukan masalah besar.
Bagaimana bisa?
Tunggu, jadi kau tak punya alasan untuk tidur dengan Frank?
Lupakan, Kawan!
Aku akan lupakan karena pada akhirnya aku tak peduli.
Kami punya peluang bisnis bagus yang ingin kami bicarakan dengan kalian.
-Ayo kita bahas. -Ya.
Kau lebih mendengarkan ide mereka?
Kalian berdua keluar. Aku butuh kantor.
-Keluar! -Baiklah.
Sekarang, ini kantor. Bagus. Apa kita punya izin?
Aku datang lagi nanti malam.
Ya, jadi...
-Bagaimana menurutmu, Frank? -Bagus.
Ada suara mencicitnya.
Ada suara mencicitnya, 'kan?
-Mac, kau hampir selesai? -Ya, baru saja.
-Baiklah. -Selesai sudah.
Butuh banyak tiupan.
Frank, mau memulai rapat ini dengan kacang mewah?
Bibirmu kenapa?
No comments yet. Be the first to leave one.