The first 200 lines.
Joi.
Ayo. Kita bawakan ayahmu makan malam.
Sudah mulai gelap. Dia kelaparan.
Baik.
Cepat.
Kau lama sekali.
Pakai sepatumu.
Sekarang, ikut dengan Nenek.
PEMBIBITAN KEMENHUT
Ayah!
- Hei. - Aku merindukan Ayah.
Sayang.
Kenapa kau di sini?
Nenek membuatkan Ayah sup Om.
Benarkah?
Kelihatannya sedap.
Ibu,
aku selesaikan topeng ini dulu, lalu menyusulmu.
Apa? Kenapa kau membuatnya?
Kau bilang tak ikut parade tahun ini.
Memang. Ini hanya untuk kenangan.
Kita segera pindah ke Bangkok.
Apa? Sudah Ibu bilang Ibu tak ikut.
Kenapa Ibu harus pindah? Ibu punya rumah sendiri di sini.
Ibu, aku sudah memutuskan.
Pergilah makan di kantorku.
Makanlah jika lapar.
UNIT PERLINDUNGAN HUTAN NO. 60 NA SAWAI, LOEI
Ayahโฆ
Ayah!
Ayah!
Ayahโฆ
Ayah sedang apa?
Apa Ayah tidur?
Phi Ta Khon,
bagi penduduk lokal,
artinya "roh yang mengikuti".
Penduduk Dan Sai sejak dulu percaya
roh-roh ini adalah leluhur mereka.
Jiwa mereka tak pernah hilang,
tapi tetap ada, menjaga setiap tempat,
termasuk Phra That Si Song Rak,
Ho Luang,
Ho Noi,
atau bahkan kuil roh lokal.
Saat bulan keenam tiba,
festival dimulai.
Ratusan topeng hasil buatan tangan penduduk lokal,
memenuhi jalan-jalan dengan keceriaan
dan pengabdian.
Saat bel berbunyi,
roh-roh terbangun
dan berjalan di antara yang hidup,
bergabung dalam parade
untuk menjauhkan kemalangan.
Begitu festival berakhir,
topeng-topeng itu dihanyutkan di Sungai Mun,
membawa jauh segala kemalangan.
Jika hujan turun setelah festival,
itu artinya
para leluhur telah mendengar doa mereka.
DANSAI - LOEI, THAILAND
Nut, aku mau tanya sesuatu.
Bagaimana kau bisa berakhir di sini?
Tak ada hal dramatis.
Bosku terus saja
menceritakan kisah-kisah bodoh padaku,
jadi aku bercanda ke temanku bahwa dia bodoh.
Ternyata dia ada di belakangku.
Tamatlah riwayatku.
Itu pantas.
Kau pantas untuk dipecat
karena menggosipkannya.
Sekarang aku terjebak di sini,
mendokumentasikan festival konyol.
Ini sungguh bodoh.
Hei,
jangan bilang begitu.
Apa kau tak tahu
bahwa ini waktunya
roh para leluhur kita
memakai topeng dan berjalan di antara yang hidup?
Dan jika kata-katamu didengar mereka,
bagaimana perasaan mereka?
Mereka akan marah, murka, dan kesal.
Aku serius.
Hei,
bukankah kau beragama kristen?
Kenapa kau percaya hal seperti ini?
Apa? Jadi, kau tak percaya semua ini?
Tidak sedikit pun?
Jika ada yang harus dihukum, biar dia saja.
Aku tak ada hubungannya dengan ini.
Kau tak bisa menghukumku.
Kau akan menyesalinya.
Mau tiket lotre?
Heiโฆ
Hari ini ada festival.
Semuanya angka hoki dan membawa berkah.
Tapi 28 populer di sini.
Kau mau?
Tidak.
- Bisa bayar dengan transfer. - Tidak.
Apa dia bisu?
Tidak.
Dia tuli.
Janโฆ
Tunggu, aku mau beli satu.
Nut,
kenapa kau berdiri di situ?
Udaranya panas.
- Masuklah ke mobil! - Aku tahu. Aku masuk.
Tak bisa berhenti bicara pada mereka, ya?
Mereka keluargamu atau apa?
Kau baru tiba.
Jan,
sudah kubilang,
jangan lakukan itu.
Kita bukan pengemis.
Jangan buat dirimu tampak tak berdaya,
ya?
Ya, Paman Sak?
Paman Sak,
di mana nenekku?
Di dalam sana.
Aku hanya bilang putramu sudah mati.
Pong sudah mati!
Hei,
putraku belum mati.
Akan kutampar mulutmu.
Cukup. Tolong hentikan.
Jika tidak,
aku akan memenjarakan kalian.
Apa?
Kau akan lakukan itu padaku?
Apa kau lupa kau dulu teman putraku?
Bibi, tolong pergilah.
- Pergi. - Ayo, Nenek.
Joi,
rawatlah nenekmu yang sakit itu.
Jangan biarkan dia menghina orang lain lagi, ya?
Kalian semua begitu menghormati roh-roh ini, ya?
Akan kuhadapi mereka
dan merusak semua kuil rohnya.
- Ayo, Nenek. - Wanita sialan.
Bawa dia, Joi.
- Pergilah. - Nenek!
Jan sedang melihat!
- Ayo. - Nenek bisa jalan.
Biarkan Nenek sendiri.
- Pergilah. - Ayo pergi.
Astaga, dia menghina kita semua.
Sudah cukup. Pergilah.
Nenek,
kenapa kau mengatakan itu?
Mereka sudah cukup membenci kita.
Ya, mereka gila,
mengatakan putra Nenek mati padahal tidak.
Joi,
kemarilah. Datang ke Nenek.
Ini, makanlah sup Om favorit ayahmu.
Ayo.
Nenek,
Ayah sudah tiada.
Apa kau mengutuk ayahmu sendiri?
Apa kau sudah hilang akal?
Bukankah Nenek yang mengutuk dia?
Nenek membangun rumah di tempat kuil roh,
melanggar tradisi,
dan menghina roh para leluhur kita.
Karena itulah kita berakhir seperti ini.
Pergilah, Joi.
Nenek kira aku mau ada di sini?
Aku mau pindah ke Bangkok,
dapatkan pekerjaan, dan membiayai pengobatan Jan.
Nenek akan bersama putra Nenek di sini.
- Dia belum mati. - Nenek,
dia tak bersama kita.
Dia sudah lama mati.
Pergilah kapan pun kau mau.
Nenek tak peduli, dan tak mau pergi.
Ayo.
Akan Nenek ambilkan sup Om untukmu.
Bawakan pada ayahmu.
Apa yang kau lakukan?
Hei!
Ada apa lagi? Joi!
- Hentikan itu. - Ayah sudah mati.
Kenapa Nenek menyimpan ini?
Joi, Nenek mohon.
Joiโฆ
Kau menang, Joi.
Akan Nenek lakukan apa pun yang kau minta.
Ada apa denganmu? Kenapa kau lakukan ini?
Putrakuโฆ
Pongโฆ
Nenek hanya ingin bersama putra Nenek.
Nenek tak mau dia mati.
Kenapa kau lakukan ini?
Nenek merindukan Pong. Nenek rindu putra Nenek.
No comments yet. Be the first to leave one.