The first 187 lines.
Mbak.
Astaga, Mar!
Mar, cukup. Tidak malu dilihat semua orang?
-Mereka mengikuti. -Ada apa ini?
-Mar, sudah. -Tunggu dulu.
Berhenti.
Mar, sabar.
Di mana Bos Lukman atau Ramadan?
Aku ingin buat perhitungan dengan mereka.
Perhitungan apa?
"Perhitungan apa"?
Lihat ini!
Foto orang mengiler.
Ini namanya penghinaan.
Mona adalah bibit unggul pemengaruh.
Calon artis terkenal.
Jika ada foto seperti ini...
Ini namanya pencemaran nama baik!
Maaf, Mbak.
Tunggu di sini dulu.
Kita selesaikan secara persaudaraan.
Silakan tunggu.
Tunggu? Jangan mentang-mentang aku perempuan.
Aku akan...
-Kau tuli? -Sabar, Mbak.
Astaga.
SEPEKAN SEBELUMNYA
Baik.
Baik, tahan.
Ya.
Mas Ramadan, aku harus pose seperti apa lagi?
Bebas, Ran.
Kau model yang hebat.
Bagus.
Mas Ramadan!
Biar apa pakai kaca pembesar seperti itu, Bos?
Biar apa?
Biar saja. Terserah aku.
Aku sedang mencari detailnya.
Detail apa?
Dasar kau.
Biar kuberi tahu.
Sebagai laki-laki,
aku melihatnya
kau kurang bisa memahami wanita.
Lihat.
Cari detail dari wanita.
Kita bisa tahu apa yang wanita mau.
Kenapa mencariku, Bos?
Aku sedang sibuk.
Memang bagaimana cara memahami wanita?
Caranya ketik REG spasi Pahami Wanita.
Begitu saja kau...
Mengganggu saja, Dan.
Dan, tutup!
Kurang ajar kau. Tutup!
-Bos, maaf. -Cepat!
Pinggangku linu saat pemotretan.
Aku tidak bisa memanjat.
Karyawan durhaka kau, Dan.
Aduh...
Ada apa mencariku, Bos?
Sebentar, foto ini susah diatur, apalagi orangnya.
Dan.
Majalah kita kurang konten.
Kau buat konten yang lebih kreatif lagi
yang berbau olahraga.
"Olahraga."
-Mau ke mana? -Almamaterku, Bos.
Sedang ada festival.
Ada pertandingan voli juga.
Ramadan.
1.380.000.
Aduh.
Ya.
Tiga puluh empat...
Pak?
Mengagetkan saja. Aku sedang menghitung.
-Mau menyogok? -Enak ini, Pak.
"Enak."
Astaga.
Mau pinjam berapa?
-Sudah tahu angkanya, bukan? -Angka setan.
666.000.
Nah.
Karena angkanya benar,
aku tambahkan, Pak.
-Tidak diangkat, Pak? -Biar sajalah.
Namanya juga wanita.
Tidak penting juga.
Tapi, siapa tahu...
"Siapa tahu"?
Kau belum paham.
Kalau kau sudah kenal wanita dan tersandung cinta, kau baru tahu.
Itu akan rumit.
Maklum, Pak. Namanya juga masih bujangan.
-Masih bujangan, bukan? -Ya.
Aku doakan hari ini kau bertemu perempuan
yang bisa membuatmu jatuh cinta dan mabuk kepayang.
Oke?
Amin.
-Terima kasih, Pak. -Ya.
Jaga itu.
Lupa, Pak.
-Enak, Pak. -Enak, ya?
-Permisi. -Ya.
-Cepat kembalikan. -Ya, Pak.
Sepertinya kita salah ruangan, Mar.
Tidak. Tak mungkin.
Apa itu, Mar?
Kenapa aneh?
Coba kau lihat, Mar.
Pagi. Siapa kalian?
Mbak...
Foto yang Bapak publikasikan ini
sudah mencemarkan nama baik temanku!
Maksudnya apa mencemari?
Kau lihatlah fotonya!
Jika ada fotonya yang seperti ini di majalah terkenal,
bisa hancur reputasi temanku!
Bagus, bukan? Bisa viral, terkenal.
Kalau bicara pakai otak! Berengsek!
Baik, aku akan beri kompensasi. Lima juta.
Mau?
Lima juta?
-Aduh! -Sembarangan saja!
Ini masalah harga diri dan karier, Pak!
-Kau menghancurkannya begitu saja! -Oke.
Semua itu butuh perjuangan dan pengorbanan!
Oke.
Berapa yang kalian inginkan?
Satu miliar.
-Satu... -Nona mencariku?
Tidak! Aku ada urusan dengan pengecut ini.
Akulah Bos Lukman.
Lalu dia siapa?
Mundur!
Maaf, Mbak.
Aku kasir. Tadi aku menumpang duduk-duduk di sini.
Perkenalkan, namaku Lucky. Lucky Man.
Katakan kepada Ramadan,
aku beri tiga hari untuk selesaikan masalah ini
atau artisku bersama ratusan follower-nya
akan menutup kantor ini.
Dan aku minta ganti rugi satu miliar!
Baik, nanti akan kubicarakan dengan Ramadan.
Sebelumnya aku minta maaf kepada Nona...
Marni.
-Dan juga... -Mar...
-Nona yang di belakang... -Nona di belakang ini
adalah Mona, korban dari masalah ini.
Aku minta maaf, Nona Mona.
Tiga hari.
Kau tak takut, Bos?
Kenapa harus takut menghadapi wanita?
Kita ini laki-laki.
Hanya butuh ketenangan dalam menghadapi wanita.
Baik, Bos.
Ganti celanamu!
Sekalian mandi junub!
Bau!
-Benar, 'kan? -Ya, Bos.
Halo, Sayang!
Mon! Mona!
-Mau ke mana? Ada apa? -Ayo.
-Ayo! -Cepat!
-Sebentar, ya. -Oke.
-Oke. -Oke.
Ada apa ini? Sudah di sini saja.
Kita ke rumah Ramadan sekarang juga!
-Bukannya masih tiga hari lagi? -Terlalu lama, Mon!
Jangan beri dia waktu untuk membuat rencana aneh-aneh.
Pengacara dia pun belum siap.
Kita hadapi saja dia dulu.
Ramadan orang yang licik, kau tahu?
Ayo. Ayo!
-Sekarang! Ayo, Mon! -Mona, Mona!
-Hei, Bidadari Kampus. -Mas Samsu.
Kenapa dia pegang-pegang?
Jangan kau ladeni, Mon. Sungguh menyebalkan!
-Jijik. -Mar...
Kau tadi membicarakan diriku?
Aku bisa mendengarnya.
Jangan begitu.
-Mar! -Berisik!
-Sudah, Mar! -Jangan kurang ajar kepada wanita!
-Ampun, Mbak! -Jangan menyakiti orang.
No comments yet. Be the first to leave one.