The first 200 lines.
NETFLIX MEMPERSEMBAHKAN
Kita selalu saja mencoba mengikuti perkembangan.
Belajar, asmara,
teman, keluarga, kuliah...
Daftarnya panjang, dan hidup tidak.
Menjadi dewasa mungkin tentang berkembang.
Bagaimana dengan pelajaran hidup?
PRIVATE LESSON
Di situlah aku berperan
dan menjadi orang yang sangat dibutuhkan klienku.
- Ini dia! Guru seniku, Ekin. - Halo.
Bukan kiasan. Secara harfiah.
Penasihatku Nona Asude.
Salam.
Aku Azra. Aku guru privat.
Klien memilih topiknya.
Hanya untukmu.
Lihat.
Nona-nona?
Kurasa keluarga tak perlu tahu semua detailnya.
Lagi pula, ada alasan kenapa sebutannya "guru privat".
UNIVERSITAS DÜNYA
KLUB SENI RUPA
KLUB KULINER KLUB MUSIK
KLUB SEPEDA
Hei, Nona-nona.
Kenapa si bodoh itu berpakaian begitu?
Dan namanya...
Aku tak bisa membacanya. Apa dibacanya "abodoh"?
Ya, dibaca "abodoh."
Klub Sastra Abadi. Bagian mana yang sulit dibaca?
Judes juga dia.
Afife Jale!
Namanya Jale.
Kurasa dia gila. Ayolah.
Tapi namaku Hande!
Bagaimana kalian tak tahu Afife Jale?
Maksudku, ada Klub Sepeda, Klub Erasmus,
dan ini Klub Sastra Abadi!
Kalian tak ada yang kenal dia?
- Dia gila. - Ya.
Lihat tempat ini. Berantakan.
Hei...
Hande?
Afife Jale!
Gadis itu kacau.
Azra, aku bersumpah, kau keajaiban.
Jika bukan karenamu,
aku tak mungkin dapatkan Tibet.
Itu sudah pasti.
Pelan-pelan. Nanti ada yang dengar.
- Aku tak peduli. - Lagi pula kita di kamar mandi.
Aku tak peduli jika ada yang dengar.
Itu lebih baik untuk reputasiku.
RUSAK
Lihat? Tak ada orang. Toiletnya rusak.
Jika bukan karena lesmu...
Kau masih akan seperti, "Sebenarnya kita ini apa, Tibet?"
Cansu!
Tapi dia benar-benar jatuh hati padaku.
Dia kurang memohon saja.
Aku bersumpah, kau benar-benar telah membangun citraku.
Kau bahkan jadi orang tuaku dan menelepon dekan.
Tak ada yang mengalahkan itu.
Ini adalah les privat paling berguna.
Kalian jangan melebih-lebihkan. Ayo pergi.
Aku tak melebih-lebihkan.
Entah berapa banyak orang yang hidupnya telah kau ubah.
Aku justru menyepelekan.
Aku juga ingin les privat.
Aku juga ingin diperhatikan.
Aku ingin menjadi pacarnya Utku.
Apa kau gila? Kau siapa? Apa ini?
Hai. Aku Hande. Aku menguping obrolan kalian di toilet.
Bantu aku juga. Aku mohon!
Jadi, kau menguping kami di toilet,
menyerbuku seperti orang gila,
dan kau meminta bantuanku?
Ya.
Semoga hidupmu sukses.
Azra, perhatikan jalan!
- Kau gila? - Aku juga benci di film.
Mereka hanya saling menatap.
- Keluarlah. - Tak akan.
- Kau akan keluar. - Tidak.
Berani sekali. Aku serius!
Kau ingin aku menelepon polisi?
Tapi ponselmu di sini.
Apa yang kau mau sebenarnya?
Aku ingin les yang diambil Melis.
Maksudku, kau juga bisa membangun citraku.
Cara menarik perhatian cowok dan sebagainya.
- Bukan... - Jangan bilang tidak.
Melis bicara tentang bagaimana kau mengubah hidup.
Kau tak keberatan, jadi pasti ada murid yang lain.
Kau pintar juga. Aku terkejut.
Kau tidak sopan.
Apa yang kau lakukan itu sopan?
Kumohon.
Tolonglah, Azra, kumohon.
Tolonglah. Kumohon.
- Buka kunci pintunya. Ayo bicara. - Ini.
Ini.
Aku tadi akan memberi tahu bibiku jika kau menolak.
Kau akan memberi tahu bibimu?
Berapa usiamu, lima tahun?
Silakan hubungi dia. Sampaikan salam dariku.
Karena aku tak akan bantu.
Terserah kau.
Hande?
Hei, Bibi. Apa kabar?
Ada apa denganmu hari ini? Aku tak bisa bicara di depan orang lain.
Nanti saja kita bicarakan.
Ada hal sangat penting yang ingin kukatakan padamu.
Cepat, Hande. Aku sibuk.
Baik. Aku paham.
Memang sulit menjadi dekan.
Kita bicara nanti, ya, Sayang.
Aku harus pergi. Sampai jumpa.
- Berikan! - Dah.
Berikan!
Kau menjambak rambutku?
Berapa usiamu, lima tahun?
Jadi, kau keponakan dekan yang baru?
Untuk memperjelas, apa yang akan kau katakan padanya?
Bahwa kau mengelilingi kampus dan bergaul dengan murid-muridnya.
Kau pintar. Kau yang pertama menyadarinya.
Aku terkejut.
Afife Sherlock Holmes.
Jangan remehkan Afife Jale yang hebat.
Jangan main-main.
Baiklah. Taruh saja di sana.
Hati-hati bawa kotaknya, Bung.
Dasar orang-orang.
Ayolah. Mereka menutupi seluruh jalan.
Kuharap tak rusak.
Hei, Bung.
Bung, kau menutupi jalan.
Setidaknya geser kotaknya agar kami bisa pulang.
Tunggu sebentar, Nona.
Gedungnya tidak akan kabur.
Tolong pindahkan kotak-kotaknya.
Biarkan nona-nona ini lewat.
Apa-apaan?
Kau juga mau menyelinap masuk?
Tidak, itu konyol. Aku akan kembali besok.
Baguslah.
Omong-omong, jangan kasih tahu bibimu.
Tak akan! Aku bisa menjaga rahasia.
Sampai jumpa. Lantai berapa?
Kedua.
Baiklah. Kedua.
Yang benar saja.
Permisi!
Halo? Ada orang?
Maaf.
Selamat datang.
Hai, Nona. Apa yang bisa kubantu?
- Kau adalah... - Burak.
Cukup "Unit 3" saja menurutku.
Aku di bawah.
Mungkin kau tak bisa lihat nomor pintu karena tertutup lemari.
Tolong pindahkan agar aku setidaknya bisa masuk unitku.
Maksudku, aku tak bisa memindahkannya sekarang.
Benarkah? Lalu kapan?
Entahlah. Kau harus menunggu, Nona.
Di sini, Bung.
"Nona?" Serius?
Selamat pagi!
Benar. Aku melupakanmu.
Dasar Merkurius mundur sialan.
Ini lebih seperti meteor.
- Kau bilang apa? - Aku bilang kau menabrak hidupku.
Aku tak mengerti.
Itu maksudku.
Tapi kau ingin les.
Tapi aku unggul di kelas.
Aku melakukan sedikit riset sebelum kemari.
Sedikit. Tentu.
Baiklah. Ini dia.
Seni Merayu Pria,
Perempuan dan Pria,
Saatnya Berubah.
Bukan berarti berubah adalah kunci, tapi...
Hande.
Ya?
Santai.
Tenanglah. Mau kopi?
Tidak. Aku tak bisa minum kopi.
Itu membuatku bersemangat dan cerewet.
- Perangsang memiliki efek itu... - Oke. Teh kamomil.
Teh tidak apa-apa.
Kau luar biasa. Kau terlihat sangat cantik.
Turunkan dagumu.
Beri aku tawamu yang indah itu.
Menurutmu kenapa
orang berpikir sikapku seperti orang tua?
Bukan berarti aku akan menjalani hidupku berdasarkan pendapat orang.
Mereka semua menjual jiwa mereka ke media sosial.
Mereka bahkan tak punya kepribadian.
No comments yet. Be the first to leave one.