The first 200 lines.
Tolong bantu aku.
Tolong.
- Kau merepotkan. - Kenapa kau tak ganti helmmu?
- Kau pikir kau terlihat pintar? - Maaf.
- Ini memang terlihat pintar. - Tunggu. Terima kasih.
- Kakak Sam. - Aku minta coke.
Kukira kau tak akan datang malam ini.
Sudahlah.
Terima kasih.
Kalian sudah duduk satu jam, kenapa tak pesan minuman? Jangan coba menipu.
- Ya, aku pesan es teh lemon. - Bagaimana denganmu?
- Aku hanya mengobrol, tak minum. - Bos, terima kasih kepada adikmu.
Dia mentraktirku minum. Kau tak mau bayar?
Dia bosnya. Tentu saja aku tak perlu bayar.
- Kenapa tak bayarkan aku juga? - Kau punya adik perempuan?
- Sau, kenapa kau? - Ada apa?
- Kenapa dia? - Ada apa?
Jangan panik. Aku tahu dia pasti kerasukan.
- Tekan jari tengahnya. Cepat. - Di mana sumpitnya?
Itu kecoak.
Kecoak?
- Kau tak perlu bersikap seperti ini. - Tolong bunuh saja.
Kenapa tak minta bantuan kepada John Lennon?
Kau pintar membunuh kecoak.
Aneh.
Di mana itu?
Ada apa ini? Kenapa berisik sekali?
Ada masalah apa?
- Ke mana saja kau? Lama kutunggu. - Aku pergi jalan-jalan.
Sudah hampir waktunya siaran. Kita harus memulai acara itu.
Ceritamu benar atau tidak?
Tentu saja benar. Aku agak panik.
Orang itu mati seperti ini? Terlalu dramatis, bukan?
Apakah ada hantu di dunia?
Apakah dia mengencingi papan roh, atau hanya kebetulan?
Kami tak tahu. Tapi, semoga dia beruntung.
Baiklah, pemirsa yang kami kasihi. Kalian manusia atau bukan...
...jika kalian punya cerita seram, hubungi kami. Kita akan berbagi cerita.
Bagaimana kalau kita dengarkan lagu agar sedikit rileks?
Sampai jumpa lagi.
Chi, bekerjalah yang keras. Peringkat acaramu sangat tinggi.
Bos, karena peringkat acara kami tinggi, apakah kami akan dapat bonus?
Ayo, lupakan omong kosong seperti itu. Kembalilah bekerja.
Pergilah.
Lagunya sudah selesai. Waktunya siaran.
Kita kembali lagi ke "Teror Satu Jam". Saatnya menjawab telepon kalian.
- Kau siapa? Beritahu namamu dulu. - Aku Anita.
Anita, cerita aneh apa yang ingin kau bagikan kepada kami?
Aku ingin mengatakan kepadamu...
...kisah yang baru saja kau ceritakan adalah sebuah kisah nyata.
Anita, bagaimana kau bisa tahu itu?
Tentu saja, karena itu adalah pacarku.
Apa yang ingin kau katakan?
Aku tak senang.
Aku ingin mati bersamanya.
Ayo, dia hanya pacar.
Kau punya tiga pilihan di sini, dan lebih banyak lagi di sekitarmu.
Jangan sedih.
Mati tak bisa menyelesaikan masalah. Bagaimana jika kau ceria?
Aku benar-benar mencintainya.
Aku mengerti itu. Setelah kau jatuh cinta...
...kekasihmu adalah yang terbaik di dunia.
Anita, biarlah berlalu.
Saat kau menatap ke masa depan, itu tak penting. Jangan bersedih.
Dengar, Anita. Kau harus tabah.
Kenapa tak lakukan pekerjaan sukarela? Banyak orang yang lebih miskin darimu.
Jangan menangis. Dunia tak seburuk yang kau kira.
Jika negara runtuh, kau bisa bangun kembali kelak.
Tapi untuk orang mati, kau hanya bisa mengenangnya.
Baiklah, mari kita persembahkan lagu yang bagus untuknya.
Semoga dia hidup bahagia di alam sana. Setuju?
Baiklah.
Kami selalu mendengar sebuah lagu.
Lagu itu berjudul..
"Aku Ada di Sampingmu."
Setelah mendengarkan lagu ini, jadilah orang yang bahagia, ya?
Aku tahu, tapi aku tak bisa melupakannya.
Aku sangat merindukannya.
Anita, ayolah. Berapa umur pacarmu?
- 26 tahun. - 26?
Kita tak bisa mengatakan dia mati muda.
Banyak bayi kecil yang mati begitu mereka dilahirkan.
Mereka tak melihat dunia sama sekali. Kasihan sekali.
Pacarmu hidup selama 26 tahun. Dia benar-benar beruntung.
Aku tak bisa kehilangan dia. Aku tak bisa.
Benar kau yakin tak bisa hidup tanpa pacar?
Ya.
- Di mana kau sekarang? - Plaza Kota Kowloon.
Langsung naik ke atap, pejamkan matamu dan melompatlah ke bawah.
Aku yakin kau bisa langsung bertemu pacarmu.
Baiklah.
Baiklah, mari kita dengarkan lagu persembahan Anita untuk pacarnya.
Kami akan segera kembali di "Teror Satu Jam".
Apa kau gila? Kau menyarankannya untuk bunuh diri.
Tak apa-apa. Kau tak bisa menyenangkannya.
Kau tak akan bisa mencegahnya dengan menghiburnya.
Kau seorang DJ. Kau harus berhati-hati dengan ucapanmu.
Jika dia mati, apa yang akan kau lakukan?
- Dia tak akan bunuh diri semudah itu. - Sebenarnya dia tak mau bunuh diri.
Tapi sekarang kau mendorongnya. Dia akan melakukan itu.
- Kau bercanda? - Tidak.
Jika kau punya hati, pergilah menemuinya sekarang.
Aku akan pergi ke toilet dulu.
Bung, ada yang melompat mati?
Di mana? Ada yang melompat mati? Tolong antar aku untuk melihatnya.
Terima kasih.
Dasar berengsek. Mereka hanya ingin membodohiku.
Tadi malam, seorang gadis muda melompat mati di Kota Kowloon.
Seorang DJ diduga membujuk gadis itu untuk melakukan bunuh diri.
Polisi sedang mempertimbangkan tuduhan terhadap DJ tersebut.
Sudahlah. Itu diluar dugaan semua orang.
Walaupun kau membunuhnya secara tidak langsung...
...kau akan merasa bersalah. Aku mengerti itu.
Kau tak perlu bersedih begitu.
Apa yang kalian lakukan di sini?
Apakah gadis yang melompat mati itu sama dengan gadis yang menelepon kita?
Biasanya, para pembunuh yang bicara seperti ini.
Kau mau membodohiku?
Hentikan omong kosong ini. Sudah saatnya siaran. Ayo.
Di malam yang dingin ini, "Teror Satu Jam" akan segera dimulai.
Saluran telepon kami adalah 27499320.
Kami menunggu telepon kalian untuk berbagi pengalaman misterius kalian.
Sekarang, kami akan menjawab telepon pertama.
"Teror Pukul 1 Dini Hari."
- Hai. - Siapa yang menelepon?
Aku Anita.
Aku melompat, tapi aku tak bisa bertemu dengan pacarku.
Apa yang harus kulakukan sekarang? Katakan apa yang harus kulakukan.
Aku tak tahu.
Aku tak tahu.
Kita dengarkan lagu dari Cheng Yi-kin, "Siapa Bisa Mencintai Sedalam Aku?"
Setelah itu, kami akan menjawab telepon kalian lagi.
- Kenapa lagu ini? - Aku tak tahu
Aku hanya mencari nafkah dari radio.
Aku mencari nafkah dengan lidahku.
Ini salah satu bisnisku.
Aku tak bisa menghentikanmu untuk melakukan bunuh diri.
Tak apa-apa.
Aku tak sial.
Tapi aku benar-benar sial.
Aku harus dibodohi oleh orang lain.
Tak apa-apa. Setelah tidur, semua akan baik-baik saja.
Baiklah. Tidur bisa membantuku, bukan?
Besok akan menjadi hari lain.
Siapa itu?
Berhentilah macam-macam.
Aku ada di sampingmu.
Tolong antar ini ke Kakak Sam. Dia suka teh susu.
- Kakak Sam, ini tehmu. - Terima kasih.
- Roti lapismu. - Terima kasih, Kakak Chuen.
Waktunya makan.
Tak mungkin.
Aku tak bisa hidup seperti ini.
- Ada apa? - Aku sekarat.
- Aku tak tahan lagi. - Ada apa?
Kupikir seseorang mengikutiku.
Siapa yang mengikutimu?
Sial. Apa yang harus kita lakukan?
Nafsu makanmu bagus. Kenapa kau makan sebanyak itu?
Aku tak bisa menahannya. Hanya makan yang akan membuatku merasa aman.
Makannya banyak sekali.
Berapa banyak yang kau pesan?
Aku hanya pesan satu menu nasi ini.
Seorang gadis bilang kau ingin tambah.
Dia menyuruhku memberimu hidangan lain. Dia bilang, namanya Anita.
Kenapa? Anita itu nama yang umum.
Berhenti bicara.
Apa?
Kupikir kau harus menghentikannya. Berhenti menceritakan kisah hantu.
Anak-anak akan takut, tahu?
- Kakak Sam. - Ada apa?
Ini untukmu, gratis.
Kau hebat. Adikku sangat baik kepadamu.
- Dia mengirimkan dupa untukmu. - Kau bicara apa?
Aku tak ingin lagi.
Aku hanya bicara tentang dupa. Santai saja.
Selamat menikmati.
Kalian dengar? Dia mengikutiku.
Dia mengikutiku.
- Apa yang harus kulakukan? - Tenang.
Jika kau merasa tak nyaman, sebaiknya kau bertindak.
- Tak baik hanya duduk diam di sini. - Betul. Selesaikan, lalu kembali.
Aku ingin menyelesaikannya.
- Tanggal berapa sekarang? - Tanggal 27.
Kau masih mau makan itu?
Tujuh hari setelah kematiannya.
Kau mencari siapa?
Apakah ini rumah Anita?
Betul.
- Tapi dia.. - Aku tahu.
Aku adalah teman Anita.
Aku baru kembali dari Tiongkok. Kudengar tentang kematiannya.
Jadi, aku datang mengunjungimu. Mungkin ada yang bisa kubantu.
Kau teman Anita.
Ya.
Kau baik sekali.
- Masuklah dan duduk dulu. - Baik.
Aku ingin membakar dupa untuknya.
Silakan.
Bibi, biar aku yang melakukannya.
No comments yet. Be the first to leave one.