The first 200 lines.
Selamat atas kelulusanmu!
Kau sedang mencari sekolah?
Amerika atau Inggris, keduanya bisa.
Aku akan mendukungmu apa pun pilihanmu.
Kau bisa bekerja di sana setelah lulus.
Bagaimana?
Sepertinya sudah dimulai. Sudah dimulai!
- Cepat! - Sudah dimulai!
Aku tahu aku pandai melakukan apa pun.
Tapi perjalanan hidup menuju kesuksesan.
YA - TIDAK
Itukah yang kuinginkan?
Atau mungkin...
Haruskah aku memercayai firasatku kali ini?
YA
Sekali mengunggah foto dan disukai lebih dari 5.000 orang.
Gadis itu sangat populer.
Percayalah.
Dalam dua bulan, aku akan menghidupkan kembali restoran ini.
Ini restoran kecil.
Dan aku selalu di sini.
Kurasa kami tidak butuh manajer.
Dia benar. Atau jika teman-temanmu belum puas
aku bisa mentraktir mereka porsi besar.
Hei, bisa sajikan lauk untukku?
Kenapa?
Ambilkan saja.
Cepatlah.
Berhenti!
Kau tahu apa masalahnya?
Jauhkan jarimu dari piring saat menyajikan.
Dengan banyaknya hidangan di menu
yang mana hidangan khasmu?
Semuanya lezat.
Tapi pelanggan akan kebingungan memesan.
Buatkan semuanya untukku.
Aku sudah menghapus sebagian besar hidangan
yang tidak efektif dan tidak ada yang memesan.
Kita harus menentukan hidangan khas kita.
Menu-menu ini memang yang menyebabkan defisit.
Karena kau chef di sini, kau harus kembali ke tempatmu
dan memikirkan apa hidangan keahlianmu.
Kita bisa makan 80 persen hidangan itu di Chang Xin.
Pelayanan, suasana, dan tata letak mereka lebih baik.
Sejujurnya, jika aku jadi pelanggan hari ini
untuk apa aku datang ke restoranmu?
Kau butuh hidangan enak, pelayanan yang baik
dan kepercayaan pelanggan.
Yang kalian punya
hanya hidangan enak.
Aku bisa melatihmu melayani.
Aku pandai membangun kepercayaan pelanggan.
Semua kelemahan kalian adalah keahlianku.
Bagaimana?
Kalian masih berpikir tidak membutuhkanku?
Aku penasaran
kenapa kau harus menjadi manajer kami.
Naluriku.
Entah kenapa
nasi goreng buatanmu sangat menyentuhku.
Karena aku merasakannya
dalam dirimu
dan di sini aku bisa menemukan masa depanku.
Itu naluriku.
Teman-teman, wanita ini, Chao Yi-hsuan
adalah manajer baru kita di sini.
Jika kau punya restoran, kau harus makan di semua tempat.
Kau belum pernah melakukannya.
Ayo makan di semua restoran di sekitar sini.
Hai. Ini menunya. Dilihat-lihat dulu.
Beri tahu aku jika sudah siap memesan.
- Terima kasih. - Terima kasih.
Giliran kalian. Senyum.
Senyum.
Baik, mungkin itu bukan gayamu.
Kau sudah terlihat seperti gangster.
Jangan murung atau membungkuk.
Kalian memesan piza hidangan laut?
- Tidak. - Kau yakin?
Bukan pesanan kami.
Maaf.
Lihat?
- Kalian memesan piza hidangan laut? - Ya.
Kami mau terung rebus
telur orak-arik dengan bawang bombai, dan tumis Hakka.
Maaf. Bisa diulang?
- Aku minta air putih. - Baik.
- Yang hangat. - Baiklah.
Pelayanan yang baik
adalah selangkah lebih maju dari kebutuhan pelanggan.
- Chin-nan. - Paham. Aku payah.
Aku akan introspeksi diri.
Kita harus membedakan diri dari restoran di sekitar kita.
Jadi, aku merombak restoran kita
menjadi bistro bergaya Taiwan.
Kita harus mengubah menu dan dekorasi kita.
Tapi kami baru saja selesai mendekorasinya.
Mari beri pelanggan kita udara segar.
JIN LAI HAO SEJAK 2012
Kita akan memutuskan hidangan khas kita hari ini.
Kenapa pelanggan harus memesannya?
Itu kisah yang akan kita ceritakan.
Jika dijual dengan baik, itu akan laku.
Paham?
Ikan kukus dengan daun kendal bisa menjadi hidangan khas kita.
Aku selalu ingin mempromosikan bandeng.
Itu mudah dimasak
tapi mengeluarkan semua rasa dari bahan-bahannya.
Itu juga mengingatkanku kepada ayahku yang membuatku suka memasak.
Itu kisah yang bagus.
Tapi satu ikan utuh tampak berlebihan.
Mungkin kita bisa sajikan filet ikan en papillote dengan gaya Barat.
Ide bagus.
Kusarankan ayam tiga cangkir menjadi hidangan khas kita.
Ini metode memasak yang unik di Taiwan.
Mudah dan efisien untuk dibuat dan terlihat lezat.
Lalu Lu-yung akan membuat filet ikan en papillote
sementara Yu-li membuat ayam tiga cangkir.
Mari adakan pemungutan suara daring.
Baiklah. Ini pemilik kami, Chou Lu-yung.
Kami sedang menyiapkan bahan-bahannya.
Ini chef kami satu lagi, Yu-li.
Halo!
Mereka bekerja sangat keras.
Kau terekam!
Bagaimana bisa kuunggah?
Kau memasak apa?
Ayam tiga cangkir!
Aromanya enak sekali!
Bagaimana membumbuinya?
Arak beras. Kita tambahkan arak beras.
Ya, itu arak beras.
- Astaga! - Astaga!
Bagus.
Bagus!
Kau takut api, Yu-li?
Kau takut api?
Apa kalian tahu itu?
Siapa yang bisa menjawab?
Apa Yu-li takut api?
Katakan.
Kenapa kau mempekerjakannya?
Aku mempekerjakannya untuk menjadi chef.
Kau mempekerjakan orang yang takut api menjadi chef?
Yu-li belajar masakan Barat.
Masakan Barat tidak menggunakan api besar.
Kami berusaha menghindarinya dalam masakan kami.
Kau tidak lihat tulisan di papan nama kita?
"Hidangan ala Taiwan"?
Hidangan tumis buatannya tidak stabil
tapi selain itu
- tidak ada yang salah. - Maksudmu
hidangan khas kita tidak harus yang terbaik?
Seorang chef yang takut api.
Itu hal paling absurd yang pernah kudengar.
Itu seperti ikan yang takut air.
Aku bingung kenapa kau merekrutnya.
Kau tak bisa membuat tas sutra dari telinga babi.
Dia bukan telinga babi.
Dia sudah bekerja keras selama bertahun-tahun.
Kau tahu
dekorasi baru
dan pelayanan yang lebih baik saja tidak cukup.
Yang menentukan kita berhasil atau gagal adalah rasanya.
Kita butuh rasa yang konsisten.
Percayalah pada penilaianku sebagai manajermu.
Bersamaku, Jin Lai Hao akan populer.
Kau tak bisa membantunya selamanya.
Kau senang di sini?
Ya.
Kau senang bekerja di sini?
Ya.
Tapi kau sudah lama
takut api
dan belum menyelesaikan masalah itu.
Semua orang di sini
ingin Jin Lai Hao
menjadi lebih baik dan kuat.
Tapi tumisanmu sama sekali tidak stabil
yang akan menjadi masalah besar bagi kami.
Kau tahu itu, bukan?
Ya.
Ambillah.
Bos
jangan lakukan ini.
Ini gaji bulan ini.
Terima kasih.
Terima kasih untuk semuanya.
Aku sudah menggandakan jumlahnya.
- Apa kau gila, Pak? - Jika kau suka bekerja di sini
aku ingin kau bekerja dua kali lebih keras
agar uangnya tidak sia-sia.
Selagi kami mendekorasi ulang restoran ini
atasi ketakutanmu dengan api.
Apa kau sanggup?
Sanggup.
Bagus.
Kau dengar janji Yu-li?
Tunggu. Bos.
Benar, satu hal lagi.
No comments yet. Be the first to leave one.