Lebih Dari Selamanya

Lebih Dari Selamanya

Download Indonesian Subtitle

Release info

[π‚π¨πŸπŸπžπžππ«π’π¬π¨π§] π‹πžπ›π’π‘ πƒπšπ«π’ π’πžπ₯𝐚𝐦𝐚𝐧𝐲𝐚 (πŸπŸŽπŸπŸ“) 𝐍𝐅 𝐖𝐄𝐁
A Commentary by Coffee_Prison
π‘«π’–π’“π’‚π’”π’Š : 𝟎𝟏:πŸ‘πŸ”:πŸ’πŸ || π‘Ίπ’–π’ƒπ’•π’Šπ’•π’π’† π‘Ήπ’†π’•π’‚π’Šπ’ 𝑡𝑬𝑻𝑭𝑳𝑰𝑿 || *ΰͺ‘ΰ±Ώα₯£Ι‘ოɑ𝗍 π–¬ΰ±Ώπ“£π—ˆπ“£π—π—ˆπ“£

Tags

webdl
Published on: 2026-01-15
Downloads: 102
Hearing Impaired: No
FPS: 25

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Saya terima nikahnya dan kawinnya Rifa Anastasia, binti Andre Sulaiman

dengan mas kawin emas 10 gram dan seperangkat alat solat, dibayar tunai.

Gimana, saksi? Sah?

- Sah! - Alhamdulillah.

Sini. Biar… Biar tambah ganteng.

Satu, dua, tiga.

Gimana sih? Begini, ya?

Oke. Satu, dua, tiga.

- Oke, ya. - Hitung lagi, ya.

- Kita hadap belakang aja. Lucu juga. - Oke.

Ayo.

Oke. Satu, dua, tiga.

Sayang.

Tolong ambilin kardus yang isinya sendok.

- Di situ. - Iya.

Sebelah sana.

Kamu kok pakai sandal? Ini aku lagi mengepel loh.

Maaf.

- Lepasin. - Ya. Nanti aku lepas.

Kamu udah selesai belum potong tempenya?

Belum. Sedikit lagi.

Potong tempe aja. Ini aku sudah selesai loh masaknya. Tuh.

- Kamu udah selesai? - Udah dong.

Ih, sombong.

Kalo gini gimana?

Ditutupin lagi kumisnya…

Ini adalah masakan Chef Rifa yang terkenal.

Cobain.

Kok sedikit banget sih?

Kan nyobain.

Bagaimana, Bapak Juri?

Enggak enak, ya?

Terima kasih, Bapak Juri!

Terima kasih, Juri. Terima kasih, Bapak Juri.

Selamat ulang tahun

Buatlah harapan.

Angkanya salah.

34 tahun ini umur biologis aku.

Tapi umur aku baru dimulai empat tahun yang lalu.

Waktu aku ketemu kamu.

Semoga adek bayi lahir dengan sehat, selamat,

dan kita berdua selalu diberi kesehatan, diberi waktu yang lama banget

untuk bersama-sama saling mencintai susah senang bersama.

Amin.

Aku cinta kamu.

Aku juga cinta kamu.

Tiup lilinnya.

Bareng-bareng aja.

Satu, dua…

SELAMAT ULANG TAHUN

- Sakit! - Kamu bisa. Sedikit lagi.

Satu tarikan napas, Bunda.

- Ini enggak mau maju. - Bantu doa.

Aku pengin kayak begini selamanya.

Enggak ada yang selamanya.

Jawabannya nyebelin.

Harusnya jawabannya itu yang bikin senang istri.

Ya, Sayang.

Aku juga mau selamanya sama kamu.

Sama-sama sampai surga.

Pokoknya, selamanya sama kamu.

Begitu.

Enggak asyik!

- Kok enggak asyik? - Enggak pakai hati.

Papa pakai hati loh.

Kok begitu?

Aku kemarin jalan-jalan cari hadiah buat kamu, terus aku nemu ini.

Aku bayangin kalau suami aku pakai jam tangan ini.

Pasti ganteng banget.

Wow!

Enggak suka, ya?

Aku suka banget.

Tapi aku enggak siapin hadiah apa-apa buat kamu.

Aku enggak perlu hadiah!

Aku itu perlunya kamu.

Terima kasih, ya,

udah jadi istri yang terbaik.

Sudah jadi ibu yang terbaik buat Nasya.

Ganteng banget suami aku!

- Sekarang waktunya kita makan. - Oke.

Aku udah siapin menu spesial untuk kamu.

Kamu cobain, ya? Kamu cobain.

Ya. Ini waktunya makan, ya.

Gimana?

Enak banget!

Syukurlah.

Aku beruntung banget punya suami kayak kamu, tahu gak sih?

- Ini udah mulai berlebihan. - Enggak! Enggak berlebihan.

- Enggak! - Aku enggak bisa hidup tanpa kamu.

- Aku yang enggak bisa hidup tanpa kamu. - Alah! Bisa aja!

- Kamu bisa. - Enggak, aku enggak bisa.

Kalau aku meninggal duluan, kamu bakal menikah lagi, kan?

- Kok kita jadi bahas ini? - Tapi iya, kan?

Aku enggak akan menikah lagi kalau misalkan kamu meninggal…

Jangan-jangan kamu yang nikah lagi kalau aku meninggal duluan.

Ih, kok dibalik begitu sih?

Ya, oke, aku akuin aku memang genit, tapi kan cuma sama kamu.

Kalau kamu…

Sayang.

Kita lagi merayakan hari ulang tahun pernikahan.

Jadi, tolong, jangan membahas yang kayak begini. Ya?

Tapi kamu perlu tahu ya.

Kalau sampai aku meninggal duluan, terus kamu menikah lagi…

Aku tuh bakal sedih.

Sedih banget.

Sayang,

kamu lihat wajah aku.

Kamu lihat mata aku.

Aku enggak akan buat kamu sedih.

Sekarang, senyumnya mana?

Tapi kalau sampai aku meninggal duluan,

aku bakal pastikan kamu enggak menikah lagi.

Kalau perlu aku hantuin kamu.

Camkan itu.

Iya.

Ternyata benar.

Aku meninggal duluan.

Hati-hati dengan ucapanmu.

Karena ucapanmu bisa jadi kenyataan.

Aku meninggal.

Pak!

Pak!

Ini aku, Pak!

Kamu enggak sedih?

Padahal aku pikir kalau aku meninggal duluan,

kamu loh yang menangisnya paling kejer.

Ini kamu enggak nangis sama sekali.

Pak Salim.

Turut berduka cita ya, Pak.

Ya, makasih, Bu.

Bu Rifa dulu pernah tolong saya

waktu anak saya mau masuk sekolah SMA.

Saya berniat untuk mengembalikan

yang pernah dikasih almarhumah untuk saya, Pak.

Enggak usah, Bu. Disimpan saja. Ya?

Tapi saya sudah janji untuk mengembalikan uang almarhumah, Pak.

Enggak apa-apa, Bu. Saya yakin Bu Rifa juga ikhlas.

Enggak apa-apa. Simpan saja.

Ya, Allah!

Bu Rifa orang baik.

Kenapa harus Bu Rifa yang dipanggil duluan?

- Asalamualaikum. - Wa alaikumsalam.

Ayo.

Asalamualaikum.

Nak, udah mau masuk tuh.

Nasya kangen Ibu.

Bapak juga kangen sama Ibu.

Ibu udah enggak sakit lagi.

Ibu udah senang di sana. Ya?

Nasya sekolah, ya?

Ayo, sekolah.

Ayo, Nak.

Ya?

Hari ini ke makam Ibu aja boleh enggak?

Besok Nasya sekolahnya.

Nasya janji.

Besok Nasya sekolah, ya?

Kamu tunggu di sini, ya, Nak?

Papa kerja dulu, ya. Nanti kita makan siang bareng.

Astagfirullah.

Kenapa?

Ibu Ani bisa menjelaskan?

Pak John?

Pak Salim?

Pak Salim? Itu ditanya.

Bapak bisa jelasin?

Tolong disimak, Pak Salim. Kita lagi bahas evaluasi ini.

Ya. Baik, Pak.

Bapak.

Nanti kalau misalnya dapat ranking, jadi jalan-jalan, kan?

Kamu enggak dapat ranking juga jalan-jalan, Nak.

- Beneran? - Beneran.

Bapak yakin kamu udah melakukan yang terbaik.

Nah, di sini kelas aku.

- Ini kelasnya? - Ya.

Ayo.

Tunggu. Aku boleh di sini aja, enggak?

- Enggak boleh. - Aku maunya di sini.

Kenapa? Grogi, ya?

Mungkin.

- Bapak? - Ya udah, Bapak masuk ya?

- Oke. Dah. - Dah.

- Hei. - Nasya!

- Nasya, kita duluan, ya. - Ya, Nasya. Aku pamit dulu, ya.

- Dah. - Dah.

Selamat ya, Sayang. Ibu bangga banget sama Riri.

- Ya. - Ibu janji ya, mau beliin hadiah.

Nasya orangnya punya pendirian, Pak. Enggak gampang ikut-ikutan.

Ya.

Kalau bukan karena didikan orang tuanya,

berarti karena genetiknya ya, Pak?

Dua-duanya, Bu.

Genetik dari ibunya, juga pendidikan dari kita. Orang tuanya.

- Hai, Nasya. - Hai.

- Kamu sehat? - Mama masuk dulu, ya.

- Kamu sudah ambil rapor? - Oh, Bapak aku lagi ambil tuh rapornya.

- Yang duduk di depannya Bu Elsa. - Oh, itu ya?

Ibu kamu enggak ikut, ya?

- Baik, saya pamit dulu, Bu Elsa. - Siap.

- Terima kasih. - Mari, Pak. Sama-sama.

Lebih Dari Selamanya subtitles in other languages

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle β€” sync, quality, typos.500 characters left