The first 200 lines.
Aku akan mengambil kaset videonya juga.
Bos, sudahlah. Aku takut.
Ikuti saja orang lain.
Kau tidak akan terlihat seperti pencuri.
Kakak, apa kalian mencuri?
Kami ini pedagang.
Kami melakukan bisnis bersama.
- Kami ini seperti saudara. - Bodoh.
Biar aku yang bicara.
Adik kecil, aku tidak mencuri, aku sedang melakukan olahraga.
Pergi. Jangan ganggu kakak.
Kakak tidak mencuri. Dia sedang berolahraga.
Ini bukan urusanmu. Pergi.
Dasar bodoh. Gadis ini lebih tua. Tidak bisa bilang seperti itu.
Nona, bisakah kau berpura-pura buta dan tuli sebentar saja?
Permainan kami berhadiah. Ambillah yang kau suka.
Baiklah.
Perbedaan usia punya perbedaan kebutuhan. Kau mengerti?
Pencuri.
- Di mana pencurinya? - Di sana, Pak.
Kau memintaku untuk perpura-pura buta, bukan berpura-pura bodoh.
Wanita ini saksinya.
Aku melihatnya membawa TV keluar dari pintu ini.
Nona, apa kau benar-benar melihatku keluar dari pintu ini?
Bukankah begitu?
Pak, ini hanya salah paham.
Kami kebetulan lewat dan melihat ada pencurian di sini.
Kami telah mengusirnya.
Adikku memintaku untuk mengembalikannya.
Aku hanya membawa TV-nya kembali ke dalam.
Aku melihatmu membawanya keluar.
- Benarkah membawanya keluar? - Benar.
Kalau begitu perlihatkan pada kami.
Benar. Ayo.
Pak, dia membawanya seperti ini. Sama seperti aku memasukkan TV-nya.
Apa kau benar-benar melihatnya? Jangan mempermainkanku.
Terima kasih atas keberanianmu.
Kau menyelamatkan tokoku dari kerugian yang besar.
Sebagai tanda terima kasih, aku akan memberikan TV ini.
Benarkah? Kalau begitu terima kasih.
Hei, dia membawanya seperti itu.
Haha.
Tidak perlu khawatir.
Kalian masih bisa menonton TV di penjara.
Dasar wanita kurang ajar.
Jangan sampai kita bertemu lagi atau aku akan menghajarmu.
Diam. Tutup pintunya.
Masuk.
Ini adalah petugas masa percobaan kami, Nona Cheung.
Kau.
Benar, aku.
Bukankah kau bilang akan menghajarku kalau kita bertemu lagi?
- Benar. - Aduh.
Kenapa kau memukulku?
Sudah kubilang, aku akan menghajarmu kalau kita bertemu lagi.
Kenapa kau tidak menghindar?
Bagus sekali. Kau pandai bersilat lidah.
Tapi ini adalah penjara, bukan parlemen.
Jika kau melanggar aturan, kau akan mendekam di sini selamanya.
Mereka itu penjahat.
Semakin sedikit semakin baik untuk lingkungan sosial.
Mereka akan mencemari masyarakat jika mereka keluar.
Bukan begitu, Nona Cheung?
Bisakah kau diam?
Tanggung jawab kita harus benar-benar diperjelas.
Dia tidak punya pikiran yang bersih.
Benar.
Jika kau terus bicara, aku tidak akan memberikanmu sel.
Baiklah. Sel nomor empat.
Sel nomor empat?
Semoga Tuhan melindungimu.
Kenapa kau ketakutan? Mereka takut pengganggu.
Kau terlihat lemah. Mereka pasti akan menghajarmu.
Apa yang harus aku lakukan?
Aku tidak akan takut, biar aku jadi bosnya.
Jadi bos? Kau ingin mati? Kau akan dibunuh.
- Apa yang harus kita lakukan? - Pura-pura jadi gila.
Ayo.
Ayo.
Aku, aku tidak kuat.
Bos, kita adalah bankir. Kita tidak bisa kalah.
Aku tidak pernah kalah selama 30 tahun.
Aku akan mengebirimu jika kau tidak bisa mengalahkannya.
Terkutuklah kau.
Bos, aku kalah.
Kita menang.
Bos, kau hebat.
Kawan-kawan, jangan membuatnya marah.
Dia ini gila dan bodoh.
Benarkah?
Benar. Kalau aku bilang "bodoh", maka dia akan memukulku.
- Benarkah? - Benar.
- Aku tidak tidak percaya. - Hei, jangan.
Bodoh.
Kurang ajar kau.
- Bos. - Ada apa?
- Kau bilang apa kalau memakiku? - Dasar kurang ajar.
Lalu kalau aku lupa memakai celana setelah buang air?
Bodoh.
Bosku bilang bodoh.
Silakan.
- Dia bilang apa? - Bodoh.
Bodoh.
Aduh.
Bos.
Kebiri dia.
Hei jangkung, kau bilang kau adalah bos di sel ini.
Kau membencinya dan memintaku untuk memukulnya.
Apa kau membodohiku?
Kau punya nyali juga.
Aku sudah di sini selama 18 tahun.
Kau berani menjebakku.
Tapi bosku adalah orang yang berani, kuat, dan berbakat.
Pintar dan tajam.
Bos, kau tidak akan percaya pada bajingan itu, bukan?
Tentu saja aku percaya.
Kebiri dia juga.
Waktunya makan siang.
Apa yang kau takutkan?
Aku takut saat membayangkan kau yang kesakitan.
Kurang ajar.
Tuan Lau datang. Berbaris. Cepat.
Tuan Lau, senang bertemu denganmu.
Hati-hati. Kami baru saja membersihkan lantainya.
Ini masih licin.
Hei, beri sambutan untuk Tuan Lau.
Selamat datang, Tuan Lau.
- Kau tidak mau dikebiri? - Apa maksudmu?
Kita berhenti berkelahi.
Apa maumu?
- Pindah ke sel lain. - Pindah?
Di sel ini semuanya baik.
Tidur kami nyenyak. Makanannya enak.
Anak buahku semuanya penurut.
Bos menyuruhku untuk melakukannya. Aku tidak boleh bilang tidak.
Benar.
- Benarkah mereka penurut? - Tentu saja.
Kau tidak percaya?
Bagaimana, Bos?
Sial. Kalian ingin menjebakku.
Tapi Tuan Lau kita adalah orang yang berani, kuat dan berbakat.
Pintar dan tajam.
Kau tidak akan percaya pada mereka, bukan?
- Tentu saja dia percaya. - Tentu saja dia percaya.
Kawan. Kita akan mendapat masalah saat di ruang percobaan.
Kau ingin ada orang yang bertanggungjawab?
- Siapa orangnya? - Aku punya ide.
Apa yang kau lakukan?
Kau ini anak baru dan kau tidak tahu apa-apa.
Ruangan ini disebut Ruangan Percobaan Pemukul Besi.
10 pukulan untuk kesalahan kecil...
...dan 20 pukulan untuk kesalahan besar.
Aku ini kurus. Aku akan mati setelah mendapat empat pukulan.
Aku beruntung karena aku bisa meminta Tuhan untuk melindungiku.
Tuhan, kumohon berikan kekuatan-Mu padaku.
Berikan pada tanganku, punggungku, dadaku, dan bokongku.
Kemari dan pukul aku dengan kursi.
Kau yakin?
Terlalu lemah. Pukul aku kuat-kuat.
Tanganku sakit. Kakak, kau sangat kuat.
Bisakah kau mengajariku? Aku tidak ingin mati.
Cepatlah. Kita tidak punya waktu lagi.
Kau kawanku dan kau kurus.
Buka bajumu.
Tunggu, ajari aku dulu.
Tidak, aku ini lemah. Aku pasti akan mati.
Kalau begitu. Aku akan membalaskan dendammu jika kau mati.
Kau lemah dan bodoh. Bagaimana kau bisa membalaskan dendamku?
Sudah. Ini terlalu rumit. Tidak usah dipikirkan.
Kita tidak punya banyak waktu. Siapa pun yang pertama sama saja.
Tapi kau tidak bisa Kung Fu. Biar aku ajari dulu mantranya.
Ikuti yang aku katakan. Akan aku ajari mantranya.
Tutup matamu.
Jangan buka matamu selama 5 menit.
Tuhan, kumohon berikan kekuatan-Mu padaku.
Berikan pada tanganku, punggungku, dadaku dan bokongku.
Sudah selesai?
Sabarlah. Sebentar lagi.
Baiklah. Putar badanmu dan tetap tutup matamu.
Ikuti apa yang aku katakan.
- Tuhan. - Tuhan.
- Aku mohon. - Aku mohon.
- Berikan kekuatan-Mu padaku. - Berikan kekuatan-Mu padaku.
- Berikan pada kepalaku. - Berikan pada kepalaku.
- Berikan pada tanganku. - Berikan pada tanganku.
- Berikan pada punggung dan dadaku. - Berikan pada punggung dan dadaku.
- Berikan pada bokongku. - Berikan pada bokongku.
Berhasil. Ayo pukul aku.
Hei, kenapa...
- Nona. - Nona.
Apa yang kalian lakukan?
Aku tidak tahu. Dia membuka bajunya saat masuk kemari.
Lalu dia memperlihatkan gambar itu.
Kau...
Kami sudah menghentikannya. Kalau tidak, dia telah membuka celananya.
Benar.
Nona, aku sudah lama mengenalmu.
Kau selalu terlihat sedih.
Jadi aku ingin membuatmu tertawa.
Apakah ini lucu?
No comments yet. Be the first to leave one.