The first 200 lines.
SEMUA KARAKTER, KEJADIAN DAN LOKASI DI FILM INI FIKSI
TIDAK ADA IDENTIFIKASI ORANG SEBENARNYA YANG DISENGAJA ATAU DITULIS
ALKOHOL DAN ROKOK BERBAHAYA BUAT KESEHATAN
TIDAK ADA HEWAN DISAKITI DALAM PEMBUATAN FILM INI
BERDASARKAN PERCAKAPAN ANTARA SHIU DAN AYAHNYA
Permisi.
- Hei, Tara. - Hai!
Selamat, Teman.
Aku ganti baju sebentar. Oke?
Kau atasi kasusnya dengan baik, Tara.
Itu adalah keahlianku.
Tara, kau memenangkan kasus pertamamu!
Ayo, teman-teman. Ayo, pesta!
- Kalian ikut? - Tenang.
- Ayo! Cepat! - Ya ampun!
Astaga!
Ayo!
Selamat, Tara! Ayo kita rayakan.
Hai, teman-teman! Itu pacarku Tara. Dan dia baru menangkan kasus pertamanya!
- Tara! - Tara!
Kalian siap untuk pesta?
Senin, Selasa Rabu Aku hanya ingin main-main
Kamis, Jumat, Sabtu Aku ingin biarkan rambutku terurai
Senin, Selasa, Rabu Aku hanya ingin main-main
Kamis, Jumat, Sabtu Aku ingin biarkan rambutku terurai
Tapi Minggu, oh Minggu
Itu hari istirahatku!
Satu cegukan berarti malapetaka hidupku
Aku tidak punya ruang lagi
Cegukan telah membuatku
Cegukan telah membuatku
Aku mabuk
Aku mabuk
Aku bisa merasakan tendangannya
Aku bisa merasakan tendangannya
Aku mabuk
Aku mabuk
IBU
Hei, bisa isi daya ponsel ini? Ini milik Tara.
Oke.
Ikutlah denganku dalam perjalananku
Ikutlah denganku dalam perjalananku
Ayo berkumpul dan mabuk
Ayo berkumpul dan mabuk
Kau membunuhku
Kau membunuhku
Cintaku
Satu cegukan berarti malapetaka hidupku
Aku tidak punya ruang lagi
Bisa tolong dicek?
Ya?
Bu.
Kau lupa teleponmu di bar.
Terima kasih.
Ada yang telepon semalaman.
Jadi...
Ayah?
Ya, Ayah? Sebentar.
Ibu mana?
Di mana semalaman?
Kami di pesta.
Ayah telepon semua semalam.
Karan tak menjawab. Ponsel Nakul mati.
Ada apa, Ayah?
Apa itu penting?
Ada bedanya buatmu?
Ayah, tolong jangan mulai lagi, terlalu pagi.
Kenapa tidak ada telepon rumah?
Ayah telepon dari jam lima pagi.
Telepon rumah? Itu tak dipakai lagi.
Untuk yang peduli.
Ayah, sudah berbulan-bulan sejak Ayah telepon.
Dan itu juga...
Sudahlah.
Kenapa tidak marahi Ibu?
Dia ingin aku begitu.
Aku tidak butuh uangnya.
- Ambil saja. - Tidak, Bu.
Aku tinggal di sini di depan klinik Tiwari.
Tadi, aku pikir mau titip teleponmu pada seorang teman.
Aku pikir aku kenal kau.
Aku sudah sering melihatmu.
Aku pikir aku antar saja.
Jadi...
Tadi malam, ayahmu menelepon terus.
Aku menjawab teleponnya.
Dan dia bilang, ibumu telah meninggal.
Apa?
Ibumu sudah tiada. Mungkin kau harus telepon kembali?
Maaf, Bu.
RUMAHKU SURGAKU
Ibuku tersayang
Siapa itu, Tara?
Ibuku tersayang
- Ibuku tersayang - Ada apa, Tara?
Ibuku tersayang
Ada apa?
Penting bagimu?
Kenapa tidak lanjutkan pestanya?
Hanya itu yang kau suka.
Ayah harus beritahu dia ibumu sudah tiada.
Seorang pelayan.
Tapi Ayah, aku tidak tahu.
Maafkan aku.
Dia tidak tahu.
Jadi aku duduk diam saja menunggu dia mati?
Bagaimana bisa dia tinggalkan kami?
Aku rindu semua teleponnya.
Aku tidak membalas pesannya.
Kubaca tapi tak kubalas.
Aku bahkan tidak beritahu dia aku memenangkan kasus pertamaku.
Apa yang kulakukan?
Ayo, Ayah, minum jusnya.
Ayah.
Ayah.
Entah apa Geeta...
sudah beritahu...
Ayah Gayatri atau belum.
Ayah harus beritahu.
Tapi siapa...
yang urus semua di sini?
Ayah banyak urusan.
Bahkan belum ada yang tahu.
Haruskah aku unggah di Facebook Nn. Gayatri?
Ya, pakai teleponnya.
Di mana ponselnya?
Bagaimana dengan Karan?
Karan naik penerbangan malam.
Nakul belum jawab.
Minum jusnya, Ayah.
Ayah belum makan.
Tidak.
Ayah sudah telepon ambulans.
Sudah.
Dengar, kita...
juga butuh es.
Dan kita harus...
pesan ambulans.
Semua sudah, Ayah.
Ayah jangan stres.
- Dan... - Minum jusnya, Ayah.
Dengar.
Mana sandal Ayah?
Ayah pakai.
Ayah memakainya.
Benar.
Kursi ekonomi sudah dipesan. Mau bisnis?
Harganya?
Harga 35 ribu rupee.
Urus saja, Mudassar. Pesan untukmu juga.
Itu akan membuat Ayahmu marah.
Tapi Ibu menyayangimu.
Aku tahu, Tara.
Tapi pergilah bersama keluargamu.
Pasti aku datang saat kremasi.
Sudah beritahu dia?
Belum.
Kami sudah bicara dengan dokter.
Dia masih sangat lemah.
Kurasa aku tak bisa datang ke kremasi.
Tapi, aku coba.
Aku janji.
Ada apa?
Di mana Gayatri?
Gayatri datang?
Istirahatlah.
Dia akan segera datang.
Ayah, ponsel Nakul masih tak bisa dihubungi.
Sudah kirim pesan?
Ya, sudah aku kirim.
"Pulang. Ibu tidak sehat."
Baiklah.
Dia sudah makan?
Ayo.
Bodoh.
Kau tidak makan?
Ini.
Ayo.
Makanlah.
Makan sedikit.
Makan demi Gayatri.
Sedikit saja.
KEBODOHAN UNTUK BODOHKU
Bisa dengar aku?
Patrick, sudah kubilang aku kembali 15 hari lagi.
Ya.
Aku...
Akan kubuat presentasinya dan kirim.
Maaf Bu, makanan Hindu-mu ada.
Terima kasih, aku ayam saja.
Maaf, ayam tidak termasuk makanan Hindu.
Apa...
Tapi aku suka ayamnya.
Maksudku, ayam pedas India.
Maafkan aku.
Itu favoritku.
Aku akan coba selesaikan empat-lima hari, ya?
Ya, akan kulakukan. Oke.
Selesaikan?
Apa?
No comments yet. Be the first to leave one.