Dear Nathan: Hello Salma

Dear Nathan: Hello Salma

Download Indonesian Subtitle

Release info

Dear Nathan Hello Salma 2018 INDONESIAN WEBRip NF
A Commentary by tedi
Retail NF | 1h 42m Fix common errors

Tags

webrip
web
BRip
Published on: 2023-09-06
Downloads: 31
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 191 lines.

- Popok. - Popok?

- Ya. - Siap!

- Ada? - Ada!

Halo, Salma!

Halo, kau siapa?

Aku pacarnya Nathan.

Kasihan sekali jadi pacar Nathan.

["Lovin' U" oleh Devano Danendra masih diputar]

- Minyak telon? - Sudah.

- Susu formula? - Sudah.

Harus sampai empat kali bertanyanya?

Kau lupa beli bubur bayi pekan lalu.

Kasihan adikmu.

- Itu salahmu. - Kenapa aku?

Karena kau selalu memenuhi pikiranku.

Nathan, cukup. Malu dilihat orang.

Tapi kau tidak akan malu

saat menjadi ibu dari anak-anak kita?

Nathan, fokus!

Ya, fokus. Selama kau di sini, fokusku pasti terjaga.

Tidak mungkin lupa barang belanjaan.

Maaf, kalian belanja untuk balita, 'kan?

Ya. Kenapa?

Ini popok manula.

- Biar kutukar dulu, ya. - Ya.

Maaf.

Bagus! Ayo! Terus! Sedikit lagi!

Tendang! Mundur!

Kau mengagetkan ayah!

Kau ubah pengaturan tuas kontrol ayah?

Aku tahu Ayah akan main sendiri.

Makanya kuubah.

- -

Tadi kau belanja bersama Salma?

Kenapa mendadak Ayah penasaran?

Kasihan Salma.

Dibohongi, dan digoda oleh buaya.

Beginilah ujian jadi orang ganteng.

Salma yang jatuh cinta, tapi aku yang dituduh buaya.

Jangan terlalu bangga. Apa gunanya ganteng?

Kalau ingin bangga, berkomitmenlah. Tepati janjimu.

Baru bisa merasa bangga. Itu yang namanya laki-laki.

Sayang, apa maksudmu menepati janji?

Janjimu bermain dengan Daniel. Sekarang malah main gim.

Lihat, Daniel main sendiri.

Baiklah.

- Sejak tadi Adik menunggu, ya? - Lihat!

Daniel, ayo main sama ayah. Apa itu?

Ini, Bu. Barang-barang Daniel.

- Terima kasih, Nathan. - Kutaruh di sini.

Jangan seperti anak perempuan. Ayo. Lebih tinggi!

Baiklah, Anak-anak. Untuk hari ini kalian pulang lebih cepat.

Para guru mengadakan rapat untuk membicarakan ujian akhir semester.

Jadi, kalian bisa belajar di rumah.

- Hore! - Ya!

Pagi, Anak-anak.

Salma!

Kau langsung pulang?

Tidak, aku mau berkumpul dengan anak-anak OSIS.

Baiklah, kutunggu di kantin. Semangat!

Di hari berangin begini, enak sekali kalau merokok.

Ide bagus. Kita patungan.

Kita merokok bersama.

Nathan.

Aku sudah berhenti.

Tapi aku ikut patungan. Ini.

Sepuluh ribu.

Selera Nathan sudah berubah.

Tentu saja, kalau tidak, dia kena masalah dari ibu negara.

Persis.

Aku heran, Nat. Kenapa kau mau disuruh oleh Salma?

Maksudnya apa disuruh?

Harusnya Salma yang disuruh.

Bukan sebaliknya.

Sudahlah, Dim. Lagi pula, dia ikut patungan.

Kau tahu apa yang dia dapat dari Salma?

Seksi goyangannya?

Membuatnya ketagihan...

Aku bercanda, Nathan.

Jaga bicaramu, Berengsek!

Apa-apaan?

Hajar!

Hajar!

Jangan... pernah... merendahkan... perempuan!

Kami sudah siapkan tata letaknya, dan...

- Sudah hampir selesai, tapi... - Salma!

Nathan.

- Kenapa? - Ayo!

Sebentar, ya!

Orang tua macam apa yang mengajari anaknya memukul anak lain?

- Maaf? - Orang tua macam apa

yang mengajari anaknya merendahkan perempuan?

- Kau... - Tenang, Bu, Pak.

Jangan diperpanjang. Mari kita berbesar hati.

Nathan, minta maaf, dan semuanya dianggap selesai.

Aku akan minta maaf kalau Dimas minta maaf kepada Salma lebih dahulu.

- Nathan? - Tunggu.

Kita tidak tahu masalahnya. Kita coba tanya Dimas.

- - Tak perlu bicara panjang lebar.

Ini giliranku bicara, Bu.

Kau bisa membereskan masalah ini, tidak?

Atau perlu kutelepon ayah Dimas untuk membereskan jabatanmu?

Maaf, Bu. Tolong jangan. Nathan, minta maaf.

- Aku takkan minta maaf. - Untuk apa?

Jangan sampai bapak menskorsmu, Nathan.

Bukan salahku. Kalau diskors, lebih baik aku pindah sekolah.

Ayah, apa aku salah?

Tentu saja.

Kau kira ayah suka kau selesaikan masalah dengan kekerasan?

Tidak apa-apa. Lagi pula, ayah tidak suka guru macam itu.

Ada satu hal yang harus kau ingat.

Jangan ulangi ini di sekolah barumu, ya?

- Ya, Ayah. - Tidak apa.

Tidak apa.

- Berhenti, Pak. - Turun di sini?

Di sini, ya?

- Ini, Pak. Sama-sama. - Terima kasih.

Kau boleh marah padaku,

tapi setidaknya beri tahu kalau pulang sendirian.

Aku lama menunggu...

- Kau tidak peduli padaku? -

Kenapa kau memilih pindah sekolah?

Tidak perlu dibahas, itu tidak penting.

Penting bagiku!

Kenapa? Takut merindukanku?

- Jangan cemas, Sal, aku akan tetap... - Apa sulitnya minta maaf?

Kau mau tahu alasannya?

- Apa pun itu, - Asal...

- berkelahi tak membuatmu dewasa, Nathan! - Dengar...

- Asal kau tahu... - Minta maaf!

Itu akan membuatmu menjadi Nathan yang lebih baik.

Aku selalu salah di matamu, bukan?

Jangan tanya aku jika apa yang kau pikirkan selalu benar.

Jika aku sudah berusaha dan tak bisa jadi yang kau mau, lantas?

Usaha apa, Nathan? Berkelahi?

Aku lelah selalu berusaha memahamimu.

Kapan kau akan berubah?

Kau tidak pernah bisa memahamiku.

Lalu apa gunanya kita bersama?

Maksudmu apa tadi?

Kau mau putus?

Baik.

Kalau itu maumu, aku tidak bisa memaksa.

Aku tidak mau kau terus menangis dan kecewa.

Hanya karena orang berengsek sepertiku.

Salma, ada apa?

Kau diam dari tadi.

Ada masalah?

Aku putus dari Nathan.

- Sabar, ya. -

Salma sebenarnya tidak mau kau pindah.

Sudahlah, tidak usah dibahas. Itu tidak penting.

Nathan, dia hanya sedang emosi.

Dia kira setelah bilang begitu, kau akan minta maaf.

Dia tidak bermaksud putus darimu.

Aku tidak memahami perempuan.

Mereka yang meminta putus, malah menangis.

Lalu merasa jadi korban.

Nathan, dia sayang sekali denganmu.

- Dengar, setiap kali kau berkelahi... - Maafkan aku.

Tapi topik ini tidak menarik.

- Robi! - Apa?

Ayo!

- Aku pergi. - Nathan, aku belum selesai. Nathan!

Di lapangan ini, kita pernah merasakan dihukum bersama.

Berlari dua putaran dan melakukan push-up .

Mungkin kalian pernah berpikir, "Kapan masa SMA selesai?"

Kapan kita bebas dari jeratan tugas dan PR yang menumpuk?

Padahal, hidup di luar sana jauh lebih keras dan penuh tekanan.

Jadi, aku berdiri di sini,

mewakili teman-teman sekalian, untuk mengucapkan terima kasih

kepada semua guru yang telah mendidik...

Sebenarnya, kulihat beberapa peningkatan dari Nathan.

Sayang sekali dia harus pindah, Pak Ardi.

Aku juga minta maaf atas semua masalah yang ditimbulkan Nathan di sekolah.

Kuharap Nathan akan lebih baik

- di sekolah barunya. - Ya.

- Permisi. - Ya, Pak.

Salma?

Halo.

Ibumu tidak datang mengambil rapor?

Ibu dalam perjalanan.

Baiklah.

Kalau ada kompetisi saling mendiamkan, kita juaranya.

Aku permisi. Ibu menunggu di kelas.

Tunggu, tadi katamu dalam perjalanan?

Maksudku, dalam perjalanan ke kelas.

Begitulah. Permisi!

Baiklah.

Hei.

Kau dan Salma bertengkar?

Dear Nathan: Hello Salma subtitles in other languages

More Indonesian subtitles for Dear Nathan: Hello Salma

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left