The first 200 lines.
- Kita mau ke mana? - Sebentar, Bi.
- Ini pokoknya... - Kejutan apa?
- Kau tunggu saja. Diam, ya. - Oke.
- Oke, sebentar, ya. Jangan mengintip, ya. - Ya.
Aku hitung sampai tiga, kau baru boleh lihat.
Satu, tiga!
- Ini dia! - Hore!
Kenapa mataku harus pakai ditutup?
Aku sudah sering ke sini.
Supaya seperti di film-film, Sayang.
Begitu, ya? Kalau begitu...
Hore, Bastian, aku senang sekali dengan rumah baru kita!
- Hore! - Beri aku pelukan.
Tapi aku lebih senang kepadamu.
Kau ini paling bisa.
Aku mencintaimu, Istriku.
Apa-apaan ini?
Angel.
Hei, Angel, ini apa-apaan?
Apa yang kau lakukan?
Kau terus saja melukis. Bantu aku membereskan rumah.
Membereskan rumah bisa nanti saja.
Lihat ini. Keinginan melukisku sekarang lagi bagus.
Jadi, tolong jangan ganggu.
Sepertinya kau benar-benar harus membantuku membereskan rumah.
Rumah ini sudah kotor sekali.
Lihat ini.
Di?
Ini.
Ini sepertinya kotoran cecak.
Apa yang membuatmu berpikir aku mau melihat kotoran cecak?
Tidak tahu. Coba cek.
- Coba cek. Cium. - Tidak.
- Itu, kotoran cecak. - Tidak mau.
- Ini, ayo. - Angel, ini tidak sopan.
- Hei. Tidak. - Ini hanya...
- Angel. - Tidak...
Selamat pagi, Mas Adi.
- Sombong sekali. - Sombong sekali, ya.
Ayo.
Hei.
Kenapa kau tak bisa ramah sedikit?
Aku lelah kau selalu dibicarakan oleh ibu-ibu saat arisan.
"Kenapa suaminya cuek sekali?
Tidak pernah mau berkumpul dengan tetangga-tetangga."
Seperti itu.
Aku ramah. Tadi sudah kujawab. Aku bilang, "Hmmm". Seperti itu.
Kau ini.
Saatnya mulai bergaul. Ayo.
- Ayo. - Mau apa?
Kenapa?
- Angel. Aduh. - Kenapa?
Sudah, jangan macam-macam.
Senyum.
- Hai. - Hai.
Hai.
Halo.
Kita tetangga yang di sini. Ini rumahnya.
Baru pindah, ya?
Ya, Mbak. Baru juga kemarin kami pindah.
Oke. Aku Angel.
- Hai. - Hai.
- Nama Mbak adalah Angel? - Ya.
Pasti baik seperti malaikat.
Malaikat pencabut nyawa.
Ini suamiku.
- Hai. - Adi.
- Adi. - Ya.
Oh, ya, hampir lupa.
Namaku Bastian. Ini istriku, Bi.
- Oke. - Bi?
Bi?
Namaku Bintang, Mas.
Tapi sejak kami pacaran dari SMA, Bastian selalu memanggilku "Bi".
Ya. Bi.
Karena istriku ini manis seperti madu.
Kalau yang ini pahit. Enaknya dipanggil apa, ya?
Baru mau berangkat kerja, ya? Kerja di mana?
Kalau aku adalah sales di perusahaan sabun cuci.
Baru sekitar sebulan bekerja.
Kalau Mbak Angel dan Mas Adi bekerja di mana, ya?
Kalau aku di firma hukum.
Kalau suamiku guru gambar di SMA Matahari.
Guru gambar? Wah, keren sekali itu, Mas.
- Keren, ya? - Ya, bisa hidup lah.
Tapi pas-pasan.
Aku punya ide.
Bagaimana jika Bastian dan kau berangkat bersama saja?
Tidak usah.
Tidak usah.
Tidak apa-apa, tidak repot. Aku malah senang.
Berangkatnya jadi ada teman.
Aku titip, ya, barang satu ini.
Permisi. Terima kasih, ya.
Ayo.
- Ya. - Dah.
"Barang"?
Mas Adi, silakan.
Hai.
Hai juga.
Bagaimana tadi? Sudah akrab dengan tetangga baru?
Untuk apa kau menyuruhku pergi bersama Bastian?
Supaya kau juga bergaul dengan manusia. Tidak sama lukisan terus.
Aku tidak suka kau menyuruhku pergi bersamanya seperti itu.
Bagaimana jika dia berpikir aku ingin berteman dengannya?
Malas.
Siapa itu?
- Hai. - Malas.
Hei.
Aku membuat puding buah untuk Mbak Angel dan Mas Adi.
- Mari dicoba. - Lihat itu.
- Terima kasih, ya. - Ya, sama-sama.
Biar kumasukkan ke kulkas dulu.
- Ya. - Oke.
Wah, rumahnya asyik. Kelihatan penuh, ya, Sayang?
Tidak seperti rumah kita, ya, Bas? Masih terasa kosong.
Ya, namanya juga rumah baru.
Tapi aku yakin,
kalau kita sudah isi meja pingpong, pasti kelihatan penuh.
- Tidak kosong lagi. - Meja pingpong?
Ya, itu yang kemarin aku cerita.
Kalau kita beli sekarang, kita dapat diskon 30 persen.
- Meja pingpong? - Ya, Sayang, meja pingpong.
Ruang tengah kita agak besar.
Bagaimana kalau kita isi meja pingpong? Biar kelihatan penuh.
Ide brilian, 'kan?
Ide brilian itu, Bas.
Puding sudah di kulkas.
- Mau lihat taman belakang? - Boleh.
Kami yang mendesainnya sendiri.
- Aku... - Biar mereka mengobrol.
Oke.
Kalian baru seminggu menikah, ya?
Tidak, Mas. Sembilan hari.
Pantas.
Pantas kenapa, Mas?
Pantas kau tidak sadar kalau kau tidak akan dapat meja pingpong.
Maksud Mas Adi?
Kau ingin punya meja pingpong di ruang tamumu, 'kan?
Kau tidak akan dapat.
Mas Adi salah. Istriku setuju.
Tadi istrimu bilang,
"Ide brilian itu, Bas."
Karena sebelumnya kau bertanya, "Ide brilian, 'kan, Bi?"
Kalau sampai istri mengulang kalimat suami,
itu artinya,
"Kepalamu peang! Enak saja menaruh meja pingpong di ruang keluargaku."
Itu.
Mas Adi ini sok tahu.
Mas Adi baru kenal Bintang sehari.
Lagi pula, kalau istriku sudah bilang "ide brilian",
dia pasti setuju dengan meja pingpong.
Mungkin aku kenal kalian baru sehari,
tapi aku sudah menikah dengan istriku sejak kalian masih SD.
Pernikahan itu tidak semudah yang ada di kepalamu, Anak Muda.
Pernikahan itu kerja keras.
Sama seperti kerja di kantor.
Harus ada yang menjadi bos dan harus ada yang menjadi pesuruh.
Kau masih harus banyak belajar, Anak Muda.
Selamat malam.
Oke, di sini pas.
Hari libur di rumah saja, Mas.
Kau ini seperti kecoak, ya. Muncul terus, tidak mati-mati.
Begini, Mas.
Aku memikirkan perkataan Mas Adi semalam.
Soal meja pingpong itu.
Kenapa aku yakin kalau Mas Adi salah, ya?
Oke, begini saja.
Bagaimana kalau aku bisa menebak...
kalimat yang akan keluar dari mulutnya Bintang
kata per kata?
Wah, mau meramal?
Mas Adi adalah guru gambar, bukan Ki Joko Bodo.
Ada tiga kalimat yang akan keluar dari mulutnya Bintang.
Yang pertama,
"Kau yakin akan membeli meja pingpong semahal itu?"
Yang kedua,
"Apa kau tak akan menyesal nantinya?
Seperti akan dipakai saja."
Yang ketiga,
"Sepertinya tidak usah dulu.
Keperluan kita yang lain masih banyak.
Kita baru beli rumah baru."
Itu.
Kenapa ketawa?
Apa-apaan Mas Adi ini? Tentu saja tidak.
Lagi pula, aku tidak percaya sedikit pun ramalan Mas Adi.
Memangnya benar akan begitu, ya, Mas?
Ingat kata-kata Ki Joko Bodo.
Hei, Kau.
Hai, Bi.
Lihat.
Kenapa kau lesu sekali, Bas?
Itu ada tetangga sok mengerti sekali soal pernikahan.
Maksudnya?
Sudahlah, tidak usah dibahas. Aku kesal.
Bi.
Menurutmu, meja pingpong yang bagus yang warna merah atau hijau, ya?
Merah adalah salah satu warna favoritku.
Selain biru, kuning, hijau, merah muda, dan putih.
No comments yet. Be the first to leave one.