The first 196 lines.
SERIAL DOKUMENTER NETFLIX
Wawancara dengan mendiang Ruth Bader Ginsburg berikut ini
berlangsung di Mahkamah Agung AS pada tanggal 2 Agustus 2019.
Awalnya dijadwalkan beberapa minggu kemudian.
Wawancaranya dimajukan atas permintaannya.
Hal itu kemudian terungkap
bahwa tumor kanker telah ditemukan di pankreasnya
dan tiga hari setelah wawancara, dia memulai terapi radiasi.
Ini salah satu wawancara terakhirnya.
Aku sudah dua tahun tak kuliah
saat menikah karena suamiku dipanggil untuk bertugas.
Dan selama dua tahun itu aku hamil.
Aku khawatir, apa aku bisa mengurus
seorang anak kecil dan Sekolah Hukum Harvard?
Lantas, ayah mertuaku berkata,
"Ruth, jika kau tak mau masuk sekolah hukum,
tak ada yang akan meremehkanmu."
"Kau punya alasan bagus untuk tak mendaftar."
"Namun, jika kau sungguh mau menjadi pengacara,
kau akan berhenti mengasihani dirimu."
"Kau akan bangkit dan kau akan menemukan cara."
Dan saran itu, di setiap kesempatan dalam hidupku,
aku berpikir, "Apa aku sungguh menginginkan ini?"
Dan jika jawabannya "Ya", kau menemukan cara.
Ini terinspirasi dari Nelson Mandela.
Yang berkata, "Yang penting dalam hidup bukan hanya fakta bahwa kita hidup...
...yaitu perbedaan yang kita buat bagi kehidupan orang lain,
itulah yang akan menentukan pentingnya hidup yang kita jalani.
Hidupnya meninggalkan jejak abadi di dunia,
warisan yang membantu menginspirasi banyak orang untuk berjuang.
Untuk berjuang demi perubahan dan menjadi pemimpin.
Jadi, ini untuk mengenang Madiba.
Ini dibuat untuk mengingatkan kita akan perbedaan yang bisa dibuat seseorang.
Ini tentang orang-orang yang membuat pilihan berani,
pemimpin yang berjalan di sampingnya dan mengikuti jejaknya.
Peduli pada orang lain, bekerja demi dunia yang lebih baik dan setara.
Dan memberi inspirasi kepada kita semua
agar hidup untuk memimpin.
- Kita semua siap? - Ya.
- Kita mulai? - Kita mulai. Baik.
Baiklah.
- Hakim Agung Ginsburg. Pengambilan satu. - Ya?
Saya tak bisa membayangkan orang lain di Bumi
yang akan lebih saya banggakan berada di ruangan ini selain Bu Ginsburg.
Mereka memanggilnya Notorious RBG.
Dia ikon feminis dan favorit di kalangan anak muda.
Dia adalah standar keberanian
dan kecerdasan, kebaikan, dan hati.
Ruth biasa bertanya,
"Apa bedanya penata buku di Brooklyn
dengan Hakim Agung di Mahkamah Agung?"
Jawabannya?
Satu generasi.
Konon, Ruth ingin menjadi penyanyi opera,
tapi malah menjadi bintang rock.
Hampir semua kasus penting yang dibawa ke hadapan Mahkamah Agung
pada dekade '70-an mengatasnamakan wanita,
memiliki pengaruh beliau.
Kemudian, beliau jadi bintang di Mahkamah Agung,
di mana beliau bekerja selama 27 tahun.
Beliau seorang wanita pemberani, luar biasa, dan kuat.
Kadang, orang bertanya,
"Kapankah akan ada cukup wanita di pengadilan?"
Dan jawabanku adalah,
"Saat ada sembilan."
Banyak yang telah ditulis dan diucapkan tentangmu,
tapi apa bisa dimulai dengan kau menceritakan sedikit tentang hidupmu.
Hidupku saat ini, dan selama 26 tahun terakhir,
aku telah menjadi salah satu hakim agung di Mahkamah Agung AS.
Sebelum itu, aku pengacara dan dosen hukum.
HANYA SEORANG GADIS
Kelas sekolah hukumku diikuti sekitar 500 mahasiswa.
Sembilan di antaranya adalah wanita.
Orang tua gadis-gadis di masa itu
berpikir bahwa gelar terpenting bagi putri mereka
bukanlah gelar Bachelor of Arts or Sciences,
melainkan gelar NY.
Namun, ibuku tidak seperti itu.
Salah satu hal yang dia tekankan
adalah tak apa-apa jika kau bertemu Pangeran Tampan,
tapi kau harus selalu bisa mengurus diri sendiri.
Jadilah mandiri.
Dua hal penting bagi ibuku.
Salah satunya adalah aku harus mandiri,
dan yang lainnya, dia menyebutnya "menjadi wanita."
Artinya, dia tak bermaksud untuk memakai sarung tangan putih,
maksudnya bahwa wanita tak menyerah
pada emosi yang menguras energi dan tak berguna.
Jadi, kemarahan, kecemburuan, penyesalan.
Itu emosi yang tak membuatmu maju.
Mereka menjebakmu.
Jangan mudah marah.
Tarik napas dalam-dalam
dan tanggapi dengan cara yang persuasif.
Itu adalah kesedihan besar dalam kehidupan mudaku
bahwa dia meninggal sehari sebelum aku lulus dari SMA.
Dia berjuang melawan kanker selama empat tahun.
Lalu, akhirnya menyerah.
Kuputuskan menjadi pengacara saat aku masih kuliah.
Itu saat yang buruk bagi Amerika Serikat. Ada Red Scare yang besar.
Ini bukan hari olahraga bagi Moskow atau simpatisannya.
Satu-satunya jawaban bagi strategi kemenangan dunia komunis
... adalah strategi kemenangan untuk dunia bebas.
Ada seorang senator dari Wisconsin, Joe McCarthy,
yang melihat komunis di setiap sudut.
Tampaknya setiap kali ada yang bilang sesuatu
terhadap siapa pun yang bekerja untuk Senator McCarthy...
- Jawab saja pertanyaannya. - dia menuduh mereka komunis.
Jawab pertanyaannya.
Orang-orang diseret ke hadapan House Un-American Activities Committee
Dan profesor hukum tata negaraku
memberi kesan kepadaku bahwa pengacara membela orang-orang ini
dan mengingatkan Kongres bahwa ada Amandemen Pertama
yang melindungi hak kita untuk berpikir, berbicara, dan menulis
dan bukan seperti yang dikatakan pemerintah otoriter.
Bahwa ada hak atas kebebasan berpikir dan berekspresi.
Saya bilang bahwa saya menggunakan hak saya
yang dijamin atas dasar Amandemen Kelima Konstitusi.
Itu memberiku ide bahwa menjadi pengacara adalah hal yang bagus untuk dilakukan.
Kupikir aku bisa mencari nafkah, lalu bisa melakukan sesuatu
untuk membuat keadaan lebih baik di masyarakatku.
Aku tidak sepenuhnya menghargai hambatan untuk pergi dan melamar di bidang hukum.
Aku lulus dengan nilai sangat baik,
tapi tak ada firma hukum di kota New York
yang mau menawariku pekerjaan.
Entah berapa kali kudengar dari firma hukum,
"Kami punya pengacara wanita dan dia mengerikan."
Ada tiga serangan terhadapku.
Pertama, aku orang Yahudi dan ada banyak antisemitisme.
Yang kedua, aku seorang wanita dan penghalang itu mulai runtuh.
Yang ketiga adalah yang paling menghantam.
Bahwa aku seorang ibu.
Putriku berusia empat tahun saat aku lulus dari sekolah hukum.
Firma langka yang mau ambil risiko untuk menerima wanita,
tak akan mau ambil risiko mempekerjakan seorang ibu.
DUNIA YANG TAK SETARA
Saat Gerakan Wanita muncul di akhir 1960-an,
aku tahu itu yang kuinginkan.
Ada hal-hal yang kuamati saat tumbuh dewasa.
Sebelum aku menjadi pengacara,
ada masa ketika wanita tak diterima sebagai anggota asosiasi pengacara.
Tak ada juri wanita. Sangat sedikit insinyur wanita.
Tak ada polisi wanita. Tak ada pemadam kebakaran wanita.
Dia adalah Mary McDonald.
Usia? Cukup dewasa untuk menjadi ibu dari mereka bertiga.
Profesi? Tampak di sana adalah salah satu profesinya.
Bersama-sama, dengan pekerjaan rumah dan berkendara di mobil keluarga.
Dan kupikir, "Itu hanya bagian dari lingkungan."
"Kau harus menerimanya."
Namun, di akhir tahun 60-an, wanita mulai berpikir,
"Tidak, kita tak perlu menerimanya. Kita harus bisa melakukan
apa pun yang bakat kita berikan,
tak ada yang boleh menghentikan kita hanya karena kita wanita."
Aku mengajar hukum di Universitas Rutgers
dan para mahasiswaku ingin mendapatkan pelatihan tentang wanita dan hukum.
Dalam waktu sebulan,
kubaca setiap keputusan federal tentang hak-hak wanita atau kekurangannya.
Wanita menyatakan klaim yang belum pernah mereka lakukan.
Jadi, aku pengacara sukarelawan untuk American Civil Liberties Union
Mengabdikan seluruh dekade di tahun '70-an untuk melihat apa yang bisa kuberikan.
Jadi, di dekade tahun '70-an itu,
aku muncul di banyak pengadilan. Termasuk pengadilan ini.
Saat pertama kali masuk ke urusan kesetaraan gender,
itu adalah dunia di mana kebanyakan pria berpikir,
"Sungguh tak ada diskriminasi terhadap wanita."
Semua penghalang dianggap sebagai perlindungan.
Mereka mengecualikan wanita dari pekerjaan yang dianggap lebih cocok untuk pria.
menstigmatisasi kriteria jenis kelamin
saat itu dipakai untuk membatasi jam kerja bagi wanita saja.
Peraturan jam, hari ini, melindungi wanita
dari bersaing untuk remunerasi ekstra, pekerjaan bergaji lebih tinggi, promosi.
Orang tahu bahwa diskriminasi ras itu menjijikkan.
Diskriminasi berdasarkan agama adalah hal buruk.
Namun, mereka tak berpikir begitu tentang penghalang yang dihadapi wanita.
Ada batas perdebatan bahwa...
DENGAR PENDAPAT KONFIRMASI MAHKAMAH AGUNG AS
...lebih banyak perlindungan diperlukan wanita.
Dari larangan pornografi hingga tunjangan membesarkan anak bagi para ibu,
tapi tidak bagi ayah, tidak sama bagi ayah.
Perlindungan lebih besar yang dibutuhkan wanita dari...
pelecehan seksual anak, di mana mereka lebih sering jadi korban,
dan saya tertarik dengan pemikiran Anda tentang penggunaan cabang legislatif
karena beberapa pendukung wanita lain mengartikulasikan pendapat pada 1980-an.
Kurasa hebat menggunakan cabang legislatif.
Apa yang Anda bahas, Senator Specter, mencerminkan perbedaan generasi nan besar.
Pada masa hukum perlindungan,
cabang legislatif digunakan secara luas.
Dan cabang legislatif menyatakan kami akan membatasi jamnya
bagi wanita, tapi tidak bagi pria.
Kami akan membatasi kerja malam bagi wanita, tapi tidak bagi pria.
Kami akan batasi pekerjaan yang bisa diambil wanita, tapi tidak bagi pria.
Karena kami lebih tahu. Kami bisa melindungi mereka.
Mereka harus dilindungi dari kondisi tak sehat dan tak aman.
Terutama pekerjaan yang dibayar dua kali lipat dan sejenisnya.
Legislatif bekerja di mana-mana melindungi wanita.
Mereka pikir mereka bekerja dengan baik demi kebaikan wanita.
No comments yet. Be the first to leave one.