The first 200 lines.
Floki.
Floki.
Ketill Flatnose.
Demi nama semua Dewa, kukita tak akan melihatmu lagi.
Dan, di sinilah aku, Ubbe.
Aku masih kelihatan.
Aku kira kau adalah Floki.
Apa aku mirip Floki?
Kau memakai perahu Floki.
Kau pergi bersama Floki untuk mencari pemukiman baru.
Katakan padaku, apakah berhasil?
Di awal-awal, Ubbe,
sungguh perjuangan berat bagi kami semua.
Kami kehilangan banyak orang baik dari penyakit hingga kelaparan.
Terkadang aku bertanya-tanya bahwa Dewa menentang kami,
dan apakah koloni kecil kami di Islandia bisa berhasil.
Islandia?
Kami menyebutnya itu, sebab, di musim dingin,
Fyord dipenuhi oleh gumpalan es.
Namun, selain itu, cuacanya tidak masalah.
Lalu, semenjak itu, kami membuat perkembangan.
Kami memanen tani pertama kami.
Pemukiman lain bergabung bersama kami,
dan aku merasa optimis bahwa kami akan berhasil,
seperti yang Floki inginkan.
Aku di sini untuk bertemu Bjorn.
- Kakakku sekarang adalah Raja. - Oh, baru kudengar.
Aku akan memberi penghormatan.
Aku mau membicarakan ini lebih lanjut lagi.
Maukah kau menemuiku lagi di Aula Besar?
Aku butuh saranmu, Ubbe.
Kau tahu apa yang terjadi dengan Raja Harald.
Apa aku harus menyelamatkannya atau tidak?
Itu keputusanmu.
Namun, kau membicarakan soal membuat Kattegat jaya
melalui perdagangan, bukan penaklukkan.
Mengapa keputusan pertamamu pergi ke perang orang asing?
Tapi Raja Harald menyelamatkan nyawaku.
Dia berperang dengan kita untuk merebut Kattegat kembali.
Raja macam apa yang mengkhianati obligasi itu?
Aku senang tidak menjadi Raja.
Apa pendapatmu, Hvitserk?
Aku tak punya pendapat.
Kau harus punya pendapat.
Kenapa?
Sebab itu akan membantuku.
Akan membantu kita semua jika kita tahu keberadaan Ivar.
Masa bodoh dengan Harald, Olaf, dan mereka semua.
Hanya Ivar yang penting.
Itu menurutmu saja, Adik.
Aku tidak tahu, Bjorn.
Aku tidak tahu.
Tampaknya kita harus membuat keputusan sendiri.
Di situ kau rupanya!
Apa alasanmu kembali ke Kattegat, Ketill Flatnose?
Aku mau merekrut penduduk baru.
Tidak peduli siapa mereka,
selama mereka siap untuk bekerja keras.
Terus Floki? Bagaimana keadaanya?
Kenapa dia belum balik? Aku mau bertemu dia lagi.
Sebenarnya, Ubbe,
Floki tampaknya mulai muak
menjadi pemimpin pemukiman yang tidak berhasil.
Dia kecewa, putus asa.
Kemudian tempo hari, tanpa penjelasan apa-apa,
dia meninggalkan kami dan pergi begitu saja.
Dan kau belum melihatnya semenjak itu?
Tidak.
Kami menelusuri pulau itu untuk mencarinya.
Lama sekali kami mencarinya.
Tak ada tanda-tanda darinya.
Ada satu hal lagi.
Kudengar kisah seorang pengembara yang berlayar ke barat,
mungkin saja ke barat di Islandia yang kau sebutkan.
Katanya dia melihat daratan tak berpenghuni nan indah...
tetapi dihalangi badai yang sulit ditemukan.
Kau pernah dengar kisah ini?
Aku mendengar kisah ini berulang-ulang kali.
Dan aku kenal pengembara yang kau bicarakan itu.
Dia tinggal di Islandia. Namanya Othere.
Aku perlu menemukan daratan itu.
Aku akan siapkan dua kapal untuk mencarinya.
Maka ikutlah aku ke Islandia, dan bertemu dengan Othere.
Dan mencari Floki.
Bagaimana pendapatmu dengan boneka Timur ini?
Aku menyukainya.
Kuharap ada seseorang yang memegangku seperti itu.
Kukira Dewa yang melakukan itu.
Menembus gelap dan terang,
pria itu bisa melihat wanita itu,
namun tidak sendiri.
Itu adalah istrinya.
Cantik,
durhaka.
Marah, sedih dan duka menyelimuti hati pria itu.
Rumor dan gosip itu rupanya benar.
Pria itu membunuh kekasih gelap wanita itu.
Kemudian,
dalam sakit hatinya, dia menusuk wanita itu.
Lagi.
Dan lagi.
Wanita itu tidak menjerit.
Wanita itu terjatuh ke lantai.
Tidak bernyawa, tidak bergerak.
Namun, bukanlah istrinya,
melainkan Rajanya-lah yang terluka.
Selamanya curiga.
Kepercayaannya pupus.
Jiwanya dicurangi.
Cangkirnya penuh kepahitan.
Dikhianati.
Sendiri.
Apakah dia layak mendapatkan ini...
Raja yang penuh kasih ini?
Aku harus pergi ke Novgorod.
Novgorod?
Ibu kota lama dari Rus.
Saudaraku tinggal di sana. Aku perlu bicara dengannya.
Sudah kubilang padamu, aku punya urusan keluarga.
Kemudian baru aku berkonsentrasi membangun armada dan pasukan.
Kau akan menemui asuhanku, Pangeran Igor.
Putra dari mendiang iparku, Raja Rurik.
Igor adalah pewaris sah kerajaan.
Ingrid.
Ya, Gunnhild?
Aku melihatmu menatap Bjorn.
Seperti pandangan wanita yang terkadang melihat pria.
Aku tidak paham maksudmu.
Kau bukan anak-anak, Ingrid.
Jika kau merasakan yang menurutku kau rasakan,
maka aku turut menyesal padamu.
Tapi aku tak bisa menghentikanmu untuk merasakannya.
Pergilah.
Novgorod!
Penerjemah: Acil Ibrahim... a.k.a CILEBUS.
Mana saudaraku?
Beliau akan tiba sebentar lagi, Pangeran Oleg.
Beliau minta maaf atas keterlambatannya.
Beri aku minum.
Jadi, aku penasaran.
Kenapa kau dipanggil Nabi?
Begini ceritanya.
Aku menyerang Konstantinopel, mengalahkan pertahanannya,
dan menundukkannya.
Setelahnya, aku diundang makan oleh penguasanya
untuk membuat perdamaian.
Karena aku tak cukup kuat untuk menunduki kotanya.
Tepat sebelum makan bersama, aku bermimpi.
Aku bermimpi bahwa anggurku diracuni.
Lantas, aku menolak meminumnya.
Tetapi dua panglimaku mengabaikan peringatanku,
dan meminumnya.
Lalu mati dalam kesakitan tak lama kemudian.
Sejak saat itu, aku dipanggil...
Nabi.
Askold!
Saudara.
Yang Mulia.
Izinkan aku untuk perkenalkan Ivar si Lumpuh.
Dia bangsa Viking.
Mungkin kita harus berbahasa Nordik.
Ini adalah Pangeran Igor.
Pangeran.
Kudengar kau adalah Ivar si Lumpuh yang terkenal.
Momok bagi kaum Kristen.
Pemimpin pasukan hebat yang membinasakan Inggris
dan membunuh dua Raja Kristen.
Itu benar.
Tapi apa itu ketenaran, Pangeran Askold?
Angan-angan? Ataukah ilusi?
Apakah benar, aku diberi tahu...
bahwa kau berencana menyerang Skandinavia?
Tentu.
Aku telah memikirkannya untuk sekian lama.
Aku menganggap kedatangan Raja Ivar...
sebagai pertanda takdirku untuk melanjutkan rencanaku.
Lagi pula, kita hanya mengambil apa yang menjadi milik kita.
Bukankah kau setuju, Saudara?
Aku akan berkontribusi sebisaku untuk pasukanmu.
Kuharap kau menyadari sebagai saudaramu,
aku selalu siap siaga dan menunggu perintahmu.
Dan dalam segala hal...
kau bisa memercayaiku.
Tentu saja, Saudaraku.
Tambah anggur lagi!
Untuk penaklukan.
Penaklukan.
Mengapa kalian tidak mainkan?
Mengapa kalian tidak mainkan? Mainkan!
Ada apa dengan kalian?
Kalian tidak ingin berdansa?
Berdansalah!
Berdansalah!
Bunda Tuhan,
tolong aku!
Tolong!
Aku diracuni!
Oleg!
Ini hari yang panjang!
Kita harus istirahat.
No comments yet. Be the first to leave one.