The first 200 lines.
Ya Allah!
Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa
orang-orang yang gugur
di jalan Allah itu mati
Sebenarnya, mereka itu hidup
dan dianugerahi rezeki
di sisi Tuhannya
Maha besar Allah yang Maha Agung.
Kak Rini.
Bangun.
Sekolah.
Wah, Mayang. Masak nasi goreng?
Cobain, Kak?
Pakai seragam dulu, baru makan.
Pelit benar! Mentang-mentang kamu yang masak.
Cepatlah, terlambat nanti ke sekolah.
Ayah mau ke mana?
Ayah pergi ke Medan, belajar mengaji.
Ayah!
Ayah!
Ayah pergi lagi, lama nanti pulangnya.
Ibu?
Ibu, kenapa menangis?
Ayah menceraikan Ibu, Nak.
Ayah menceraikan Ibu.
Itu ada empat boks, ya, Nia.
Masing-masing tiga puluh.
Pergi dulu, ya, Bu.
Ya, hati-hati!
- Asalamualaikum - Waalaikumsalam.
Pak! Pak!
Pak! Pak!
Tolonglah bukakan pintu, Pak.
- Telat lagi kamu Nia? - Iya, Pak.
Maaf, ya, Pak.
Makasih, ya, Pak.
Asalamualaikum, Bu.
Waalaikumsalam, Nia.
Terlambat lagi Nia?
Iya, Bu.
Ambil gorengan.
Ya, ini dia.
- Silakan masuk, ya. - Terima kasih, Bu.
Iya, Nak.
Asalamualaikum.
Waalaikumsalam.
Maaf, Bu. Nia telat.
- Surat izinnya mana? - Ini, Bu.
Ya, duduklah.
Nia.
Kena sangsi bakam (bakti kampus) lagi kamu?
Tenang.
Nanti aku bantu.
Jadi, cuma karena kau menjual kambing
kau diceraikan?
Sudah kutitipkan uang pada Datuk Wandi
untuk keperluan sehari-hari, tapi
kambing itu kau jual dengan harga murah.
Bukannya satu tapi lebih dari tiga.
Kau tahu, 'kan? Kambing itu tabunganku.
Untuk biaya kuliah Nia masuk ke perguruan tinggi.
Supaya dia bisa mengangkat derajat keluarga kita.
Bang, Eli sudah mencoba menelepon Abang berulang kali.
Tapi ponsel Abang tidak pernah aktif.
Tapi kau 'kan, bisa tunggu aku telepon.
Jangan ambil keputusan sendiri.
- Tapi, Bang - Sudahlah.
Jangan kau menjawab lagi.
Jangan salahkan kalau kujatuhkan talak untukmu!
Mulai hari ini, kau kuceraikan!
Saat Abang pergi ke Medan.
Aku jual kambing-kambingnya, Kak.
Aku dan anak-anak juga butuh makan, Kak.
Butuh beli obat.
Buat sakit tenggorokanku.
Tenggorokanmu sudah diperiksa belum?
Itu kambuh lagi.
Harus diperiksa benar-benar.
Ya, Li?
Sudahlah.
Kau tenangkan diri dulu. Mungkin harus lebih banyak berdoa, Li.
Pasti ada hikmah dalam setiap takdir Allah.
- Nia. - Iya, Bu?
Tolong bawakan 20 gorengan ke ruang guru, ya.
Terus Nia ditunggu Bu Emi di ruang kepala sekolah.
Ya, siap, Bu.
Nia. Selamat, ya.
Kamu masuk 40 persen dari siswa yang punya
kesempatan masuk perguruan tinggi tanpa tes.
Alhamdulillah, Ibu.
Tapi itu masih tentatif, tergantung kampusnya.
Nilai kamu tidak boleh turun semester ini, ya.
Baik, Bu.
Seandainya, kamu tidak diterima di penguruan tinggi
yang kamu pilih, masih ada beasiswa dari Universitas Putra Indonesia.
Semuanya gratis.
Uang saku diberikan,
tempat tinggal disediakan.
Tapi, Bu.
Universitas Putra Indonesia, 'kan, di Padang.
Jauh dari rumah Nia.
Nanti Nia tidak bisa berjualan.
Tidak ada uang nanti untuk Ibu, Rini, dan Mayang.
Nia pilih di kampus di Lubuk Alung saja, Bu.
Lebih dekat.
Jadi?
Nia menolak beasiswa yang diberikan oleh Universitas Putra Indonesia?
Gimana, Bu, ya?
Jauh dari rumah, Bu.
Nia masih bisa membiayai kuliah Nia sendiri, Bu.
Kasih saja beasiswanya ke yang lain, Bu.
Ibu salut dengan Nia.
Berarti kamu menerapkan konsep, tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah.
Alhamdulillah.
Hei, di mana dia tidur?
- Di situ dia! - Apa?
Astagfirullahaladzim.
Andri!
Bangunlah!
Astaga, Andri! Kamu seperti tidak punya rumah!
Tidur seperti kucing pindah-pindah.
Bagaimana kamu, Andri?
Kemarin tahu tidak, Nek?
Dia tidurnya di gorong-gorong.
Di gorong-gorong?
Kamu pikir cucu saya ini tikus?
Andri, dengar, dengar!
Ayah kamu sedang sakit.
Uang tidak ada!
Jadi, sekarang kamu yang harus cari duit, ya, Andri.
Cepatlah bangun.
Di mana mencari duit?
Di kotak amal!
Kau pikir cucuku maling?
Macam-macam saja kamu ini!
Bapak kau ini sedang sakit!
Baiklahโฆ
Ayolah!
Ayo kita tuntun dia!
Cepat-cepatlah.
Ini ada lontong lima puluh, tahu bakwan seratus, ya, Kak.
Iya, Kak.
Kak, saya pergi dulu, ya.
Iya.
Asalamualaikum, Kak.
Waalaikumsalam.
Sudah, Ika!
Pulanglah.
Saya bisa sendiri!
Udah!
Biar balik bareng kita!
Kak?
Ayo.
Beli gorengan?
Tahu isiโฆ
Bakwanโฆ
Tahu isiโฆ
Kakโฆ
Ini. Aku beli minuman.
Terima kasih, Ika.
Kenapa menangis?
Ayah ibuku bercerai.
Aku harus benar-benar bersiap.
Jadi tulang punggung keluarga.
Nia.
Asalamualaikum.
Waalaikumsalam.
- Cepat pulangnya, Kak? - Kakโฆ
Saya sedang tidak enak badan ini.
Dagangan tidak banyak yang laku.
Tidak apa.
Nanti sore Nia yang menjual.
Iya, Kak.
Iya.
Ini uangnya, Kak.
Iya.
Istirahatlah dulu di rumah.
- Iya. - Iya.
Jangan lupa minum obat.
- Ya? - Asalamualaikum.
- Hati-hati, ya, Li. - Ya.
Asalamualaikum, Bang Rama.
Waalaikumsalam
Nia sehat?
Alhamdulillah Bang, sehat.
Abang gimana?
Masih berobat jalan.
Baru pulang dari dokter tadi.
Abang semangat, ya.
Abang pasti sembuh.
Amin.
Abang kangen sama Nia.
Tidak sabar mau segera liburan ke Padang.
Yang penting Abang sehat dulu.
Iya.
Lama sekali, ya, kita nggak ketemu.
Sejak awal kenalan tiga tahun lalu di Kayu Tanam,
kita LDR-an saja.
Kamu nggak kangen sama Abang?
Ya, kangen lah.
No comments yet. Be the first to leave one.