The first 200 lines.
Wah, keren.
Tempat ini luar biasa.
Kita berada di Gudang WWE,
tempat yang sakral.
Di sinilah sejarah kami disimpan.
Semoga makin banyak pegulat bisa melihat ini.
Ini jadi memberiku perspektif. Aku ingin menambahkan jejakku.
Sejarahnya berlimpah. Maksudku, ini bukan barang kecil.
Yang tergantung ini adalah jaket varsity Steiner Bersaudara.
Jubah Dusty Rhodes, sering dipakai di ring.
Jaket denim Ultimate Warrior, yang ini koleksi langka,
"Stunning" Steve Austin.
Rasanya seperti baru dipakai kemarin,
padahal ada yang sudah 30 sampai 40 tahun lalu, begitulah.
Banyak barang yang keluar masuk di sini.
- Ini No Holds Barred raksasa. - Ya.
Omong-omong,
ini lukisan airbrush asli WrestleMania I, biasa saja.
- Ini yang asli? - Ya, itu lukisan aslinya.
Selama persiapan WrestleMania,
rasanya seperti takdir.
Aku harus menang melawan Drew untuk membintangi WrestleMania.
Cody!
Cody, Cross Rhodes!
Satu, dua, tiga!
Cody akan maju ke WrestleMania.
Randy Orton, kau sudah punya lawan di Vegas.
Aku dan Randy punya banyak sejarah di dalam maupun di luar ring.
Laga pertamaku di TV dengan Randy.
Aku memakai celana gulat hijau John Deere.
- Dia menghajarku habis-habisan. - Satu, dua, tiga!
Setelah itu, aku bergabung dengan grupnya, yaitu Legacy.
Sekarang dia yang ingin merebut gelarku.
Mantap.
Melihat jubah Dusty memang seru,
tapi aku merasa kurang puas kalau tak punya barang sendiri
untuk dipamerkan.
- Ada tempat untukku? - Untukmu…
Astaganaga.
- Kenal ini? - Dari mana ini?
- Wah, aku merinding melihat ini. - Itu…
- Kau tahu dari mana itu. - Ya.
Ini WrestleMania pertamaku di Phoenix dengan Randy, Ted.
- Aku tak seharusnya berlaga. - Serius.
Randy memutuskan untuk memasukkanku agar jadi laga tiga pegulat.
Astaga.
Rasanya kami bakal selalu terikat.
Dia banyak membantuku.
Mentor sekaligus lawan yang hebat.
Orton menyerang mantan muridnya.
Aku sering memikirkan semua pelajaran gulat hebat dari Randy.
Dari teknik pertarungan sampai strategi psikologis,
seperti menunggu penonton bergemuruh
sebelum melancarkan tendangan.
Orton menendang Cody Rhodes.
Menjelang WrestleMania, lawannya tetap sama.
Seperti sudah ditakdirkan.
Sekarang saatnya menandatangani kontrak untuk jadi bintang utama WrestleMania,
gelar Kejuaraan WWE dipertaruhkan.
Aksi kami brutal.
Randy!
Sering kali kami harus ingatkan penonton betapa brutalnya laga ini.
Randy Orton menggila.
Orton menaruh kepalanya di tengah celah tangga besi itu.
Aksi di penandatanganan kontrak Randy Orton, Cody Rhodes
seperti WWE zaman dulu.
- Gawat! Awas! - Astaga! Awas, Cody!
Kami berada di posisi yang tepat
untuk menceritakan kisah pribadi menjelang WrestleMania.
Kami butuh tim medis!
Keluarkan semua yang ada.
Ini adalah acara utama WrestleMania.
Menjelang WrestleMania tahun ini,
seperti biasa, selalu ada tantangan unik tersendiri.
Meski begitu,
kalau melihat susunan pertandingan untuk kedua malam,
itu luar biasa.
Ada cerita yang sudah lama dibangun yang berjalan dengan sangat baik,
yaitu Stephanie Vaquer versus Liv Morgan.
Hai, apa kabar? Aku Liv. Salam kenal, Brian.
Tak apa. Aku baik saja. Aku masih cantik, 'kan?
- Ya, 'kan? Masih cantik, kan? - Ya.
Dia bilang, "Tidak."
Pertandinganku dengan Stephanie yang paling kerja sejak aku di WWE.
Stephanie dan Liv.
Ini sudah sangat personal.
Pisahkan mereka!
Dua minggu sebelum WrestleMania, Stephanie mendorongku dari belakang.
Paham, tidak?
Begini, Liv…
Suara yang keluar benar-benar menjijikkan.
Semua orang di sekitarku panik.
Mereka syok.
Dia mendorongku ke arah Roxanne. Kepala kami beradu keras.
Aku tetap berbaring selama beberapa detik
untuk menenangkan diri.
Aku tak tahu separah apa cederanya.
Aku tak mau melihatnya.
Aku memegang kepalaku dan seketika terkejut.
Aku lupa masih benjol
dan aku tahu orang terus menatapku.
Aku malu juga.
Masih lembek. Masih ada.
Sudah tak sakit lagi. Darahnya mengalir ke mataku.
Aku bangun setiap hari dan teringat
alasan aku harus mengalahkannya.
Tiga hari lagi.
MALAM PERTAMA
Aku masih merasa tenang. Menarik juga.
Sepertinya aku sudah siap. Aku bahkan tak gugup lagi sekarang.
Tapi aku pasti gugup begitu sampai di sana.
Aku tak menyangka akan tampil di WrestleMania,
laga tunggal WrestleMania pertamaku untuk merebut gelar.
Cuma kau yang bisa melakukannya.
Aneh sekali.
Tapi aku yakin dengan keduanya.
Butuh 11 tahun
untuk mendapatkan laga perebutan gelar pertamaku di WrestleMania.
Aku juga siap tampil langsung.
Bikin onar, itulah aku…
Kami ingin musik baru dan mereka memintaku menyanyikannya.
Aku bukan penyanyi, tapi aku akan berusaha.
Malah disuruh tampil langsung di WrestleMania.
Bikin onar, itulah aku
Aku senang para rekanku ikut menyanyikannya,
entah mereka mau atau tidak, karena lagunya terngiang di kepala mereka.
- Keren. - Bikin onar!
- Hei. - Ya.
- Say, kau suka? - Ya! Kami senang sekali!
- Dia menyanyikannya terus. - Aku senang!
- Bikin onar! - Itulah aku!
- Aku tak sabar! Ini keren sekali. - Bagus sekali!
- Aku… - Astaga.
- Kau menangis? - Dia menangis.
- Tidak. - Kau menangis?
- Luar biasa. Benar-benar memukau. - Eva sampai menangis.
Lebih bagus dari Nickelback?
Tenang. Semua sudah terekam.
- Sudah jauh lebih baik. - Kau suka?
MEKAP
Ini WrestleMania pertamaku.
Aku tak gugup.
Ini aneh, karena aku gugupnya selama seminggu dan sebulan terakhir.
Hari ini aku merasa lebih fokus.
- Bagus, 'kan? - Ya.
- Oke. - Bagus.
- Aku tak… - Sedang apa?
- Aku mau ganti baju sekarang. - Ayo.
Sebentar, ya!
Bahuku baik-baik saja, tapi rasanya aneh.
Rasanya beda dengan bahuku yang satu lagi. Tak terasa…
Memang belum pulih 100%.
Aku baru tahu seberapa pulih
sampai masuk ring malam ini dengan Gunther dan bertanding.
Ini mengingatkanku saat kembali bertanding usai cedera MCL
di WrestleMania 33, Orlando, saat aku harus melawan Triple H.
Perasaannya sama seperti dulu, tapi aku pakai penyangga.
Jadi, aku tahu, mau dihantam keras sepanjang hari pun,
ada penyangga. Takkan kenapa-kenapa.
Kalau yang ini melibatkan seluruh tubuh. Jadi, kita lihat saja.
Gunther melawan Seth Rollins saja sudah cukup besar.
Tapi yang orang tak tahu, di pertandingan ini juga,
Bron Breakker akan kembali secara mengejutkan.
Kami sembunyi di sebuah ruangan di Stadion Allegiant di WrestleMania.
Berusaha tetap diam agar tak ada yang tahu atau membocorkan.
Kurasa ruang geraknya cukup luas,
jadi bisa menyerang dan jatuh di atas matras. Lantainya rata dari situ.
Karpetnya sampai sepanjang sana.
Ya, misalnya, posisinya paling mentok di situ.
Jadi, bisa berlari kencang atau sekencang pemain sepak bola.
Dia berdiri di lakban itu, kau akan lihat dia.
Akan kuhantam, lalu kami meluncur…
Jaraknya di sini.
Ya, dinding LED bakal menghentikan kami.
- Kau merasa nyaman? - Ya.
- Akan kuberi tahu dia. - Aku siap.
- Mantap. Terima kasih. - Ya. Terima kasih.
Produk kami mengalami perubahan.
Sejak beberapa pegulat baru naik, aku belum benar-benar…
terlibat bersama mereka.
Kita lihat respons penonton nanti.
Kuharap mereka belum melupakanku. Kita lihat saja.
Semangat, AJ Lee!
Apa kabar, Kawan?
Dia mencuri!
Astaga, bikin takut saja.
Kukira kau menabrak orang dan bakal dituntut.
Aku belum pernah bertanding di WrestleMania.
Belum pernah aku seantusias ini soal masuk arena.
Bisa membawa Legion of Girls AJ melangkah riang ke arena.
- Hai, semuanya. - Hai.
- Apa kabar? - Baik.
Kalian semua menggemaskan. Ini luar biasa.
Terima kasih sudah membantu.
- Bersenang-senanglah. - Terima kasih.
Sejak hari pertama, aku memikirkan para fanku.
Aku ingin menciptakan citra yang mudah mereka tiru.
Karena tak semua orang bisa punya sepatu gulat dan kostum spandeks.
Tapi orang bisa beli celana jin pendek di Target dan menggunting kaus.
Aku ingin mereka merasa seperti pahlawan super.
No comments yet. Be the first to leave one.