The first 200 lines.
"Semua karakter, lokasi, organisasi, kejadian"
"Dan latar belakang dalam drama ini hanyalah fiksi"
Tunggu. Biar kumasukkan...
Tunggu. Kunci kartunya.
Sakit.
Tunggu. Tunggu!
- Apa? - Tunggu.
Mari bicara dahulu.
Sudah delapan tahun.
Mari bicara setelah itu.
- Tunggu. - Ada apa lagi?
Tidak. Tunggu.
- Kita akan bicara setelah bercinta. - Tentu.
- Jangan lari setelah kita bercinta. - Tidak akan.
Aku akan memakanmu dahulu, dan kita akan makan daging nanti.
Aku akan mentraktirmu daging sapi.
Bagaimana cara melepas ini?
Pakaian dalamku.
Baiklah. Pakaian dalammu.
Pakaian dalam merah?
Ke samping.
Tidak, ke bawah.
- Sedikit di atas. - Di sini?
Ya, di sana.
Aku menyukainya.
Sial.
Halo.
Sekarang...
Baiklah.
Baiklah.
Ke mana perginya? Pakaian dalamku.
Ada apa? Apa yang tiba-tiba kamu lakukan?
Ibu mertuaku memanggilku.
Apakah serius?
Dia ingin makan hot pot daging.
- Hot pot apa? - Hot pot daging.
Mari lakukan dengan benar lain waktu.
Untuk saat ini,
aku harus pergi.
Jangan lupakan barang-barangmu.
Apa? Ini terlalu mendadak.
Kamu sudah di sana?
Tidak, jangan masuk. Tolong tunggu di gerbang.
Baik. Maafkan aku.
Apa kita berpacaran lagi?
Apa maksudmu?
Aku sudah menikah.
Tapi kita bercinta lagi hari ini. Bukankah berarti kita berpacaran?
Apa?
Kita tidak bisa berpacaran. Kita berdua wanita.
Kita bukan di taksi. Diamlah.
Selain itu, sebaiknya kamu meluruskannya.
Kita tidak bercinta.
Kita hanya saling menyentuh.
Kamu bilang tidak akan lari.
Kamu masih saja jalang.
Kamu bersikap vulgar lagi.
Sudah kubilang aku tidak suka bahasa vulgar.
Benar. Orang tidak berubah.
Apa yang kuharapkan darimu?
Pak.
Kamu tidak perlu masuk. Kamu bisa berhenti di sini.
Kamu bisa menurunkanku di sini,
dan tolong antar dia ke alamat yang kuberikan tadi.
Tidak, aku akan turun bersamanya.
Ini tempatku. Kamu harus pergi ke rumahmu.
Aku akan keluar bersamanya. Terima kasih.
Ini hot pot dagingnya.
- Terima kasih. - Tentu.
Hei. Bicaralah sebelum kamu pergi.
Kamu sudah gila?
Cepatlah.
Hei, bukankah kamu mengharapkan ini saat memutuskan menemuiku?
Aku harus putus dengan mantanku yang kupacari setahun untuk menemuimu.
Kenapa kamu melakukan itu? Itu membuatku tertekan.
Sial. Apa kamu benar-benar gila?
Kenapa kamu menginjak-injakku?
Kamu asal bicara lagi karena sedang kesal.
Aku tahu kamu akan meneleponku dan minta maaf sambil menangis nanti.
- Aku mengenalmu. - Itu tidak benar.
Hei, aku akan mencampakkanmu lebih dahulu kali ini.
- Jangan pernah meneleponku lagi. - Tentu. Tidak akan pernah.
"Seoul"
"ESom, Ahn Jae Hong"
"Episode 4, Mantan Tidak Diperbolehkan"
Woo Jin, bisa nyalakan penyejuk ruangannya sebentar?
Panas sekali.
Bersabarlah.
Kita sepi pekerjaan belakangan ini, dan tagihan listrik naik.
- Benarkah? - Ya.
Mereka menaikkan tagihan gas di musim dingin,
dan mereka menaikkan tagihan listrik di musim panas.
Jika kamu miskin, kamu akan mati karena dingin atau panas.
Itukah yang mereka inginkan dari kita?
Sudah selesai.
Sulit sekali memasukkan protein ke makanan kita.
Mau makan sekarang?
- Cobalah. - Baiklah.
"Baek Sang Bong".
"Pelanggan tetap yang pasangannya berubah setiap hari."
"Tidak tahu apa dia sudah menikah."
Buku catatan itu tidak begitu berguna sekarang.
"Wang Chul Ki. Usia 40-an."
"Dia meminta kamar dua orang, tapi tiga orang menggunakannya."
"Bedebah kotor. Entah apa dia sudah menikah."
Buku catatan ini cukup menyenangkan.
Itu darah, keringat, dan air mataku.
Omong-omong, kita harus mendapatkan target berikutnya
agar bisa menyalakan penyejuk ruangan.
- Begini... - Ya?
Bukan apa-apa.
Katakan saja.
- Lupakan saja. - Katakan saja!
Masalahnya,
aku dapat pelanggan tempo hari.
Mereka berselingkuh, bukan?
Kenapa? Apa mereka tampak miskin?
Tidak, sepertinya mereka kaya.
GPS-mu punya alamat mereka, bukan?
Ya, alamat mereka berdua.
Kenapa kamu tidak memberitahuku lebih awal?
Seperti apa mereka?
Astaga, apa ini?
Kenapa tidak mau terbuka?
Kita harus mendorong bersamaan.
Satu, dua, tiga.
Kita berhasil.
Astaga. Tunggu.
- Satu, dua, tiga! - Tiga!
- Terbuka! - Apa yang terjadi?
Suara apa itu?
- Apa yang terjadi? - Apa yang terjadi?
Apa ini?
- Apa ini? - Itu air?
Siapa yang memesan air sebanyak ini?
- Bukan aku. - Lalu siapa?
Tentu saja kamu. Aku tidak akan memesannya.
- Coba kulihat! - Apa?
Aku yang memesannya.
Aku mengetik nomor yang salah.
Astaga, kurirnya pasti sangat menderita.
Oper satu per satu.
Hati-hati.
Bagaimana kita bisa menemukannya di sini?
Kamu bilang punya alamat wanita itu, bukan?
Ya.
Woo Jin. Haruskah kita
membatalkan kasus ini?
Sejujurnya,
aku punya firasat buruk tentang mereka.
Sepertinya hubungan mereka sudah berakhir,
melihat mereka bertengkar seperti kucing dan anjing.
Perselingkuhan tidak akan berakhir semudah itu.
- Itu dia. - Dia?
Dia akan jatuh.
- Apa dia mabuk? - Dia mabuk.
Kamu yakin itu dia, bukan?
Kurasa begitu. Rambut dan gayanya sama.
Astaga! Mi gelas!
Astaga.
Kamu yakin?
Ya, kurasa begitu.
Katakan dengan jujur. Menurutmu itu dia atau memang dia?
Aku yakin 99 persen.
- Bagaimana dengan satu persen itu? - Satu persen?
Kemungkinan dia kembar.
"Tujuh Hari Kemudian"
Dia muncul.
Sudah sepekan sejak dia tidak bertemu siapa pun, bukan?
Benar.
Astaga.
Dia pasti
putus dengan wanita yang satu lagi setelah bertengkar di taksi.
Itu pasti berdampak buruk baginya.
Aku tidak tahu seseorang bisa terhuyung-huyung seperti itu.
Kuharap mereka bisa kembali bersama lagi.
Kuharap juga begitu.
Dengan begitu, kita bisa menghasilkan uang.
Apa?
Dia sangat menderita.
Biarkan saja mereka.
Mari tunggu sampai akhir pekan ini.
Woo Jin, sejak kapan kamu begitu dengki?
Dahulu aku juga lembut.
Tapi aku menjadi tangguh setelah terhuyung-huyung seperti dia.
Astaga, dia harusnya menangis di dalam.
Astaga, aku tidak tahan melihatnya.
- Berhenti! - Hentikan.
Hentikan, Berandal.
Hei.
Apa yang kamu pikirkan belakangan ini?
Sadarlah.
Maafkan aku.
Haruskah kita pergi saja?
Jika kita mengganggunya, dia bisa mematahkan semua tulang kita.
Dia bukan orang yang bisa kita permainkan.
Jangan khawatir.
Bagaimana jika dia membalas kita?
Ada yang bisa kubantu?
Kalian datang untuk belajar?
No comments yet. Be the first to leave one.