The first 200 lines.
Aku siap menikah.
Aku ingin bersama seseorang seumur hidupku.
Aku memikirkan pernikahan tiap hari,
keluargaku, suamiku, dan anak-anakku kelak.
Aku ingin habiskan hidup dengan seseorang,
tapi ini waktu baginya menentukan pilihan.
Ini waktunya kita tunangan dan menikah,
atau bagiku melanjutkan hidup.
Kami bertunangan pada akhirnya
atau kami akan putus.
Aku ingin kenakan cincin, itu saja.
Makanya aku beri Roxanne Ultimatum.
Makanya aku berikan Ultimatum pada Alex.
Makanya aku berikan Ultimatum pada Riah.
- Halo, aku Vanessa Lachey. - Dan aku Nick Lachey.
Kalian kemari sebagai pasangan.
Salah satu dari kalian siap menikah,
dan satunya lagi belum siap.
Salah satunya telah memberikan Ultimatum .
Antonio, kau berikan Ultimatum pada Roxanne.
Ya, kurasa harus ada tekanan yang diberikan...
ROXANNE DAN ANTONIO BERKENCAN EMPAT TAHUN
...baginya untuk mulai berpikir soal menikah.
Aku ingin habiskan hidupku dengan Roxanne
sejak saat pertama bertemu.
Aku sangat terkesima.
"Aku mencintainya."
Aku cinta Antonio, tetapi ekspektasiku tinggi.
Aku ingin pria yang bekerja keras
serta ambisius. Itu bukan Antonio.
Dia tahu aku sangat fokus pada karier.
Entah kenapa harus berpikir soal menikah
di mana semuanya berjalan lancar.
Antonio, apa kau mau pergi jika dia menolak?
Ya.
Para psikolog setuju bahwa memberi ultimatum
bukanlah hal baik untuk membuat seseorang
melakukan hal yang diminta, namun itu adalah
cara terbaik untuk mendapatkan jawaban yang dibutuhkan,
dan pada waktu yang bisa kau jalani.
Kini, ada beberapa alasan kenapa
seseorang belum siap menikah,
tetapi sejujurnya, rasa takut berkomitmen
hampir selalu jadi alasan utama.
"Apa aku benar-benar ingin
habiskan hidupku dengannya?"
Atau ada orang lain di luar sana
yang mungkin lebih cocok?
Kalian semua akan dapatkan kesempatan sekali seumur hidup.
Kalian akan mengeksplor dua versi berbeda
kehidupan pernikahan.
Jika kau belum siap dengan pasangan saat ini,
ada kesempatan kalian akan menemukan yang sudah siap.
Silakan lihat.
Masing-masing kalian cocok dengan beberapa orang lain di sini.
Salah satu orang asing di sini mungkin
adalah pasangan yang kau cari.
Ketentuan di The Ultimatum jelas.
Di akhir acara ini,
kalian akan bertunangan
atau sendirian,
atau jatuh cinta dengan orang lain.
Lisa, kau mengultimatum pasanganmu.
Ya. Kami sudah berkencan dua tahun,
LISA DAN BRIAN BERKENCAN DUA TAHUN
dan kami saling jatuh cinta, keluarga kami juga sama,
jadi tunggu apa lagi?
Tujuannya adalah pulang dari sini dengan pria
yang aku cintai.
Mungkin kami belum siap menikah.
Aku yakin dia akan melamarku
karena kurasa dia belum pernah berada di posisi
di mana dia akan kehilangan aku.
Aku suka kecerobohannya,
maksudku...
ketidakegoisannya, maaf.
- Maafkan aku. - Kau harus betulkan.
Ketidakegoisan.
Sangat tidak egois.
- Aku cinta kau. - Aku juga, hentikan.
Baiklah.
Aku ingin pastikan keuangan kami cukup
agar aku mampu menafkahi keluargaku kelak.
Aku siap menikah.
Kita sudah bicarakan ini berulang kali,
jika dia belum siap melamarku,
maka aku akan pergi.
Baik. Ryann, boleh kutanya apa alasanmu mengeluarkan Ultimatum?
Kami sudah selesai sekolah,
dan kurasa ini saatnya
RYANN & JAMES BERKENCAN TUJUH TAHUN
bagi kami melanjutkan ke jenjang pernikahan.
Kami sudah bersama sejak usia 16 tahun.
Kalian berkencan sejak SMA?
- Benar. - Ya.
Kami belum tinggal bersama.
Waktu paling lama yang kami habiskan berdua adalah
saat liburan keluarga selama dua pekan,
kurang lebih.
Diawasi selama dua pekan.
Dengan rumah penuh orang.
Sulit mempercayai cinta sejati.
Secara statistik, kurasa tak mungkin.
Ada delapan miliar orang di dunia.
Aku merasa, tujuh tahun ini
harusnya cukup untuk mengetahui
apakah aku orang yang tepat untuk menghabiskan hidup bersama?
Kurasa tak perlu ditanyakan lagi.
Jika dia tak yakin soal menikahiku,
lalu untuk apa dilanjutkan?
Ya.
Aku sekolah selama 5,5 tahun
dan aku ingin pastikan apakah keuangan kami bagus.
Sama seperti Brian.
Kekhawatiran utamamu soal finansial.
Benar.
Trey, kau mengeluarkan Ultimatum.
BERKENCAN DUA TAHUN
Situasiku saat ini
sudah pas jika soal finansial.
Itu sudah aman.
Kami tinggal bersama.
Kurasa hubungan kami baik.
Aku sangat mencintainya.
Keluargaku telah hidup bersama lebih dari 30 tahun,
dan aku sudah tahu apa...
keputusan untuk mencintai seseorang setiap hari.
Bukan hanya soal perasaan.
Aku tak pernah melihat pernikahan yang baik dan menyenangkan.
Aku hanya pernah melihat pernikahan kacau atau perceraian,
tetapi saat melihat sosial media
kau selalu melihat hal-hal bagus.
Aku merasa itu bagus.
Hari Valentine pertama kami,
aku mendekor rumahku dengan lilin mulai dari ruang utama ke kamar tidur,
pakaian dalam siap, ada boneka beruang di kasur.
Lagu Beyonce diputar.
Bagiku, aku sangat berusaha
dalam hal romantis.
- Itu bagus. - Bagus?
Sejak itu, aku...
Dia tak lakukan hal lainnya.
Hanya itu situasi romantisnya karena aku menyakiti perasaannya.
Responsku saat itu,
"Tak seperti di video TikTok."
Responsnya persis begitu.
Lalu aku berkata, "Baiklah."
Dia siap, dia sudah mapan,
tetapi aku masih mempersiapkan diri,
misalnya karier, atau
apa yang ingin kulakukan.
Saat ini, aku tak tahu banyak hal
dan harus menemukan jawabannya.
Aku siap, kurasa kita siap,
dan untuk itulah pengalaman ini.
Jika kami tak sejalan, kami harus berpisah.
Ini membuatku berpikir saat kami berkencan,
aku berjanji takkan pernah memberi ultimatum, tetapi kulakukan juga.
Jujur saja,
aku punya alasan yang cukup kuat
untuk merasa tak siap
menjalani pernikahan lima tahun, lalu bertanya, "Inikah yang kumau?"
"Apa kau siap, jika dengan orang yang tepat,
menikah karena terpaksa atau karena pasangannya?"
Jadi kami berkencan dengan orang lain.
Hanya sebulan, dia melakukan itu
dan aku juga. Lalu dia kembali dan berkata,
"Aku tak bisa jika bukan kau."
Dia kemudian melamarku, dan seperti itulah pengalaman ini.
Kuberitahu dari sudut pandangku
soal betapa menyenangkannya pernikahan.
Tak ada yang lebih baik dari
terbangun dari tidur di sebelah sahabatmu setiap harinya.
Tak ada yang lebih berarti
di hidupku selain wanita di sisiku ini.
Hal terbaik yang bisa kalian lakukan di sini
adalah jujur pada diri sendiri
dan pada orang-orang yang menjalani pengalaman ini.
Malam ini adalah malam terakhir kalian sebagai pasangan.
Besok, kalian akan putus dan menjadi mantan pacar.
Kalian mungkin merasa ketiadaan pasangan akan membuat kalian lebih dekat
atau malah ketiadaan itu
akan jadi memisahkan kalian.
Sepekan ke depan, kalian akan berkencan
dengan salah satu pasangan potensial.
Di akhir pekan saat Pemilihan,
kalian akan memilih pasangan baru.
Kalian akan tinggal bersama selama tiga pekan
dan menjalani uji coba pernikahan.
Lalu kalian akan lakukan lagi dengan pasangan asli masing-masing.
Akhirnya, kami ingin kalian membuat pilihan yang tepat
dengan orang yang tepat.
Memilih untuk mendedikasikan hidupmu
adalah keputusan terbesar yang akan kalian ambil.
Apa pun itu, hidup kalian akan berubah selamanya.
Kami akan kembali sepekan lagi untuk Pemilihan.
Bersulang untuk cinta.
Bersulang.
Dalam delapan pekan, Ultimatum akan datang,
dan Ultimatum adalah cara yang kasar
No comments yet. Be the first to leave one.