The first 200 lines.
SERIAL NETFLIX
Rasa rendah diriku terhadap fisikku jelas memengaruhi kehidupan kencanku.
Eksperimen ini memungkinkanku untuk dinilai
dari kepribadianku, bukan dari fisik.
Pengalaman kencanku payah.
Aku di sini karena aku mencari orang
yang mencintaiku karena kepribadianku, bukan penampilanku.
Semoga ada.
Aku harus mengenal hatinya sebelum hal lain.
Aku siap menikah, tapi tak pernah merasakan cinta sejati dalam hidupku.
Kurasa aku tak pernah bilang cinta, kecuali kepada ibuku.
Manis sekali di sini.
Hai!
Hei!
- Hei. Apa kabar? - Lumayan.
- Wow. - Duduklah.
Astaga, sudah dimulai.
- Sekarang jadi nyata, 'kan? - Ya.
Kami kembali!
Selamat datang. Aku Vanessa Lachey.
- Aku Nick Lachey. Jelas. - Jelas.
Nona-nona, selamat datang di Love Is Blind.
Selamat datang di sini!
- Ya! - Ya!
Apa kalian merasa dunia kencan saat ini menjadi sangat dangkal?
- Ya. - Ya.
Ya.
Semua hanya penampilan.
- Bukan kepribadian. - Ya.
Saat bertemu pria di aplikasi kencan,
mereka menstereotipkanku orang Asia,
mengira aku pendiam, lebih patuh,
lalu saat bertemu aku, aku agak cerewet, lebih ekstrover.
- Ya, Say. - Lebih ke karier dan berpendirian.
Aku selalu dengar di akhir kencan, "Aku tak mengira kau seperti itu."
Menarik.
Aku merasa kesan pertama lebih ke penampilan.
Rambut pirang, payudara besar, dia untuk senang-senang.
Tak cocok jadi istri. Mereka tak memberiku kesempatan.
Untuk membuka diri, menjadi diri sendiri, dan menjadi rentan.
Aku merasa punya banyak kelebihan, tapi tak bisa tunjukkan.
- Ya. - Kita ingin dicintai apa adanya.
Pria di sini untuk alasan yang sama.
Eksperimen ini adalah pendekatan yang terbukti untuk menemukan cinta.
Jadi, selama sepuluh hari ke depan,
kalian akhirnya akan punya kesempatan untuk jatuh cinta,
berdasarkan diri kalian apa adanya.
Itu bagus.
Bukan karena penampilan, ras, latar belakang, atau penghasilan kalian.
Tak akan ada gawai, tak ada gangguan.
Kalian hanya akan berinteraksi
di bilik pribadi.
Kalian akan dipisahkan oleh satu dinding tipis.
Kalian tak akan pernah bertemu.
Kami tahu.
Semua keputusan di tangan kalian.
Kalian pilih mau bicara dengan siapa.
Setelah memilih calon pasangan, kalian lamar.
- Wow. - Ya.
Jika mereka menerimanya,
kalian akan melihat tunangan kalian untuk pertama kalinya.
Wow.
Empat pekan kemudian, kalian menikah.
Ini keputusan terpenting dalam hidup kalian.
Ini yang menarik.
Maukah kalian menerima orang yang kalian suka di sini...
Tak terlihat?
atau akankah dunia nyata menyabotase cinta itu
dan akankah kalian meninggalkan orang itu selamanya?
Apakah cinta benar-benar buta?
Astaga...
Jika kalian siap menemukan cinta sejati kalian...
Ya.
...berjalanlah melalui pintu-pintu itu, karena bilik secara resmi dibuka.
- Buka! - Ini dia!
- Semoga berhasil. - Gaet mereka! Gaet suami kalian!
- Kau siap? - Aku sangat siap.
Sudah lama dinantikan.
- Kau siap? - Astaga.
Aku sangat senang masuk ke bilik
karena aku tak pernah melewati kencan pertama
tanpa wanita mengungkit ubanku. Sedikit rumit.
Di sini, di dalam bilik ini. Kita temukan cinta sejati kita.
Tak peduli seperti apa penampilanku, berat badanku, warna kulit, etnis,
dari mana pun asalmu, yang penting adalah hatimu,
dan aku menantikan yang mungkin bisa ditemukan di bilik ini,
karena aku ingin dapat suami setelah dari sini.
- Apa pertanyaan pertama? - Aku belum tahu.
- Langsung masuk saja? - Ya.
Ayo lakukan ini.
Ayo!
- Halo. - Halo.
- Hai. - Halo.
- Apa kabar? - Mari kita mulai pesta ini.
- Kau pernah jatuh cinta? - Berkenalan dahulu? Lalu bertanya.
Astaga.
Kutempelkan tanganku di dinding. Bisa lihat?
Tidak bisa.
- Apa kau juga gugup? - Astaga.
- Halo? - Selamat datang di bilikku.
Eksperimen ini menarik bagiku karena,
aku tak punya payudara dan bokong,
jadi, jika tak berdandan, kadang aku terlihat seperti anak lelaki.
Aku ingin mencari pasangan hidup.
Aku selalu membayangkannya seperti sahabatku.
Ini akan menjadi kisah hebat untuk anak kami.
"Ibu bertemu ayahmu di eksperimen sosial,
di mana Ibu mengencani 14 pria lainnya."
Dia bilang, "Maaf, apa, Bu?"
- Halo. - Hai.
- Apa kabar? Siapa namamu? - Iyanna.
- Siapa namamu? - Iyanna, ini Jarrette.
- Dari mana asalmu? - Dari Atlanta. Kau?
Anchorage, Alaska.
- Tempat tinggalku saat ini. - Jangan bohong.
- Kau dari mana? - Aku dari Chicago.
- Dia terlalu banyak bermain. - Leluconku berhasil.
Jadi, apa pekerjaanmu?
Aku koordinator program di agensi ibu pengganti.
- Oke. Kau mau punya anak? - Tentu saja.
- Aku ingin dua anak. - Aku ingin setidaknya dua.
Aku tak keberatan empat tergantung keuangan kita.
- Apa? - Waktu kita...
Tunggu, halo. Apa katamu?
- Empat? - Itu terlalu ambisius bagimu?
Astaga, kau mau separuh dari formasi awal?
Aku selalu menginginkan keluarga besar karena aku tak punya.
Aku anak tunggal dan aku merasa kesepian.
Kau dan ibumu dekat?
Tidak. Jadi, ibu kandungku merawatku sampai usiaku sembilan tahun,
dan dia tak cukup sehat untuk merawatku.
Jadi, dia memberikan aku kepada sepupu pertamanya
dan dia merawatku sampai usia 18 tahun, lalu aku diusir dari rumah,
lalu aku pindah dengan orang tua baptisku yang mengadopsiku di usia 22 tahun dan ya.
- Kau mengalami banyak hal saat kecil. - Ya.
Aku mengalami banyak rintangan. Seharusnya aku tak sekuat ini.
- Baik, kemarilah. Aku ingin memelukmu. - Tidak, aku baik-baik saja.
Sial. Tidak, aku memeluk dinding.
Aku di sini untuk mencari istri. Seseorang yang memang orang baik.
- Senang bertemu. Kita akan bicara lagi. - Tentu saja.
Jadi, tahun lalu, aku mengalami insiden yang cukup traumatis.
Sekitar satu minggu aku di ICU sendirian.
Aku merasa tak berdaya, putus asa,
karena aku tak punya wanita yang bisa menemani saat aku jatuh.
Aku datang ke eksperimen ini
karena satu hal yang terpenting bagiku adalah memiliki cinta sejati yang murni.
Aku ingin seseorang yang mendampingiku dalam suka dan duka.
Makanya aku di sini.
- Halo. - Apa kabar?
- Baik. Kau? - Baik. Siapa namamu?
Namaku Mallory. Kau?
Mallory? Salam kenal. Namaku Jarrette.
Jarrette. Salam kenal.
Ya. Bukan pria Subway.
- Untungnya, bukan. - Atau jauhari.
Apa hobimu?
Aku di liga futbol, sofbol, dan bola basket.
- Kau? - Aku suka berlari, menari.
Hari Minggu, aku dan teman-teman suka menonton pertandingan Bears.
Ya. Ya, tentu saja.
Aku tumbuh bersama dua saudara lelaki, jadi, aku sangat suka olahraga.
Sulit menemukan wanita yang suka olahraga.
- Aku menyukainya. - Itu luar biasa. Terima kasih, Jarrette.
- Ada yang memanggilmu JerBear? - Tidak ada.
Aku akan mulai memanggilmu JerBear.
Kurasa zaman sekarang, kita tidak melihat dari hati.
Tidak meluangkan waktu untuk memikirkan pernikahan,
punya anak atau nilai dan tujuan.
Orang zaman sekarang menghindari percakapan itu,
seperti wabah.
Hei.
Halo. Namaku Salvador.
Salvador. Salam kenal. Namaku Mallory.
- Mallory. - Ya.
Baiklah.
Ceritakan tentang dirimu. Dari mana asalmu?
Aku dari komunitas Hispanik besar. El Paso, Texas.
Bagus. Baiklah.
Berasal dari latar belakang Latin,
aku merasa mendapatkan sedikit anggapan bahwa aku machismo,
padahal tidak sama sekali.
Aku percaya pada pentingnya kerentanan. Aku suka menangis.
Aku merasa emosi dan air mata adalah kekuatan.
Jadi, proses ini benar-benar menarik perhatianku,
karena di dunia nyata, aku belum menemukan
orang yang menghargai cintaku seperti aku menghargai cintanya.
Makanya aku di sini.
Yang mengejutkan banyak orang
adalah aku belajar opera selama kuliah.
Dari mana asal keluargamu?
Aku lahir dan besar di Chicago. Aku dari selatan.
Ayahku Meksiko, ibuku Polandia.
- Orang tuaku Meksiko. - Bagus.
- Kau bisa bahasa Spanyol? - Sedikit.
- Sial! - Berhenti.
Dua budaya, ya?
Ya. Maksudku, keluargaku cukup besar dan berisik.
Aku anak bungsu dari empat bersaudara.
Keluarga besar dan berisik. Pernikahan di keluargamu pasti seru.
Ya.
No comments yet. Be the first to leave one.