The first 200 lines.
SEMUA KARAKTER FIKSI DAN TAK ADA KEMIRIPAN
TAK ADA HEWAN YANG TERLUKA SELAMA SYUTING FILM INI
DALAM KENANGAN PENUH KASIH SUBHASH LAKHARA
Kau sedang apa? Pelan-pelan.
Pelan dan mantap menangkan lomba.
Catat itu. Itulah kunci kebahagiaan.
Oke.
- Apakah kau mau makanan ringan lagi? - Tidak, Chhaya. Aku kenyang.
- Terima kasih. - Baik.
- Jadi, Chintan... - Ya, Pak.
...itu saja untuk hari ini, oke?
Kau tidak akan pernah beruntung di Ujjain, mengerti?
- Tunggu sebentar. - Ya?
Ini Pak Atmaram. Kami dulu bekerja di bank yang sama.
Dia seniman yang hebat. Dia men-sketsa dengan mesin tik.
- Mesin tik? - Ya.
Apa nama blogmu? Mesin tik... sketsa...
Benar.
Kenapa menatapnya?
Lihatlah seninya.
- Ini dibuat dengan mesin tik? - Ya.
Wow! Itu hebat!
Apa kita pernah bertemu?
Ujjain adalah kota kecil.
Kita mungkin pernah bertemu.
Tidak, tidak di Ujjain.
Di luar Ujjain.
Di mana ya?
Ratlam atau Devas?
Anakku di sana setelah menikah. Aku sering mengunjunginya.
Tidak, bukan Devas.
Pesawat terbang.
Kita bertemu di pesawat.
- Benar, kan? - Dokter...
Atmaram bahkan tak pernah naik kereta, dan kau bicara tentang pesawat?
Dia tidak pernah keluar Ratlam, itu pun, melalui jalan darat.
Oh, begitu.
Aku pasti salah menduga. Maaf.
Tidak usah minta maaf.
Mungkin kau lihat orang lain yang mirip denganku.
Tak ada kelangkaan orang berpenampilan biasa di negara ini.
- Sampai jumpa. - Oke.
Ayo.
Kemuliaan bagi Ibu Dewi.
Berkati kami dengan kasih sayang dan kebajikan.
Kemuliaan bagi Ibu Dewi. Berkati kami dengan kebaikan...
Ya, Nak.
- Aku bicara dengan Iqbal. - Ini.
- Biar aku... - Ya.
Cepat pilih kain untuk jaketmu dan berikan padanya.
Dia akan jahit dalam sehari?
Ya. Dan dengar, segera pulang.
- Kedua saudara perempuanmu telah tiba. - Baiklah.
Kakek tersayang, kau telah berusia 70 tahun hari ini.
Masih dua hari lagi.
Tapi kita harus bersiap sekarang, kan?
Kakek, kau telah berusia 70 tahun hari ini.
Tapi kata orang, kau terlihat seperti 60 tahun,
dan itu karena kau bersepeda setiap hari.
- Hebat. Luar biasa. - Kakek adalah Superman.
Lanjutkan, Sayang.
Pikiran mulia.
Kakek, pikiran muliamu, gaya hidup bajik,
dan kecenderungan terhadap spiritualitas
menginspirasi kami semua.
- Baik. - Kau adalah kepribadian yang hebat.
- Hebat. Sangat bagus. - Luar biasa.
- Sangat bagus. - Aku orang yang sederhana.
Kenapa kalian ingin membuatku hebat?
Tidak, Ayah.
Entah kau percaya atau tidak...
- kau seperti Tuhan bagi kami. - Hei!
Kenapa kau menangis terus? Ayah...
memang hebat.
Karenanya beliau menjadi panutan bagi kita semua.
- Baiklah. - Tidak, Ayah, kau memang hebat.
Baiklah.
Emosimu menentukan caramu melihat Tuhan.
- Benar? - Benar.
Nak, aku akan pergi sekarang.
Aku harus bangun pagi besok.
- Oke. Selamat malam, Ayah. - Selamat malam.
Hei!
Oke.
Drum berbunyi
Ini adalah waktu perayaan
Inilah pesulap Saksikan pertunjukan sulap
Momen penuh warna Momen bersinar
Jutaan bintang berkelap-kelip di langit
Tubuh unik, tubuh fleksibel
Bagaimana bisa seseorang Tak kehilangan hatinya?
Aku hilang akal, juga jiwa
Kehilangan hidupku, dan duniaku
Kehilangan akal sehatku, gairahku
Kehilangan segalanya Si gila
Ya, Rafiq. Ini bukan pernikahannya, ini hari ulang tahunnya.
Jangan berlebihan.
- Tidak. - Aku menemukanmu!
Anak-anak, tenang. Aku sedang menelepon.
Apa katamu?
Dengarkan aku, kita tidak butuh DJ.
Kau hanya perlu dekorasi rumah dengan baik hari ini.
Oke? Aku ingin rumahnya menyala.
Oke? Sampai jumpa.
Atmaram, jalebi!
Mencoba sok cerdas, Devdas?
Jika mau jalebi, katakan, "Ayah".
Apakah kalian berusia sama?
Jika mau manisan, panggil dia "Ayah".
- Katakan. - Ayah, jalebi.
- Ya. - Sekarang, dia tahu.
Beri jalebinya.
- Ya. - Ayo.
Hanya ada Golu.
Apa yang telah kau lakukan?
Sudah kubilang bermain di luar...
tapi kau tidak dengar!
Apa ini tempat untuk bersembunyi?
Kenapa? Tidak apa-apa.
Syukurlah dia tak terluka.
Sebut saja anugerah Tuhan.
Tuhan pun tak berdaya di depannya!
Bodoh!
Ya Tuhan. Aku tahu anak-anak ini akan berbuat nakal.
Ayah sangat menyukai foto Ibu yang ini.
Akan menatapnya berjam-jam.
Mari bingkai sebelum Ayah kembali.
Ada apa?
Ada yang ditempel.
Lihat, ada sesuatu di belakang.
Paspor?
Ya, paspor.
Pegang ini.
ATMARAM HARIDAS DUBEY
VISA TURIS THAILAND
BERANGKAT 17 MEI 2018
- Kenapa? - Ada apa?
Apa yang terjadi?
Hei!
Apa...
Apa yang terjadi? Katakan.
Apakah Ayah pergi ke Thailand tiga tahun lalu?
- Thailand? - Tidak.
Thailand?
Kenapa?
Pria yang luar biasa!
- Sungguh hebat! - Dengar.
Menjadi bijaksana itu kebajikan, bukan?
Aku sarankan kita biarkan saja.
Ini masalah pribadi Ayah.
- Kita bisa apa? Tidak ada... - Apa yang bisa kita lakukan?
Tuduh dia berkhianat!
Tuntut dia dengan IPC 420!
Lukisan ibu rusak, yang ayah lukis.
- Ya. - Bingkainya hancur.
Ini urusan keluarga!
Kak...
Ini. Taruh lagi.
Buat bingkai yang lebih besar dan pasang.
- Kakak... - Kakak, dengar!
Buat bingkai besar!
- Ayah... - Kakak...
- "Emosimu mendikte... - Ada apa?
...caramu melihat Tuhan!" Ya, benar!
Sudah kubilang dia akan marah.
Kak... sarapan sudah siap.
Ya. Setidaknya makanlah sebelum pergi.
Aku bahkan tak mau minum.
Aku tak menduga ini dari Ayah.
- Ibu yang sudah meninggal... - Jangan menangis.
Ya, aku datang!
Bahkan suamimu pergi ke Bangkok untuk bekerja.
Awasi dia.
Ayah...
Bahkan dealer perusahaan kita ke Bangkok setiap tahun.
Tak semua yang ke sana terdorong nafsu. Mungkin Ayah...
Apa ini terlihat seperti perjalanan spiritual?
Bagaimana dia bisa pada usia ini?
Usia... apa maksudmu bagaimana?
Apa tak pikirkan usianya?
- Aku akan bicara. - Tenang.
Anak laki-laki itu pasti dari Angkatan Laut.
Ke mana pria buah kering itu pergi?
PASPOR
Kebohongan besar!
Mukesh.
Ayah ada di sini. Kenapa kita tidak...
Ini Ujjain, Ayah!
Berita menyebar lebih cepat dari api.
Orang-orang akan bergosip.
Kemarahanmu bisa dibenarkan, Nak.
Tapi aku pun punya hasrat.
Hasrat mesum di usia ini?
Hasrat harus sesuai dengan usia seseorang, bukan begitu?
Berapa umurmu besok?
Hampir 70 tahun...
bukan 17.
Cucumu Ritvik berusia 17 tahun.
Malu-lah sedikit.
Apa perbedaan antara Ritvik dan aku?
No comments yet. Be the first to leave one.