The first 200 lines.
Kita sambut komika pembuka kita yang pertama.
Beri sambutan yang hangat dan tepuk tangan yang meriah
untuk Ben Dhanio.
Selamat malam, Jakarta, dan selamat datang di Mens Rea.
Terima kasih yang sudah hadir.
Aku tahu bahwa suasananya tidak kondusif,
tapi kalian tetap datang ke sini untuk bersenang-senang.
Terutama yang beretnis Cina.
Aku menghormatinya.
Perkenalkan, namaku Ben.
Aku merasa terhormat dipilih oleh Pandji
untuk menjadi pembukanya.
Meskipun aku tidak tahu,
aku dipilih karena aku lucu
atau Pandji ingin terlihat inklusif.
Sama seperti Anies dan Tom Lembong.
Baiklah, kita mulai lelucon pertama.
Bismillahirrahmanirrahim.
Agak sulit dipercaya jika aku yang mengatakannya, bukan?
Aku benci sekali pada kreator konten
yang di akhir videonya selalu mengatakan,
"Bagaimana menurut kalian?
Tulis di kolom komentar di bawah ini."
Itu omong kosong, kau tahu?
Itu hanya pura-pura.
Mereka tidak benar-benar peduli dengan apa yang kalian tulis
di kolom komentar.
Itu hanya pura-pura mengajak untuk beraksi
agar ada yang menulis di kolom komentar,
ada interaksi, jumlah penonton makin banyak.
Betul, tidak?
Tapi kembali lagi, itu murni hanya pendapatku.
Bagaimana menurut kalian?
Tolong tulis di kolom komentar di bawah ini.
Ya, itu adalah materi terbaikku, Teman-Teman.
Setelah ini aku hanya akan bermain tebak-tebakan.
Karena kalian harus tahu sesuatu.
Orang Cina melakukan komedi tunggal seperti ini
adalah kesalahan, Kawan.
Ini menyalahi kodrat.
Seharusnya orang Cina itu membeli tiket.
Duduk di area Diamond.
Membuat konten YouTube. "Orang melakukan gym itu bodoh."
Itulah orang Cina.
Orang-orang marah kepada Timothy Ronald.
Kenapa kalian marah?
Dia Timothy Ronald. Dia kaya.
Kalau sampai kerusuhan kemarin makin besar,
dia kabur ke Australia, selesai.
Orang Cina miskin seperti aku bisa apa?
Aku hanya bisa masuk Islam, sudah.
Aku dan Pandji punya banyak persamaan.
Kami berdua pernah stand-up di luar negeri.
Pandji melakukan stand-up di New York. Dia pernah ke Comedy Cellar.
Aku stand-up di Inggris.
Aku pernah ke klub komedi terbesar di dunia.
Namanya Old Trafford, kalau tidak salah.
Sepertinya ada orang Cina di sini.
Sepertinya aku akan dibakar.
Maaf.
Kami punya banyak kesamaan.
Aku bahkan sudah kagum dengan pemikiran Pandji.
Aku sudah membatasi orang-orang yang bertentangan
dengan pemikiran Pandji.
Aku sudah membatasi Prabowo.
Gibran.
Gamila.
Semuanya sudah.
Kami sama-sama takut istri, Kawan.
Bedanya, istriku orang Jawa.
Saat awal pernikahan dengan istriku, aku selalu mengejek orang-orang,
dengan berkata kalau menikah dengan orang Jawa itu enak.
Kau mendapatkan tiga dalam satu.
Mendapatkan istri, pasangan hidup, dan pembantu.
Saat awal pernikahan, aku baru sadar.
Istriku bekerja di kantor akuntan publik yang saat ini mengaudit Danantara.
Gajinya empat kali lebih besar dariku.
Setelah menikah, aku yang menjadi pembantu.
Kapan terakhir kali kau melihat orang Cina
membersihkan lantai, mencuci piring?
Kokoh, tolong ambilkan pakaian.
Baik.
Ini tahun ketiga pernikahanku, istriku sudah mulai cerewet.
"Kokoh, ayo kita punya anak."
"Sebentar, Sayang. Uangnya belum ada.
Biaya persalinan mahal."
"Itu dipikirkan nanti saja."
Dipikir nanti saja?
Astaga, pantas orang Jawa banyak sekali.
Kau pikir kenapa ibu kota kita pindah ke IKN?
Karena perbuatan satu orang Jawa, Kawan.
Jawa adalah kunci.
Makanya disebut kunci jawaban.
Aku hanya menemukan lelucon itu.
Aku membuat lelucon tentang istriku tahun lalu.
Di bulan Desember ini, aku akan menjadi seorang ayah, Kawan.
Aku ingin sekali menceritakan hiruk pikuk
seorang komika dengan karier rata-rata.
Bagaimana caranya aku bisa menjadi seorang bapak?
Akan kuceritakan semuanya di stand-up spesialku
pada tanggal 8 Februari 2026.
Beginiβ¦
Aku tahu bahwa mempromosikan acara pribadi
di acara orang lain adalah memalukan,
tapi jika dipikir kembali, teman-teman stand-up aku
tidak ada yang malu menjadi buzer 02.
Jadi, tidak apa-apa, bukan?
Tahun ketiga pernikahan, romantisnya sudah hilang.
Di awal dia memanggilku, "Kokoh sayang."
Tahun ketiga, sekarang di rumah, aku dipanggil dengan sebutan "Cina".
"Cina, sudah makan? Cina, mau ke mana?
Cina, minta uangnya."
Minta uang? Seperti dipalak di rumah sendiri.
Kami hampir mendapatkan masalah di Mal Living World Alam Sutera.
Kalian tahu di Alam Sutera itu 80 persen orang Cina, bukan?
Saat itu aku masuk ke toilet.
Ketika aku keluar dari toilet,
saat itu bertepatan dengan selesainya ibadah di gereja.
Mal langsung penuh. Isinya orang Cina semua.
Kami terpisah, tidak jauh, hanya lima meter.
Aku mencari istriku. Aku menghubunginya.
"Sayang, kau di mana?"
Dia hanya lima meter dariku.
Ada Azko yang sedang menjual tangga lipat.
Dia membuka tangga lipatnya, lalu dia naik dan berteriak,
"Cina, aku di sebelah sini!"
Aduh.
Itu aku malu sekali. Sial.
Yang pria menoleh.
Yang wanita menoleh.
Wanita yang membawa anjing pudel, pudelnya pun ikut menoleh.
Tentu aku tidak bisa membalas dengan, "Jawa, sebelah sini!"
Nanti kasir akan menoleh.
Satpam menoleh.
Gibran menoleh. Tentu tidak bisa begitu.
Ketika aku membangun materi itu, Kawanβ¦
Ketika aku membangun materi itu, kira-kira beberapa bulan yang lalu,
aku pernah dikritik keras oleh ibu-ibu.
Katanya, "Mas Ben, materimu terlalu rasis. Terlalu jahat."
Jujur, aku sedikit sakit hati.
Karena aku menulis materi itu sifatnya personal.
Aku sayang istriku.
Dan aku agak tersakiti.
Aku hanya berniat untuk menghibur.
Aku tidak punya niat jahat.
Aku bertanya kepada ribuan orang yang ada di Indonesia Arena.
Apakah menurut kalianβ¦
Apakah menurut kalian materiku terlalu jahat?
Tolong tulis di kolom komentar di bawah ini.
Terima kasih, Jakarta.
Ben Dhanio. Selamat malam.
Mari kita sambut seorang komika pembuka nasional Pandji
dan salah seorang mentorku, Dani Beler.
Selamat malam, Mens Rea Jakarta.
Kalian sadar, tidak?
Akhir-akhir ini, orang-orang Cina menyebalkan.
Tadi Ben Dhanio menyinggung orang Jawa.
Timothy Ronald menyinggung orang melakukan gym.
Bocah perintis
menyinggung kita semua.
Lebih enak hidup menjadi perintis
karena tidak ada yang menunjukkan arah.
Di situlah letak asyiknya.
Sebenarnya pernyataan dia tidak salah.
Yang salah adalah ekonomiku
yang tidak siap menerima fakta yang sangat menusuk itu.
Karena jika video itu sampai masuk ke grup WhatsApp Sembilan Naga,
aku yakin respons mereka akan, "Seperti cucu kita pada umumnya."
"Tidak ada yang salah."
Aku mengerti kenapa orang-orang kesal dengan anak itu.
Bahkan hingga dirundung.
Karena ucapan itu keluar dari anak usia 10 tahun
yang tidak pernah hidup susah, membicarakan soal perintis.
Jadinya terlihat sok tahu.
Itu pula yang menjadi alasan kenapa program Pildacil tidak dilanjutkan.
Konsepnya sama.
Bocah kecil membicarakan agama
di depan ustaz dan orang tua.
Apa tidak kesal editornya?
Jangan tinggalkan salat. Salat adalah tiang agama.
Bocah sialan.
Pertama kali aku melihat video bocah perintis itu,
aku langsung terpicu.
Jujur saja, jiwa proletarku mulai bangkit.
Seketika aku mengingat masa kecilku yang susah.
Dia tidak pernah merasakan tak ada makanan di rumah.
Dulu ibuku, jika tidak memasak,
betul-betul tidak ada yang bisa dimakan.
Aku ke dapur, tak ada apa-apa.
Membuka kulkas, yang ada hanya jeruk nipis dan krim malam.
Bingung, bukan?
Mau dimakan, tidak bisa.
Mau dioleskan, masih siang.
Tapi aku memang harus mengakui bahwa anak itu pintar, Kawan.
Selain pintar bicara, dia juga pintar menulis.
Bahkan dia menulis sebuah buku. Apa kalian tahu?
Buku digital. Kalian bisa cari itu di Google.
Judul bukunya adalah
100 Juta Pertama di Usia Delapan Tahun.
Buku ini sudah jelas berkategori fiksi.
No comments yet. Be the first to leave one.