The first 200 lines.
Siapa itu?
Tunggu.
Kenapa ketua timku di sini?
Halo, aku pemilik properti Unit 206.
"Pemilik properti"?
Dia pemilik properti?
- Unit ini? - Ya.
Bukakan pintu untuknya.
Ipar, tetaplah di sini sepuluh menit saja.
Atau lima menit saja!
Jangan bersuara, ya?
- Mengerti? - Hei!
Apa yang dia lakukan?
Pak Park!
Hyun-jin?
Silakan masuk.
Sedang apa kau di sini?
Benar, bukan?
Jadi, Yoon-seong
maksudmu
kau pemilik unit ini?
Ya.
- "Yoon-seong?" - Aku tahu aku sangat kacau
dan bersikap seperti pecundang di depannya, mengerti?
Ya, Pak Park.
Dia memberiku kesempatan karena memercayaiku.
Aku akan bekerja keras
dan menunjukkan kemampuanku kali ini.
Ini sama sekali bukan diriku.
Aku seharusnya seperti Suzy.
Dia cinta pertamaku.
Aku sangat mencintainya.
Apa ini?
Berikan kelinciku.
Kelinciku!
Hei, Nak!
Hyun-jin.
Apa yang terjadi...
Ayo keluar.
Kita akan bicara di luar, ya?
Tentu.
Ayo.
Jaga Woo-joo sebentar, ya?
Kau akan baik-baik saja, bukan?
Astaga, ini sangat memalukan!
Astaga!
Itu sebabnya aku membesarkan Woo-joo
dengan adik kakak iparku.
Itu pasti berat.
Aku senang tidak sendirian.
Untuk Woo-joo dan aku.
Ada yang bisa kubantu?
Ya, aku baik-baik saja.
Iparku membantuku.
Kau harus istirahat dahulu.
Sibuk sekali sejak kemarin.
Kunjungan mendadakku pagi ini
pasti menambah stres.
Ayo pergi.
Yoon-seong.
Maaf karena berbohong.
Tidak apa-apa. Itu bukan hal yang mudah untuk dikatakan.
Seharusnya aku tak berbohong soal tempat tinggalku.
Ya, itu jelas tak perlu.
Aku penasaran apa kita sudah begitu jauh
hingga kau merasa perlu berbohong.
Hei, Tae-hyung...
Maaf soal tadi.
Aku hanya panik
dan tidak tahu harus bagaimana lagi.
Kau terluka saat terjatuh?
Kau pasti memar atau semacamnya.
Ayolah, Tae-hyung.
Aku mengerti kau marah, tapi aku mencoba meminta maaf...
Meminta maaf? Untuk apa?
Karena mendorong Woo-joo dan aku ke kamar
karena kau malu dengan kami
saat cinta pertamamu datang?
Atau...
Aku tahu! Karena tidak menjawab saat Woo-joo terluka
dan bilang kau di kantor
padahal kau hanya menongkrong dengan cinta pertamamu?
Sudah kubilang bukan itu yang terjadi.
Aku sangat sibuk bekerja...
Berhentilah berbohong.
Kau bahkan terbata-bata di dekatnya.
Kau semalu itu soal Woo-joo di dekat pria itu?
Hati-hati. Kau bahkan tidak tahu seluruh ceritanya.
Aku tidak malu soal Woo-joo.
- Kalau begitu, karena aku? - Hei!
Ada apa denganmu? Kenapa kau begitu gila?
Apa yang sudah kulakukan?
Lupakan saja.
Berbicara denganmu hanya membuang waktu.
Kau juga.
Sungguh, ada apa dengannya?
Keadaan sudah rumit.
Ini konyol.
Astaga, itu memalukan.
Ada yang tahu kenapa dia begitu marah?
Mungkin karena wanita yang tinggal dengannya.
Suasana hatinya mudah berubah belakangan ini.
Pasti dia, bukan?
Iparnya?
Kukira hubungan kalian lancar.
Tidak.
Kenapa renovasinya lama sekali?
Aku benci harus membawa Woo-joo
ke mana pun aku pergi.
Tinggal di tempat kumuh itu dengan orang aneh itu
membuatku kesal dan gelisah tanpa alasan.
Ya, jadi, apa yang membuatmu sangat kesal?
Hei, aku bahkan bertemu cinta pertamanya.
Kau bahkan tak mencetak fotonya.
Astaga, di sini menegangkan.
Aku tahu.
Kami tinggal bersama.
Kami tidak bisa terus berhati-hati.
Kami harus meluruskannya.
Kau tahu, Hyun-jin
aku mulai merasa teman serumahmu agak mencurigakan.
Bagaimana?
Tentu, dia bisa marah karena kau berusaha menyembunyikannya.
Terutama dengan kejatuhan yang memalukan itu.
Namun, dia tidak boleh semarah ini.
Apa menurutmu
dia menyukaimu
- setelah malam itu... - Hei!
Se-yeon!
Sudah kubilang berhentilah membaca novel web!
Jangan bilang begitu, dasar mesum.
Sudah kubilang kami tidak seperti itu.
Kau sedang apa, Nona Woo?
Astaga.
Aku baru dari ruang arsip.
- Saatnya rapat. - Baik, Pak.
Ini kebutuhan utama Glomarket.
Mereka ingin kita fokus
menceritakan kisah setiap produk.
Jadi, kita akan mengerjakan pengarahan visual
dengan tim alih daya...
Pak
daftarnya sudah final, bukan?
Aku sudah menghubungi semua orang dan menyerahkan proposalnya.
Akan kuberi tahu setelah itu dikonfirmasi.
Nona Woo.
Aku ingin kau menangani aspek penceritaan.
Glomarket menyukai cerita soal makanan Korea di proposal.
Jadi, kau bisa bertukar ide dan menulis proposal dokumen
tentang ceritanya.
Baik, Pak.
Kau boleh pergi sekarang.
Baiklah.
Astaga!
Kau tahu betapa terkejutnya aku?
Amy Choo mewawancarai Tae-hyung?
Kau tak tahu aku benci berhenti di tengah pekerjaanku?
Makan dan dengarkan aku.
Pernahkah kau menyebut namaku
selama kita bekerja bersama?
Moo-saeng.
Selamat sudah berhenti.
Akhirnya kau menjauh dariku.
Aku akan mempekerjakan Tae-hyung.
Kenapa? Kau tidak senang?
Tidak, aku sangat bahagia.
Ke mana aku harus pergi untuk perjalanan berikutnya?
Jangan pesan tiket pesawat untuk bulan depan.
Kau harus melatih Tae-hyung sebelum pergi.
Kau belum menandatangani surat cerainya.
Kenapa lama sekali?
Kau membuatku menderita selama 20 tahun.
Aku gila jika menyetujui syarat itu.
Aku ingin tunjangan cerai
bagian dari aset, dan properti kita.
Aku butuh semuanya.
Kau bisa bepergian tahun depan.
Tampaknya gugatan cerai akan butuh waktu lama.
Bagaimana dengan Kkotnim?
Jangan pernah berniat menemuinya lagi!
Baiklah. Tanda tangani saja surat cerainya.
Masuklah.
Kau tidak membawa anak itu hari ini?
Aku meminta temanku mengasuhnya.
Aku tidak tahu kau sangat angkuh.
Apa aku harus mencuci film dari rol dan kamera yang kau buang?
- Maaf. - Tapi aku sudah memeriksanya.
Kuharap kau tahu kita tak khusus hanya memotret bayi.
Hei, Bayi Kecil.
Itu...
Kau hanya dipekerjakan karena dia.
Terutama, karena foto ini.
Aku bisa melihat kecintaanmu pada fotografi.
Bekerja dengan film melibatkan banyak ketidakpastian.
Kau bersemangat dan berharap tentang produk akhirnya saat dicetak.
Itulah serunya.
Itu sebabnya menurutku fotomu menarik.
Begitu rupanya.
Tapi menunggu bukan keahlianku.
Sejujurnya, biasanya aku tidak bekerja
No comments yet. Be the first to leave one.