The first 200 lines.
JACK SI PENCABIK
Si Pencabik! Dia melakukannya lagi!
Si Pencabik melakukannya lagi!
JACK SI PENCABIK
Orang-orang tahu nama Jack si Pencabik
meski mereka tidak tahu apa ulah Jack si Pencabik.
Jack si Pencabik pembunuh mengerikan. Ya.
Dia tak pernah ditangkap atau dihukum. Orang yang pintar. Hore!
Itu terjadi di zaman Victoria di London, tapi ada buku tentang Jack si Pencabik
dalam bahasa Jepang, Mandarin, Italia, dan Spanyol.
Namanya ada di mana-mana.
Jack si Pencabik!
TAMAT SUDAH JACK SI PENCABIK!
Jangan gunakan nama bodoh itu!
Jack menjalani hidupnya sendiri di luar apa yang sebenarnya dia lakukan.
Namun, saat menyadari kengerian kejahatannya,
perspektif kita berubah.
Kejahatannya mengerikan.
Dia coba menyayat hidungnya, menyayat telinga,
membuat sayatan dan luka di mana-mana.
Dia memotong jantungnya.
Itu benar-benar mengejutkan.
Dipikir-pikir, misterinya populer karena beberapa alasan.
Pertama, Jack si Pencabik menakuti orang
dengan cara yang tak pernah dilakukan sebelumnya,
dan tak pernah dilakukan setelahnya.
Alasan lain itu tetap populer adalah ceritanya yang terus berkembang.
Itu terjadi lebih dari 135 tahun lalu,
tapi kita masih mencoba memecahkan misterinya.
31 AGUSTUS 1888
DISTRIK WHITECHAPEL
TIGA KILOMETER DI TIMUR LONDON TENGAH
Pada dini hari 31 Agustus 1888,
seorang polisi berpatroli di area di Whitechapel.
Tiba-tiba, dia lihat sesuatu tergeletak di pintu gerbang.
Saat mendekat, dia melihat wanita terkapar di tanah.
Dia bawa lentera.
Dia menyorotkan lenteranya dan melihat lehernya telah digorok.
Yang tak dia lihat,
di balik pakaiannya yang berlumuran darah, isi perutnya berburai.
Beberapa orang tinggal di area itu.
Bahkan ada orang di rumah itu, di sebelah gerbang tempat dia ditemukan.
Mereka tak dengar dan lihat apa pun.
Itu jelas terjadi diam-diam
tepat di bawah jendela,
tempat orang-orang jujur sedang tidur di ranjang mereka.
Itu serangan yang sangat ganas.
Di kamar mayat, terlihat ada luka yang dalam dan bergerigi
dari tulang dada sampai ke abdomen,
sepenuhnya memutus jaringan di dalam perutnya.
Saat pihak berwenang bertanya apa ada yang kenal orang itu,
dia teridentifikasi bernama Polly.
Mary Ann Nichols, biasa dipanggil Polly,
berusia 43 tahun saat dibunuh.
Polly belum lama di East End London, sejauh yang kami tahu.
Namun, dia jadi pecandu alkohol, dan itu menyebabkan kemerosotan.
Dia sangat miskin, hidup sendirian,
berjuang mencari nafkah melalui prostitusi sambilan.
Dia minum-minum malam itu, dan tak punya uang untuk sewa ranjang.
Jadi, dia diusir dari penginapan umum.
PUKUL 02.10 POLLY MENINGGALKAN RUMAH PENGINAPAN
Dia bekerja seks, kumpulkan uang untuk sewa ranjang malam itu.
Kata-kata terakhir Polly kepada wakil penginapan itu adalah,
"Lihat penutup kepala meriahku ini?"
Begitulah kata yang dia ucapkan,
"Aku akan keluar untuk bisa dapatkan pria baik,
karena lihat cantiknya aku."
"Aku akan kembali. Simpankan ranjangku. Aku segera kembali."
Saat itulah dia diserang dan dimutilasi dengan mengerikan.
Pembunuhnya menaruh jarinya di sekeliling lehernya,
membunuhnya sebelum dia sempat berteriak.
Di East End tahun 1880-an,
pembunuhan tidak umum seperti yang mungkin kita kira.
Jadi, pembunuhan Polly
mungkin akan dianggap polisi sebagai kejadian satu kali.
PUKUL 03.45 MAYAT POLLY DITEMUKAN
London tahun 1888 adalah kota terbesar di dunia.
West End sangat kaya, makmur,
dan East End sangat miskin.
Whitechapel adalah distrik di East End London.
Itu adalah area tempat orang-orang nyaris tak bisa bertahan,
orang hidup dalam kemiskinan, orang mati kelaparan.
Dari jalan raya utama, semua gang dan lapangan dipenuhi tikus.
Sangat mengerikan. Orang hidup dalam kondisi buruk.
Banyak wanita lajang di East End tak mampu membeli rumah atau apartemen.
Setiap hari, mereka harus coba mengumpulkan empat sen tua
untuk menyewa ranjang,
di tempat yang disebut penginapan umum, atau doss-house.
Kubilang ranjang,
tapi di banyak tempat ini, itu lebih mirip peti mati
berjajar di dekat dinding.
Banyak wanita harus memilih sambilan prostitusi.
Itu soal hal yang harus mereka lakukan untuk mendapatkan penghasilan.
WANITA
Ada istilah untuk para wanita ini, yaitu "si malang,"
karena mereka terabaikan.
Kurasa Jack si Pencabik menyasar para wanita ini
karena mereka sasaran empuk dan wanita rentan di jalanan.
Jika mereka gunakan prostitusi untuk bertahan hidup,
merekalah yang mengenal jalanan.
Jadi, secara efektif, para korban memilih lokasi pembunuhan mereka.
Karena pekerjaan itu, mereka tahu harus membawa klien ke mana,
tempat bahaya interupsinya sedikit.
Mereka memilih, tanpa disadari, tempat yang sempurna untuk dibunuh.
Polly Nichols dibunuh pada 31 Agustus.
Seminggu kemudian, pada 8 September,
pembunuhan lain terjadi, dan itu Annie Chapman.
Annie ditemukan dibunuh di halaman belakang Jalan Hanbury.
Juga di East End, dekat tempat Polly dibunuh.
Dia telentang, di halaman, dengan wajahnya menghadap ke anak tangga.
Dia mengalami mutilasi yang mengerikan, sama seperti Polly.
Si pembunuh mengambil trofi.
Dia potong dan bawa pergi rahim korban,
yang memberi kesan bahwa alasan pembunuhannya
secara khusus agar si pembunuh bisa mendapatkan bagian anatomi itu.
Annie korban tertua. Dia berusia 47 tahun.
Menurut laporan polisi, Annie tak punya penghasilan sama sekali.
Untuk bertahan hidup, dia menjual pernak-pernik di jalanan.
Saat itu tak berhasil, dia melakukan prostitusi sambilan.
Sekali lagi, seperti Polly Nichols, pada malam sebelum pembunuhannya,
dia tak punya uang untuk sewa ranjang.
PUKUL 01.45 ANNIE MENINGGALKAN PENGINAPAN
Saksi bilang dia berkeliling, mencari klien.
Lalu, pada suatu saat malam itu,
Annie bicara dengan seorang pria
di luar pintu depan Jalan Hanbury No. 29,
tapi wajahnya tak terlihat.
Tampilannya terlihat seperti orang asing
dari gaya berpakaiannya.
Orang percaya bahwa itu Jack si Pencabik.
Menurut catatan polisi, apa yang diketahui terjadi selanjutnya,
keduanya melewati pintu masuk, yang tak pernah dikunci, Nomor 29.
Menuju ke lorong.
Lorong gelap itu mengarah ke halaman belakang.
Di situlah Annie dibunuh.
ILUSTRASI KORAN
Menginap di Jalan Hanbury Nomor 27 pada saat pembunuhan Annie,
yakni rumah sebelahnya,
adalah pria bernama Albert Cadosch.
Dia pergi ke toilet yang ada di dasar taman,
dan dia mendengar teriakan "tidak" dan bunyi gedebuk di pagar.
Orang percaya itu mayat Annie yang membentur pagar.
01.45 - ANNIE TINGGALKAN PENGINAPAN 05.30 - ANNIE TERLIHAT DENGAN PRIA
Kemungkinan besar, jika dia lihat ke balik pagar,
dia akan saksikan pembunuhan Annie Chapman dilakukan.
Leher Annie digorok dari kiri ke kanan,
sampai ke tulang belakang.
Dia dicabik sampai ke tulang dada.
Ususnya dikeluarkan dan diletakkan di atas bahunya.
Di kakinya ada beberapa benda dari kantong belacunya,
yang dibuka.
Ada sisir, secarik kertas,
segala macam barang dari kantong yang dia pakai.
Jack meletakkannya, hampir secara tersusun, di kakinya.
Sangat aneh.
Karena dia dimutilasi dengan cara yang sama seperti Polly,
polisi percaya kedua pembunuhan itu dilakukan orang yang sama.
Di TKP, mereka mencari petunjuk yang ditinggalkan si pembunuh.
Polisi menemukan apron kulit yang baru dicuci
di pojok halaman.
Mereka pikir, "Kita sudah tangkap pembunuhnya."
Alasan untuk sedikit kehebohan itu,
setelah pembunuhan Polly Nichols,
polisi sudah menyelidiki tersangka yang dikenal sebagai Apron Kulit.
Saat itu, para pelacur di Whitechapel
sudah membicarakan tokoh jahat bernama Apron Kulit,
dan mereka yakin dia pelakunya.
Apron Kulit adalah pria bernama John Pizer yang tinggal di Whitechapel.
Dia tukang sepatu. Untuk bekerja, dia memakai apron kulit.
Saat apron kulit itu ditemukan,
dia diseret ke kantor polisi,
tempat dia diinterogasi.
Ternyata, apron kulit yang mereka temukan
tak terkait pembunuhan itu.
Dia warga setempat yang membersihkan apron kulitnya
dan menjemurnya di atas pagar.
Pizer punya alibi yang kuat untuk malam pembunuhan.
Jadi, dia dibebaskan dari status tersangka.
Ternyata, dia yang pertama dari banyak tersangka dalam kasus ini.
Pada titik ini, polisi mengakui
bahwa ada sesuatu yang tidak beres di Whitechapel.
Dua pembunuhan mengerikan, mutilasi menakutkan,
kemungkinan besar oleh orang yang sama.
Yang menakutkan adalah hadirnya seseorang di luar sana
yang ingin membunuh mereka,
dan mereka pernah bertemu dengannya, tak pernah menyakitinya
Dia membunuh mereka tanpa alasan.
Ketakutan akan pembunuhan ini mulai muncul.
Orang-orang berpikir, "Monster macam apa yang melakukan ini?"
MONSTER WHITECHAPEL
Ada perasaan si pembunuh mengenali Whitechapel.
Whitechapel, saat itu, terdiri dari banyak gang sempit,
lorong kecil berkelok-kelok di antara bangunan.
Dia hanya perlu tahu di mana persembunyian terdekat
yang dia bisa masuki dengan cepat dan kabur dari TKP.
Lalu, saat dia di Jalan Whitechapel, jalan utama yang sibuk
yang melintasi jantung daerah itu atau Jalan Commercial,
jalan raya yang sibuk,
dia bisa menyelinap dan sembunyi di keramaian.
Sejak awal, polisi memutuskan tidak berbicara kepada pers
No comments yet. Be the first to leave one.