The first 199 lines.
Penerjemah : Unickunru *_*
Tampak seperti liburan yang sempurna untuk Faitelsons.
Kuyakin itu perubahan hidup.
Yeah, aku lebih suka bepergian ketimbang berakhir dalam tur anggur mewah.
dan kamu tak bisa mengendarai motor.
Sialan kamu.
-Jean, sudah lama sekali. -Oh, hey, Allen.
Selamat atas kelahiran cucu barunya.
-Kamu bagus dengan ini. -Terima kasih.
Michael lakukan pekerjaan luar biasa di Texas.
-Aw, terima kasih. -Aku sudah dengar.
Kalian melihat perjalanan Burgundy?
-Ah, baik... -Tidak, kupikir Jean ingin lebih kasar.
Kurasa mungkin sebuah biara di India, atau semacamnya yang sepi.
Aku tak pernah bilang itu. Dia jadi konyol.
Tapi dia memikirkannya.
Okay. Baiklah.
Okay, um, kamu sudah puas bicara dengan rekanku?
Oh, kamu tahu caraku ingin bermain istri sempurna.
Kamu sungguh bagus dalam hal itu.
Mm.
Apa kamu lihat, um...
Hey, Alexis. Kamu tampak cantik.
Kamu juga, Jean.
- Hey. -Hai.
Senang dengan pestanya?
Yeah, maksudku,
Aku tak kenal setengah orang disini, tapi ini bar umum.
Kelebihanku tepatnya.
Setidaknya itu sepertinya kalian senang-senang di Texas.
Yeah. Tak banyak acara.
Yeah, memang, kamu tahu, kerja, hotel...
Namun, pastinya bagus ada di antah barantah, benar?
Yeah, kurasa.
-Hey, sayang. Um... -Ya?
-Bisa kamu ambilkan lagi? -Yeah.
-Yeah. -Okay.
Tampaknya Alexis juga butuh satu.
-Baiklah. -Makasih, sayang.
Okay.
- Apa kabar? - Baik.
Oh, wow.
Kuharap bisa membayar itu.
-Itu sangat menggugah, benar? -Yeah.
Jadi, bagaimana kemajuan menulisnya?
Michael menyebut kalau kamu membuatnya jadi pekerjaan tetap.
Yeah. Bagus, sebenarnya. Aku, um...
Aku baru tahu bahwa salah satu kisahku akan ada di n+1 magazine.
Wow.
Ini seperti versi indie dari Salon.
Sayang, apa kamu tahu kisah Alexis akan ada dalam majalah?
-Oh. Oh, selamat. -Terima kasih.
-Yeah. -Ini, satu-satunya yang kamu baca.
-Yeah. Yeah, yeah, yeah. -Tentang ayahku.
- Bersulang. -Bersulang.
Selamat.
Itu, uh, fantastis.
Oh, itu Bill dan Leslie. Aku tak menyapa. Kamu berkenan?
-Maaf. Permisi, maaf. Okay. -Tentu saja.
-Sampai ketemu nanti? -Yeah.
Kapan kamu baca kisah Alexis?
Dua minggu lalu. Dia ingin aku memberi umpan balik, tapi...
-Aku ingin membacanya. -Oh, sungguh?
Sejak kapan kamu suka menulis kreatif?
mungkin aku suka banyak hal yang kamu tak tahu.
Aku yakin kamu begitu. Di titik ini, tak ada yang mengejutkanku.
Apa kamu bertanya-tanya seperti apa hidupmu
jika kamu berakhir dengan Catherine?
Tidak.
Tidak.
Tidak!
Apa yang memunculkan ini?
Entahlah. Hanya...
Kamu dulunya jadi pemakai berat.
Terbiasa merokok terus menerus, benar?
-Hanya membuatku memikirkannya. -Kamu menolakku.
Dan aku mengurangi rasa sakit itu.
Tidak. Kamu sulit untuk dia. Nyaris membunuhku.
Kupikirkan dirimu sepanjang waktu.
Yeah, benar. Bahkan selama seks?
Khususnya selama seks.
Kamu selalu tahu yang harus dikatakan, bukan?
Mm-hmm.
-Kamu baik saja? -Yep.
-Aku bisa tangani. -Tidak, tidak...
-Oh. -Oh, yeah.
Sayang.
Apa?
Kurasa aku cuma kelelahan.
Oh.
Yeah.
-Yeah, aku juga. -Dan kenyang.
Yeah, aku ingin sekali tidur.
Kita akan jadwal ulang.
Okay.
Oops.
Seksi.
-Ini keren, benar? - Yeah, aku suka itu.
Itu sangat menggugah.
Mm, kedengarannya kamu punya malam yang seru.
Meski, kamu tak mengirimkanku foto dirimu.
Sebentar.
-Dimana kamu? -Rumah. Apa maksudmu?
Kapan aku bisa mampir?
-Kapanpun kamu ingin. -Omong kosong.
Tidak, serius.
Aku memikirkan besok malam?
dimana alamatmu?
309 West 81st Street.
-Apa? -Tak apa. Aku, uh...
Aku hampir menjatuhkan ponselku di bak.
-Kamu di bak mandi? - Yeah.
Sekarang aku membayangkanmu.
Aku menggosok gilingan kopi di kulitku.
Super seksi.
Perawatan diri, itu penting.
Makasih, Ibu.
Para ibu tahu yang terbaik.
-Benarkah? -Itu yang mereka bilang.
Aku sangat tak peduli yang orang bilang,
Aku hanya tak mengerti kenapa kamu tak bisa datang kesini...
Sekarang juga.
Maksudku...
Aku mungkin harus menyentuh diriku sendiri.
Oh, Tuhan.
Beri aku hadiah hiburan.
Seperti apa?
Nama belakangmu.
Hart.
Sudah kubilang. Aku tak bersosmed.
Yeah, yeah. Kamu hantu, aku tahu.
ini terlalu buruk.
Aku akan biarkan kamu menonton, tapi...
Kurasa kamu hanya akan menunggu sampai besok.
"Dua hari yang paling penting dalam hidupmu adalah hari saat kamu lahir...
dan hari kamu mencari tahu alasannya."
Mark Twain yang mengatakannya.
Dan Zane mengakhiri meditasi kami dengan kutipan itu.
Dan tiba-tiba, segalanya masuk ke perspektif.
Tujuan hidupku.
-Yang mana? -Memberi.
Tak seperti milikmu, sebenarnya.
Maksudku, saat Rob meninggalkan tetanggaku Pat, aku membawanya selama dua bulan.
Membiarkannya tidur di kamar tamuku, sebab aku tak ingin dia sendiri.
Dan aku membuatkannya oatmeal tiap pagi, dan aku merawat dia.
itu bagus, Claire.
-Ada baiknya memberi. -Yeah.
Tapi juga menyehatkan punya kebutuhan sendiri. Kita semua lakukan.
Tapi, akhirnya, dengan melayani orang lain, kita melayani diri sendiri.
Dan dengan menerima diri sendiri seperti aku,
secara jujur, sesungguhnya,
Kuharap putriku akan menerimaku.
Hmm. Aku punya harapan yang sama.
Jadi...
Aku sudah beritahu dia soal pekerjaanku disini dan pekerjaanku di meditasi.
Kamu tahu, urusan "merelakan" itu.
Dan dia setuju menemuiku!
Itu kabar bagus. Aku sangat senang untukmu.
Yeah, jadi aku ingin tahu cara kita mengerjakannya bersama belakangan ini.
Untuk apa?
Maksudku, dia ingin ikut dan lakukan sesi bersamaku,
dan apa kamu ingat awal dari usaha kita, kamu menyarankannya?
Benar.
Dan kurasa cuma kamu orang
yang bisa lakukan proses penyembuhan ini dengan kami, Jean.
Benar. Tentu saja. Um...
Ini hanya aku tak sungguh, uh...
sumber yang tak bias lagi.
Aku sangat ingin jadi bagian perjalananmu, perspektifmu, dan...
Aku tak ingin Rebecca merasa diserang.
Kurasa ini akan bagus untuk kalian menemui seseorang...
yang adil untuk kalian.
Aku sangat tak nyaman dengan itu.
-Aku mengerti, tapi.. -Jean...
Aku sangat membutuhkan ini.
Okay.
Jika kamu benar-benar mengira Rebecca akan terbuka untuk itu,
Mari.. mari lakukan.
-Kamu serius? -Melawan penilaianku yang lebih baik, Iya.
-Hey. -Hey.
-Bisa bicara sebentar? -Tentu, ada apa?
Aku tak ingin kamu panik, tapi ini agak merepotkan.
Oh, tidak. Apa ada masalah?
Tentang Texas.
Uh, jika mereka menarik kembali pernyataannya,
-Aku serius, aku tidak.. -Tidak. Bukan soal kasusnya.
Oh, okay.
-Ini soal asistenmu. -Alexis?
Tampaknya, ada gosip bahwa kamu...
jadi intim pada perjalanan itu.
Kamu bergurau?
Wow.
Okay. Dengar.
Dengar, Allen, aku akan beritahu.
Aku masih menganggapmu teman.
Aku akan akui bahwa itu salah dan mengatakannya jika aku bohong.
Maksudku, itu terjadi pada orang-orang setiap saat.
Tak ada...
yang terjadi seperti itu.
No comments yet. Be the first to leave one.