The first 200 lines.
MAD CONCRETE DREAMS
Penghargaan utama Kompetisi Esai Anak Nasional
jatuh kepada salah satu dari kita.
Sambutlah Jeon Yi-gyeong di podium
dengan tepuk tangan meriah.
DENGAN SEMANGAT YANG LEBIH MEMBARA DARI MATAHARI, KITA SEMUA BERSATU
Aku tidak punya ayah.
Keluarga lain punya ayah
tapi di keluargaku hanya ada ibuku dan aku.
Tapi dibandingkan semua ayah
ibuku lebih kuat.
Kami tinggal di rumah besar.
Ada lampu gantung besar di ruang tamu
dan Ibu selalu memakai sepatu yang berbunyi.
Jika tidak ada bunga di rumah
ibuku tidak keluar.
Ibu selalu membeli bunga lili atau hortensia.
Ibuku bilang
rumah adalah wajah seseorang.
Tidak boleh berantakan.
Ibu keren sekali.
Kau bisa menjadi penulis, Yi-gyeong.
Kau lebih jago menulis daripada aku.
Jika kau membaca setiap hari seperti aku
kau bisa menulis lebih baik.
Kenapa kau bilang tidak punya ayah?
Itu bukan sesuatu yang bisa dibanggakan.
Dia memenangkan penghargaan. Bersikap baiklah padanya.
Menulis hanyalah hobi.
Jangan bermimpi menjadi penulis.
Karena dengan begitu, kau tidak akan ke mana-mana.
Siap?
Senyum.
Satu, dua, tiga.
Sekali lagi.
Satu, dua, tiga.
SELAMAT ATAS PENGHARGAANMU KOMPETISI ESAI ANAK NASIONAL
AKU TIDAK PUNYA AYAH
MAD CONCRETE DREAMS
EPISODE 6
Penculikan, pasien koma, dan pembunuhan?
Keluarga malang.
Haruskah mereka dirukiah?
BUKTI 3
- Apa itu senjatanya? - Ya.
- Bo-ram. - Ya?
Berdiri di sini.
Ada orang di sini.
Dia masuk dan dipukul.
Dia jatuh di tempat.
Lalu mereka memukulnya sekali lagi.
Di mana si pemilik gedung?
Dia menunggu di luar.
Mari bicara dengannya.
Kita bertemu lagi.
Ya.
Dari yang kudengar, kau menemukannya pagi ini.
- Ya. - Pukul berapa?
Antara pukul 07.00 sampai 07.30 pagi?
Kau tahu kenapa Nyonya Jeon ada di sini?
Aku kurang tahu.
Aku hanya mengajukan beberapa pertanyaan sederhana.
Kau tidak perlu terlalu khawatir.
Jika perlu, kami akan menyelidikinya di kantor.
Apakah kami menjadi tersangka?
Saat ini, semua orang tersangka.
Ya. Itu masuk akal.
Investigasi akan membuatnya jelas.
Kau punya CCTV, 'kan?
- Ya. - Boleh kulihat?
Tentu.
Hanya ini yang kau punya?
Ya.
Kenapa?
Kami pakai CCTV sejak semalam.
Sebelumnya tidak kami pakai karena ada masalah.
Sebelumnya tidak pakai CCTV
tapi kau menyalakannya semalam?
Ya, bukankah kebetulan?
Pelakunya terekam kamera.
Hanya itu jalan masuk dan keluarnya?
Ya.
Bukankah dia pemilik kafe?
Kudengar dia sudah beberapa hari tidak ada.
Benar juga.
Pekerja paruh waktu itu sendirian.
Ada apa?
Bukankah itu aneh?
Apa yang aneh?
Semua yang terjadi di dalam gedung ini.
Entahlah.
Ibu!
Ibu!
- Yi-gyeong, tunggu. - Lepaskan aku!
Yi-gyeong.
Ibu!
- Lepaskan aku! - Yi-gyeong.
Kendalikan dirimu.
Seon.
Seon.
Ibuku...
Sedang apa ibuku di sini?
Kenapa ibuku ada di sini?
Yi-gyeong.
Astaga. Yi-gyeong.
Yi-gyeong.
Bangunlah.
Astaga.
Yi-gyeong?
Yi-gyeong, kau baik-baik saja?
Seon.
Kenapa...
Kau tidak ingat?
Kau pingsan.
Su-jong sedang mengurus pemakaman.
Jangan tergesa-gesa.
Istirahatlah.
Seon.
Gudang.
Gudang?
Yang ada di rubanahmu.
Ruangan itu?
Kenapa?
Apakah sejak awal ada di sana?
Dahulu itu ruangan pendingin.
Sistem pendinginnya rusak, jadi, sekarang hanya menjadi gudang.
Kami menyimpan banyak barang di sana.
Kenapa kau bertanya?
Bisa bantu aku duduk?
Ya, tentu saja.
Biar kubantu.
Pasien Jeon Yi-gyeong.
Kau butuh istirahat total.
Aku baik-baik saja.
Tidak, kumohon. Dengarkan aku dahulu.
Kau tahu?
Tentang ibuku?
Tidak, bukan soal itu.
Tentang kehamilanmu.
Apa?
Siapa yang hamil?
Kami melakukan tes darah rutin saat kau tidak sadarkan diri.
Kau yakin?
Kami sudah memberi tahu dokter kandungan.
Dokter akan datang menemuimu.
- Sampai jumpa. - Terima kasih.
KAMI TURUT BERDUKA CITA
MENGENANG HIDUP YANG KAU BERIKAN BAGI SEJEONG-RO YANG LEBIH BAIK
Yi-gyeong.
Kau harus makan sesuatu.
Demi bayimu.
Ada apa?
Masam sekali.
Pak Kim.
Sulit kupercaya.
Bagaimana bisa Bu Jeon...
Dia baik-baik saja beberapa hari lalu.
Ini sungguh mendadak.
Halo.
Yi-gyeong, ada tamu.
- Ibumu... - Aku bertemu ibumu
sebelum dia meninggal.
Semoga dia beristirahat dengan tenang di tempat yang lebih baik.
- Lewat sini... - Baik.
WAKIL BIDANG KEBIJAKAN NAM SANG-HO
- Wakil Nam. - Hai.
Halo.
Kau bisa duduk di sana.
Astaga. Sudah lama kita tidak bertemu.
Biar kutuangkan minum.
Kau bergaul dengan orang seperti dia?
Bicaramu agak keterlaluan.
Kau sudah memikirkannya, Pak Gi?
Ya, aku akan mengikuti arahanmu.
Bagus, keputusanmu tepat.
Kau dekat dengan pria tua itu?
Ada markas klub baduk di gedungku.
Dia pemiliknya, penyewa di tempatku. Kami bertemu setiap hari.
Kalau begitu, kau juga pasti tahu soal gedungnya.
- Gedung Hanmaeum. - Ya.
Menurutmu kau bisa membelinya?
Bawakan aku akta gedung itu
dan aku akan memberimu tambahan sepuluh persen saham.
Totalnya sepuluh miliar won.
Jika kau mendapatkan dividen selain itu
jumlahnya bisa lebih besar.
Mari makan.
Astaga.
- Kau sudah makan? - Ya.
Makanan di sini cukup enak.
Makanan aula pemakaman biasanya tidak enak.
Lalu pembunuhnya?
Mengingat situasinya, kami cukup yakin
pelakunya Oh Dong-ki, pemilik kafe di lantai satu.
Kami sudah keluarkan surat perintah, dia akan segera ditangkap.
Lalu sebelumnya
bukankah kau mengatakan sesuatu soal tempat aku dikurung
saat aku diculik?
Misalnya apa?
- Bubuk kopi. - Apa?
No comments yet. Be the first to leave one.