The first 160 lines.
Ada paket!
Permisi, tolong tanda tangani di sini.
Terima kasih!
Tinggal sendiri di Tokyo tidak murah.
Kau butuh lingkungan yang mendukung atau tekad yang kuat.
Jika tidak, kenyataannya kau tidak bisa menjalani hidup normal.
Meski begitu, aku ingin terhubung dengan orang lain
sambil berharap aku menjadi diriku yang kudambakan.
Aku mencari tempat untuk menjadi pemeran utama.
AKU CINTA KABUKI-CHO
Mencari nilai diriku dalam hidup...
"Ada permintaan pacar sewaan."
"Aku ingin kencan menyegarkan dengan pacar yang seperti adik perempuan."
Di dunia yang kejam ini,
aku berusaha mendapatkan setidaknya kebebasan untuk menjadi diriku sendiri.
Jadi, hari ini pun...
Kau Masayuki?
Senang bertemu denganmu. Aku Yuki.
Aku akan menjadi pacar seseorang.
Ini kali pertamaku menyewa pacar.
Kupikir ini juga bisa menjadi kenangan istimewa.
Begitu rupanya.
Terima kasih sudah memilihku untuk kali pertamamu.
Apa kau selalu seintim ini secara fisik?
Bahkan dengan orang menakutkan sepertiku?
Profesionalismemu luar biasa.
Aku tidak mau mendengar hal seperti itu.
-Maaf... -Bukankah aku...
pacarmu, Masayuki?
Pacarku mencampakkanku, jadi, aku merasa sangat kesepian.
Waktu habis. Rasanya begitu singkat.
Terlepas dari situasi kita, aku senang bisa bertemu denganmu, Yuki.
Aku ingin bertemu denganmu lagi.
Aku akan memesanmu lagi.
Aku senang sekali! Kalau begitu, sampai jumpa.
Sampai jumpa...
Pelanggan yang memesan kembali
berkata bahwa mereka ingin menemuiku tanpa melalui agensi
atau mereka bilang jatuh cinta kepadaku.
CALON PELANGGAN TETAP
Meski tidak sepatah kata pun ucapanku kepada mereka jujur...
Yuki.
Ya.
Kau punya banyak pelanggan tetap. Teruskan kerja kerasmu.
Namun,
begitu seseorang merasa puas dengan sesuatu,
hal itu takkan lagi memuaskan mereka.
Kebahagiaan adalah candu.
AGENSI WONO
Bagaimana denganmu?
Aku tidak terlalu suka hal semacam itu.
Ayolah...
Aku tidak seperti kalian.
Maaf membuatmu menunggu.
Pacar?
Ya, meski dia sama sekali bukan idamanku.
Kupikir aku hanya akan menghabiskan waktu, tapi ternyata dia sangat baik.
Begitu rupanya. Selamat.
Dia lebih tua dariku dan kaya, jadi, tak ada lagi om senang untukku.
Kau masih mengejar om senang?
Aku hanya akan makan dan berbelanja dengan mereka.
Terlebih, izinkan aku memperkenalkannya kepadamu lain kali, Yuki.
Tapi aku malu.
Karena itulah kau terus menolak pria di kampus.
Banyak pria menganggapmu manis. Sayang sekali.
Aku tidak mau orang yang tidak mengenalku mengomentari penampilanku.
Aku akan sangat senang jika mendengar orang bilang aku manis.
Kau tidak perlu menemuinya. Ikut saja pesta akhir pekan.
Aku sudah punya rencana.
Rencana?
Ya.
Begitu rupanya.
BAGI YANG MERASA BUNTU, WUJUDKAN MIMPIMU
Sejak kecil, aku tidak pernah punya impian sendiri.
Aku bertahan hidup
dengan segenap kemampuanku.
Dan semua masih sama.
Aduh!
Selamat datang.
Senang bertemu denganmu. Aku Yuki.
Aku Sota Tsuji.
Kau gugup?
Ya, maaf...
Aku penasaran apakah kepingan salju ini karena namamu.
Itu manis...
Maksudku gantungannya.
Terima kasih.
Jadi, setelah ini,
kita akan bertemu teman-temanmu untuk kencan ganda?
Maaf atas permintaan aneh ini.
Aku berbohong soal punya pacar dan tidak bisa menariknya kembali.
Payah, bukan?
Sama sekali tidak.
Aku pacarmu, artinya kau tak berbohong, 'kan?
Benar.
Baiklah.
Ini pacarku.
Apa? Dia manis sekali! Apa dia benar-benar pacarmu, Sota?
Filmnya akan dimulai, ayo kita bergegas.
Baik.
Aku tidak suka akhirnya.
Menurutku tidak seburuk itu.
Aku juga menyukainya.
Sungguh? Itu akhir yang buruk.
Itu lebih realistis daripada akhir bahagia yang norak.
Menurutku itu menunjukkan betapa absurd kehidupan dan dunia ini.
Sejujurnya, aku tidak menyukainya.
Aku tidak tahan melihat tokoh utama mengabaikan ibunya.
Aku ingin dia ingat siapa yang melahirkannya.
Aku bahkan merasa jijik kepadanya.
Dia pasti tumbuh di rumah yang penuh cinta.
Jadi, dia tidak mengerti ada orang yang tidak seberuntung dirinya.
Apa maksudmu?
Begini...
Tidak semua ibu sungguh menjadi ibu.
Melihat seseorang yang bahkan tak bisa membayangkannya...
aku yang merasa terhina.
Yuki, apakah kau biasa mengenakan baju seperti ini?
Apa?
Aku juga berpikir begitu. Bajumu agak terbuka.
Kau mencoba merayuku?
Aku hanya suka mengenakan baju dengan gaya seperti ini.
Bukankah artinya kau suka mengumbar?
Sota, kau harus berhati-hati.
Apa?
Hei, kau keterlaluan. Tidak seperti itu.
Tidak?
Maaf soal hari ini.
Situasinya menjadi canggung.
Itu sama sekali tidak menggangguku.
Hei, tunggu!
Tidak satu pun ucapanmu hari ini jujur, bukan?
Aku tahu.
Sakit.
Maaf!
Waktu habis. Terima kasih untuk hari ini.
Aku lelah.
Tolong...
Baik. Tunggu sebentar.
Kau baik-baik saja? Biar kuambilkan untukmu.
Terima kasih banyak!
Permisi...
Yuki?
Kau salah orang.
Kau Yuki, bukan?
Kau tinggal di sekitar sini?
Aku senang kita bertemu. Aku ingin minta maaf soal kemarin.
Ucapan mereka tentangmu...
Maaf atas kelancangan teman-temanku.
Tapi mereka meminta maaf setelahnya.
Mereka bilang bercanda.
Ponselmu...
Baiklah!
Jangan lihat aku.
Yuki...
Kubilang jangan lihat aku!
Aku tidak tahan dengan tatapan itu.
Sekalipun aku tidak mengasihani diriku sendiri...
tatapan itu membuatku merasa menyedihkan.
Kau salah!
No comments yet. Be the first to leave one.