The first 200 lines.
SERIAL NETFLIX ORIGINAL
NAPOLI, 1961
SELAMAT BERBAHAGIA
Tina! Apa yang kau lakukan? Kau tak boleh menyentuhnya.
Kau harus menunggu.
Pergilah.
Cantik sekali, besar sekali!
Di mana ibuku?
Ingat kau berjanji akan berdansa denganku.
Itu dia!
Hache!
Pergilah.
Serena melarangku makan kue.
Selamat.
Selamat.
- Kenapa lama sekali? - Astaga...
Piero bersikeras berjalan-jalan,
dan...
- Aku haus setengah mati! - Kau cantik.
Bambino!
Cium pengantinnya!
Cium pengantinnya?
Cium!
Ayo cepat. Satu...
dua...
tiga.
Masih ada banyak. Makanlah.
Tak perlu berhitung. Kue ini sangat besar.
- Kelihatannya enak. - Lezat.
- Arístides, boleh minta? - Kuemu terbesar.
Ini. Pergilah.
Kenapa kau di sini? Kau tersesat?
Aku harus bicara dengan Hache.
Ayo masuk.
Kita pergi lagi?
- Tidak. - Ya.
Ayo lakukan lagi. Orang tak akan tahu.
- Tidak. - Ya.
Kau menginjak gaunku.
Biarkan aku memimpin. Itu lebih mudah.
Kau seperti wanita Napoli. Seratus persen.
Seperti apa wanita Napoli?
Tak ada yang tahu.
Kalian tak di Barcelona. Jelas. Namun, aku tak tahu kalian di mana.
Suatu hari, tiba-tiba, aku bangun dan punya firasat.
Ambil risiko, dan di sinilah aku.
Kau menang besar.
Minumlah sesuatu. Kau bisa tersedak.
Kalian pintar, ya?
Selagi aku menderita, kalian hidup bak raja.
Di atas pengorbananku.
Kenapa kau di sini? Katakan! Apa yang kau inginkan?
Lepaskan! Sakit!
- Apa maumu? - Ada yang mau beli pabrik semen.
Pengembang menghubungiku, sebagai pengacara Malpica.
Mereka menawarkan banyak uang. Hache hanya perlu teken dokumen.
Hache? Apa maksudmu Hache?
Warisan Malpica.
Pabrik semen, rumah pantai, Albatros...
Semua miliknya. Aku bersumpah.
Camino, kau tahu kenapa ini ada lima?
- Tidak. - Dengar.
Satu untuk kesehatan. Dua untuk... kebahagiaan.
Tiga, cinta. Empat, umur panjang.
- Tahu lima apa? - Tidak.
Anak-anak! Kesuburan. Banyak anak.
- Kesuburan? - Ya.
Dibakar?
Untuk apa aku bayar polisi?
Apa gunanya jika laboratoriumku dibakar?
Sudah berakhir, Messina.
Bawa Giancarlo besok. Mengerti?
Pergi dari sini!
Ini bukan apa-apa. Masalah kecil.
Akan kubereskan.
Setahun di penjara.
Serasa di neraka.
Kukira aku tak akan bebas.
- Kenapa kau bebas? - Entah. Aku tak bertanya.
- Aku tak mengeluh. - Aku tak percaya.
- Jangan anggap kami bodoh. - Aku mengatakan yang sebenarnya.
Lihat. Ini pengembang yang mau pabrik semen.
Hebat. Kartu nama. Itu bisa jadi milik siapa pun.
Kalau begitu, hubungi notaris, dan tanya soal warisannya.
Kartu namanya.
Dia mewariskan Albatros kepadaku juga?
- Ya. - Kita tak bisa terus bicara di sini.
Besok, di Napoli atau tempat lain. Sekarang kau harus pergi.
Aku tak punya tujuan. Aku datang dari stasiun.
- Uangku sudah habis. - Ini. Cari tempat tinggal.
Kau harus pergi sekarang. Akan kucarikan mobil.
Kau harus kembali ke pesta.
Aku tahu kau membunuhnya.
- Kau bilang itu ke polisi? - Tidak.
Untuk apa?
Jangan main-main denganku.
- Aku bisa membunuhmu di sini. - Bayi itu...
Dia mewariskannya juga?
Hache.
Kenapa bajingan ini di rumahku?
Hatiku yang salah.
Hatiku. Ia tak tahan dengan kehidupan yang kujalani.
Dokterku bilang dia tak bisa mengubah hatiku,
jadi, gaya hidupku harus diubah.
Aku bilang, "Aku juga bisa ganti dokter."
Untuk kesehatan musuh kita.
Aku tahu bagaimana aku akan mati.
Kalian juga?
Aku tak akan mati.
Hache selalu punya jawaban.
Kenapa pengembang mengutusmu?
Aku dihubungi sebagai pengacara Malpica.
Untuk terima warisan, Hache harus teken di depan notaris.
Suruh kirim dokumennya ke sini.
- Ya, tetapi... - Akan kubayar.
Bagaimana dengan pabrik semen?
Jual.
Potong biaya layanan Anda, kirim sisanya.
Aku memercayai Anda.
- Malpica juga, 'kan? - Aku tak mau menjual Albatros.
Aku mau kembali ke Barcelona.
Kau terus mengeluh kehilangan kota itu.
Aku bisa pergi mengurus semua.
Aku lebih tahu kota itu daripada anak buahmu.
Wanita berkuasa di Barcelona.
Aku bisa. Aku selalu setia kepadamu.
- Kau berutang kepadaku. - Kubilang tidak.
Ayo keluar.
Senovilla, tinggal dan bersenang-senanglah.
Ada banyak kamar.
Juga pakaian.
Kau tak mau merusak pesta sahabatmu.
Habiskan minumanmu. Mobil sudah menunggu.
Aku tinggal. Luciano mengundangku.
Hache ingin membuka Albatros. Dia mau kembali ke Barcelona.
Bisa baca itu?
Kau suka?
Ini sempurna.
Kini hanya perlu membayar sisanya.
Jika boleh, kutaruh di kotak.
Semuanya, angkat tangan!
Kau, yang berkumis. Ambil tas.
Masukkan semua. Arloji, dompet. Sekarang! Ayo!
Ayo. Perhiasan di tas. Cepat!
Tolong, jangan bertindak.
Kau tuli? Lebih cepat!
Ayo. Perhiasan itu juga.
Ikut aku.
Apa kau tuli? Cepat!
- Jangan ini. - Kenapa?
Lepaskan, Bodoh.
- Jarahanmu sudah cukup. Pergilah. - Diam!
- Berikan antingmu. - Tidak.
- Ayo. - Tidak.
- Ayo. - Kau menyakitiku.
Jangan ganggu dia! Pergi kalian.
Aku polisi.
Tinggalkan itu di meja. Keluar.
Sekarang.
Aku tak mau. Berikan pistolnya.
- Pistol! - Mundur!
Dia masih kecil.
Javier Fauró, alias "Kubala".
Pasti jago sepak bola.
- Kami mencarinya. - Kenapa?
Dia merampok tempat judi bulan lalu. Mencuri uangnya.
Dengan senjata juga. Lima menit, masuk lalu keluar.
Itu pistol mainan.
Bagaimana kau tahu?
- Aku akan berbuat sama. - Ini kali pertama aku membunuh.
Ini. Geng Kubala.
Yang kita tahu.
Pencuri kecil-kecilan. Semua 15 atau 16 tahun. Kenal?
Dia bertopeng. Sulit dikenali.
Benar.
- Alano. - Komisaris.
- Apa kabar, Vinuesa? - Baik, terima kasih.
Liburlah beberapa hari.
Silvia juga. Kalian berdua. Kembalilah setelah pernikahan, kalau mau.
Aku lebih suka tetap di sini. Ada banyak pekerjaan.
Permisi.
Kita pergi, Pak?
Tak ada salahnya menerima bantuan.
Aku juga susah tidur.
Aku buat panggilan jarak jauh.
Memang benar Senovilla baru keluar dari penjara.
Orang di kartu nama itu juga punya uang.
Dia mau bangun kompleks apartemen di Horta.
Aku ingin kembali.
Kita akan langsung ditangkap.
- Kau sadar itu? - Bukan kali pertama.
Aku tak memahamimu, Helena. Sumpah.
Semua yang kita perlu ada di sini. Kita aman.
Jangan ikut jika tak mau.
Tenanglah.
Kenapa aku terima semuanya?
Siapa lagi?
Dia tahu kau akan ambil alih jika bisnis itu diserahkan kepadamu.
Namun... itu seperti jebakan.
Jika mencari Charly, dia sibuk.
No comments yet. Be the first to leave one.