The first 200 lines.
Tidak mengakui kerabat adalah dosa.
Mengarang cerita adalah dosa.
Tidak membalas budi adalah dosa.
Menentukan hidup dan mati sesuka hati adalah dosa.
Manusia memang seperti ini.
Yang mati masih diingat.
Yang hidup
masih takut.
Yang ditakutkan adalah hidup dan mati.
Yang ditakutkan adalah hati manusia.
Apakah bisa? Listriknya mati lagi.
Aku sedang siaran langsung,
Begitu listriknya mati, Wi-Fi-nya putus.
Cerita kali ini lumayan mengharukan.
Maksudmu Liu Xiurong itu
sungguh membawa suaminya pergi?
Benarkah?
Internetnya terputus, bagaimana cara mengarang cerita?
Itu semua karena kamu
terlalu pelit.
Bahkan tidak rela mengganti kartu dengan kuota yang lebih besar.
Aku memikirkan untuk kita berdua.
Kelak bisa menabung lebih banyak.
Tutup mulutmu.
Dalam cerita karanganmu itu,
sama sekali tidak ada urusannya denganku.
Namanya mengarang cerita.
Lagi pula, tidak ada urusannya denganku.
Semuanya urusanku.
Urusanku?
Kakek Guru.
Bisakah bersuara sedikit saat kamu berjalan?
Ini membuat Pak Xiao kaget.
Keberanianmu ini
masih harus dilatih.
Lihatlah Wang'er.
Tidak kaget sama sekali.
Jadi,
Kakek Guru
tidak tidur sama sekali
dan mendengarkanku omong kosong di sini?
Wang'er.
Apakah kamu tahu
mengapa dia tidak bisa menerima hadiah?
Totalnya tujuh orang.
Dua di antaranya adalah.
Pak Luo dan Pak Yan
dari rumah duka kabupaten.
Aku sudah lama menebaknya.
Hanya mereka berdua
yang mau mendengarkan dia omong kosong di sana.
Aku ini demi uang sewa.
Aku berpikir untuk belajar dari Pak Yan ini
melakukan siaran langsung, bercerita dan memulai bisnis.
Siapa sangka sesulit ini.
Listriknya tidak mati.
Tagihannya menunggak.
Biarkan gelap dulu saja hari ini.
Aku tidur dulu.
Tidurlah.
Setelah bangun besok pagi, aku akan membayar tagihannya.
Baik.
Kakek Guru.
Bagaimana kalau tidak bisa menghasilkan uang?
Kakek Guru, apakah aku boleh meminjam uang dulu?
Kembalikan dua kali lipat.
Baiklah.
Halo, Rumah Duka Jing'an.
Turut berduka cita.
Kami akan segera berangkat.
Mujarab.
Bagaimana kalau aku yang menyetir?
Tersentak-sentak seperti ini.
Jalannya jelek, bukan salahku.
Kakek Guru.
Kamu lihat jalan ini.
Familier tidak?
Bukankah sudah mengirimkan lokasinya padamu?
Sudah masuk gunung, sinyalnya jelek.
Kartunya tidak berfungsi dengan baik.
Berhenti!
Aku saja yang menyetir.
Ada apa? Mengagetkanku saja.
Terpalnya longgar.
Jangan sampai kerajinan kertasnya terguncang.
Eratkan ikatannya.
Xiao Mo.
Apakah kamu membawa ayam jago kertas?
Aku lupa.
Apa yang bisa kamu ingat setiap hari?
Bukankah kamu bilang tempat ini sangat familier?
Mengapa sampai di sini lagi?
Tidak sangka,
setelah berputar-putar, kembali ke sini lagi.
Bukankah rumah ini
sudah dijual?
Orang yang membeli rumah ini
sepertinya namanya Guo Cuilan.
Dia juga membawa seorang putra.
Tapi, kelihatannya juga baru berumur sekitar 50-an tahun.
Di telepon bilang yang meninggal adalah pria.
Putranya?
Sudah datang.
Petugas pemakaman, 'kan?
Anda yang menelepon, 'kan?
Benar aku.
Benar aku.
Siapa yang meninggal?
Putra bibiku.
Adik sepupuku.
Kalau begitu, pindahkan barang dulu.
Kak Wei.
Terima kasih atas kerja keras saudara-saudara.
Baiklah.
Butuh berapa hari untuk bisa datang?
Baiklah.
Ada apa?
Rumah duka bilang guncangannya terlalu keras di jalan,
jadi mogok.
Masuk dan lihat dulu saja.
Bagaimana kalau
kalian masuk bersiap dulu?
Aku pulang mengambil ayam kertas.
Perjalanan bolak-balik ini
tidak dekat.
Kamu menghirup udara segara dulu di sini.
Kita masuk dulu.
Wang'er.
Maaf.
Maafkan ayah.
Semua sudah berlalu.
Jangan takut, Kakak akan melindungimu.
Hati-hati aku akan menghajarmu.
Mau memukul?
Pekerjaan ini...
Jangan bercanda.
Silakan masuk.
Jam berapa orangnya meninggal?
Kemarin malam pukul 9 lebih.
Mana orangnya?
Ada di lantai atas.
Tutup semua televisi dan cerminnya.
Anda tenang saja.
Silakan.
Bibi.
Petugas dari pemakaman sudah datang.
Berapa umur anaknya?
22 tahun.
Dia sejak lahir...
Dari kecil sampai besar,
dia dibesarkan oleh bibiku sendirian.
Bibiku tidak mudah.
Turut berduka cita.
Nyalakan lampunya.
Orangnya baru meninggal,
lampu harus menyala.
Apakah ada arak?
Ada.
Begini, kamu bantu untuk
memandikan jenazahnya bersama.
Aku?
Bibi.
Anda menghindar dulu.
Baik.
Kami perlu memandikan jenazahnya
dan memakaikan baju.
Aku akan mengambilkan bajunya.
Pak.
Orangnya baru pergi,
tetap harus menghormatinya.
Bagaimana kalau
kamu lakukan sendiri?
Semuanya saudara sendiri.
Merasa jijik
atau takut?
Menurutmu, Guo Cuilan
orang yang sangat bersemangat.
Setiap hari merawat putranya,
juga selalu bersih.
Benar.
Meskipun anak itu
otaknya tidak begitu pintar,
tapi tidak terlihat seperti akan mati muda.
Meninggalkan ibunya sendirian,
bagaimana bisa hidup?
Dirasuki sesuatu.
Aku sudah bilang pada kalian.
Jangan menyebarkan ini ke mana-mana.
Dua hari lalu sebelum putranya meninggal,
aku minum sedikit arak.
Bibi Qi.
Bibi Qi.
Ayo.
Tentang pernikahan keponakan Anda ini,
Anda tolong bantu lebih banyak.
Lihatlah dirimu.
Serahkan padaku.
Hari sudah larut.
Cepat pulang.
Baiklah, merepotkan Anda.
No comments yet. Be the first to leave one.