The first 200 lines.
STILL SHINING
Bantu aku bertemu Tae-seo
dan berpamitan sebelum pergi.
Aku tahu kalian tak muncul setelah cuacanya dingin.
Biarpun begituโฆ
Mo Eun-a.
STILL SHINING
Seluruh desa ini terlihat sama sejauh apa pun kita pergi.
Benarkah kita makin dekat?
Kunang-kunangโฆ
Aku tahu mereka tak muncul setelah cuacanya dinginโฆ
Kenapa kauโฆ
Ada di sini?
Itu Tae-seo, kan?
Tae-seo!
Im A-sol, turunlah.
Tae-seo, kau yang menyetir!
Kau yang tahu di mana restorannya!
Jalan di sini membingungkan!
Aku lelah!
Aku sudah menyetir ke sini!
Aku lelah sekali!
Dia bicara dengan siapa?
Aku kedinginan!
Yang benar saja.
Ya ampun.
Dia tak berubah sama sekali.
Dulu aku selalu menjaganya.
Semua mengira dia adikku.
Dia lebih mirip aku dari Tae-seo.
Apa maksudmu? Jelas-jelas dia versi imut Kak Tae-seo.
Banyak yang bilang begitu.
Kami cuma beda aura.
Biar kutuangkan, Kak.
Terima kasih sudah mengundangku.
- Sepertinya enak. - Ya, kan?
Ramyeon boga bahari dan mugeunji di sini enak sekali.
Mereka hanya menyajikan mugeunji kalau ada aku.
Tae-seo meninggalkan Seoul demi dirimu.
Dia tak ragu sama sekali.
Kini aku tahu alasannya.
Dia selalu tampak lelah di Seoul,
tapi di sini, ada laut,
langit cerah, dan udara segar.
Tempat ini luar biasa.
Rupanya itu maksudmu.
"Ayahku bekerja sambil menatap langit,
ibuku menatap langit dan laut."
Katanya itu pekerjaan terbaik di dunia.
Itu hal yang sering Ibu katakan.
Rupanya Kakak ingat.
Tentu saja.
Kau pakai kruk saat kita terakhir bertemu.
Kini kau bisa jalan. Hebat.
Ayolah. Itu sudah lama sekali.
- Ayahmu sehat, kan? - Ya, sehat sekali.
Hei, tunggu.
Kau harus menyetir ke Seoul.
Aku harus ke rumah sakit.
Kak.
Pergilah.
Tamu kita datang jauh-jauh. Antarlah mereka ke Seoul.
Bahkan Kak Hyeong-seok akhirnya kemari.
Kau membuatnya tak bisa minum.
Adikku, rupanya kau merindukanku.
Minumlah.
Kau sudah bisa minum. Kau sudah dewasa.
Ayolah.
Lampu sepeda itu rusak.
Wanita yang naik sepeda itu mantan pacarmu, kan?
Dia tinggal di Gangneung.
Bukan.
Lalu dia tinggal di mana?
Aku tak tahu.
Kenapa dia ke sini?
Aku tak tahu.
Rupanya kalian tak sempat bicara.
Kau pasti frustrasi dan penasaran.
MO EUN-A
MO EUN-A
Kenapa kau di Yeonwooโฆ
Rupanya kau datang, Tae-seo.
Ya, aku sudah datang.
Kau pasti kelelahan.
Istirahatlah selagi kau cuti dari wamil.
Ada apa ini?
Kabari aku kalau ke sini.
Aku langsung kemari dan belum makan.
Kau sudah mengobrol dengan Nenek?
Nenek bicara soal masa wamilku.
Nenek selalu bicara soal masa SMP-ku.
Waktunya sudah berlalu.
Apa kau melihat Eun-a yang tinggal di rumah ujung?
Kenapa tiba-tiba menyebutnya?
Aku melihatnya.
Jangan menyedihkan.
Aku ingin kau hidup normal, menikah, dan punya anak.
Berkunjung sesekali.
Apa itu berlebihan?
Aku akan melajang
dan menemani Nenek dan Kakek sampai menyusul Ibu dan Ayah.
Akan kulakukan semua.
Kau melihatnya atau tidak?
Kenapa melantur?
Aku pergi dulu.
Tunggu sebentar.
Eun-a seharusnya sudah kembali, tapi terlambat.
Dia pergi naik sepeda tua itu.
Kau harus bergegas mencarinya.
Baiklah.
Sedang apa di sini?
Aku datang untuk melihat sekolah kita.
Aku tak tahu sudah ditutup.
Bukan itu.
Kenapa kau ada di sini? Di Yeonwoo.
Kau akan menetap di sini?
Tidak, cuma sebentar.
Aku akan ikut Park So-hyeon.
Ini bagus.
Meski khawatir berpapasan denganmu di sini,
aku ingin memberitahumu bahwa aku akan tinggal dengan So-hyeon.
Dan mengucapkan perpisahan
secara langsung.
Sekarang aku bisa.
Lampu sepedaku rusak.
Kau bisa mengikutiku dari belakang.
Syukurlah.
Aku sempat khawatir harus mendorong sepedaku.
Ingat persimpangan tempat kita biasa berpisah?
Ayo berpamitan di sana.
Aku sungguh ingin melakukannya.
Syukurlah.
Kapan kau pergi?
Sebentar lagi.
Selagi bertemu,
ayo berpamitan.
Aku ingin berpamitan denganmu.
Aku akan jaga diri.
Aku pergi dulu.
Ini aku.
Aku tahu.
Tak terjadi apa-apa, kan?
Akuโฆ
Aku meninggalkanmu berdua dengan seniormu itu.
Itu tak menyebabkan masalah, kan?
Kenapaโฆ
Kenapa kau mengkhawatirkanku?
Itu tidak perlu.
Tak ada
yang perlu kau cemaskan.
Itu tak perluโฆ
Kurasa begitu.
Taman bunga itu masih jelas di ingatanku.
Aku penasaran apa sudah dituntaskan.
Apa meninggalkan tempat yang kau kelola sepenuh hati
tak terlalu berat bagimu
dan kenapa kau terus terpaksa pergi
padahal kau tak menginginkannya.
Itu tak perlu,
tapi aku terus bertanya-tanya.
Kenapa Park So-hyeon jadi ibumu?
Lebih tepatnya,
ibunya yang menjadi nenekku.
Dia baik.
Kau tak mengambil keputusan buruk karena merasa terpojok, kan?
- Kalau kau terpojokโฆ - Tidak, Tae-seo.
Aku sempat ke Tongyeong.
Penginapanmu sudah tutup
dan kudengar kau ke rumah ibumu.
Kukira ibumu yang tinggal di tempat yang jauh
dan menyukai mi.
Kita berselisih jalan.
Kita sering sekali begitu.
IM A-SOL RUMAH TUA
Aku harus pergi.
Nenek akan bangun.
Dah.
Eunโฆ
Termasuk rapat dan pesta akhir tahun, ada tiga acara yang kuhadiri.
Lokasinya dekat sini,
jadi aku mampir.
Apa kau minum-minum?
Ya, sedikit.
Maaf.
Kenapa minta maaf?
Haruskah aku pergi?
Kalau kau lelah, aku pergi.
Ayo pergi minum-minum.
Aku ingin bicara.
Aku ingin melanjutkan film yang kita tonton.
Baiklah.
Aku melihat toko bungeoppang dekat sini.
Tapi tak bisa parkir.
Kubelikan.
Duduklah.
Baiklah.
Aku suka ini.
Aku senang bisa bersantai bersama setelah sibuk bekerja.
Satu teguk saja.
Mobilku bisa kutinggal.
No comments yet. Be the first to leave one.