The first 200 lines.
Masih tidak ada sinyal?
- Kalian dapat sinyal? - Tidak.
Jalannya benar. Mungkin setengah jam lagi.
Kenapa kita tak jadi ke Bali?
Malah pergi ke tempat yang bahkan tak ada di Maps.
Agar kita bisa lebih menghargai apa yang kita miliki.
Haqi, kalau kau bicara seperti orang tua,
kau takkan punya teman di sekolah.
Pasti pengalaman pribadi.
Apa?
Aku punya banyak pengikut di Instagram.
Kau berapa? Pasti tak punya akun.
- Hanya 200? Aku punya 1 juta. - Hei.
Ayah sudah bilang, bukan?
Pengurus panti asuhan yang membesarkan Ayah sedang sakit.
Maka, Ayah dan teman-teman ingin menjenguknya.
Kalian tahu tak semua orang punya orang tua.
Seperti ayahmu.
Tak ada orang tua, tapi semangatnya tinggi.
Apa lagi kalian yang punya orang tua.
Lantas, mengapa kita tidak diadopsi saja?
Sepertinya sudah saatnya.
Mereka sudah besar.
Kenapa?
Kalian sebenarnya bukan anak kami.
Kalian kami adopsi sejak kecil.
Berarti sekarang kami akan dikembalikan ke panti asuhan?
Tentu tidak, Qi.
- Tidak, Dik. Bohong. - Bercanda!
Tidak apa-apa jika aku diadopsi.
Haqi-ku.
Namun, bisa jadi. Karena wajah Haqi berbeda.
Hei, Haqi anak Ibu yang paling tampan, tahu.
Jangan begitu, Dina.
Dulu, Nenek bilang Ibu tak cantik. Ibu masih merasa begitu.
Kalau terlalu sering dipuji bisa menjadi terlalu percaya diri seperti Dina.
- Banyak delusi! - Apa?
- Kau yang begitu! - Itu kau! Sok cantik.
- Sok cantik. - Aku memang cantik.
Apa itu?
- Binatang? - Kalian tak apa-apa?
Ya, pergi sana.
Haqi, keluar.
Bu!
Apa, Nif?
Binatang, ya?
Ya.
Rusa.
Ayo.
Ayo masuk.
Sandi, ambil dus, ya.
Maman!
Apa kabar, Man?
Baik.
Apa kabar?
Sehat?
Alhamdulillah, sehat.
Kenalkan, istriku.
Nadya.
Maman.
Haqi.
Maman.
Ini Sandi dan Dina.
Sudah lama tak bertemu, ya.
Ya, sudah lama. Kau tak pernah ke sini.
- Siti. - Siti?
Istri saya.
Ini Hanif, Siti.
Apa kabar?
Nadya.
Haqi.
- Ada apa dengan wajahnya? - Hei.
Ini Dina dan Sandi.
Ada oleh-oleh dari Jakarta.
Untuk anak-anak panti, Man.
- Terima kasih, Pak. - Ya.
Saya bawa ke dalam. Kalian langsung saja masuk.
Mari.
Gila.
- Nif. - Ton.
Nadya.
- Apa kabar. - Baik. Kau?
- Sehat, Kawan. - Sehat.
- Hanif. Kawan. - Hai.
- Aku merindukanmu. - Aku juga.
Kau tambah besar, ya.
Tidak juga.
- Hei. - Hai.
Haqi.
Hai, Tampan.
Halo.
Hai.
Masuk.
Ayo.
Baiklah.
Bibi sibuk, ya?
Tos dulu.
Kita kembali di sini.
Tempat ini tak berubah.
Ya.
Man.
- Ton. - Apa kabar?
Sehat.
- Man. - Jef.
Man.
Di mana anak-anak panti?
Ada dua orang, Pak.
Yang lainnya sedang darmawisata.
- Mereka pulang nanti malam. - Kau kenapa memanggilku "Pak"?
Ya, Nif.
Hasbi, Rani.
Paman Hanif.
- Halo. - Halo. Hasbi.
- Halo. - Rani.
Hei, Sandi, Dina, Haqi. Sini.
Ini anak-anak Paman.
- Tos saja sebaiknya. - Tos!
- Sandi. - Rani.
- Sandi. - Hasbi.
- Dina. - Hasbi.
Pak Bandi bagaimana?
Pak Bandi selalu menyebut nama kalian bertiga.
- Saya antar. - Ya.
Pak Bandi.
Ini Hanif, Pak Bandi.
Di sini ada Anton.
Jefri juga.
Kami menjenguk Pak Bandi.
Pak Bandi.
Apa kalian pernah ke sini?
Tidak pernah.
Namun, Hanif sering cerita.
Aneh, ya?
Aku baru dengar nama Pak Bandi waktu ke sini tadi.
Sungguh? Kenapa begitu?
Jefri sepertinya sibuk.
Jadi, tak sempat cerita.
Tapi, kau tak apa-apa, kan?
Maksud aku...
Maaf, kenapa aku jadi ingin tahu, ya?
Ya sudahlah, kalian baru menikah, 'kan?
Anton pun sering begitu.
Ayo makan.
Terima kasih, Siti.
Sayang.
Apa kita masuk juga, ya?
Ini Pak Bandi.
Yang membesarkan kami semua.
Jika bukan karena Pak Bandi...
mungkin kita takkan bertemu.
Mungkin Jefri, Anton,
dan aku...
juga mati terlantar.
Ini bagian anak-anak.
Ini ruangan tempat kami menonton.
Biasanya menonton di sini.
Ruangan untuk kalian
sudah kami bersihkan.
Terima kasih, ya.
Maaf merepotkan.
Kalian sudah lama di sini?
Aku sejak bayi.
Kalau Rani,
sejak umur sepuluh tahun.
Dibuang ayah dan ibunya ke sini.
Bukan dibuang.
Dititipkan.
Dibuang, Ran.
Tak pernah dikunjungi.
Sebentar lagi mereka akan ke sini.
Mimpi.
Mengapa dibuang?
Ibunya hamil karena kecelakaan.
Mengapa bisa hamil karena kecelakaan? Bagaimana caranya?
Itu kamarmu?
Bukan.
Sudah lama tak bisa dibuka.
Kasurnya sudah dibersihkan dan dijemur agar tidak bau.
Tak apa-apa.
- Haqi! - Ini milikku!
Duduk, sini.
Aku tak enak membuatmu repot.
Tenang saja. Tak ada yang dikerjakan juga.
Kau tidur di mana?
Di tempat lain.
Bukan di sini.
Rencananya tinggal berapa lama di sini?
Katanya hanya sebentar.
Sudah 20 tahun tidak dibuka.
Apa isinya?
Tidak ada.
Dulu, ada pengurus panti bernama Bu Mirah.
Suatu hari, dia pergi dengan salah satu anak panti bernama Murni.
Tiba-tiba, dia berlari pulang dan berteriak bahwa Murni diculik dedemit.
Apa? Dedemit?
Dia berteriak-teriak seperti orang gila.
Lalu dia dikurung di sini.
Saat itu, semua anak panti keluar mencari Murni.
Ibu Mirah menggedor-gedor pintu ini.
Namun, tak ada yang membuka.
No comments yet. Be the first to leave one.