The first 200 lines.
EPISODE 12
BULETIN SEKOLAH
HALO, AKU YOON BOM, GURU ETIKA
Jangan sembunyi, jangan menghindar, dan jangan kabur.
Semangat.
Han-gyul, sudah lihat?
BULETIN
HALO, AKU YOON BOM, GURU ETIKA
Apa ini?
Bom.
Bomβ¦
Halo.
Aku Yoon Bom, guru etika.
Kurasa banyak orang yang ingin tahu alasan aku datang ke kota ini.
Meski banyak rumor mengelilingiku,
alasan aku tetap diam
adalah karena saat itu
situasi memaksaku diam, bukan membela diri.
Kukira semua orang akan bahagia selama aku tetap diam
dan aku juga percaya luka dalam hatiku akan sembuh seiring waktu.
Namun, kini aku sadar
bahwa kebenaran hanya bisa dilindungi dengan keberanian, bukan waktu.
Kini, aku akan mencoba
menceritakan yang kualami kepada kalian semua.
Ibu.
Sebenarnya, akuβ¦
Jantungku hampir copot.
Siapa lagi itu?
Mungkinkah itu reporter?
Apa?
Kurasa bukan. Biar kulihat.
Maaf jika kau tersinggung.
Namun, seperti katamu, aku tak harus jadi peringkat satu.
Aku tak butuh nilai bagus, juga tak mau kuliah.
Tak ada orang tua yang heboh soal peringkat.
Pasti menyenangkan.
Aku tak tahu apa-apa dan berkata belajar soal stamina.
Aku juga berkata dunia tahu usahaku.
Kau pasti senang melihatku merasa menang karena kemampuanku.
Aku ingin menghadiahkan peringkat satu untukmu.
Hanya itu.
Kau sungguh berpikir itu hadiah?
Memberi orang apa yang paling dia mau, bukankah itu hadiah?
Jangan hubungi aku.
Apa?
Aku akan berhenti berpacaran dan hanya fokus belajar.
Se-jin, kita baru mulai berpacaran.
Peringkat satu hasil usahakuβ¦
Adalah hadiah yang paling kuinginkan.
Halo.
Aku Sun Jae-gyu.
Kusuruh dia datang.
Kata Jae-gyu, ada yang perlu dibahas denganmu.
Selagi kita berkumpul,
kukira sebaiknya kita bahas bersama.
Aku bertemu dengan kepala divisi Disfact sebelum kemari.
Apa?
Kau bisa menghapus semua rekaman percakapan kita, kan?
Di zaman sekarang, salinan mudah sekali dibuat.
Aku harus memastikan.
Begini. Aku harus lihat kau hapus
rekaman asli dan salinan dari perangkat keras
dan penyimpanan awan di depanku. Semuanya.
Tolong batalkan juga permohonan putusan sela.
Aku iniβ¦
Punya kebiasaan buruk untuk mewujudkan niatku.
Jika rekaman itu kuhapus dan artikel keluar,
tak akan ada kesepakatan lagi.
Akan kuambil upaya hukum
untuk semuanya, termasuk kesepakatan ini.
Kau akan menebusβ¦
Kesalahanmu itu.
Dia janji tak akan merilis artikel.
Akhirnya aku bisa bernapas.
Rasanya seperti hidup kembali.
Perihal hukum akan kuselesaikan dengan reporter itu besok.
Bom.
Kau juga seharusnya lega.
Semua sudah berakhir.
Bagiku belum.
Maaf, Bu. Akuβ¦
Aku mengunggahnya di buletin sekolah.
Mengunggah apa?
Alasan aku pindah ke kota itu
dan apa yang kualami.
Semuanya.
Dasar bodoh!
Sayang.
Kau terlalu baik.
Reporternya mau menyerah, kenapa malah kau ungkap lebih dahulu?
Ibu.
Aku masih mimpi buruk setiap malam.
Aku bermimpi wanita itu menamparku di depan kelas
dan pria itu datang ke depan rumahku.
Jika dunia lupa,
kukira akan terhapus juga dari ingatanku.
Rupanya tidak.
Meski dunia lupa,
aku tak bisa lupa.
Saat itu, aku menuruti Ibu.
Kali ini, tolong dengarkan aku.
Kumohon.
Kau sungguh akan baik-baik saja?
Tentu saja tidak.
Kalau begitu, istirahat hari ini, lakukan besok saja.
Atau mungkin kutemani?
Tidak.
Meski aku takut, gugup, dan ingin sembunyi,
aku harus menanganinya sendiri.
Baiklah.
Semoga berhasil. Kutunggu di sini hingga selesai.
Semua sudah baca unggahanku, kan?
Aku selalu menyuruh kalian untuk melakukan yang harus dilakukan.
Namun, aku sendiri menunda apa yang harus kulakukan.
Sebagai guru,
apalagi sebagai pengajar etika,
aku amat malu.
Jika kalian tak percaya, apa boleh buat.
Namunβ¦
Aku harap kalian percaya.
Selain itu, waktuku bersama kalian tak lama lagi.
Mengesampingkan kejadian hari ini,
aku akan berusaha keras untuk mengajar kalian hingga akhir.
Ada pertanyaan?
Ya, Se-jin.
Bu, sekolah kita tak buka kelas khusus untuk latihan ujian?
Biar kubicarakan dengan Kepala Sekolah.
Kalau tidak, sesi belajar mandiri pada jam istirahat juga boleh.
Aduh. Choi Se-jin, kenapa kau berlebihan?
- Kenapa kita harus belajar saat istirahat? - Benar.
Tenang.
Meski UAS sudah berakhir, jangan terlalu banyak main.
Langsung pulang. Mengerti?
Baik, Bu.
Hati-hati.
- Terima kasih! - Terima kasih!
Kelas Bu Bom baru selesai.
Dia segera kemari.
Saat dia datang, jangan ada yang bicara, ya?
Kita tetap harus menanyakan unggahan itu.
Dia menderita karena itu sejak kemarin.
Dia bahkan mengunggahnya sendiri.
Karena dia unggah sendiri, kita harus bertanya
benar ada perselingkuhan atau tidak.
Astaga.
Aku sudah tahu jawabannya. Tanyakan kepadaku jika mau tahu.
Aku dengar dari Pengacara Choi yang amat kau suka itu.
Pengacara Choi?
Dia datang.
Aku makan ceker ayam dengan soju atau ayam tepung dengan bir hari ini?
Soju dan samgyeopsal bagaimana?
Boleh.
Bu Bom.
Kita harus menggelar survei tentang kelas musim panas.
Tolong tulis surat untuk orang tua.
Bu Bom.
Kepala Sekolah sedang bicara.
Baik, akan kuserahkan besok.
Baik.
Reporter Park, ini Hong Jung-pyo.
Apa yang terjadi?
Katamu itu bisa jadi berita besar,
makanya kuberi tahu soal dia memacari preman itu.
Apa?
Batal?
Apa yang kauβ¦
Ya, Choi I-jun.
Aku menangkap narsum artikel itu.
Siapa dia?
Pelakunya adalahβ¦
Halo? Pak Choi, ini Hong Jung-pyo.
Bukan aku pelakunya.
Reporter itu sudah tahu soal perselingkuhan saat dia datang.
Aku hanya mengiyakan sedikit.
Ini tak akan terjadi lagi.
Jadi, tolong jangan beri tahu Gubernur.
Baik. Sampai jumpa.
REPORTER PARK DISFACT
HAPUS
Kau sedang apa?
Katamu tak akan terjadi lagi. Kubantu.
Ini.
SELAMAT DATANG DI PASAR SHINSU
Apakah tak masalah?
Ini tempat paling ramai di kota.
Aku sudah mengungkap rahasiaku. Aku harus terbiasa dikritik.
Jika ada yang mengkritikmu,
aku akan jadi perisai untuk melindungimu.
Bu.
Aku dengar rumornya.
Kukira kalian sudah menikah.
Ituβ¦
Jika belum, cepat menikah.
Lahirkan saja tiga atau empat anak.
Dia akan membesarkan mereka dengan baik.
Aduh.
- Bu Bom. - Oh.
Nenek.
Aku dengar dari Dong-pyo tadi pagi.
Kubuatkan bubur. Ambil di rumah.
No comments yet. Be the first to leave one.