The first 200 lines.
Ya. Sabun, Pak?
Sabun, Pak?
- Kolonye, Pak? - Ya.
Apa-apaan!
- Simon, hentikan. - Ayo, masuk. Aku butuh tali.
Apa yang dikatakan pria itu kepadamu di bar?
- Dia teman, aku bicara dengannya. - Dia tak terlihat seperti teman.
Biarkan saja, Simon. Sial!
- Pak, Bu. Tolong buka pintunya. - Di sini sibuk, Kawan.
Sayangnya aku tak bisa mengizinkan penggunaan narkotika di sini. Pak?
Namun, ini bukan urusanmu, bukan, Kawan? Ayo. Enyahlah.
Ayo, jawab aku. Bagaimana kau mengenalnya?
- Sialan... - Pak, B...
Jangan khawatir, Sayang.
Semua akan baik-baik saja.
"Tiga Hari Kemudian"
- Halo. - Pagi, Pak.
- Inspektur Detektif Jackson Mendy. - Sersan Detektif Franks di atas.
Terima kasih. Terima kasih banyak.
- Ada tikus berdarah di rumahku. - Sungguh.
Kudengar tikus berlarian saat malam di belakang lemariku.
Bedebah kecil.
Aku harus membeli perangkap atau racun, atau semacamnya.
Jangan lakukan itu.
Mereka akan mati di belakang kulkas dan membuat rumahmu bau.
Jika menjadi kau, aku akan memelihara kucing. Itu lebih alami.
Maaf, siapa kau?
Aku ID Jackson Mendy. Kau Lola Franks, bukan?
- Ya. - Kita akan berpasangan untuk ini.
Susan tidak bilang?
Aku baru saja dipindahkan ke bagian pembunuhan.
Jadi, kuharap aku tidak terlalu membebanimu!
- Kau pindah dari mana? - Antikorupsi.
- Benarkah? - Mari?
Ya. Astaga.
Jangan menungguku. Aku akan tetap memeriksanya.
Tangga.
Setiap hal kecil membantu.
- Kau di sana, Dom? - Di sini, Sersan.
- Ada orang lain yang masuk? - Petugas kebersihan yang melapor.
Bagus. Mari tetap seperti itu sampai aku keluar, ya?
- baik, Sersan. - KTP di jasadnya?
Senang kau bisa bergabung.
Harus kuakui, aku agak menyesalinya.
Ya, namanya Goodbridge. Dia juga pemilik apartemen ini.
Aku sudah bicara dengan semua orang di gedung ini.
Wanita di sebelah bilang dia melihatnya kemarin.
Jadi, jika memang dia, itu pasti terjadi semalam.
- Tak ada yang melihat apa pun? - Tidak sama sekali.
Ini ID Mendy. Dia baru bergabung dengan kita dari Antikorupsi.
Ini peralatan serius. Peralatan berat.
Luka ini telah dirawat secara profesional.
Mungkin sudah beberapa hari. Pak?
- Maaf, kau mengatakan sesuatu? - Sepertinya luka...
...di wajahnya sudah ada sebelum pembunuhan.
- Menurutmu mereka berhubungan? - Sulit dikatakan.
Tak ada tanda perlawanan lain.
Dia pasti diikat ke tempat tidur dengan sukarela.
Jadi, itu direncanakan oleh seseorang yang dia kenal.
Kau hanya bercinta dengan orang yang kau kenal?
Aku sudah menikah, jadi, ya, tapi aku mengerti maksudmu.
- Maaf, Pak. - Maaf. Aku minta maaf.
Hubungi rumah sakit di area London Utara...
...cari tahu apa dia dirawat di sana pekan lalu?
- Baik, Sersan. Nanti kukabari. - Baiklah.
Pembunuhnya pasti mengikatnya untuk mendapatkan...
...kode brankas darinya, lalu tetap membunuhnya.
Entahlah, rasanya tidak seperti perampokan bagiku.
Ada orang mati dan brankas kosong. Apa lagi rasanya?
Aku tak bilang dia tak dirampok.
Aku hanya bilang rasanya lebih pribadi daripada itu.
Kenapa membiarkannya tetap dirantai?
Itu bukti penting. Kenapa memberi kita petunjuk itu?
- Mereka ceroboh. - Kurasa tidak.
- Kalau begitu, diganggu. - Oleh siapa?
Tidak ada tetangga yang melihat apa pun.
Kau tahu yang kupikirkan saat kali pertama melihatnya? Aku...
Bisakah kau membuat daftar semua tetangga?
- Bilang kita akan menelepon? - Baik, Sersan.
Lola. Kau tahu apa yang kupikirkan? Saat kali pertama melihatnya.
- Tidak, Pak. - Aku malu karena dia.
Pria besar dan bertenaga seperti itu dirantai ke ranjang...
...tertelungkup, hanya memakai kaus kaki.
Rentan. Terbuka.
Yang melakukan ini seharusnya membawa rantai itu, kenapa tidak?
Mereka ingin mempermalukannya.
Aku tidak bilang mereka saling mengenal dengan baik...
...tapi mereka punya semacam riwayat.
Aku yakin itu.
Sampai jumpa di kantor polisi.
- Apa? - Kau keberatan jika aku ikut?
- Di mana mobilmu? - Sebenarnya...
...aku mengalami kecelakaan kecil beberapa bulan lalu.
Tidak ada yang serius, hanya masalah kecil...
...tapi aku masih memperbaikinya.
- Biar kunaik taksi. Jangan cemas. - Sama sekali tidak, Pak, masuklah.
Terima kasih.
Aku tak percaya dia memukulku, jalang itu. Kau bilang dia temanmu.
- Simon, sudah kubilang biarkan. - Siapa namanya? Matt.
- Bagaimana? - Kurasa dia memakai cincin.
Berengsek. Jadi, bagaimana kau mengenalnya?
- Seharusnya aku tak terlibat. - Aku tak bisa diam saja, 'kan?
Biarkan dia bicara denganmu seperti itu.
Simon.
Simon, enyahlah!
Bukan begitu caranya.
- Tentu saja. - Hentikan. Tidak.
Lepaskan. Hentikan. Lepaskan aku.
Kau menyukainya.
Tidak.
Kau yakin?
Kau harus pergi.
Simon?
Sebaiknya aku menunggu polisi di sini. Aku akan datang nanti, ya?
- Kau lihat siapa dia? - Tidak. Aku tak tahu.
Semua terjadi begitu cepat. Dia mencuri tasku dan kabur.
- Dia tak menyakitimu? - Tidak. Aku baik-baik saja.
- Ikutlah denganku. - Aku akan mampir nanti, ya?
- Hai. - Apa maumu?
- Maukah kau berdansa denganku? - Apa?
Maukah kau berdansa denganku?
- Tidak, aku sedang bekerja. - Siapa namamu?
Babeni. Orang memanggilku Baba.
Aku Freddy.
Jadi, Baba. Bagaimana menurutmu?
Haruskah aku menelepon polisi atau kita berdansa?
Letakkan di mana pun kau mau, Sayang, selama itu besar dan keras.
Benar, Sayang, eluslah untukku.
Di telingaku? Di telingaku?
Kau mau apa di telingaku?
Namun, aku harus melepas penyuara jemalaku.
Tidak, tunggu.
Sayang. Ya, kedengarannya bagus. Ya, semua di telingaku.
Ya. Aku menyukainya. Begini saja...
Kita bisa campur lilin dan sperma, lalu buat lilin beraroma sperma.
Kita bisa jual di pasar Camden. Keliling dunia, Cinta. Aku dan kau.
Kantorku. Sekarang.
Itu berjalan lancar.
Kau pikir kau lebih baik daripada gadis lain, bukan?
Kenapa, karena kau terlihat seperti itu?
Aku membuatmu bosan?
Atau aku harus memecatmu? Itukah yang kau inginkan?
- Tidak... - Tidak apa?
Tidak, Larry. Tolong jangan pecat aku.
- Kurasa tidak. - Boleh aku pergi sekarang?
Bekerjalah sedikit lebih keras, ya?
Dunia tidak berputar di sekitarmu, kau tahu?
Ini aku.
Bung, kau kacau.
- Seolah-olah kau peduli. - Tentu saja!
- Apa kau di rumah sakit saat itu? - Saat aku selesai dengan polisi...
...itu sudah sangat larut. Aku mencoba menelepon.
Tentang apa?
Polisi belum menghubungi. Kau bilang semuanya ke mereka, ya?
- Ya, tentu saja. - Kau memberi mereka detailku?
- Ya. - Kenapa mereka belum menemuiku?
Aku hanya memberi mereka nomormu. Mereka mungkin mencoba menelepon.
Omong-omong, kubilang kau tak melihat apa pun.
Kau bilang kau melihat apa ke mereka? Aku hanya mau tahu.
Dia datang entah dari mana dan semua terjadi sangat cepat.
Benar, bukan?
Namun, dia masih punya waktu untuk memukuliku sampai pingsan.
Menghancurkan wajahku, hampir membunuhku.
Jadi, kurasa tidak secepat itu, bukan?
Masih ada waktu untuk melakukan semua itu, bukan?
Jadi, kau pasti melihat sesuatu?
Aku takut.
Kau tak ingat pria kulit hitam dengan kemeja abu-abu?
Kepalaku mulai terguling saat itu, tapi bahkan aku melihat sekilas.
Aku seperti ini, Simon, jujur. Sepanjang waktu.
Apa? Bahkan tidak sedikit pun?
Itu dia, bukan? Pria dari kelab yang kau kenal.
- Matt. Katamu pria kulit hitam. - Dia pasti mengirim seseorang.
Biar kuberi tahu, Simon, dia takkan melakukan itu.
Jadi, aku memaki seorang pria...
...dan setengah jam kemudian kepalaku ditendang...
...dan kau bilang itu tak ada hubungannya.
Siapa dia? Dia dari situs web, bukan?
- Percayalah. Itu bukan Matt. - Pak Bukan Siapa-siapa, ya?
Aku harus pergi.
Pria ini dilahirkan ke dunia ini untuk mencetak gol...
...dan itu saja! Hebat!
Untuk 80 juta paun, dia butuh beberapa lagi dari tempat asalnya.
Baba, ada seseorang di pintu untukmu.
Aku dapat alamatmu dari kelab. Kuharap kau tak keberatan.
Aku bersenang-senang semalam...
...dan aku tak ingin tak bertemu denganmu lagi.
Aku juga punya pertanyaan untukmu. Ini penting.
Kau pernah makan permen kapas dan naik wahana sampai muntah?
Astaga!
Tangan!
Siap.
Astaga!
- Kumohon! - Tidak. Pilihlah yang lain...
Aku tak bisa melakukannya, 'kan? Omong-omong, aku ingin melihatmu.
- Mau kutunjukkan caranya? - Tidak!
- Kenapa tidak? - Karena...
Aku ingin boneka beruang di sana...
...dan peluangku mendapatkannya lebih besar...
...jika kau yang menembakkannya. Benar, bukan?
No comments yet. Be the first to leave one.