The first 200 lines.
P. APAKAH ADA CARA MUDAH UNTUK MATI? J. LOMPAT DARI BANGUNAN, KURASA?
RUMAH SAKIT UNIVERSITAS KEDOKTERAN KINKI
Warnanya bagus.
Maksudku...
Pensil warna Faber-Castell itu bagus, 'kan?
Aku juga mau, tapi mahal.
Kudengar Chagall dan entah siapa, aku lupa, menggunakannya.
Van Gogh.
Apa?
Van Gogh juga menggunakannya.
Benar...
Apa yang kau gambar?
Surga.
Surga?
Tempat yang segera kutuju.
Lalu, kau? Kenapa kau kemari?
Apa?
Kau berencana lepas landas dari sana?
Tidak.
Aku hanya...
Aku bercanda.
Kau menjenguk seseorang?
Ya! Seorang teman.
Tapi itu bukan lelucon.
Soal pergi ke surga.
Aku tak bohong.
Aku...
akan segera mati.
Enam bulan lagi.
Hanya satu dari ratusan ribu yang terjangkit
penyakit langka ini.
Aku terlahir dengan itu.
Begitu, ya.
Aku mengerti.
Kau tak terkejut?
Apa?
Tidak jadi.
Maaf...
Kau tak takut?
Takut apa?
Kematian.
Kau tampak
tak ketakutan.
Aku tak takut.
Aku sudah tahu bahwa hidupku pendek sedari dulu.
Daripada rumah sakit,
pemandangan di surga tampak lebih menyegarkan.
Bahkan bisa dibilang...
aku tak sabar ke surga.
APA YANG AKAN KAU LAKUKAN JIKA TAHU KAU AKAN MATI?
Kak!
Cepat makan, nanti terlambat!
Aduh!
Nasib Kakak sungguh buruk.
Kau mudah sekali tertimpa sial.
Natsumi...
- Nanti kubelikan palet baru. - Tidak usah.
Masih bisa dipakai.
Belikan saja tongkat lacrosse yang Natsumi mau.
Serius? Crux Pro?
Baik, semuanya.
Rata-rata sudah selesai. Ayo kita bahas jawabannya.
Lihat ke papan tulis.
Mudah tertimpa sial.
Natsumi benar.
Akito...
Kau harus ikut kompetisi ini.
PAMERAN SENI NIKA
Akan jadi prestasi luar biasa bila murid SMA bisa menang.
Baiklah.
Kompetisi itu adalah tujuan terbesar yang dapat kujangkau.
Melukis adalah pintu masa depanku.
Itu yang kupercayai.
Tumor ganas?
Tumor di jantung jarang sekali terjadi,
tapi di beberapa kasus,
itu bisa jadi titik pertumbuhan utama.
Dokter menemukan tumor di jantungku dan bilang umurku tinggal setahun.
Semuanya tergantung penyebarannya,
tapi perkiraanku umurmu sisa setahun.
Butuh beberapa hari untuk mencernanya.
Tidak, seminggu.
PAMERAN SENI NIKA
Bahkan bisa dibilang...
aku tak sabar ke surga.
Aku penasaran
bagaimana bisa dia tak gelisah.
RUMAH SAKIT UNIVERSITAS KEDOKTERAN KINKI
Jika bisa bertemu dengannya lagi,
menanyainya mungkin menenangkanku.
Jadi, aku yang takut akan kematian
bertemu gadis yang tak takut akan kematian.
DRAWING CLOSER
Silakan masuk.
HARUNA SAKURAI
Permisi.
Pas sekali. Aku sedang mencari model.
Aku tak punya teman yang menjenguk, jadi...
Namamu Haruna Sakurai?
"Haru" artinya musim semi, 'kan? Saat itulah aku lahir.
Orang tuaku tak kreatif.
Tunggu, namaku Akito.
Akito Hayasaka!
"Aki" artinya musim gugur, saat aku lahir.
- Berapa umurmu? - Tujuh belas.
Aku juga!
Kok bisa kebetulan?
Kau bisa duduk di sana.
Oh, baik.
Eh,
kau suka menggambar juga?
Apa?
Kau tahu tentang Faber-Castell.
- Aku ikut klub seni. - Nah, 'kan?
Tapi belakangan ini aku bolos.
Aku yakin kau mengincar sekolah seni.
Masa depanmu adalah...
pelukis?
Masa depan, ya?
Ya, impian masa depanmu.
- Sebenarnya, aku... - Asyiknya...
Aku juga ingin sekolah seni.
Kau ikut kompetisi Pameran Seni Nika, 'kan?
Aku juga ingin ikut,
tapi waktuku tak cukup untuk buat sesuatu yang luar biasa.
Kalau begitu,
kupercayakan padamu.
Kita daftar sekolah seni dan ikut kompetisi itu.
Entah bagaimana, aku hanya bisa terdiam.
Hei, boleh lihat karyamu?
Ya, silakan.
Kau hebat, Nona Sakurai.
- Kau kursus? - Tidak.
Aku bahkan tak pernah ke museum seni.
Sungguh?
Oh, ya.
Panggil Haruna saja.
Apa?
Jadi, Haruna...
Kenapa dalam keadaan seperti ini, kau...
bisa tetap menggambar?
Ini satu-satunya
dunia di mana aku bisa bebas.
Saat aku dengan buku sketsaku,
aku merasa tak terikat.
Aku bisa melukis di atas penyakitku dan terbang ke mana pun aku mau.
Jika kau punya masalah, aku akan melukisnya untukmu juga.
Eh,
patung ini dekat SMP Aoba, 'kan?
Ya. Itu SMP-ku.
Tapi aku jarang masuk kelas.
Aku sering naik sepeda lewat sana.
Salah satu anggota klub kami juga dari SMP Aoba.
Namanya Takada.
Sungguh?
Lalu, gambar halaman berikutnya,
kau tahu ada di SD mana?
Gadis ini terlihat dekat denganmu.
Dia temanmu?
Ya, bisa dibilang begitu.
Atau mungkin , sudah tidak lagi.
"Tidak lagi"?
Haruna! Waktunya untuk diinfus!
Baik...
Maaf.
- Eh, dia temanmu? - Ya.
Tumben sekali.
Kalau begitu,
aku pulang dahulu.
Baiklah.
Hei...
Boleh aku datang lagi?
Apa?
Aku masih...
ingin lihat gambarmu.
Tentu.
Kau boleh datang lagi.
Sebagai gantinya, bawakan hadiah syukuran rumah.
Syukuran rumah?
Hal baru untuk digambar.
Aku bosan dengan yang ada di sini.
Baiklah.
Kalau begitu, sampai jumpa lagi.
Ya. Sampai jumpa lagi.
Itu saja. Anggota OSIS, jangan lupa datang ke ruang guru.
Sesi penyuluhan selesai.
- Sampai jumpa. - Sampai jumpa.
Permisi.
Akito!
Kau bolos klub seni lagi?
Aku sedikit lelah. Aku tak ikut dulu.
"Tak ikut dulu"?
Lalu kompetisi Pameran Seni Nika? Bukannya kau mau daftar?
Pameran Seni Nika, ya...
Eh, ada apa?
Kecelakaan sepeda kemarin mengubahmu?
Tidak.
- Lututnya sudah sembuh. - Hentikan!
Ayo, katakan ada apa?
Maaf, busnya sudah datang.
No comments yet. Be the first to leave one.