The first 200 lines.
Selamat pagi.
Selamat hari jadi pernikahan.
Istriku yang...
cantik, menawan, dan rupawan.
Selamat hari jadi pernikahan.
Tidak terasa sudah dua tahun kita menikah.
Iya.
Aku sangat bersyukur.
Aku ingin menjaga kamu
sampai kamu tua.
Sampai aku mati.
Kamu...
atau aku yang mati.
Hei.
Bercanda.
Sayang, aku tidak mau menua.
Aku tidak mau jelek.
Aku juga tidak mau mataku nanti rabun.
Aku jadi tidak bisa melihat wajahmu yang menyebalkan ini setiap hari.
Kalau jelek, kamu tidak akan jelek.
Kalau tua, aku juga akan menemani kamu tua.
Mataku juga pasti bakal rabun,
kulitku keriput,
dan tidak bisa menggendong kamu lagi ke kasur.
Kenapa sampai tua menggendong aku ke kasur?
Ya... Aku masih mau.
Masih mau apa?
Mau apa?
- Sayang! - Apa?
Aku lupa ada janji bertemu klien jam tujuh.
- Minggir! - Apa?
Kenapa klien kamu yang ini...
sudah mengecek lokasi?
Ya. Kali ini kliennya ribet, Sayang.
Kalau aku tidak turuti, dia mencak-mencak.
Rewel.
Mau kuantar?
- Kamu tidak kerja? - Kerja. Siang.
Ya sudah, boleh.
Kalau begitu, cepat bersiap-siap sekarang.
Siap, Nyah. Baik. Sebentar.
- Cepat! - Iya, sip!
Ra, tolong ambilkan cincin aku! Tertinggal!
- Apa? - Cincin!
Baik!
Yuk, Ai.
Ini.
Ai.
Kamu tidak apa-apa?
Sayang.
Aini tidak pernah mengeluh, 'kan?
Iya, Sayang.
Kanker otak, Di.
Iya, Sayang.
Katanya dia kanker otak.
Kalah.
Tidak mungkin.
- Sedikit lagi! - Tidak!
Ketahuan!
- Kalah! - Ayo lagi!
Lagi? Kalau kalah, terima saja. Jangan cari alasan!
Sekarang terima hukumannya.
Sejak kapan ada hukumannya?
Daripada kusuruh kau bayar, namanya judi. Haram! Tidak boleh!
Kau mulai halu nih. Ayo, mulai lagi.
- Hukumannya adalah... - Tidak!
- Ajak kenalan cewek itu. - Yang mana?
Giliran cewek aja "Yang mana?"
Mau, 'kan?
Itu. Lihat?
Dia di lantai 11. Sudah lama kuincar.
Kau suruh aku kenalan, ternyata untukmu, ya? Bangsat.
Tolonglah. Kau ini lihai urusan begini.
Jadi, kalau aku keluar, aku mau bikin WO sendiri.
Tapi, aku butuh bantuanmu, Ta.
Sungguh?
Baik, nanti aku atur.
Makasih, Meta sayang!
Anggara.
Aku Anggara.
Siapa?
Anggara.
Siapa yang tanya?
Bercandaannya jadul juga.
Caramu mengajak kenalan juga jadul.
Dia yang mengajak kenalan. Itu.
Hei, sudah berapa lama tinggal di sini?
Seratus dua puluh lima bulan? Iya.
Dia bicara ke pohon.
Jadi, boleh kenalan?
Tidak.
Sisa berapa?
Sisa 17, Bu.
- Baik. Semuanya saja. - Baik.
Bagaimana, Anggara? Siapa namanya?
Bambang.
Anjing, bercanda.
- Sudah semua? - Sudah.
- Tujuh belas, benar? - Ya.
Bangsat!
Bambang telepon!
Matilah kau.
Gawat.
Halo, Pak?
Ya, Pak. Sebentar. Saya ke sana, Pak.
Baik.
- Terima kasih. - Terima kasih, ya.
Mas, yang jumbo satu.
Maaf. Habis, Mas.
Diborong. Itu.
Kak Ainun!
- Diborong? - Aini. Ainun.
- Sudah diborong. - Bagi ke teman-teman.
Terima kasih, Kak Aini!
Iya, sama-sama. Ini.
- Bagikan ke teman-teman. - Iya, Kak!
- Jangan dimakan sendiri. - Iya!
Makasih, Kak Aini!
Iya. Masih ada lagi. Masih ada berapa? Satu, dua, tiga, empat!
Makasih, Kak Aini!
Sudah, yuk.
- Jumbonya satu ya? Biasa. - Astaga, Mas. Dibilang habis!
Lihat saja!
Kalau...
aku mau kenalan bukan atas nama temanku yang tadi boleh?
Ini.
Dimakan.
- Makasih, Kak Aini! - Dah!
Makasih, Kak Aini!
Kak Aini!
Makasih!
Pasti haus.
Tahu dari mana?
Katanya...
kalau cewek haus itu tambah cantik.
Norak.
Kamu itu keren sekali.
Bukan. Maksudnya...
jasa perencana pernikahanmu.
Tapi kamu juga.
Makasih.
Aku bersyukur. Kau yang jadi perencana kawinan sepupuku.
Jadi, tiap aku rapat...
bisa sering-sering ketemu kau.
Bisa tidak, satu menit saja,
- kau tidak merayuku. - Tidak bisa.
Kuberi tahu caranya agar kau berhenti merayuku.
Terimalah tawaranku pergi bersama. Kencan.
Itu yang membuatku malas.
Sepanjang perjalanan nanti, kau akan terus merayuku.
Kalau kau terima, aku akan diam.
Memangnya kau bisa diam?
Aini.
Iya, Nes?
Kau di mana?
Di pojok. Kakiku pegal. Betisku sakit. Tidak apa?
- Aku istirahat sebentar. - Baik. Santai.
Tamunya tinggal sedikit. Pengantinnya boleh makan.
Dia lelah.
- Baik. - Iya. Dah.
Sini. Pegal? Aku...
Lihat?
Katanya diam?
Hei.
Angga?
Kau kenapa?
Pingsan?
Di mana Aini?
Aku haus sekali dan panik melihat dia seperti itu.
Bagaimana? Apa yang kau rasakan?
Sayang.
Anjing!
Baru sadar sudah norak.
Serius. Perlu ke rumah sakit atau tidak?
Tolong. UGD saja, ya?
Unit Galau Darurat.
Temanmu aneh!
- Dia gila! - Memang!
Lebih baik kau denganku saja.
Sumpah. Aku muak.
Sumpah. Kamu lucu.
Wangi sekali.
Sekali lagi merayuku, kucekik.
Sepertinya...
kalian berdua cocok.
Seperti pasangan-pasangan di drakor.
Noona.
Drakor? Sama seperti Meta!
- Siapa Meta? - Temenku.
Pasti jomblo. Tolong kenalkan aku.
Tidak! Tidak mau!
Aku mau masuk ke dalam. Kau tak apa-apa?
Tunggu!
Sebentar.
Aku selalu menolak menjadi panitia perkawinan.
Karena pelaksananya kamu, aku jadi mau.
Seumur hidup, aku tak pernah pingsan.
Gara-gara kamu aku pingsan.
Aku belum pernah jatuh cinta serius.
Tapi, denganmu...
No comments yet. Be the first to leave one.