The first 200 lines.
Maaf.
Ayo, Friedrich, jangan mengganggunya.
Lama menunggu?
Aku menunggui putriku.
Dokter sedang memeriksa beberapa hal.
Semoga hasilnya baik.
Lama sekali.
-Silakan. -Terima kasih banyak.
Aku tahu kau pakai asuransi swasta.
Kau bisa datang, tapi harus menunggu untuk bertemu dokter.
Halo?
Putriku masih berapa lama lagi?
-Nama putrimu? -Josy.
Josephine Larenz.
Tn. Larenz? Kau tak punya janji temu.
Maaf harus menunggu, tapi kau bisa lihat situasinya di sini.
Tidak. Dia sedang bersama dr. Grohlke sekarang.
Dia ada di ruang praktik dokter?
Ya, sudah hampir satu jam.
-Menurut informasiku tidak. -Itu tidak mungkin.
Tn. Larenz?
Tn. Larenz!
Josy?
Apa yang kau lakukan?
Di mana putriku?
-Josy! -Tn. Larenz!
Maaf, dr. Grohlke, aku sudah beri tahu Tn. Larenz dia tidak bisa masuk...
Aku melihatnya masuk ke sini.
Dia tidak peduli.
Tak apa-apa.
Tn. Larenz, jika tidak keluar sekarang, aku harus memanggil polisi.
Josy!
Isabell... Josy hilang.
Isabell?
Dengar, tidak?
-Apa maksudmu? -Dia hilang!
Josy hilang! Aku di dokter, tapi tidak tahu dia ada di mana!
Aku tidak tahu dia ada di mana!
Josy!
Ada masalah?
Melihat putriku? Setinggi ini. Rambut pirang.
Putriku, usianya 13 tahun...
-Rambut pirang, setinggi ini. Josephine. -Maaf.
Josy!
Josy!
Josy!
KARYA SEBASTIAN FITZEK
-Tn. Riegger. -Ada tanda-tanda penculikan?
-Kapan terakhir melihat Josy Larenz? -Tn. Riegger.
Tolong mundur.
Tolong mundur selangkah.
Ini rumah pribadi.
Hei.
Viktor, pers menunggu pernyataan.
Aku tidak mampu.
Jika kita diam saja, pers yang datang semakin banyak.
Kau saja.
Mereka tak ingin mendengar dari pengacara, tapi darimu.
Biar aku saja.
Apa yang akan kau katakan?
Menurutmu apa?
Bahwa Josy masih hidup.
Dia akan kembali ke rumah dengan selamat.
Tn. Riegger, ada komentar dari klienmu?
-Ada informasi baru? -Ada petunjuk tentang Josy?
Di mana Tn. Larenz?
TANPA JEJAK
Kemarilah.
Sindbad...
Anjing pintar.
Aku selalu penasaran kenapa orang datang ke pulau ini pada saat seperti ini.
Selain dirimu, mungkin tak ada seorang turis pun di Parkum.
Aku senang seperti itu.
-Terima kasih sudah menemani. -Terima kasih sudah mengantar.
DUA TAHUN KEMUDIAN DI MANA JOSY?
Itu bukan untukmu, Sindbad.
SELAMAT MENIKMATI HIDANGAN INI H
Halberstaedt.
Ayo. Masuk.
Apa-apaan...
Hei. Tak apa-apa, Sindbad.
Hanya tikus.
Tenang.
Ayo, kita bersantai.
-Bagaimana tadi di sekolah? -Luar biasa.
Kami hanya ingin tahu, itu saja.
Semoga sukses, Viktor! Sudah kucoba tiap hari.
Pertama, kelas bahasa Jerman,
lalu sejarah, istirahat, gimnastik...
Baiklah.
Aku mau anting-anting.
Itu sudah ketinggalan zaman.
Kenapa tidak tindik alis?
Ayah suka anting hidung. Ibumu punya yang sebesar ini.
Jangan dipercaya.
Baik, sebesar ini.
Aku serius.
Usiamu 13 tahun.
Bahkan belum. Masih tujuh tahun.
Tujuh setengah, maksimum delapan.
Ayah, usiaku 13 tahun.
Cuma aku di kelas yang tak pakai anting-anting.
Sindbad...
Jangan di sana. Pergi!
Sebagai kepala lembaga ini, bukanlah tugas yang mudah
mencalonkan penerus Profesor Merkt,
yang tak hanya mendirikan dan memimpin bagian psikiatri
selama hampir tiga dekade, tapi juga membentuk identitasnya.
Jadi, yang lebih penting, penerusnya,
yang, omong-omong, merupakan kandidat pilihan langsung Profesor Merkt,
dibantu dalam segala hal yang dia butuhkan dari kita.
Dr. Roth, yakinlah bahwa kami semua pasti akan mendukungmu.
Selamat datang.
Aku...
Aku tak mempersiapkan pidato.
Tak kusangka akan hari ini.
Kita banyak pekerjaan.
-Ya. -Aku menantikan tantangan ini.
Inilah sang penerus!
Itu bisa sangat menyenangkan.
Aku bukan "kandidat pilihan langsung" atasan kita yang tercinta.
Mantan atasan.
Awas, dia datang.
Halo, dr. Roth. Ines Mergentheimer, asisten barumu.
Aku tahu.
Ines sudah membantu kita selama hampir 30 tahun.
Entah akan bagaimana tanpa dia.
Kau siapa?
Frieder Jeschke. Aku bekerja di bagianmu.
Benar.
Aku punya daftar ini...
Aku akan kembali bekerja.
Mulai sekarang, aku sendiri yang akan menangani kasus ini.
Para rekan tahu soal ini?
Beri tahu mereka.
SÜDDEUTSCHE ZEITUNG / PERMOHONAN WAWANCARA
DUA TAHUN SETELAHNYA
HILANG SECARA TRAGIS
BEBERAPA PERTANYAAN PRIBADI...
Semua akan baik-baik saja.
Tetap tenang, maka semua akan baik-baik saja.
Josy?
Josy!
Rasanya sudah lebih baik.
-Tidak bisa pulang saja? -Tentu tidak.
Kita akan ke dokter.
Josy, ayo.
Hai.
Percayalah kepadaku.
-Larenz. Kita bicara di telepon. -Benar.
Mau pakai anting-anting?
-Ya. -Dari sanalah aku memulai.
Kalau begitu, ayo, ikuti aku!
Hei.
Silakan duduk.
Baik...
Bagaimana jika telinga Ayah juga ditindik?
Agar kau bisa lihat itu tidak sakit.
Ini akan terasa dingin.
-Viktor! -Kelihatannya saja sakit.
Tidak sakit.
Tak terlalu.
Baik, sekarang giliranmu.
Aku mau pikirkan dahulu.
-Yakin? -Ya.
PADA HARI PERINGATAN HILANGNYA...
...PUTRIMU
BAGAIMANA PERASAANMU TEPAT SETELAH TRAGEDI ITU?
Diam.
Maaf mengganggu. Apa kau Viktor Larenz?
Kau siapa?
Aku Anna Spiegel.
Aku minta waktu beberapa menit saja.
Aku tak mau diwawancara.
Ini bukan soal wawancara.
Aku punya masalah.
Kejiwaan.
Aku tidak praktik lagi.
Kata pengacaramu, jika ada orang yang bisa membantu, itu adalah kau.
Kau disuruh Tn. Riegger ke sini?
Aku sangat butuh bantuan.
Maaf.
Tn. Larenz, kumohon. Kau harus...
Halo?
Halo!
UNTUK ULANG TAHUN PROFESOR MERKT YANG KE-60
Dr. Jeschke, entah apa...
Aku perlu bicara dengannya.
Kenapa kau mengambil dua pasienku?
Mereka pasienmu? Maaf.
Kukira mereka pasien bagian psikiatri.
Aku direktur bagian itu.
-Itu hanya formalitas. -Itu fakta. Nn. Mergentheimer?
Permisi.
Apa aku lupa ada janji temu dengan Tn. Jeschke?
Maaf. Profesor Merkt selalu membiarkan pintunya terbuka.
Aku tahu, jika ada orang baru, aturan pasti baru, tapi ini keterlaluan.
Tak perlu ada aturan baru jika tak ada masalah.
Aku ingin tahu apa rencanamu dengan para pasien ini.
Semua kolega kupersilakan menanyakan segala hal kapan saja.
No comments yet. Be the first to leave one.