Bayi Ajaib

Bayi Ajaib

Download Indonesian Subtitle

Release info

Bayi Ajaib 2023 WEBRip NF
A Commentary by tedi
Retail NF | 1h 38m Fix common errors

Tags

webrip
web
BRip
Published on: 2023-05-19
Downloads: 116
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Akhirnya.

Akhirnya...

Seperti janjiku padamu, Laras.

Kita tidak akan pernah hidup susah lagi.

Dan mulai sekarang, orang-orang yang memandang rendah pada kita...

akan tunduk dan hormat pada kita.

Terima kasih, Kakek.

Mana uangku?

Mana uangnya?

Mana uang saya?

Ya, Kakek.

Saya berjanji. Saya akan memberikan Kakek kehidupan.

Perhatian kepada seluruh warga desa!

Nanti malam gerhana bulan,

Ibu-ibu dan anak-anak harap tinggal di rumah masing-masing.

Karena berbahaya. Bisa diculik setan!

Lain kali kalau ada apa-apa, suruh saja anak buah suamimu yang ke sini.

Nanti Mak yang ke rumahmu.

Kamu udah enggak usah jalan jauh-jauh begini.

Tidak apa-apa, Mak. Latihan jalan.

Biar mudah saat melahirkan nanti.

Tinggal nunggu waktunya, lo.

Abang Kosim sudah tidak sabar.

Dia berharap anaknya laki-laki.

Kalau lihat bentuk perutmu, sudah pasti dia laki-laki.

Pasti ganteng seperti ayahnya.

Nasibnya juga pasti seberuntung nasib ibunya.

Terima kasih, ya.

Ya, sudah. Mak, saya pulang dulu, ya.

Hati-hati, ya.

Saya sederhana saja, Pak Ujang.

Tidak suka yang berbelit-belit.

Apalagi rumit, saya tidak suka.

Ampun, Pak Kosim.

Jadi bagaimana, Pak Ujang?

Mau dibayar pakai tanah,

atau pakai tangan?

Jangan.

Jang...

Tolong!

Tolong!

Laras!

Bu Laras!

- Laras! - Bu Laras!

Jangan!

Jangan!

Bu Laras!

Berhenti!

Jangan!

Jangan!

Hutan!

- Laras! - Bu Laras!

Laras!

- Sakit, Abang! - Astaga!

Laras harus segera dibawa pulang!

- Ayo kita bantu. - Bantu cepat!

Sakit!

Cepat!

Tahan ya, Laras.

Tidak, Mak. Anak saya tidak apa-apa, 'kan, Mak?

Yang terjadi sama istri saya hari ini...

tidak boleh ada satu orang pun yang tahu.

Baik, Pak.

Bang Kosim!

Bang Kosim!

Laras!

Perut saya sakit, Bang!

Bagaimana, Mak?

Kelihatannya Laras akan segera melahirkan.

- Perut saya sakit! - Heti,

- ambil baskom dan air panas ya. - Baik, Mak.

Ayo, Laras. Tarik napas.

Dorong!

- Ayo terus, Laras. - Saya sudah tidak kuat, Bang.

Kamu bisa! Kamu kuat! Kamu kuat demi anak kita, Sayang!

Sedikit lagi, Laras, ayo.

Kamu pasti bisa.

Dorong.

Laras, bangun.

Gerhana bulan!

Bawa dia ke belakang, ya.

Tutupi dengan kain.

Sekarang gerhana bulan. Jangan sampai wajahnya jadi belang.

Baik, Mak.

Pak.

Kita urus istri Bapak sekarang.

Heti!

Bawa air ke sini.

Baik, Mak!

Kakek.

Telah kuberikan kehidupan kepadamu.

Sekarang berikan aku kemakmuran seperti janjimu, Kakek.

Heti!

Astaga!

Heti.

Pak!

Aku kaya!

Aku kaya!

Cepat bawa mayatnya, Mak. Kubur jauh-jauh dari sini.

Jangan sampai Laras tahu. Ayo, cepat!

Terima kasih, Pak.

Anak saya.

Anak saya mana?

Anakku.

Anakku.

Laras,

anak kita laki-laki.

Anak kita namanya siapa, Bang?

Hadi.

Hadi Nugraha.

Hadi Nugraha.

Kita panggil "Didi".

Ini Ibu, Sayang.

Terima kasih.

- Assalamualaikum. - Walaikum salaam.

Pak Soleh. Rini.

Selamat ya, Pak Kosim.

Saya pikir tidak datang.

Walaupun kita bersaing, tapi namanya tali silaturahim harus tetap dijalani.

Sebenarnya tidak perlulah sampai bersaing seperti itu.

Asal Pak Soleh mau mendengar masukan-masukan dari saya.

Saya pasti mendengar masukan-masukan dari Pak Kosim...

selama itu baik untuk kemajuan desa. Ya, 'kan, Pak?

Saya ini lahir di desa ini. Saya besar di desa ini.

Jadi, yang saya lakukan untuk warga desa itu sudah pasti yang terbaik.

Pak Soleh ini kan, istilahnya, numpang.

Sudah ya, bicara soal ambisinya.

Bang, ini lagi hajatan anak kita.

Tahan ya, Di. Sakitnya cuma sedikit seperti digigit semut.

Anak Pak Kosim memang pemberani.

Kok, malah bengkok pisaunya.

Ada apa, Pak?

Tidak bisa disunat, Pak. Pisaunya tidak mempan.

Burungnya Didi keras, Pak.

Kalian jangan tertawa! Didi jadi malu!

Jangan marah, Nak.

Bang, Didi kenapa, Bang?

Diam!

Didi!

Pak Kosim.

Kalau pisaunya bisa jadi gini, saya curiga ada yang sedang merasuki anak Pak Kosim.

Ikut saya.

Jangan sembarangan bicara!

Kamu yang tak becus jadi tukang khitan.

Pisaumu palsu!

Kamu sengaja membuat saya malu.

Aris!

Bawa dia keluar!

Suruh tamu-tamu yang lain pulang. Khitanannya batal. Ayo, cepat.

Baik.

Mari Bapak-bapak, Ibu-ibu, keluar ya.

Pak Kosim.

Apa yang terjadi sama Didi tadi

pasti ada hubungannya dengan peristiwa dulu.

Diam.

Saya tidak mau dengar soal itu.

Pak. Saya hanya mengingatkan, Pak.

Dari dulu juga saya selalu diam.

Tapi, Pak, saya sedang butuh banyak uang.

Kalau masih sayang nyawa, Mak, tutup mulut.

- Didi! - Diam!

Didi!

Diam!

Didi.

Didi tenang, ya. Sudah, tidak apa-apa.

Mereka hanya bercanda, kok.

Didi.

Didi.

Ayah!

Dasar anak setan!

Disunat enggak bisa!

Eh, sini!

Pegang tangannya dia.

Hei, Ahmad. Jangan!

Tidak!

Hei, Ahmad! Jangan ganggu Didi!

Ayo, pergi!

- Kamu enggak apa-apa? - Enggak.

- Menurut kamu, aku aneh tidak? - Tidak.

Tapi kan, aku tidak bisa disunat.

Aku juga tidak bisa.

- Kan, kamu perempuan. - Ahmad lebih aneh.

Dia sudah besar tapi belum disunat.

Ular!

Rasain!

- Didi, tolong! - Rini!

Rini!

Didi!

Ki Dorman, maaf, tempat pesugihan yang ada di utara

sudah ditutup aparat desa. Disuruh Pak Kades.

Mereka pikir mereka siapa?

Kita harus...

Ki Dorman?

Pergi kalian! Pergi!

Dengarkan Kakek.

Apa pun yang Kakek inginkan akan saya lakukan.

Beberapa tempat keramat sudah saya tutup sebagian

tapi tetap masih ada orang

yang mencari tempat untuk melakukan pesugihan.

Selama masih ada warga desa yang menempuh jalan musyrik untuk kaya,

Bayi Ajaib subtitles in other languages

More Indonesian subtitles for Bayi Ajaib

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left