The first 200 lines.
Ya?
- Permisi, apa yang kau lakukan? - Halo. Ada yang bisa kubantu?
Aku Fi. Ada apa ini? Kau temannya Bram?
- Maaf, siapa? - Suamiku, Bram.
Kita harus menyingkir demi mereka.
- Apa ini? Apa yang dia sepakati? - Aku tidak mengerti maksudmu.
- Apa kau tetangga? - Aku tinggal di sini.
Kurasa tidak. Kami baru pindah.
Suamiku akan segera datang dengan barang-barang kami.
- Kami keluarga Vaughan. Aku Lucy. - Ini rumahku!
Kurasa aku akan ingat jika setuju menyewakannya.
Kami tidak menyewa. Kami sudah membelinya.
Aku tak mengerti apa yang terjadi.
- Kau tak bisa suruh mereka stop? - Sama sekali tidak.
Benar, bisakah kau berhenti? Bawa semuanya kembali ke van.
- Jangan! - Aku Fi Lawson. Aku pemiliknya.
Aku ingin semua ini kembali ke van. Sekarang!
Tunggu, kau bilang Fi? Apa itu Fiona?
Ya. Fiona Lawson. Ini rumahku.
Kurasa sebaiknya kau masuk.
- Kau apakan semua barang kami? - Aku tidak melakukan apa pun.
Kau pindah kemarin.
Atau begitulah yang kudengar. Bisakah kau berhati-hati?
Aku tidak di sini kemarin. Aku pergi.
Bisa jelaskan apa yang terjadi?
Itulah yang aku coba lakukan.
Dengar, mungkin jika kau melihat beberapa bukti.
- Bukti? - Masuklah ke dapur.
Kita menghalangi jalan di sini.
Bawa itu keluar. Tak ada yang boleh membawa barang lain masuk rumah.
Kau mengerti?
Surel dari pengacara kami. Gilchrist, Bennett and Stafford.
Yang pertama adalah konfirmasi pertukaran kontrak.
Yang kedua dari pagi ini, penyelesaian penjualan.
- Itu pasti palsu. - Palsu?
Penipuan. Surel palsu. Penipuan transfer.
Surelnya nyata! Aku berjanji, semuanya asli.
Dananya pasti sudah ditransfer ke rekeningmu sekarang.
- Dana apa? - Uang yang kami bayar untuk rumah.
Maaf, tapi aku tak bisa terus mengulangi ini, Ny. Lawson.
Aku tidak memintamu. Kau membuat kesalahan.
Tidak mungkin kau membeli rumah yang tidak dijual.
Namun, ini dijual. Jika tidak, kami tidak bisa membelinya, bukan?
Ini tidak mungkin dijual tanpa persetujuanku.
Aku juga pemilik properti ini. Aku harus meneken kontraknya.
Kini ambil semua barang ini dan keluar dari rumahku!
Mungkin kau harus menelepon suamimu.
"Sepuluh Tahun Sebelumnya"
Bagaimana menurutmu?
Aku menyukainya.
- Kenapa kau menjualnya? - Kami berdua sudah pensiun.
Anak-anak sudah mapan.
Mereka punya karier, keluarga sendiri.
Kami ingin mengeluarkan sedikit uang...
memanfaatkan semua waktu yang kami miliki.
- Kemarilah. - Hentikan!
Mereka baik-baik saja. Kami semua baik-baik saja.
Aku hanya membuat teh.
- Spageti? - Tidak.
- Anak-anak, ayah buat spageti? - Tidak! Tidak!
- Andai aku ada di sana. - Ayolah.
Sesering apa kau bisa keluar dan minum anggur?
Ini pekerjaan!
- Kau memakai lipstik? - Ada pembeli dari Kopenhagen.
Berdandan untuk mengesankan.
Aku baru saja melakukan percakapan menarik...
tentang karpet bersumber etis.
Setidaknya cobalah bersenang-senang, ya?
Sampai jumpa saat kau kembali.
Sampaikan salamku kepada anak-anak.
- Aku mencintaimu. - Aku mencintaimu.
Bram?
- Bicaralah dengannya. - Pergilah. Ayo.
Ini tidak seperti kelihatannya.
- Aku bersumpah atas hidupku. - Jangan!
Dia muncul tiba-tiba.
Kurasa dia mabuk saat tiba di sini. Dia ingin segelas anggur.
Aku tidak ingin bersikap kasar, tapi tanpa kusadari, dia...
Maafkan aku.
Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku hanya...
Tidak bisa menahan diri?
Itu momen kegilaan. Aku bersumpah, itu hanya kesalahan.
Kau tahu aku mencintaimu.
Aku sangat mencintaimu. Kau tahu itu benar. Hanya...
Aku akan menebusnya.
Kau takkan percaya apa yang akan kulakukan. Kumohon...
Kumohon, beri aku kesempatan.
Aku bisa mencium baunya di dirimu!
Berkemaslah. Aku akan atur waktu agar kau bisa mengambil...
sisa barangmu saat anak-anak tak ada.
Mereka juga anak-anakku.
Kau tahu betapa aku menyayangi mereka.
Aku mencintai mereka lebih dari apa pun.
Fi, ini rumah kita.
Kumohon. Kumohon, jangan usir aku.
Kita bisa melalui ini. Aku tahu kita bisa.
Tidak, aku ingin kau pergi malam ini.
Maaf, nomor ini tidak aktif. Tolong tutup teleponnya.
- Kenapa tak meninggalkan pesan? - Aku akan mencobanya di kantor.
Hai, ini Bram. Tinggalkan pesan.
- Halo? - Neil, hai. Ini Fi.
Bram ada di sana? Aku kesulitan menghubunginya.
- Tidak, sebenarnya dia libur. - Libur?
Aku belum melihatnya sejak Rabu.
Kau belum mengganti nomornya atau memberinya ponsel baru?
Tidak. Kenapa? Apa aku harus khawatir?
Tidak. Bukan apa-apa. Aku hanya bersikap konyol.
Terima kasih. Terima kasih atas bantuanmu.
Kau punya anak, bukan? Mungkinkah dia bersama mereka?
Mereka di sekolah.
- Bagaimana tahu aku punya anak? - Kamar tidur.
Omong-omong, ini indah. Begitu juga rumah bermainnya. Sangat manis.
Astaga, mereka harus dijemput.
Mereka tak bisa kembali ke sini, tidak sampai semua ini beres.
Ada tempat lain yang bisa kau datangi? Teman, tetangga?
- Siang. Sekolah Adler Park. - Ny. Emery, hai. Ini Fi Lawson.
Anak-anakku, Harry dan Leo, di tahun ketiga dan keempat.
Akan kuatur seorang teman untuk menjemput mereka hari ini.
Mereka tidak ada di sini.
- Apa? - Mereka tidak sekolah hari ini.
- Di mana mereka? - Kukira kau tahu.
Tidak, aku tak tahu.
- Kau tak memberi izin? - Tidak.
- Ny. Emery? - Aku akan meneleponmu kembali.
Jangan katakan apa pun. Dengarkan saja.
Aku tidak pernah melakukan hal yang lebih buruk dalam hidupku.
Maafkan aku.
Ibu tidak bisa menemukanmu.
- Kenapa Ibu menyimpan ini? - Ini milik ayahmu.
Ibu pikir suatu hari kau mungkin menginginkannya.
Aku tak mau.
- Kapan kita menemui anak-anak? - Segera. Kuharap begitu.
Kami sudah berpisah, tapi kami takkan terburu-buru.
Butuh beberapa bulan sebelum kami membereskan perceraian.
Itu masuk akal. Saatnya untuk membicarakannya.
Pertimbangkan kembali.
Aku tak butuh waktu.
Siapa itu? Gadis dari kantor?
- Sudah kuduga. - Merle!
Lebih muda?
- Bisakah kita tidak membahas ini? - Dia berengsek.
Jika itu Hugh, akan kupotong testisnya...
dan kuberikan pada anjing.
Kami hanya punya gerbil Leo, jadi, kurasa itu tidak bisa.
Bagaimana kabar anak-anak?
Harry baik-baik saja. Sepertinya begitu.
Leo... Dia dan Bram sangat dekat.
Kami mengutamakan mereka. Mencoba menjaganya tetap beradab.
Bagaimana caranya?
Kau ingin kami mengundang kalian berdua atau hanya kau?
Jika kami harus memihak, kaulah orangnya.
Kalian tak perlu memihak.
- Lantas, kau tetap di rumah, ya? - Tentu saja.
- Hai. - Hai.
Kau sudah dengar keluarga Reece dapat tawaran?
Jadi, 2,1, mereka menolaknya. Bertahan untuk 2,3.
Hei. Boleh aku masuk?
- Anak-anak! - Aku datang!
Apa kabar?
- Hei! - Apa yang kita lakukan?
Ayah tidak akan memberitahumu, ini kejutan!
Ayah tidak akan percaya apa yang terjadi di taman hari ini.
Apa yang kau lakukan di taman hari ini?
Antar mereka kembali pukul 18.00.
Kami akan naik bus, itu akan lebih cepat. Benar, ayo.
Kau harus tetap tenang. Aku yakin ada penjelasan bagus.
- Maaf baru mengabari lagi - Di mana anak-anakku?
Kepala Sekolah sedang rapat dan tak senggang sampai pukul 16.00.
- Sela rapatnya. - Itu bukan di sekolah.
Namun, dari yang kudengar...
sepertinya suamimu menjemput anak-anak dari sekolah.
Ada hubungannya dengan kalian berdua yang tidak bisa menjemput.
Tidak, aku sedang pergi. Namun, Bram bekerja dari rumah.
- Kau sungguh bicara dengannya? - Tidak. Kami tak bicara.
Aku hanya menyampaikan yang diberitahukan kepadaku.
Seperti kataku, Kepala Sekolah akan senggang setelah pukul 16.00.
- Jika kau bisa menelepon lagi... - Astaga.
- Maaf, kami ketinggalan bus. - Kalian pergi ke mana?
- Lewisham. Boling. - Aku akan membalapmu.
Kau tak memberi mereka makanan manis, 'kan?
Anak-anak, apa ayah memberi kalian makanan manis?
- Tidak! - Lihat? Tidak bersalah.
Kami makan camilan vegan dan segelas air yang enak.
- Lucu sekali. - Dengar, Fi...
Mereka sepertinya tidak tahu apa yang terjadi dengan kita.
- Apa yang terjadi? - Perpisahan.
- Perceraian. - Kita belum bercerai.
Dengar, kita harus memberi tahu mereka sesuatu. Jelaskan saja.
Maksudku, yang mereka bicarakan sepanjang sore adalah kau.
"Kenapa Ibu tak ikut? Bisakah kita datang lagi dengan Ibu?"
Mereka ingin menghabiskan waktu dengan kita berdua.
- Mereka tidak bisa, bukan? - Kenapa tidak?
Kita bilang akan mengutamakan mereka. Itu yang mereka inginkan.
Namun, sudah berakhir bagi kita, bukan, kehidupan berkeluarga?
Dengar, kita sudah berpisah. Baiklah, aku menghormati itu.
Aku tak menginginkannya. Namun, aku menghormatinya.
Mungkin kita bisa mencoba sore hari.
Ajak mereka ke taman bersama.
Hanya untuk melihat bagaimana kelanjutannya...
dan membantu memudahkan transisi.
No comments yet. Be the first to leave one.