The first 179 lines.
Camilannya sudah dibawa?
Sudah.
Sudah telepon Ibu?
Sudah.
Tadi Ibu juga telepon aku.
Menanyakanmu terus.
"Bisa makan tidak di sana?"
- "Ada listrik tidak di sana?" - Sudahlah, Mas.
Aku sudah memutuskan untuk ikut.
Aku tidak mau kejadian seperti dulu...
terjadi lagi.
Ya, Sri.
- Mas Bimo. - Ya.
- Tarno. - Ya.
- Ini pasti Mbak Sri, ya? - Ya.
- Tarno. - Sri.
Aduh. Maaf, Mas, telat sedikit.
Tadi harus angkut-angkut barang.
Langsung jalan atau kita mau minum kopi dulu?
Tidak usah, Mas. Langsung saja. Takut ketinggalan kapal.
- Ya. Aku bantu, Mas. - Ya.
- Itu, Mas? - Ya.
Maaf, ya, Mas.
- Sudah, Mas? - Ya.
Jadi, ini Bang Junai.
Sopir paling berpengalaman di sini.
Sudah ribuan kali keluar dan masuk pedalaman.
Pertama kali ke sini?
Kalau sudah minum air sungai di sini, dijamin pasti betah.
Seperti Bang Tarno. Ya, Bang?
Apalagi kalau sudah kenal gadis-gadisnya.
- Mas Bimo. - Ya?
Benarkah nanti menjadi guru di Muara Tapah?
Ya, Bang.
Ikatan dinas calon PNS.
- Bang Junai pernah ke Muara Tapah? - Belum.
Desa tragis.
Tragis kenapa, Bang?
Dulu pernah ada musibah banjir.
Banyak yang mati.
Masih ada, ya, sekolah di sana?
Ada muridnya?
Kalau dari data kabupaten, ada.
Tapi tidak banyak.
Saran aku, Mas Bimo jaga sikap saja.
Orang luar pulau itu suka merasa lebih tinggi daripada kami.
Jadi, sesukanya saja.
Maaf.
Tidak apa-apa, Bang.
Orang daerah seperti kami ini
sebenarnya terbuka tangannya menyambut para pendatang.
Tapi kalau macam-macam, bisa ditebas lehernya.
Kau ini, Bang.
Itu salah paham.
Aku tidak ada macam-macam, Bang.
Makanya, tidak usah sok jagoan di tempat orang.
Harus menghargai adat istiadat orang lain.
Ya, itu dulu. Waktu belum tahu adat di sini.
Kalau bisa, Mas Bimo tidur dulu saja.
Di depan, kita baru mau masuk hutan.
BERDASARKAN NOVEL SEKUTU IBLIS YANG MENGINTAI
KARYA ACHMAD BENBELA
Mas! Mas Bimo! Mas!
- Ada apa, Sri? - Ada... Ada kepala.
- Apa? - Ada kepala. Ada...
Ada api, kepala terbang.
- Ada... - Mana?
- Bang Junai lihat? - Apa, Mbak?
- Kepala terbang. - Tidak.
- Bang Tarno? - Apa?
Aku tidur.
Mungkin kau salah lihat, Sri.
Tidak, Mas. Ada api.
Api, kepala terbang, Mas!
- -
Mungkin kau kelelahan.
Masih ada waktu kalau mau tidur lagi.
- - Hei?
Mual, Mas.
Bang, hentikan mobilnya.
Mabuk darat itu!
Nanti, seminggu di sini juga terbiasa.
- - Minum?
- Kenapa, Bang? - Tidak tahu.
- Headlamp, Bang? - Ya.
Bagaimana? Mendingan?
Masih kuat?
Atau kau mau pulang saja? Kau tidak harus ikut, Sri.
Kau bisa tinggal di rumah Mbok sementara.
Tidak mau. Aku mau ikut.
Sri.
Kumohon kau percaya sama aku.
Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Sudahlah, Mas.
Mas Tarno!
Dipanggil kau.
- Mas! - Ya!
Ada apa?
Itu.
Bang Junai, senjata!
- Bang, senjata! - Apa itu, Mas?
- Mas! - Raung!
- Ayo masuk ke mobil! - Masuk!
- - Tidak bisa.
- Ayo! - Ada yang menghalangi.
Kalian ini bawa jimat dari Jawa?
- Tidak! - Tidak!
Ayo, Bang! Coba!
Bawa ketan? Telur?
- Ada! - Tidak!
Mana?
- Mana? - Ini!
Ayo, Bang!
- Hai. - Hai.
- Bagaimana hasil panen? - Lumayan mantap, Pak.
Bu, nasi kuning empat.
Minum, Bang.
Minum, Mas Bimo.
Terima kasih, Mas.
Sri.
Kau tidak apa-apa?
Mbak Sri.
Kejadian seperti raung itu biasa. Tidak apa-apa.
Kenapa bisa ada peti mati seperti itu, Bang?
Di sini kalau ada orang mati,
peti matinya tidak dikubur,
tapi digantung di pohon di tengah hutan.
Terus kenapa bisa mengejar kita?
Yang mengejar itu biasanya waktu hidup punya ilmu.
Karena tidak diurus raungnya,
makanya gentayangan cari mangsa.
Mangsanya... telur?
- Daging manus... - Hei! Itu.
- Itu... - Ayo, makan dulu Mas Bimo.
Mbak Sri, makan dulu agar tidak kosong perutnya.
Agar tidak mual waktu naik kapal klotok.
Ayo.
Bu! Dua lagi!
Ya.
Nanti Mas Bimo kena denda kalau menolak, Bu.
Ya, Bu.
Tidak bisa menjadi CPNS lagi.
Dua jam dengan kapal kayu. Di sini namanya klotok, Bu.
Ingat. Sri ingat terus pesan Simbok.
Mas Bimo! Mbak Sri! Ayo!
Sudah dulu, ya, Bu.
Asalamualaikum.
Asalamualaikum.
Sri.
Aku harus mengatakan apa lagi kepadamu supaya kau percaya
kalau aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama.
Aku ambil CPNS ini untuk kita.
Untuk hidup yang baru.
Kita mulai lagi dari awal, ya, Sri?
Mas Bimo!
Mas Bimo!
Benar ternyata.
Aku Tingen, guru bahasa daerah di SD Muara Tapah.
Bimo, Pak.
Aku Ampong, Sekdes Muara Tapah.
Panggil saja Pak Sekdes.
Aku ditugaskan Pak Kades untuk menjemput Mas Bimo dan...
- Ini istriku, Sriatun. - Sri.
Kami senang Mas Bimo bergabung di sekolah kami.
- Terima kasih, Pak. -
Ayo, Mas Bimo. Klotoknya sudah mau berangkat.
Pak Tingen, kami jalan duluan.
Apa? Pak Tingen tidak ikut?
Aku mengajar di sekolah lain hari ini.
Ya sudah kalau begitu. Kami jalan, Pak.
- Ayo. - Mari.
Bagaimana jalan tadi?
Ada sesuatu?
Benar kata Pak Tingen. Pertama kuyang...
Habis itu raung.
Nanti akan lebih banyak lagi yang mereka hadapi.
Kedatangan dia sudah lama ditunggu.
Dia siapa?
Perempuan dari seberang pulau.
No comments yet. Be the first to leave one.