The first 200 lines.
- Makasih ya, Mas. - Ya, sama-sama.
- Ayo buruan! - Semua udah pada nyampe?
- Ya. Udah. Lagian elu abis dari mana sih? - Maaf, ojeknya lama.
Lagian kenapa jadi tim kita yang produksi? Ini kan mestinya kerjaan anak lifestyle.
Yah, mau gimana lagi? Anak lifestyle-nya aja liputan dadakan ke luar.
Liputan apa pagi-pagi banget?
Lesty Kejora kepeleset di garasi.
Ini namanya abdominal thrust.
Jadi posisinya kita ada di belakangnya.
Kemudian satu kaki kita di sela-sela kakinya.
Setelah itu kita lingkarkan tangan kita seperti ini, dibagian ulu hati.
Pastikan tangannya posisinya menggenggam seperti ini.
Kemudian kita tekan. Satu, dua, tiga.
Nah, seperti itu.
Ra, elu kenapa, Ra?
Ra?
Elu keselek?
Mbak, tolonglah, tolongin teman saya nih.
- Sebentar, ya. Tetap tenang ya, Mbak. - Ini benar-benar keselek.
Saya coba ya. Satu, dua, tiga.
Satu, dua, tiga.
Satu, dua, tiga.
Mbak enggak apa-apa?
Aduh lagian elu sih, Ra, pake keselek segala.
Siapa juga yang mau keselek sih, Sa?
Aturan, Ra, elu makan yang sabar, dikunyah.
Gua kunyah, Gun, tapi ciloknya licin jadi di gigi gua tergelincir.
Tergelincir? Elu makan cilok apa sepatu roda sih?
Mas, ini kita jadinya gimana ya? Mau ulang dari awal atau gimana?
Udah enggak usah deh.
Saya ambil yang ini aja, lebih natural dia.
Jadinya, lebih dapat di sini.
- Oh, iya? - Ya. Tuh liatin tuh. Tuh ada ciloknya.
- Makasih ya, Bang. - Ya, sama-sama.
Selamat ulang tahun, Anak Mama.
'Kan ulang tahun aku besok, Ma.
Besok mama ada arisan, takut enggak sempat.
Udahlah, hari ini aja.
Ya, tapi kan masih belum...
Udah tiuplah! Banyak kali cakapmu. Berat loh ini.
Ya.
Tiup lilinya... Nah gitu dong. Senyum dong!
Ma, berarti ulang tahun aku kali ini enggak ada ikan arsik dong?
Memangnya pernah mama lupa?
Mama udah bikin?
Cepat masuk. Nanti keburu dingin ikannya.
Hore!
Yah, enggak kepencet.
Ra, ulang lagi lah, inang.
Enggak kerekam.
Ada benga-benganya (bodoh) pun HP ini.
Terima kasih, Tuhan, untuk hari yang sudah Kau berikan bagi kami.
Berkatilah makanan dan minuman yang tersaji di meja makan ini.
Terima kasih juga sudah Kau tambahkan umur satu tahun lagi bagi Ira.
Berarti sudah 30 tahun umurnya, Tuhan.
Tapi dia belum nikah-nikah juga.
Kacau kali lah hidup anak ini.
Tolonglah, Tuhan, pertemukan Ira dengan jodohnya.
Amin.
Ayo, makanlah ya.
Udah tujuh kali aku ulang tahun...
...spanduknya itu-itu melulu.
Selamat Ulang Tahun
- Cepatlah kau kawin, Ira! - Ganti kek.
Biar aja lah.
Pohon natal kita juga belum mama ganti dari kau SD.
Lagian masih kebaca kok tulisannya.
Justru itu, males aku bacanya.
- Yah, itu kan supaya kau enggak lupa. - Gimana bisa lupa?
Orang tiap hari mama bahas terus soal itu.
Tapi buktinya, kau belum kawin-kawin juga kan sampe hari ini?
Gimana sih, Ma? Orang belum ada jodohnya.
Emang mau kawin sama siapa? Kambing?
Kayak mana kau mau dapat jodoh, kalau makanmu macam orang kesurupan gitu?
Tengok itu perutmu. Kayak perut gajah.
Ra...
Mama cuma minta kau nikah tepat waktu, Nak.
Itu aja.
Apa sih susahnya?
Sabarlah, Ma.
Sabar? Sampe kapan mama harus bersabar?
Udah 30 tahun loh umurmu.
Udah kadaluarsa itu.
Kalau makin tua, makin enggak laku-laku kau.
Asli ini makanan, enak banget.
Terus aja kau pura-pura tuli ya.
Ya, Ma! Iya.
Aku tuh pasti bakalan nikah, beneran.
Santai. Udah, Ma. Mama tuh udah tiap hari omongin ini ke aku, Ma.
Bisa enggak sih, Ma, di hari ulang tahun aku mama enggak bahas ini.
Bisa.
'Kan ulang tahunmu masih besok.
Ra, ayolah cepat. Udah siang loh ini.
Ya, ini udah siap. Ayo.
Enggak pake gincu kau?
Pake.
Mana merahnya?
Aku pake warna Nude, Ma.
Nude? Apa itu?
Warna kulit, biar kayak enggak pake lipstik.
Jadi kau beli lipstik mahal-mahal supaya dikira enggak pake lipstik?
- Iya. - Agak lain ya, otakmu ya.
Kalau kau mau dikira enggak pake lipstik ya udah, tinggal enggak usah pake.
Maksudnya, biar natural, Ma, jadinya pake nude.
Nad, nude, nad, nude.
Malah kutengok kayak orang tipes kau.
Gincu itu warnanya merah.
Ma, tapi menor, Ma.
Menor apa sih, Ra? Cerah itu!
Bawa sini bibirmu.
Nad, nude, nad, nude.
Rapatkan bibirmu!
Ya tapi jangan dipencet jadi enggak bisa!
Udah jangan banyak omong.
- Buset, tebal banget. - Nah, ini baru gincu!
Ayo cepat, terlambat kita nanti.
Ini udah, ini udah. Mana lagi ya?
- Nah, anaknya tante Lisbeth udah? - Udah.
Yang kerja di Samsat itu, kan?
Iya, terus kenapa enggak kau lanjut?
Bau ketek.
Masa iya sih?
Try being near him.
Coba aja mama dekat-dekat sama dia.
Ih, sayang kali lah, padahal enak loh kalau mau bikin SIM.
Yah elah, Ma. Masa mo bikin SIM aja harus kawin sama orang Samsat?
Kalau anaknya tante Sondang yang punya toko ban itu?
- Udah. - Bau ketek juga?
Enggak sih.
Tapi posting swafoto melulu.
Ih, kenapa rupanya?
Emang enggak boleh?
Yah, bukan. Masalahnya tiap habis swafoto dia nyuruh aku buat nge-like.
Apaan coba?
Siapa lagi ya? Udah semua ini ya.
Udah kali semuanya. Udahlah pulang aja ayo.
Tunggu, tunggu. Ada satu lagi mama lihat. Nah, ini dia.
Tante Rita.
Ada dia tadi.
Itu dia.
Eda! Sini dulu.
Ah, sebentar ya. Aku ke sana.
Emil.
Ya, kan tadi udah dikenalin.
Ya, enggak apa-apa.
Laki-laki jantan itu kan yang memperkenalkan diri secara langsung.
Oh...
Kamu suka nonton bola?
Jarang sih.
Paling yah, kalau lagi piala dunia aja.
Oh, enggak apa-apa.
Seenggaknya kita punya satu kesamaan.
Itu jadi poin plus buat aku.
Oh.
Eda, kalau kulihat gelagatnya...
...ini pasti jadi ini! Yakin aku.
Masa sih?
Ya, tengoklah.
Dari tadi kulihat si Emil senyum terus ke si Ira.
Enggak pernah rapat mulutnya.
Belum tentu juga.
Si Emil itu memang susah rapat mulutnya.
Dari kecil. Sama kayak bapaknya.
Eda, kayak mana kalau kita taruhan aja, Eda?
Biar seru nontonnya. Cocok kan?
Yakin kau?
Ini di gereja loh.
Masa judi di sini?
Ih, bukan judi lah, Eda.
Ini cuma prediksi. Tapi berhadiah.
Kayak kuis aja.
- Gitu ya? - Iyalah!
Masa kuis dibilang judi?
Berapa-berapa?
Limpul aja enggak usah banyak-banyak.
- Berapa itu limpul? - Lima puluh ribu.
Biar seru aja kita nontonnya. Ya, 'kan?
Oh, jadi seperti memacu adrenalin?
Nah itu dia!
Sepakat?
Ya. Sepakat.
Enak ini lihatnya.
Aku juga dulu pernah ngantor loh.
Cuma sekarang udah buka usaha percetakan sendiri.
Karena kalau dipikir-pikir, ternyata, yang paling benar itu jadi pengusaha.
Paling benar?
Maksudnya?
Yah, jadi pengusaha enak aja.
Enggak disetir-setir sama bos.
'Kan aku bosnya.
Sebenarnya bukan disetir-setir sih.
Itu kan pertukaran antara keterampilan kita dengan upah yang dibayarkan.
Emang percetakan elu bisa jalan kalau enggak ada karyawan?
Yah, tapi kalau jadi pengusaha bisa jadi lebih bebas aja.
Kayak tahun lalu aku bisa ke Old Trafford.
Markas besarnya Manchester United.
Klub terbaik liga Inggris. Setan merah.
Tahu enggak kenapa setannya merah?
Alergi udang.
Yah, aku paham sih kalau kamu enggak mengerti.
No comments yet. Be the first to leave one.