The first 200 lines.
- Selamat datang. - Meja untuk dua orang.
Baik.
Silakan duduk.
- Di belakang saja? - Ya.
Wah, sweter itu.
Kupakai.
Cocok denganmu.
Sweternya imut.
Selamat datang.
Terima kasih.
- Panggil aku jika sudah siap pesan. - Baik.
- Mau makan kue? - Mau.
Yang ini?
Beginiโฆ
Ada yang mau kubicarakan denganmu.
Boleh aku bicara duluan?
Aku bertanya begini karena ada yang mau kau bicarakan juga, 'kan?
Ya.
Tidak apa-apa.
Kau duluan.
Terima kasih.
Jadiโฆ
Beginiโฆ
Sebenarnyaโฆ
Selama ini, aku sudah begitu jahat.
Saat kita menjalin hubungan,
aku terpikat orang lain
dan sudah beberapa kali menyelingkuhimu.
Ya, laluโฆ
Kurasa
aku cenderung lebih mudah jatuh cinta dibanding orang lain.
Tapiโฆ
Aku takut membuka diri dan menghadapi orang
sehingga
aku akhirnya berselingkuh dengan orang yang sebenarnya tak kuseriusi.
Ya.
Selain ituโฆ
Bagaimana aku menyebutnya?
Aku sendiri juga tak mengertiโฆ
Tapi di satu titik tertentu dalam hidupkuโฆ
Sepertinya aku tak bisa menjalin hubungan dengan satu orang saja.
Lalu?
Laluโฆ
Aku tahu betul hal ini sebenarnya tak ada gunanya untukmu
dan ini tindakan yang benar-benar egois.
Aku tahu itu,
tapi aku merasa harus menceritakan segalanya padamu.
Aku merasa harus jujur
dan bercerita perasaanku, termasuk hal ini.
Begitu rupanya.
Baiklah,
akan kudengarkan semua yang mau kau ceritakan.
Tolong ceritakan semuanya padaku.
Jadiโฆ
Dari situ,
kuceritakan semua yang selama ini kusembunyikan darinya,
satu per satu.
Tentang aku yang dulu beberapa kali menyelingkuhinya.
Tentang aku yang kini sudah berhenti menyelingkuhinya.
Aku memang tak menyebut nama Yamada,
tapi aku bercerita pada Yukio tentang keterpikatanku padanya.
Serta tentang keberadaan Yukio yang juga diketahui Yamada
karena
aku tak menyembunyikan fakta bahwa aku sudah punya pacar.
Aku juga bilang Yamada juga punya pacar.
Tapi
kami masih saja saling terpikat.
Juga, betapa seringnya aku curhat pada Yamada
tentang hal-hal yang tak bisa kuceritakan pada Yukio.
Sebenarnya,
kaulah
orang yang paling mau kujadikan tempat curhat
dan bertukar pikiran tentang rasa sakitku.
Tapi hasratku untuk berselingkuh justru berlawanan
dengan apa yang menyakitiku.
Tapi
seandainya aku bisa curhat dan berbagi beban ini dengan orang lain,
orang yang paling mau kuceritakan soal ini
adalah kau.
Itulah yang terus kuceritakan pada orang itu.
Lalu?
Apa kata orang itu?
Dia juga merasakan hal yang sama.
Apa?
Dia bilang pacarnya begitu penting baginya
dan dia sangat mau menjadikan pacarnya tempat curhat.
Beginiโฆ
Bukankah itu sangat egois?
Baik bagimu dan baginya.
Ya.
Sebentar. Jadi, orang itu
lebih menyukai pacarnya?
Bukan kau yang lebih disukainya?
Kau tak masalah dengan itu?
Kau tak keberatan?
Kau terima saja?
Ituโฆ
Jadi, pacar orang itu sudah tak ada.
Sudah tak ada?
Apa maksudmu?
Dia sudah meninggal.
Apa?
Pacar orang itu sudah meninggal,
tapi dia masih belum sadar.
Tidak, dia bukan tak sadar,
tapi dia menjalani hidup dengan percaya pacarnya masih hidup.
Jadi, dia bertekad tak akan jatuh cinta lagi dengan orang lain.
Tapi dia merasa kesulitan karena tertarik padaku.
Dia seseorang
yang sepertinya selalu dibayang-bayangi kematian.
Awalnya, aku akrab dengannya karena khawatir,
karena aku mau dia hidup.
Tapi tidakkah ituโฆ
Tidakkah itu tindakan yang sangat pengecut?
Berlindung di balik "Aku merasa sekarat," atau "Aku sangat kacau balau."
Lalu, kau merasa perlu menemaninya karena khawatir?
Itu bukan cinta namanya.
Memanfaatkan kebaikan orang lain itu
tindakan pengecut.
Tapi itu perasaanku sendiri.
- Jadi, itu bukan salahnya. - Tapi pada dasarnya,
kau disandera.
Membuatmu merasa dia akan mati jika kau tak adaโฆ
Itu salah satu hal yang paling kubenci.
Tapi
kau juga tak mau dia mati, 'kan?
Masalahnyaโฆ
Dia selalu tampak menikmati saat-saat kebersamaan kami,
tapi baginya,
rasa menikmati itu langsung berkaitan dengan rasa bersalahโฆ
Sehingga dia makin tersiksa.
Jadi, yaโฆ
Yaโฆ
Begitulah ceritanya.
Akuโฆ
Jujur saja, aku sudah tak tahu lagi apa yang harus kulakukan,
tapi aku sadar tak bisa terus hidup
seperti ini
dan tetap diam sambil menjalin hubungan denganmu.
Makanya aku bercerita semua ini.
Lalu?
Kau mau apa, Ayana?
Kau masih mau bersama denganku?
Ya.
Baiklah.
Jadi, bagaimana hubunganmu dengan orang itu sekarang?
Kami sudah sepakat
untuk tak bertemu dan kami memang tak pernah bertemu lagi,
meski kami masih mungkin bertemu karena urusan pekerjaan.
Begitu, ya?
Orang itu baik-baik saja sekarang?
- Ya. Sudah jauh lebih baik. - Baiklah.
Selamat ulang tahun.
Warna itu, ya?
Biru pemandian air panas.
Kupilih warna ini untukmu.
Ayanaโฆ
Kita putus saja.
Tidak mau.
Begini, aku sudah merasakannya.
Aku sudah merasa ada yang janggal denganmu.
Aku tahu kau memendam sesuatu.
Aku tak mau.
Bisa dengarkan dulu apa yang mau kukatakan?
Tidak mau.
Dengarkan aku. Aku tadi sudah mendengarkanmu, 'kan?
Aku mau kau mendengarkanku.
Baiklah. Aku akan mendengarkan.
Sebenarnya,
aku sudah merasa ada yang janggal sejak sebelum kita ke pemandian.
Malah, di hari Natal lalu,
ingat saat kuajak kau tinggal bersama sekitar musim panas nanti?
Saat kutanya hal itu,
reaksimu agak aneh.
Aku tak mau mengakuinya,
tapi firasatku berkata
hubungan kita tak akan lama.
Mungkin hubungan kita akan berakhir.
Makanya aku mengajakmu pergi ke pemandian air panas.
Kukira kau akan menolakku, tapi syukurlah kau senang di sana.
Aku juga senang.
Kuberi kau hadiah sweter itu.
Aku juga minta dirajutkan syal.
Kupikir mungkin saat merajut syal ituโฆ
Kau akan memikirkanku.
Aku sebenarnya tak mau syal, tapi memintamu merajutnya.
Aku memang menyebalkan.
Sekalipun hari ini kau tak bercerita apa-apa,
aku tetap akan berencana putus denganmu.
Makanya
kupilih penatu tempat kita pertama bertemu sebagai tempat pertemuan kita.
Ini pertama kalinya aku datang ke kafe ini.
Sebenarnya, kita bisa saja bicara di salonku.
Aku bisa saja memilih untuk ke sana
karena kami tutup hari ini.
Tapiโฆ
Jika di sana, aku pasti akan teringat dirimu setiap kali bekerja.
Hal itu pasti akan terasa sangat menyakitkan.
Makanya
aku mau bicara di tempat yang tak perlu kudatangi lagi.
No comments yet. Be the first to leave one.