The first 200 lines.
Yang terjadi, sudah terjadi.
Kau tak pernah tahu.
Suatu kali, perusahaan tempatku bekerja memindahkanku ke sebuah pulau di Pasifik.
Tempat yang fantastis.
Aku mengundang pacarku untuk mengunjungiku.
Aku mengiriminya kartu pos setiap hari dengan satu kata di setiap kartu.
Aku menulis, "Menemukan surga perawan. Ini milikmu. Matthew."
Tentu saja, kartunya dikirim dengan urutan yang salah.
Pesan yang dia dapat adalah,
"Menemukan perawan. Ini surga. Salam, Matthew."
Aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi.
Liburan penuh kejutan, belum lagi perawan,
yang membawaku ke tahun lalu.
Itu masa yang sangat kacau.
Baru saja aku mulai memakai penahan gigi yang lebih kecil,
orang tuaku mengajukan perceraian.
Agak menghilangkan kesenangan dari tersenyum.
Aku bekerja di Brasil di Sao Paulo,
New York-nya Brasil.
Sao Paulo adalah tempat semua pekerjaan dilakukan.
Tempat semua kesenangan adalah di Rio,
dan di sanalah aku dan Karen, istriku,
memutuskan untuk menghabiskan liburan terakhir kami.
Entah bagaimana aku tak pernah sampai ke sana.
Dari semua cerita, kota paling menarik, paling sensual di dunia.
Aku tak tahu apa ini benar, tapi setelah 20 tahun menikah,
fantasi apa pun membantu.
Victor ikut, tentu saja.
Itu temanku, Victor Lyons.
Dia sedang melalui masa sulit saat itu.
Perceraian ini akan membunuhku.
Telepon, surat.
Lihat ini. Dari pengacaranya.
Ada saja setiap hari. Jika tak dapat surat, aku dapat telegram.
Kami lebih sering berhubungan sekarang daripada saat bersama.
Siapa tahu, mungkin perceraian akan menyelamatkan pernikahan.
Tutup mulutmu.
Satu hari saja di Rio, kau akan melupakan semuanya. Aku berjanji.
Sejujurnya, jika bukan karena Jennifer, aku tak akan ikut.
Aku tidak perlu keluar kota untuk menderita.
Jauh lebih murah melakukannya di rumah.
Kapan dia datang?
Dia naik penerbangan pukul 15.00.
Bayangkan dampak semua ini pada anak itu.
Dia akan baik-baik saja. Anak-anak adalah penyintas.
Bayaran untuk bertahan hidup, bukan?
Setengah. Hanya itu yang dia inginkan. Setengah dari semua yang kupunya.
Andai aku punya penyakit herpes.
- Jennifer. - Hai.
Coba kulihat dirimu. Kau menawan.
- Kau juga. - Ya.
Apa yang terjadi? Kau hampir menjadi wanita dewasa.
Aku juga kuat, Ayah. Aku tidak akan hancur.
Ya. Benar. Tentu.
Biar kubawakan barang-barangmu. Mereka memberimu makan? Kau pasti lelah.
Sini. Berikan tasmu.
Radio yang bagus. Kau bisa terkena hernia dari rock and roll.
Ayah yang malang. Aku ingin memberitahunya dia tidak perlu merasa bersalah,
tapi aku tidak bisa mengambil kebahagiaan itu darinya.
Orang tuaku sudah menikah hampir 50 tahun.
Tidak pernah berkata kasar. Tidak pernah berkata baik.
Mereka hanya tidak bicara.
Aku bersumpah Karen dan aku akan berbeda.
Tapi sesuatu terjadi pada pernikahan kami.
Tidak ada yang menggemparkan.
Hanya tanda-tanda kecil yang bisa dideteksi suami.
Karen.
Karen, ada apa?
Tidak ada apa-apa.
Baca bukumu.
Tapi kau menangis.
Aku akan mencoba melakukannya dengan lembut.
Apa karena sesuatu yang kulakukan?
Ini bukan perbuatanmu.
Kau harus melakukan sesuatu agar itu menjadi perbuatanmu.
Tunggu.
Ibu punya tempat untuk ini?
Taruh di koper Ayah.
Sebentar. Kau punya lebih banyak ruang daripada aku.
Jangan cengeng.
Nicole putriku. Dia juga bertindak sebagai istri cabang.
Tas ini berantakan.
Terima kasih, Sayang. Mau kuajari caranya?
Jennifer.
- Boleh kutaruh ini di tasmu? - Sebaiknya tidak.
Tidak sulit. Ini sangat datar.
- Kalau begitu, masukkan ke kopermu. - Tak bisa. Ada perlengkapan Nikki.
Matthew, jika kau ingin menggunakannya, jangan taruh di sini.
Maksudmu, jika kutaruh ini di kopermu, kau tak mengizinkanku memakainya di Rio?
Tidak, Matthew. Maksudku, kau tak akan bisa memakainya,
karena kau dan aku tak akan ke Rio.
Apa maksudmu?
Persis seperti yang kukatakan.
Tapi kita berkemas untuk ke Rio.
Kau berkemas untuk Rio. Aku berkemas untuk Bahia.
- Apa? - Apa kabar?
- Jennifer. - Bibi Karen.
Kau tampak mengagumkan.
Bagaimana sekolahmu? Bagaimana di Connecticut?
Bagus. Kecil.
- Hai, Paman Matthew. - Hai.
Kau butuh bantuan? Ada dua taksi di bawah.
Aku akan segera ke sana.
Semua baik-baik saja?
Ya. Beri kami waktu sebentar. Bantu Nikki membawa tasnya ke bawah.
Apa maksudmu, Bahia?
Club Med. Selama sebulan.
- Kapan kau memutuskan semua ini? - Beberapa pekan lalu.
- Kau tak memberitahuku? - Aku tak ingin membuatmu kesal.
Menunggu saat yang tepat, ya?
Saat kau ingin membuat seseorang kesal, kau akan melakukannya dengan benar, bukan?
Inilah yang kutakutkan.
Memang apa yang kau harapkan? Kita seharusnya berlibur.
Kita memang akan berlibur. Hanya saja dua liburan berbeda.
Kenapa?
Kau tak tahu?
Apa aku membosankan saat kita bersama?
Hampir.
Aku membosankan saat kita bersama.
- Kata siapa? - Kau.
- Tidak pernah. - Bukankah kau bilang ada saatnya
kau lebih suka tanpa aku?
Itu hanya saat aku bersamamu. Sering kali, kita terlalu dekat.
Terkadang kita sangat mirip, aku lupa rasanya menjadi diriku sendiri.
Tapi saat kita terpisah, aku sangat merindukanmu.
Karen.
Jujurlah.
Apa ada seseorang dalam hidupmu?
Tidak ada siapa pun dalam hidupku.
Tidak ada.
Kukira ada aku.
Nyaris tidak ada, Matthew.
Hanya sedikit lebih banyak daripada aku di hidupmu.
- Dengar, maafkan aku. Aku tahu aku salah. - Tentang apa?
Tentang apa pun yang menurutmu aku salah. Aku mengakuinya.
Aku tidak bilang kau melakukan kesalahan.
Baiklah. Kalau begitu, aku menyangkalnya. Apa pun yang berhasil di sini.
Kumohon, Sayang. Victor menunggu.
Masa bodoh dengan Victor.
Hei, kita harus mengejar pesawat.
Dia tidak berangkat.
Apa maksudmu kau tak berangkat? Apa yang terjadi?
Apa kalian bertengkar? Apa?
Aku tak perlu menjawabmu juga, Victor.
Aku tak mengerti. Siapa yang berkemas untuk tak berangkat?
Dia akan pergi ke Bahia.
Tapi kita akan pergi ke Rio. Bukankah kita bilang Rio?
Victor, ini antara aku dan Matthew.
- Kita bilang Rio, bukan? - Benar.
Lalu apa yang ada di Bahia?
Bukan aku. Itu daya tarik besarnya.
Itu tidak adil.
Apa yang terjadi?
Matthew akan menjelaskan semuanya, aku yakin.
- Aku harus bilang apa kepada Nikki? - Aku akan bicara dengan Nikki.
Dia serius.
Kita tidak akan pergi sampai aku mengubah pikirannya.
Penerbangan tanpa dia mengerikan.
Hanya dia yang kupikirkan.
Aku sangat sibuk dengan pernikahanku.
Victor sangat sibuk dengan perceraiannya.
Bagaimana keadaanmu?
Para pengacara. Kau akan berpikir aku berselingkuh dari mereka.
Mereka makan penderitaan.
Tunjukkan dua orang berpisah,
dan akan kutunjukkan pengacara berputar-putar.
Syukurlah ada Rio. Memikirkannya saja menghibur.
Tolong kencangkan sabuk pengaman dan amati tanda dilarang merokok.
Beberapa menit lagi, kita akan mendarat di Rio.
Dia tampan!
Aku melihatnya lebih dahulu.
Kau mau kehilangan 60 cm dari hidungmu?
Dasar aneh!
- Itu emosi yang kita kenal dan cintai. - Aku tidak mudah marah.
Kau akan membunuh siapa pun yang bilang begitu.
- Mungkin kita harus membicarakan pria. - Pria?
Peraturan dasar.
Itu jika kami mendapatkan pria.
Ayolah. Dia sedang bicara.
Kurasa kita harus setujui pukul berapa kalian pulang jika pergi kencan.
Bagaimana kalau pukul 11, Victor?
Pukul 11 terdengar bagus. Kurasa 11 bijaksana.
- Pukul 11? - Keesokan paginya, bukan?
Aku yakin baru selesai pukul 11.
- Bagaimana kalau tengah malam... - Pukul 01.00.
Maksudku 01.00.
Tengah malam. Bagaimana menurutmu?
Tidak lebih dari itu. Tengah malam sudah cukup.
Ibu mengizinkanku pulang pukul 01.00.
Benarkah?
Aku tidak tahu apakah...
Coba kupikirkan. Akan kami bicarakan.
Apa?
Aku tidak mengatakan apa pun.
Aku hanya memikirkannya.
Apa kita hampir sampai?
Entahlah. Kurasa sebentar lagi.
Kau menyewa rumahnya, tapi tidak tahu di mana?
Sebentar lagi.
- Kau hanya tahu sebentar lagi? - Itu lebih baik daripada nanti.
No comments yet. Be the first to leave one.