The first 200 lines.
STILL SHINING
Tae-seo, apa itu kau?
Ya, ini aku.
Kalau kau sudah selesai menangis, ayo pulang.
Tidurlah dulu, lalu kembali ke Seoul untuk bekerja.
Ayo!
Baiklah!
STILL SHINING
WARUNG
Silakan katakan apa saja.
Seperti saat kalian minum makgeoli atau jalan-jalan berdua.
Baiklah.
Aku tahu apa yang nenekmu suka.
Rok merah muda
Berkibar tertiup angin musim semi
Menggigit pita baju lagi hari ini
Di sepanjang jalan dekat kuil desa Tempat kupu-kupu beterbangan
Saat bunga bermekaran
Kita tertawa bersama
Saat bunga berguguran
Kita menangis bersama
Bersama janji yang tulus itu
Hari-hari di musim semi
Telah berlalu
Astaga!
Fotonya kau tempel agar mudah dibedakan.
Kerja bagus.
Padahal aku suka yang itu.
STASIUN OIDO, SALJU
Aku juga.
Kerja bagus.
Terima kasih!
Kau mau foto ini?
Pakailah itu.
Lihat yang sudah kubuat.
Bingkai ini sungguh seperti memeluk fotonya.
Kesannya hangat.
Itu punyaku.
Itu sudah kupoles.
Belum kering.
Rupanya hampir jadi.
Kau bilang tinggal tunggu sehari setelah dipoles.
Momen penantian yang ketiga dan terakhir.
Biar kubungkus yang ini.
Biar kubantu.
Aku bisa sendiri.
REGULASI PERKERETAAPIAN KTC
Kau juggling dengan lima bola sekaligus.
Pantas saja kau kerepotan.
Kenapa lima?
Pekerjaan utama, sambilan, persiapan alih profesi,
masalah keluarga, dan masalah dengan pacar.
Bukankah semua orang hidup seperti itu?
Apa benar kau hidup dengan baik?
Apa yang membuatmu penasaran?
Kudengar kau ada masalah dengan pacarmu.
Kak Hyeong-seok bilang setelah dia putus, kau juga.
Apa kau tahu?
Orang yang pernah jadi pacarmu tak selalu sejumlah
dengan yang putus denganmu.
Biasanya jumlah yang putus lebih sedikit.
Putus hubungan itu pengalaman tak terlupakan.
Teman-temanku juga pernah berpacaran beberapa kali,
tapi kalau soal putus, pasti cuma satu orang yang disebut.
Hubungan yang sesungguhnya adalah yang kau ingat perpisahannya.
HUI-SEO
Tunggu sebentar.
- Halo, Hui-seo. - Halo, Kak.
Bisa ke rumah sakit hari ini?
Hari ini aku libur. Ada apa?
Tadi pagi, sudut bibir Nenek berkedut.
Kau tahu,
seperti senyum Nenek saat melihatku.
Pokoknya, bibirnya bergerak.
Apa kata dokter?
Tidak, itu bukan kata dokter. Aku yang melihatnya.
Jadi, apa yang harus kulakukan di sana?
Nenek mungkin akan bangun, jadiโฆ
Baiklah.
Akan kuminta Kakek pulang sendiri.
Aku akan tetap di sini.
Pulanglah. Aku ke sana.
Ada telepon.
Dari Kak A-sol.
Halo, Hui-seo.
Kalau ke sana hari ini,
apa aku akan disambut dengan karpet merah?
Aku akan mengajak Tae-seo ke sana saat bertemu untuk mengambil bingkai.
Akhir-akhir ini aku sibuk sekali.
Aku melepas stres dengan menyetir.
Ya, itu benar.
Ada tempat seperti itu? Sepertinya enak.
Baiklah. Dah.
Aku akan menyetir. Tidurlah di perjalanan.
Aku bisa pergi sendiri.
Kau tak berangkat kerja besok?
- Berangkat. - Berarti kau harus kembali.
Jika pergi sekarang, makan, menjenguk nenekmu, lalu kembali,
waktunya pas.
Laki-laki pemilik Kursi Satu di sentra belajar,
yang matanya selalu merah karena kurang tidur,
sepertinya tak mudah jatuh cinta.
Bahkan kalau sudah jatuh cinta,
sepertinya tak akan mudah untuk berpisah.
Bagaimana perpisahan pertamanya?
Menurut orang-orang di sekitarku,
pengalaman pertama putus cinta berdampak lebih besar
dari cinta pertama.
Aku penasaran.
Kapan dan bagaimana pemilik Kursi Satu itu putus cinta?
Apa yang dia rasakan?
Meski dia tak akan bilang.
Bingung.
Apa kau bilang?
Kalau begitu, yang kedua?
Tak ada yang kedua? Cuma sekali?
Orang yang sama.
Bangunkan aku di tempat istirahat pertama.
Baiklah.
Halo?
Benar, aku Yeon Hui-seo, adik Yeon Tae-seo.
Baik, aku ke sana.
Aku ke sana sekarang.
Baik.
Hei, Semuanya!
Terima kasih!
Sial, kenapa tak diangkat?
Kak A-sol, apa kau bersama kakakku?
- Ya. - Kakakku.
Hei, Kak. Bangun.
Ya, Hui-seo. Aku menuju ke sana.
Kak.
Katanya Nenek sudah bangun.
Pihak rumah sakit meneleponku.
Sudah kubilang.
Cepatlah ke sana.
- Baiklah, aku langsung ke rumah sakit. - Ya.
Kakek.
Kakek, bangunlah.
Bangun! Nenek sudah sadar.
Apa?
- Cepat bangun. - Baiklah.
Aduh! Ya ampun.
- Kakek baik-baik saja? - Ya.
Apa Kakek bisa menyetir?
Kakek harus bisa.
Karena baru bangun, kaki Kakek lemas.
- Kalau tangan? - Apa?
Bisa menggenggam begini?
Tangan Kakek?
Seperti ini?
Kakek sudah pakai helm, kan?
- Pegangan yang kuat! - Baiklah.
Jangan dilepas.
Tapiโฆ
Kau tak pernah mengendarai motor lebih jauh dari kantor pos.
Kau yakin tidak apa-apa?
Aku harus bisa.
Nenek juga sudah berusaha.
- Sebentar. - Baik, Dokter.
Kenapa suasananya begini?
Sesaat sebelum meninggal,
dia mungkin terbangun sebentar.
Pulih menjelang ajal.
Napasnya mulai stabilโฆ
Tangannya.
Apa?
Jari telunjuknya bergerak.
Bergerak pelan.
Dia benar-benar bangun.
Tolong jelaskan pada keluarganya.
Kondisinya stabil,
jadi silakan pakai baju pelindung dulu.
Ayah, sudah ke rumah sakit? Bagaimana kondisi Ayah?
Beginiโฆ
Aku akanโฆ
Berusaha untuk bertahan sendiri setahun ke depan.
Ayah janji mau kembali bekerja tahun depan.
Tepati janji Ayah.
Baiklah, dah.
Ya. Dia berhasil melaluinya.
Katanya itu tidak mudah.
Pokoknya, terima kasih. Dah.
Kakek mengabari kepala desa, jadi semua akan tahu.
Hubungi semuanya di perjalanan.
Hal baik ini bisa terjadi karena semua orang mendoakannya.
Baiklah.
Ya, kan?
Sudah kubilang dia akan segera bangun.
Tak usah ke sini, Hyang-gi.
Jenguklah setelah dia dipindahkan ke ruang rawat biasa.
Aku yang harus berterima kasih.
Biar kusetirkan.
Kau yakin bisa?
Ya.
Heiโฆ
Kau bersikeras mengajakku kemari.
Terima kasih.
Nenekโฆ
Sudah bangun.
No comments yet. Be the first to leave one.