The first 200 lines.
Episode sebelumnya...
Kurasa aku menemukan pria yang ingin kunikahi seumur hidup.
Aku akan pindah ke Australia.
Kami sudah menikah!
Valentina, aku tidak ingin punya anak.
Kami sudah putus.
Aku pindah ke New York untuk awal baru, menyambung hubungan dengan saudaraku...
-Kakakku dan aku melompati... -Ya.
Jesse dan aku melihat dunia dengan cara yang sama.
Selalu ada sesuatu di antara kami sejak awal bertemu.
Kita harus berpisah.
Apa?
Aku mencintaimu, Sophie.
Kita bahkan tak tahu bagaimana hubungan ini ke depannya.
Baiklah.
Apa salah Jesse, selain mengatakan
segala yang ingin kau dengar dari pria,
hanya saja dikatakan lebih cepat dari dugaanmu?
-Hai. -Hai. Apa ini waktu yang baik?
Bu? Ibu di mana?
Jika Ibu tak kembali dalam tiga detik, akan kusudahi panggilannya.
-Tiga, dua... -Tenanglah. Ibu di sini.
Sepertinya kau terobsesi dengan cerita Ibu.
Ibu bilang akan segera kembali, tapi Ibu menghilang.
Rasanya seperti setahun.
-Tunggu, Ibu memasak? -Spageti pomodoro, benar.
Ibu juga tidur sebentar.
Menceritakan kisah panjang sangat melelahkan.
Baiklah, kembali ke pameran perdana Ibu di galeri.
Apa ini waktu yang baik?
MASA KINI
-Aku kembali ke New York. -Aku lihat.
Aku lihat unggahan tentang acara ini dan berniat mengejutkanmu.
Kejutan.
Kuharap kedatanganku tak membawa masalah.
Maksudku, aku tak tahu kabar terbaru darimu.
Dalam hal percintaan.
Ibu mengingat betapa kacaunya hidup Ibu 48 jam terakhir.
Ciuman terlarang,
putus cinta, hubungan seksual, igauan cinta,
cinta yang pudar, pengkhianatan, pembunuhan.
Tunggu, apa?
Ibu membunuh tikus sebelum pameran.
Tak berkaitan dengan kisah cinta yang buruk.
Saat itu, kau tahu, Ibu terbebani.
Pokoknya, Ibu bimbang.
Maksud Ibu, waktunya tak tepat.
Namun, di sisi lain,
Ibu mendapat kesempatan kedua dengan asmara yang kandas.
Jadi, Ibu bilang...
Aku sama sekali tak sedang berhubungan romantis.
Bagus. Bolehkah aku mentraktirmu minum setelah ini?
Aku mau.
Permisi. Aku harus bicara pada senimannya agar dia menyadari kenyataan.
-Apa yang kau lakukan? -Apa?
Kau dan Jesse baru putus.
Kau sangat sedih lima menit yang lalu.
Apa kau siap berhubungan dengan pria lain?
Entahlah. Namun, aku sudah pernah melihat Ian pergi dari hidupku.
Aku tak akan membiarkannya pergi lagi.
Aku tahu itu seperti penguntit,
tapi itu tak penting, kau tahu kenapa?
Dia melacakku hingga ke acara ini. Jadi, siapa yang jadi penguntit?
-Hei. -Hei.
Jadi, aku ingin dengar segalanya tentang kisah kawin lari kalian.
Sebenarnya...
SURAT IZIN MENIKAH
Selamat. Kalian sudah menikah.
Sungguh? Semudah itu?
Kau tak akan berkata, "Sid, apa kau menerima Hannah?"
Siapa Sid dan Hannah?
Menurutmu siapa?
Astaga, aku harus menceritakan kisah itu
sepanjang hidupku dan...
Itu menyebalkan. Setiap kali bercerita, ekspresi semua orang akan...
Mata mereka akan berbentuk...
Manisnya.
Aku suka kisah itu.
Itu sudah terjadi. Lihat mata mereka.
Baiklah. Baiklah. Ini masih hari pernikahan.
Ayo undang semua teman kita ke bar, lalu mengadakan
pesta pernikahan terbaik.
Lalu, itu akan menjadi kisah pernikahan kita.
Aku baru saja mengikuti suamiku.
Kalian bisa meledek kami sebagai pasangan.
Itu pasti lucu.
Jangan membahas obsesiku dengan cangkir Anna Kendrick.
Kami tak bisa melakukannya karena kami bukan pasangan lagi.
Tunggu, apa?
Kami sadar bahwa keinginan kami berbeda.
Jadi, sekarang kami berteman.
Apa semudah itu kalian putus?
Hubungan kalian sangat seksual.
Kalian yang menciptakan istilah menonton dan...
Semuanya hanya masa lalu. Sekarang kami hanya berteman.
Benar.
Sahabat karib. Ayo berpelukan, Sobat.
Kemarilah, Sobat.
Tubuhmu bereaksi, Sobat.
-Hei, Semuanya. -Hei.
Aku sampai.
Astaga. Aku bergegas kemari saat melihat pesanmu.
Sial, Bung. Kau menikah.
Bagaimana dengan pernikahanmu dan pernikahan India-mu?
Kenapa aku tak diundang?
Kau punya pendamping lain? Apa dia orang India?
Jika benar, aku tak keberatan. Entah kenapa aku bertanya.
Tidak, tak ada pendamping, Kami kawin lari.
-Apa kau bahagia? -Ya, aku bahagia. Apa itu Ian?
Ya. Dia baru datang dan berniat memberi kejutan.
Tak masalah, bukan?
Tidak. Kenapa jadi masalah?
-Tidak akan. -Bagus. Jadi, tak ada masalah, 'kan?
Sudah jelas ada masalah.
Siapa saja, bicaralah.
Sophie dan aku memutuskan bahwa kami tak cocok berkencan.
Jadi, hanya berteman?
Sekadar nasihat. Jangan memeluknya.
Baiklah. Aku tak peduli dengan status atau reaksi tubuh kalian.
Ini hari pernikahan Hannah dan aku, dan kalian sahabat kami.
Jadi, kalian harus datang ke bar, bersikap normal,
dan merayakan kisah cinta kami.
-Semua sudah dibayar. -Syukurlah.
Maaf. Aku berusaha bergabung tanpa kentara.
Aku terlambat.
Hei, ingat ajakan minum itu?
Teman-temanku mengadakan
pesta pernikahan mendadak di barnya, jadi...
Kedengarannya menyenangkan. Aku ikut.
Baiklah. Semua dapat tugas. Jesse, pidato sebagai pendamping.
Kau memilih orang yang tepat untuk tugas itu.
Jangan sebutkan hal itu.
-Sophie. Kau memotret. -Astaga, aku tak bawa kamera.
Benarkah? Apa ponselmu tak punya kamera?
Ayo memotret, jangan cerewet.
Val, Charlie, kalian mengurus montase foto.
Sudah jelas, atau kau mau mengeluh seperti Sophie?
Tentu saja, terima kasih banyak telah hadir di hari spesial kami.
Aku juga. Ellen, lagu pernikahan.
Pastikan ada lagu untuk electric slide.
Tidak. Jangan. Semua orang benci electric slide.
Apa kau belum jera?
Pada pekan pertama kami di kampus,
Sid coba memulai tari dadakan di halaman.
Jesse, aku akan melakukannya.
Mari menari!
Baiklah.
Pria itu menjadi legenda di Wesley. Dia dijuluki sang Penginjak.
Ayolah. Ini pernikahan kami.
Aku lebih memilih tersetrum.
Sambutan yang dingin.
Aku menghargainya.
Bagaimana kalau kau ambil minuman dan carikan meja untuk kita?
-Baiklah. Apa yang kau mau... -Buat aku terkejut.
Dengar, Semuanya.
Aku tak ingin Ian tahu bahwa aku mendekati dua pria berbeda
beberapa hari terakhir.
Jadi, kuharap kalian tenang dan santai sepertiku.
Tenang dan santai. Mengerti?
Coba ulangi. Apa kataku?
-Tenang dan santai. -Tenang dan santai.
Baiklah, sekarang giliranku. Aku tinggi dan penuh rasa ingin tahu.
Aku tak paham. Satu hari yang lalu kalian saling menyukai.
Ada apa?
-Kau pandai menjaga rahasia, 'kan? -Tidak. Aku pandai menggunakan payet.
-Astaga, itu sangat mirip denganmu. -Aku tahu.
Aku hanya butuh 12 malam minggu.
Hanya 12?
Baiklah, ayo cerita.
Baiklah, tapi dengar, jangan ceritakan pada siapa pun, ya?
Aku tak ingin hari penting Hanna dipenuhi drama.
Jangan khawatir. Aku saudarimu. Akan kujaga rahasiamu.
-Baiklah. -Dan aku sering menangani rahasia saudari.
Baiklah. Pokoknya, tadi malam
aku tak sengaja menyatakan cinta pada Sophie saat tidur,
lalu dia takut dan menyuruhku ikut tur bersama Meredith.
-Apa? -Jadi, karena kesal,
aku mengusirnya.
Lalu aku menghubungi Meredith dan memintanya datang.
-Apa? -Aku tahu, jadi, Meredith datang
dan tiba-tiba kami bercumbu.
Kurasa aku setuju untuk pergi tur dengannya.
Apa?
Maaf, suaraku tak bisa lebih tinggi, jadi kupakai suara rendah.
Beberapa hal memang memusingkan. Aku sangat suka Sophie.
Siapa yang peduli dengan kisah cintamu?
Kau meninggalkanku demi ikut tur?
Tunggu, apa?
Aku pindah ke sini agar dapat berhubungan denganmu lagi.
Sekarang kau meninggalkanku untuk pergi tur dengan mantan pacarmu?
Sebagai anak adopsi, itu sungguh tak akan memicu
rasa takut ditelantarkan.
Ellen, ayolah.
Astaga, dia memang berbakat.
Ada pesanan untuk Sad...
Namaku Sid. Terima kasih. Terima kasih banyak.
Hannah, pernikahan tak lengkap jika tak ada kue.
Baiklah, pilihannya terbatas,
tapi aku menemukan toko yang menjual camilan favoritmu.
-Apa-apaan ini? -Ikan gefilte.
No comments yet. Be the first to leave one.