The first 200 lines.
SELAMAT TAHUN BARU
Lima, empat, tiga, dua, satu!
Syukurlah!
Krisis dan bahaya telah berlalu...
dan penyakit yang berkepanjangan akhirnya berlalu.
Bahkan, demam yang disebut "hidup" akhirnya ditaklukkan.
Diam dalam kesendirian, tetapi bukan kesepian.
Karena itu, roh orang mati
yang berdiri di kehidupan sebelumnya
kembali mati di sekitar kita.
Angin sepoi-sepoi dan napas Tuhan berembus tenang
dan kabut di atas bukit membentuk bayangan utuh
yang menjadi simbol dan tanda.
Bagaimana bisa itu menggantung di pepohonan, masih menjadi misteri.
Batas yang memisahkan kehidupan dan kematian
hanya berupa bayangan dan kabut.
Siapa yang tahu di mana kehidupan berakhir dan kematian dimulai?
Kita berdiri di tepi jurang.
- Kakek. - Kita lihat ke jurang.
- Ada apa? - Kita menjadi mual dan pusing.
Dia ada di sini.
Dorongan pertama kita, menjauhi bahaya.
Tanpa disadari, kita bertahan.
Roderick!
Pak, ada komentar?
PAPAN BUKTI KELUARGA USHER
DIREKTUR UTAMA
KEMATIAN FREDERICK USHER
TEWAS DALAM TRAGEDI ANEH
MENINGGAL 15 NOV
PEMBUNUHAN-BUNUH DIRI MENGGUNCANG
NAPOLEON USHER MENINGGAL 13 NOV
MENINGGAL 11 NOV
PEWARIS TEWAS MENGERIKAN
PROSPERO USHER TEWAS DALAM KECELAKAAN ANEH
ASISTEN KEJAKSAAN AS C. AUGUSTE DUPIN
Kau tidak akan percaya ini. Dia menelepon.
Dia minta bertemu kau malam ini.
- Siapa? - Pria itu.
Dia mengirim alamat.
Alamatnya aneh, tetapi memang dia.
Bukan sekretaris, asisten, bahkan bukan Pym Reaper.
Itu dia.
Terima kasih.
Masuklah kemari.
Konyak?
Tidak usah.
Aku turut berduka...
atas mendiang,
beberapa mendiang.
Henri IV Dudognon Heritage Cognac Grande Champagne.
Miras termahal di dunia.
Di lelang, harganya empat juta euro.
Diproduksi sejak tahun 1776.
Disimpan dalam tong selama lebih dari 100 tahun.
Botolnya dicelupkan ke dalam emas kuning 18 karat,
bertatahkan 4,100 berlian berkualitas tinggi.
Sekali tuang...
nilainya dua kali lipat gaji tahunanmu.
Cobalah segelas.
Cicipilah agar tahu rasanya.
Serius, Roderick.
Tak terbayangkan. Aku turut berduka...
Aku paham, Auggie. Kau berduka semua anakku meninggal.
Di mana Pak Pym? Sebaiknya bicara dengan pengacaramu.
Berapa surat perintah yang kau kirim selama ini?
Kini aku tertangkap.
Kau terpaku pada protokol.
- Wakilkan saja. - Baik. Kuwakilkan hakku kepada pengacara.
Bersulang untuk Pasal 18, Ayat 371.
Tentu.
Apa yang tak dirayakan? Kau berhasil lolos.
- Lagi. - Tak ada yang bisa lolos.
Tak sepenuhnya.
Madeline tak akan setuju.
Tanyalah sendiri. Dia ada di basemen.
Itu benar, dia bahkan lebih tangguh dariku.
Kau punya riwayatnya? Kurasa tidak.
Kau tak punya riwayat kami semua, bukan?
Maaf.
- Dari cucuku, Lenore. - Jawablah, jika perlu.
Cucu harus diutamakan.
Jangan ceramah soal nilai keluarga.
Kau sama payahnya denganku soal keluarga.
Kau kupanggil untuk berikan satu hal yang kau inginkan.
Pengakuanku.
Aku Asisten Kejaksaan AS, CA Dupin, duduk bersama Roderick Usher.
20 November 2023.
Pak Usher melepaskan hak didampingi pengacara.
Pak Dupin tak mau segelas Henri IV. Jadi, siapa yang lebih gila?
Sedang kuhangatkan.
Aku memang Roderick Usher.
Kami berada di rumah masa kecilku.
Ya, di sinilah aku dibesarkan. Kurahasiakan selama ini.
Seluruh lingkungan...
sebenarnya.
Agar bisa lihat cat mengelupas.
Gulma tumbuh.
Juga mencium bau busuk jika aku butuh semangat.
Apa sebenarnya yang kau akui?
Kau menyebutkan Pasal 18, Ayat 371.
- Itu menipu pemerintah AS... - Semua itu.
- Semua itu? - Semuanya.
Kau memberikan apa, 73 tuntutan?
Segalanya, semua itu, kuberikan semua sekarang.
Aku juga akan berikan...
bonus.
Kuceritakan kematian anak-anakku.
Aku tahu bagaimana mereka mati, Roderick. Semua orang tahu.
Percayalah, Pak Dupin, saat kuceritakan, kau akan terkejut.
Mulai dari mana?
Awalnya, kukira...
terjadi di sini...
di ruangan ini.
Kau tak akan paham tindakanku,
kecuali kau memahami kehidupan saat aku dan Madeline lahir.
Wanita yang membentuk tiap pilihan yang akan kami buat
adalah ibu kami.
Namanya Eliza.
Dia adalah sekretaris pribadi Dirut Fortunato Pharmaceuticals.
Saat itu, Dirutnya William Longfellow.
Pria yang memiliki selera tinggi.
Pengusaha yang pernah dikabarkan memberi tahu istrinya...
Mencambuk anak-anak bukan tindakan kejam.
Seperti bistik keras, makin sering dipukul
akan makin empuk.
Untuk alasan yang tidak kami pahami saat itu,
kami dilarang mendekati rumah Longfellow.
Itulah salah satu aturan ibu kami yang paling tegas.
Namun, sebagaimana sifat Madeline, dia bersikeras kami melanggarnya.
Mengintai! Memanjat pagarku!
Sudah kularang ke sini. Kita sudah setuju.
- Maafkan aku. - Lepaskan lengannya.
- Sayang? - Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Hanya ada bocah mengintip.
Maaf, Bu. Tak akan terulang.
Eliza? Apa dia baik-baik saja?
- Ya. - Bukan luka serius. Kita bahas Senin.
Pastikan berkas Emory itu ada di mejaku saat aku tiba.
Ya, Pak Longfellow.
Madeline benci Longfellow.
Entah bagaimana dia tahu.
- Madeline. - Dia selalu tahu.
Jangan dekati rumah Pak Longfellow.
- Kami mau lihat... - Kau tahu aturannya, Madeline.
Seperti Allah Bapa di Surga
yang mengasihi kita dari kejauhan, Pak Longfellow pun demikian.
Dia kejam.
Dia sulit dipahami.
Seperti Tuhan.
- Bagaimana kakimu? - Sakit.
Ingat kata Bunda Teresa,
"Rasa sakit dan derita bagai ciuman Yesus."
Artinya, kau sangat dekat dengannya sehingga dia bisa menciummu.
Jika rasa sakit dan derita adalah ciuman Yesus,
maka dia mencium ibuku
bertahun kemudian.
Baiklah, Bu.
- Minumlah. - Tidak!
Ibu harus minum. Kami pikir mungkin...
Harus panggil dokter, seperti di TV.
- Tidak! - Ibu, kumohon.
Yesus tunjukkan ke kita
cara sembuhkan orang sakit. Bukan pengobatan!
Di mana iman kalian?
Tubuh kalian adalah bait Allah.
Kalian mencemarinya?
Jangan katakan pikiranmu, arahkan pembicaraan.
Agar itu menjadi idenya.
Ibu melarang mengusik dia. Khususnya pria itu.
Percayalah, dia hanya bisa itu. Mari kita coba sekali lagi.
Maaf mengganggu, Pak Longfellow. Dia bekerja untukmu
sangat lama, hampir 20 tahun, kami pikir kau ingin tahu...
Keadaannya memburuk.
Kami tahu kau sangat baik dalam membantu orang.
Dia selalu bilang kau bisa memindahkan gunung,
meyakinkan siapa pun.
Orang yang paling cerdas.
Kami bertanya, mungkin kau punya ide.
Mungkin kau bisa membujuknya.
Maaf. Kalian ke rumahku
agar aku membujuk ibumu untuk menemui dokter?
Dia tak mau minum obat apa pun.
Tak mau menemui dokter. Dia sangat kesakitan.
Jika kau bisa membantunya,
beri tahu dia harus apa, mungkin dia patuh.
Dia tak mau dengarkan kami. Namun, kau...
Maksudku...
Dia mencintaimu.
- Apa katamu? - Itu yang bisa kau lakukan. Untuk dia.
Untuk kami.
Aku tidak paham maksud kalian. Paham?
Eliza itu pekerja yang baik selama ini, tetapi dia sudah tak mampu bekerja, bukan?
Sekarang bawa sindiran kalian, sindiran palsu kalian,
bawa kesedihan kalian, dan pergilah dari rumahku.
Apakah itu...
Itu anak-anak Eliza?
Kita harus apa?
Kita tahu larangannya.
Kita harus memanggil polisi.
No comments yet. Be the first to leave one.