Les 200 premières lignes.
Lewat sini.
PERGURUAN TINGGI LUDLOW
Maaf sekali. Aku... Maaf.
- Aku sedang melihat pria itu. - Pria yang mana?
Dia sudah tak ada di sana. Dia tepat... Entahlah.
- Seperti apa dia? - Dia basah.
Dia pria yang basah?
Profesor Shepard menyuruh menunggu di depan Aula Cabot.
Apa dia bilang berapa lama? Bukankah seharusnya kita mulai...
Baiklah, aku hanya akan berdiri di sini.
Kumis yang bagus, Berandal.
- Aku bisa mendengarmu. - Ya, aku tahu.
Tidak, aku tak tahu. Maafkan aku.
- Pak Russo. - Ya. Greg saja.
Profesor Shepard.
- Dylan. - Dylan. Baik.
- Baik. - Hei. Terima kasih, Eric.
Eric menjemputku dengan baik. Dia sudah pergi.
- Kau siap beraksi? - Tidak.
BINCANG-BINCANG BERSAMA GREG RUSSO
Menjijikkan. Itu aku.
- Aku tak suka acara semacam ini. - Itu kau.
Aku menjadi sangat sadar diri dan aku tak bisa... Aku tak bisa...
Celaka. Kau tak bisa membaca?
Jika kau menemukan kata yang sulit, ucapkan saja.
Aku menulis buku yang seharusnya kau baca di pantai.
Bukunya ringan. Itu menyenangkan.
Karakter yang kau suka bercinta
sedangkan yang tak kau suka, wajahnya ditembak.
Di perguruan tinggi yang kaku seperti ini
mereka tak mencari kesenangan, mereka mencari kedalaman.
Aku mengajar tentang sajak Bad Bunny.
Kau akan baik-baik saja.
Apa itu Bad Bunny?
- Mari kita lakukan. - Baiklah.
"Rooster tak bermaksud menembak wajah Eduardo, tapi itu dia.
Satu lubang peluru sempurna tepat di bawah matanya.
Malam itu, Rooster tertidur di kursi pantai.
Untungnya, hal pertama yang dia lihat saat bangun adalah Margot
tersenyum sambil menuju ke arahnya pada pagi hari yang panas."
MAI-TAI MEMBUNUH GREG RUSSO
Lihat? Tidak terlalu buruk.
Baik, kita punya waktu untuk beberapa pertanyaan.
Baiklah. Ronni, silakan.
Pak Russo, pertama, terima kasih telah datang dan meluangkan waktu.
- Dengan senang hati. - Sungguh. Terima kasih.
Terima kasih. Aku menghargainya.
- Apa pertanyaanmu? - Kenapa kau membenci wanita?
Aku tidak... Itu cara menyenangkan untuk memulai.
Jawaban mudah. Aku tak membenci wanita.
"Mangga adalah rasa favorit Rooster, setelah Margot itu sendiri."
Kau membandingkan rasa alat kelamin wanita dengan es loli.
Aku tak sadar aku melakukan itu.
Kau juga bilang aromanya seperti keik ulang tahun.
Apa yang kau pikirkan saat menulis itu?
Aku pasti lapar.
Jadi, begini.
Aku tak menganggap Margot sebagai objek seksual.
Ya, dia dan Rooster bercinta beberapa kali...
Enam belas kali.
Bagus. Kau menghitungnya.
Maksudku, 17, jika termasuk seks oral.
Harus dimasukkan, bukan?
Ya. Mari kita masukkan itu.
Asal tahu saja
karakter Margot berdasarkan wanita yang pernah kunikahi.
Jadi, ya, dia seksi dan cantik, tapi dia juga cerdas dan berani.
Itu menguatkan pertanyaanku.
Adegan saat Margot menyelamatkan Rooster
dari penyelundup narkoba?
Tepat. Dia sangat berani saat itu.
Terutama karena dia melepas bikininya dan melakukannya telanjang dada.
Ya, dia harus membuat tourniquet.
Apa pertanyaanmu?
- Itu seksi. - Keren.
Baiklah. Pertanyaan bagus. Ada lagi?
Ronni, giliranmu sudah.
Hei, Cristle. Apa dia sudah kembali?
Dia di sini. Dia sangat bersemangat.
Astaga.
Maksudku, astaga.
Luar biasa.
Aku tak yakin kau sudah bertemu dengan rektor kami, Walter Mann.
Aku adalah penggemar, tapi aku suka caramu menangani Ronni.
- Semoga dia tak patah semangat. - Siapa peduli?
Tidak ada yang membuat anak-anak ini patah semangat. Biar kuberi tahu.
Hidup itu berat
tapi tak ada yang kita ajarkan kepada anak-anak ini.
Ini di luar kendali, bukan?
Sebenarnya, menyegarkan bahwa anak muda...
Terima kasih, Cristle. Kau sudah selesai.
Pergilah. Tolong beri tahu Dekan Riggs
- temui aku di pusat kebugaran. - Baiklah.
- Terima kasih telah menoleransiku. - Kita tak berbicara.
- Sampai jumpa, Greg. - Dia tampak baik.
"Crissle", ya? Tanpa T?
- Dengan huruf T. - Dengan huruf T.
Dulu perguruan tinggi seni liberal
merupakan tempat yang aman untuk pikiran bebas, Greg.
Kapan aku dan kau menjadi orang jahat?
Amin. Apa?
Populisme tak terlalu populer di tempat ini.
Misalnya, Dylan.
Aku menyayanginya, tapi tak heran dia belum membaca buku-bukumu.
- Apa yang kau lakukan? - Tidak apa-apa.
Sebenarnya, aku juga belum membaca sajak-sajakmu.
Lucu, dalam surelmu, katamu, kau suka sajak Dylan.
Benar. Aku menyukainya. Aku sudah membaca semuanya.
Aku hanya tak ingin membuatnya merasa tak enak.
Senang? Kau membuat kami berdua canggung.
Tidak disengaja. Hanya Walt bersikap apa adanya.
Dylan, bersambung.
Greg, hitung sampai sepuluh, lalu bergabung denganku.
Ya. Dia ingin kau menghitung sampai sepuluh
dan tidak, aku tak tahu kenapa.
Baik.
Aku akan membaca buku-bukumu.
Tidak perlu, jangan khawatir.
- Senang bertemu denganmu, Greg. - Senang, kau, aku juga.
Baik.
Apa yang kau lakukan?
Baiklah.
REKTOR
- Astaga. - Itu belum delapan, Greg.
Kau butuh sepuluh atau 20 hitungan lagi?
- Biar kutebak apa yang kau pikirkan. - Aku ragu kau bisa.
"Kebanyakan rektor kampus adalah kutu buku penyendiri
tapi pria ini berotot"?
Memang itu yang aku pikirkan.
Aku juga akan menerima, "Astaga."
Kau tahu rahasiaku?
Sauna panas, lalu berendam air dingin setiap hari.
Endorfin yang sama seperti saat mengonsumsi kokaina
tapi bertahan selama dua jam, bukan sembilan menit.
- Ditambah... Kemarilah. - Mendekat?
Itu melepaskan lemak cokelat.
Kau harus melepaskan lemak cokelat itu.
- Aku tahu kau akan mengerti. - Aku senang kau berpikir begitu.
Dengar, aku ayah yang buruk jika tak menanyakan kabar Katie
dan aku tahu kau mungkin sudah dengar tentang dia dan Archie.
Kau pergi ke kampus mana pun di Amerika
tak ada pernikahan antara dua anggota fakultas
yang bertahan lebih dari 1,5 tahun.
Aku tak percaya itu benar.
Itu mungkin tak benar secara faktual, tapi semangatnya benar.
Bagaimana denganmu?
- Kau pernah berpikir untuk mengajar? - Aku? Tidak.
Tidak. Tidak juga. Aku tak kuliah.
- Siapa peduli? Itu dilebih-lebihkan. - Sungguh? Baiklah.
Aku masih mencari penulis tetapku.
Katakan saja, pekerjaan itu milikmu.
- Tidak... - Jangan jawab sekarang.
Beri aku jawaban sebelum kau pergi.
Aku ingin kau keluar dan biarkan kampus ini menyihirmu.
- Menyihirku? - Ya, Sayang.
Sementara itu, aku akan angkat beban di pusat kebugaran.
Kau mau ikut?
Tidak, terima kasih. Aku akan menemui anakku.
Ayah yang baik.
Beri tahu Katie jika butuh skandal seks kampus
untuk membawa ayahnya kemari...
- Sepadan. - Aku mungkin tak akan bilang begitu.
Terima kasih. Baik.
Baiklah.
- Hei, Greg? - Ya.
- Senang kau di sini. - Senang bertemu denganmu.
Dengan teratai airnya, Monet mengabaikan tradisi
dan fokus pada permukaan kolam di rumahnya di Giverny.
Indah, bukan? Sulit dipercaya, tapi sebenarnya, konservator...
merestorasi lukisan itu dengan korek kuping dan ludah.
Baik, kalian bisa mengingat berita yang agak menjijikkan itu dan keluar.
Tetapi ada makalah yang dikumpulkan hari Senin.
Tetapi ada pesta K akhir pekan ini.
- Apa itu pesta K? - Kau tak mau tahu.
Aku tak mau tahu. Baik.
Jika merasa butuh waktu tambahan untuk makalah kalian, itu ayahku.
Berinteraksi dengan orang asing membuatnya sangat tak nyaman.
Jadi, jika kalian ingin waktu tambahan
tatap matanya dan katakan kalian mencintainya, ya?
Tidak, tolong jangan lakukan itu.
- Aku sangat mencintaimu. - Baik.
Sampai jumpa.
Kau tahu apa itu lemak cokelat?
Ayah, aku senang kau di sini, tapi kau tak perlu memeriksaku.
Aku tak memeriksamu. Mereka memintaku datang dan membaca.
Ayolah, Ayah. Kau benci tempat ini. Mereka sudah berulang kali memintamu.
Akui saja.
Aku tak mau mengakuinya karena kau akan marah.
Semua orang tahu.
- Tahu apa? - Tentang Archie. Semua orang tahu.
- Ini seperti akuarium. Dia tahu. - Dia tak tahu.
Hei, permisi.
Kau tahu suamiku meninggalkanku untuk meniduri mahasiswa S2, bukan?
Aku...
Jawab dengan jujur, dan aku berjanji momen ini akan berakhir untukmu.
- Ya. - Terima kasih.
Sama-sama.
- Lihat? - Baiklah.
Bagian terburuknya adalah semua orang terus bertanya apa yang terjadi.
Entah apa yang terjadi.
No comments yet. Be the first to leave one.