The first 200 lines.
Kode Hitam: Pasien terlalu banyak hingga rumah sakit kekurangan daya.
Rata-rata IGD mengalami kode hitam lima kali dalam setahun.
RS Angels di LA mengalaminya 300 kali setahun.
Ada dua korban kecelakaan kendaraan dalam perjalanan.
Leanne.
Leanne.
Kau bisa mendengarku? Halo?
-Maafkan aku. Apa? -Kau mencium bau roti hangus?
-Tidak. -Berarti kau tidak aneurisma.
Dengarkan aku. Kuminta kau bersiaga.
Mereka akan membawa dua anak laki-laki bersaudara.
-Yang lebih tua tak bisa bernapas. -Baik.
Aku tak mau katakan yang sudah jelas,
tapi kode hitam sudah berlangsung selama 36 jam.
Aku tahu ini tidak baik,
tapi aku harus mengirim dokter magang bekerja lebih lama.
Sejak kapan kau mencemaskan itu?
Aku bosnya, jadi, aku harus pura-pura untuk khawatir, 'kan?
Mereka masih anak-anak dan akan baik-baik saja.
-Bagaimana denganmu? -Ada apa denganku?
Kau sudah bekerja 13 hari berturut-turut, Leanne.
-Sama-sama, Mark. -Gagal upaya intubasi tiga kali.
-Kau sudah coba pipa kombinasi? -Sudah, tapi udaranya bocor.
Maka cobalah sungkup laring dengan penutup yang kuat.
Lebih baik lagi jika pakai sungkup laring untuk itubasi.
-Jantungnya berhenti! -Mulai lakukan kompresi.
-Di mana kau? -Hanya lima menit dari lorongmu.
Baik. Aku butuh dua ranjang di sana!
Pria 45 tahun jatuh dari jalur truk
dan mengeluhkan sakit di pinggung juga punggung.
Mungkin memar di dada dan patah di bagian rusuk serta panggul.
-Apa napasnya normal? -Apa ada yang akan menanganiku?
Tampaknya napasnya normal.
Dia butuh obat penahan sakit dan pemeriksaan benturan benda tumpul.
Ayo bawa dia ke kamar pasien.
-Selamat pagi, dr. Leighton. -Sudah pagi?
Pasien ini butuh transportasi.
Mobil dalam perjalanan. Mereka butuh kita.
-Apa aku sempat ke kamar mandi? -Aku memakai popok dewasa.
Pasien ini butuh pekerja sosial. Hanya bergurau.
Tampaknya kondisinya memburuk.
Tekanan darahnya menurun.
Aku butuh rontgen panggul,
pemeriksaan trauma awal, dan delapan butir morfin.
Jangan lupa sabuk panggul. Kau harus menjaganya tetap stabil
untuk berjaga-jaga itu dislokasi panggul.
Aku takkan lupa. Terima kasih, Mario.
-Bagaimana dengan memar dada? -Dia mengalaminya selain patah rusuk.
Aku akan berfokus pada itu.
Teori kerongkongan, pernapasan, dan sirkulasi.
Percuma saja panggul selamat jika salah satunya patah.
Lihatlah kita. Sebagai dua dokter magang
yang belajar hal serupa di jurusan kedokteran.
Tekanan darahnya masih terus turun.
Aku butuh USG panggul dan empat kantong darah O negatif.
Aku tak sempat mencocokkannya.
Jika aku kau, aku akan lebih cemaskan trauma toraks-nya
-dari pendarahan dalam panggul. -Aku mencemaskan semuanya.
-Siapa yang datang? -Ada dua bersaudara. Kondisi buruk.
Ayo! Cepat!
-Patrick! -Pria 21 tahun,
beberapa kelainan bentuk di dada.
Kalian harus selamatkan saudaraku! Kumohon!
Tenang, Pak. Kami akan menolongnya.
Positif pneumonia. Dokter Pineda! Sebelah sini!
Jangan hentikan kompresi.
Ayo lakukan intubasi kepadanya sekarang.
Bagaimana saudaraku?
Patrick! Katakan sesuatu!
Kau bisa mendengarku? Apa dia baik-baik saja?
-Kau tak boleh bergerak. -Patrick!
Diberikan satu epi, bikarbonat, dan NS.
-Tolong urus ini. -Berikan sepuluh mg infus morfin.
-Aku sudah melewati pita suara. -Napas terdengar bilateral.
Jangan berhenti. Lanjutkan kompresi, dr. Pineda.
Patrick!
Memar bekas sabuk pengaman. Kesimpulan apa yang kau dapat?
Kemungkinan besar ada luka organ dalam.
-Tolong USG perutnya. -Ayolah. Beri aku tanda.
Lanjutkan CPR.
-Ayolah. -Berbaring dan jangan bergerak.
-Patrick! -Tekanan darah menurun.
Dia stabil sekarang. Tekanan darah 60 per 40.
-Ada apa dengan orang ini? -Jantungnya akan berhenti.
Pinggulnya bersih. Tak terlihat ada darah.
Itu karena masalahnya ada di bagian lain.
Patah tulang panggul dan pendarahan dalam
berarti pendarahan retroperitoneum. USG tak selalu menemukannya.
Jantungnya berhenti.
-Ini pasienmu. Kau harus bertindak. -Mereka hanya punya dua kantong.
Mulai lakukan kompresi. Gantung keduanya.
Buka yang lebar dan alirkan bersamaan.
-Apa yang kau lakukan? -Pinggulnya tidak stabil.
Pinggulnya lunak saat kita mengikatnya.
Jelas ada pendarahan di sana.
Aku tak percaya dia mengalami dekompensasi secepat ini.
Kemungkinannya lebih besar ini adalah trauma toraks,
pendarahan nadi interkostal, atau ada lubang di jantungnya.
Baik, ayo lakukan USG pada jantungnya.
Apa kau sinting? Tidak sempat.
Kau ingin aku bagaimana? Membedah dadanya
di kamar pasien tanpa pengawasan?
Dengan cara apa lagi kita bisa hentikan pendarahannya?
Ini rumah sakit dan itu tugas kita.
Kita hanya dokter magang. Torakotomi hanya dilakukan
untuk kasus terlangka saat tak ada pilihan lain.
Apa ada pilihan lain yang tak kuketahui?
Waktumu sekitar empat menit untuk selamatkan nyawa orang ini.
Tak ada denyut jantung dan memar dada
adalah indikasi keras untuk membedah dan cari masalahnya
atau dia akan mati. Apa yang kita bicarakan di sini?
Baik, aku mengerti. Aku mendengarmu, tapi...
Berhentilah berpikir! Itu membawamu dalam masalah.
Ini pekerjaanmu. Kau harus percaya pada dirimu.
Angus, ambil keputusan. Tiga menit.
-Jika kau tak mau, aku saja. -Tidak.
Aku akan melakukannya dan kau akan membantuku.
Ayolah. Beri aku tanda.
Ada banyak cairan yang mengalir di perutnya.
Sepertinya darah.
Aku harus melihat saudaraku.
Tidak bisa sekarang. Kau harus menjalani rontgen.
Patrick!
Pasien kalian siap untuk CT?
-Kami menuju ke sana. -Dua meja besar
di lab trauma panel, dada dan rontgen panggul.
Ayo jalan.
Ayo keluar dari sini.
-Ayo jalan. -Ada apa dengan saudaraku?
Katakan ada apa dengan saudaraku!
Patrick!
Dokter Pineda, kau boleh berhenti sekarang.
Kita tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Kau tak bisa memacu jantung yang berhenti. Kenapa begitu?
Kau tak bisa memicu respon pada miokardium yang mati.
Benar.
Ada yang punya saran?
Baik, akan kusimpulkan.
Waktu kematian, pukul 07.01.
Kembali bekerja, Semuanya.
Jantungnya berdenyut.
Kapan jantungnya mulai berdenyut lagi?
Aku tak tahu.
Alasan kuat untuk melakukan ini, yaitu "tak ada denyut jantung"
sudah tak berlaku lagi.
Benar.
Kita membedahnya tanpa alasan.
Mungkin denyutnya memang ada dan kau tak merasakannya.
-Mungkin seharusnya kau lakukan USG. -Tutup mulutmu.
Astaga!
Mereka membedah dada pria malang itu
dan berharap menemukan kolam renang darah,
tapi justru menemukan anatomi normal
dan jantung yang berdenyut dengan bahagia.
Torakotomi kering. Menyebalkan sekali, 'kan?
Banyak atasan yang merasa kesal. Aku berani menjamin itu.
Sudah seharusnya.
Kini pasien kalian perlu dokter bedah ortopedi
untuk memperbaiki panggulnya dan dokter bedah toraks
untuk membersihkan dada yang telah kalian bedah.
Juga pengacara untuk menyuruh kita semua menjalani kolonoskopi.
Apa yang kalian pikirkan?
Bicaralah, dr. Leighton. Ini pagi yang sangat sibuk.
Pasien datang dengan patah tulang panggul,
dada, dan rusuk. Jantungnya berhenti.
Kupikir mungkin itu trauma toraks atau pendarahan nadi interkostal.
"Mungkin"? Kau kesulitan meyakinkan dirimu soal ini.
Aku mencari bantuan, tapi kita sedang mengalami kode hitam, jadi...
Pasien membutuhkan dokter. Apa kau seorang dokter?
Apa kau pernah terpikir melakukan USG ke paru-paru dan jantungnya?
-Aku mau melakukannya, tapi... -Apa?
Kami pikir takkan sempat.
"Kami"?
Pasien siapa itu?
Pasienku.
Tunggu. Bagaimana jantungnya bisa kembali berdenyut?
Kami memberinya dua kantong darah.
Dia diinfus pada saat bersamaan.
Ternyata patah tulang panggul yang menyebabkan pendarahan.
Setidaknya kau melakukan sesuatu yang benar.
-Ya. -Kita tak bisa buang
waktu lebih banyak untuk ini.
Ini hari kedua kode hitam.
Dokter Savetti, kembalilah ke ruang trauma satu.
Dokter Leighton, uruslah antrean pasien.
Kita harus kosongkan lebih banyak ruang.
Benarkah? Kau ingin aku pergi ke ruang tunggu
Benar. Di luar sana lebih aman.
Aku pernah membuang testis yang salah.
Jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik.
Ada nomor ibunya di ponselnya.
Namanya Margaret O'Brien. Tinggal satu jam dari sini.
Dia kehilangan seorang putra,
tapi satu lagi masih bertahan. Dia harus segera kemari.
-Aku harus bilang apa, Jesse? -Suruh saja dia kemari.
Kebijakan rumah sakit melarang
mengatakan informasi spesifik melalui telepon.
Aku tahu.
Perkenalkan dirimu.
Tanyakan siapa lawan bicaramu.
No comments yet. Be the first to leave one.