The first 200 lines.
"Pimp. Mono Choi Yeong Ho Berbagi Kehangatan."
"Dan Berbagi Kebaikan dengan Menjadi Sukarelawan."
"Menjelang Hari Raya Imlek, industri konstruksi."
"Terus Berbagi Kehangatan dengan Tetangga yang Membutuhkan."
"Mono Terus Memajukan Proyek-Proyek Besar di Luar Negeri."
"Serangkaian Usaha Luar Negeri yang Sukses."
"Dalang di Balik Tabir, Rencana mencurigakan Pimpinan Choi."
"Dalang di Balik Tabir, Rencana mencurigakan Pimpinan Choi."
Choi Yeong Ho meraup banyak uang dari bisnis konstruksi luar negeri.
Sejak merintis dari nol hingga sekarang,
dia tidak punya musuh besar.
Dia memang lihai dan cakap dalam berbisnis.
Walaupun dia yang mendirikan perusahaan itu,
sejak beberapa tahun lalu, manajemennya dipegang Yu Min Ho,
dan kabarnya dia hanya memegang hak keputusan akhir.
Tapi banyak yang berpendapat dia masih memegang kendali penuh,
dia memang manusia bermuka dua.
Terasa di berbagai kesempatan bahwa dia sengaja
meminimalkan aktivitasnya di Korea.
Karena dia sangat misterius dan sering berada di luar negeri,
mendekatinya saja sudah mustahil.
Aku pernah dengar kalau pesawat sudah seperti rumahnya.
"Kim Soo Yeon."
Ibu.
Ibu, aku pulang.
Istrinya meninggal beberapa tahun lalu.
Sejak saat itu, dia jadi lebih lama tinggal di luar negeri.
Dia punya seorang putri yang kuliah di luar negeri.
Mungkin seumuran denganmu.
Anggap saja semua ucapan anak itu tidak ada yang mustahil.
Sepertinya dia sangat terobsesi karena itu anak satu-satunya.
Rumah yang ini.
- Rumah ini seharga 5 juta dolar. - Seperti yang sudah kukatakan,
Choi Hee Soo sudah mendapatkan rumah di Hanyeon-dong.
Kamu harus tahu persis di mana lokasinya.
Tentu saja.
Dia lama tinggal di luar negeri, jadi tak banyak kenalan di Korea.
Dia akan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
Meskipun dia beli gedung mahal untuk dijadikan studio,
para tetangganya berkata belum pernah melihatnya.
Sifatnya tertutup, jadi mendekatinya pasti tidak akan mudah.
Sudah pasti dia tidak mudah percaya pada orang lain.
Ternyata buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
Ayah dan anak sama saja.
"Pameran Tunggal Choi Hee Soo."
"Pameran Tunggal Choi Hee Soo."
Karya mana yang paling berkesan bagi Anda?
Ini pameran tunggal pertama aku di Korea
dan aku coba tuangkan emosiku ke dalam setiap karya.
Dia mengambil jurusan seni lukis,
dan namanya cukup terkenal di kalangan seniman.
Sepertinya kemampuannya luar biasa.
Dia tidak seperti citra anak orang kaya
yang hanya bersenang-senang tanpa pekerjaan serius.
Satu-satunya cara untuk bisa bertemu dengan Choi Yeong Ho
adalah dengan mendekati putrinya dan mencari kesempatan.
Karyaku mungkin agak ambigu, tapi karya "Tinggal Diam" ini...
Aku tidak melihat ada celah lain. Sama sekali.
Karya "Tinggal Diam" adalah tentang sisi terdalam batinku.
Masalahnya baru akan dimulai sekarang.
Pikirkan cara pendekatan terbaik dengan hati-hati, lalu bertindaklah.
Dari orang kaya itu
pasti banyak sekali gerombolan yang ingin memanfaatkannya.
Begitu kamu terlihat seperti mereka, kesempatanmu akan hilang. Selamanya.
Setelah wawancara ini selesai, silakan melihat-lihat.
- Terima kasih atas waktumu. - Terima kasih.
Terima kasih.
Halo.
Aku sempat berpikir
targetku adalah Choi Yeong Ho, tapi apa putri kesayangannya,
Choi Hee Soo, juga menjadi bagian dari target?
Untuk pria yang membunuh keluarga orang lain
tapi melindungi keluarganya sendiri,
itu mungkin akan menjadi balas dendam yang setimpal.
Kamu menyukai lukisan ini?
Karena itu, aku mendapat sebuah ide.
- Terima kasih. - Mungkin
kematian Choi Yeong Ho
akan lebih kejam dari yang kubayangkan.
Karena yang namanya balas dendam setimpal itu
tidak ada.
"Balas dendam."
Cepat kemari, Putriku!
Ya, aku pulang.
Kenapa putri Ayah lesu sekali?
Apa ada masalah?
- Bukan apa-apa. - Apa?
Nona Ham Myo Jin! Ada paket untukmu.
Apa?
Ini, paket untukmu.
Ya.
"Perkebunan bunga Cheongham."
Astaga!
Astaga.
Astaga! Ini...
- Ayah! - Hei, hati-hati! Nanti terluka!
Ayah, aku sangat menginginkan ini!
Memangnya Ayah dan Ibumu tidak tahu apa yang diinginkan putri kami?
Aku akan melukis dengan sangat baik memakai ini! Asyik!
Tentu, tentu. Astaga, putriku yang manis.
Aku suka sekali!
"Perkebunan bunga Cheongham."
Ibu!
Cantik sekali.
Ada tiga kuntum bunga.
- Ini keluarga kita? - Ya.
Putri siapa yang sangat berbakat ini?
Myo Jin.
- Aku mau pergi memancing. - Oh!
Paman Meoljjeongi!
Hei, hei, nanti jatuh! Hati-hati, hati-hati!
Ya ampun.
Aku tak pernah membayangkan kita
akan berakhir seperti ini.
Diam!
Bahkan jika kamu kembali 100 kali pun,
manusia sepertimu akan melakukan hal yang sama.
Kumohon.
Kumohon!
Meskipun ingatanmu sudah kembali,
meskipun kamu sudah tahu segalanya...
Kumohon.
Seandainya kamu berpura-pura tidak tahu,
kita bisa bahagia.
Diam, dasar keparat!
Hanya karena ingatan sepele itu?
Apa pentingnya masa lalu?
Kamulah yang terperangkap dalam ingatan masa lalu.
Kamulah yang tidak bisa melupakannya.
Akan kubunuh kamu.
Baiklah.
Baiklah.
Aku juga berharap begitu.
Seandainya seseorang
bisa
menghentikanku.
Baiklah.
Mari kita pergi bersama.
Ryu Jun Ho, berhenti! Cepat!
Lepaskan tanganmu!
Sial.
Nona Ham Myo Jin. Nona Ham Myo Jin, sadarlah.
Sadarlah.
- Aku pulang. - Putriku, kamu sudah pulang?
Ibu sudah membelikanmu camilan.
Apa ini?
Kenapa lengan Ayah?
Ini...
Kamu sudah ajak teman-teman klub seni untuk main ke sini?
Ayah akan traktir makanan enak, jadi ajak mereka semua kemari.
Kalian bisa main dan menggambar pakai komputer itu, 'kan?
Aku malu, jadi aku tidak mau.
Malu?
Aku tak punya kamar. Aku tak mau mengajak teman-temanku.
Kamar...
Tapi, Ayah, kenapa lengan Ayah bisa terluka?
Ini...
Tadi ayah...
Saat bekerja di ladang...
Rumah kita pasti terlihat memalukan di mata teman-temannya, ya.
Makanya sudah kubilang, jangan suruh dia ajak temannya.
Kamu tidak peka.
Benar juga.
Myo Jin
sudah seharusnya punya kamar sendiri.
Tentu saja.
Putri kita sekarang sudah menjadi dewasa.
Dengan kondisi kita
kapan kita bisa mendapatkan rumah dengan kamar yang layak?
Sabar saja. Kali ini,
siapa tahu kita menang undian rumah sewa?
Tahun lalu saja tidak dapat,
mana mungkin tahun ini berhasil?
Bicara seperti itu akan membawa sial.
Pokoknya, kita harus memberikan Myo Jin kamar sendiri.
Meskipun begitu, Myo Jin kita sangat ceria.
Jadi aku merasa lega.
Astaga.
Apa dia benar-benar seceria itu?
Dia hanya tidak mengatakannya saja.
Kamu pikir aku tidak tahu?
Betapa dewasanya pemikiran putri kita.
Kalau mau berangkat kerja subuh, cepatlah tidur.
Tidak perlu bicara yang lain.
Jawab saja itu.
Apakah kamu yang membunuh ibu dan ayahku?
Myo Jin!
Kamu merindukan orang tuamu?
Apa kamu baru akan puas setelah melihat darah?
Kalau mau balas dendam, sadarkan dulu pikiranmu.
Cobalah pulihkan ingatanmu bagaimanapun caranya.
Semua yang kusampaikan padamu.
Sekalipun kamu mengalami kecelakaan yang parah,
hal itu...
Hal itu bukanlah sesuatu yang bisa dilupakan.
Aku sudah mencoba ratusan kali, tapi tidak ada gunanya.
Hal terakhir yang bisa kulakukan adalah menemuimu.
Pengakuanmu bahwa kamu tak sengaja menyulut api itu tidak benar!
Sesuatu yang kusembunyikan bahkan saat aku masuk penjara...
Kebenaran tentang kecelakaan itu yang hanya kukatakan padamu.
No comments yet. Be the first to leave one.