The first 200 lines.
Bagaimana kalau kita jalan-jalan cari angin?
Aku ada waktu luang pagi ini.
Di ponsel pemberianmu,
tidak ada satu nomor pun.
Benar-benar kosong.
Persis sepertiku.
Kamu kehilangan tas berisi ponsel dan dompet lamamu.
Sepertinya hilang di minimarket tempat pencuri kecil itu bekerja.
Aku sudah melaporkannya, jadi, kita pasti akan dihubungi.
Jika aku pernah melakukan kejahatan,
katakan saja, tidak apa-apa.
Kamu tidak perlu memedulikan perkataan para detektif itu.
Mereka hanya bertanya untuk menjebak demi jawaban yang mereka inginkan.
Tidak. Saat aku bicara dengan mereka,
jantungku berdebar sangat kencang sampai rasanya ingin kabur saat itu.
Pasti ada alasan kenapa aku merasakan hal ini.
Myo Jin, yang terbaik adalah kamu fokus pada perawatan di rumah sakit.
Apa maksudmu dengan "yang terbaik"?
Kamu tahu apa yang terjadi padaku, bukan?
Kenapa kamu tidak jujur meski melihatku sefrustrasi ini?
Aku sudah berkonsultasi dengan Dokter Jung.
Aku bertanya padanya, demi mengembalikan ingatanmu,
bukankah lebih baik jika kamu berusaha
mengingat sedikit demi sedikit soal kecelakaan itu?
Benar.
Itu juga yang kupikirkan.
Tapi, jawabannya justru sebaliknya.
Katanya, membicarakan kecelakaan itu
justru akan berdampak negatif pada psikologis pasien.
- Itu akan memperlambat pemulihanmu. - Begitukah?
Jadi, alasanmu tidak bisa mengatakan apa pun sekarang
adalah demi kebaikanku?
Pikirkan baik-baik.
Sekarang, kondisimu berbahaya, Nona Myo Jin.
Jika tak penasaran soal ingatanmu dan hanya berfokus pada emosi,
keadaan akan makin rumit dan membingungkan.
Pemikiran itu berbahaya.
Kamu harus menganggap emosi sebagai sebuah sarana.
Sarana?
Untuk menemukan kembali ingatan, segalanya bisa menjadi sarana.
Bukan hanya perasaan, emosi, dan pikiranmu,
tapi juga semua yang ada di sekitarmu.
Sampai sejauh mana aku bisa menganggapnya begitu?
Itu masalah yang bergantung pada caramu berpikir.
Dalam sarana yang kamu sebutkan,
tunanganku juga termasuk, bukan?
Jika menurutmu begitu.
Terima kasih.
Nasihatnya, jangan percaya siapa pun sampai ingatanku kembali.
Memercayai seseorang atau tidak, itu pilihanmu,
tapi ada hal yang tidak boleh kamu lupakan.
- Apa itu? - Jika kamu tidak percaya orang,
orang lain pun tidak akan memercayaimu.
Itu bisa menjadi
penghalang terbesarku.
"Ketidakpercayaan"
H...
Hee Soo...
Choi Hee Soo...
"Sertifikat registrasi penduduk"
"Pusat layanan masyarakat Seoyeon-dong"
"Mesin anjungan mandiri"
Gahan-ro 263.
Ini hadiah.
"Institut forensik nasional"
Senjata yang dipakai dalam kejahatan ditemukan di vila Pulau Jebu.
Senjata?
Kejahatan apa?
Arah penyelidikan kita selama ini salah total.
Setelah kulihat lagi hasil autopsi awalnya,
kematian kedua korban tercatat karena kebakaran.
Tunggu, kecelakaannya sudah lama. Kenapa baru sekarang keluar?
Memangnya siapa yang akan menyangkanya?
Bahwa ada yang membunuh orang di tengah kobaran api itu.
Aku Ryu Jun Ho, seorang arsitek.
Maaf telah datang menemui Anda tanpa janji.
Hanya beberapa petinggi yang tahu bahwa aku yang menilai.
Sepertinya ada yang tidak bisa menjaga rahasia.
Jika kamu tahu tentang aku sebelumnya,
berarti kamu juga tahu syaratnya yang akan diumumkan.
"Harus menjadi pemegang lisensi arsitek domestik"
"dan pengalaman sepuluh tahun lebih di bidang desain arsitektur."
Namun,
aku tidak memenuhi kualifikasi pada bagian itu.
Ini adalah proyek pembangunan museum terbesar se-Asia.
Proyek ini tampaknya terlalu besar untuk ditangani hanya dengan ambisi.
Tentu saja, aku mengerti jika Anda berpikir demikian.
Seperti yang mungkin kamu ketahui,
sebagian besar arsitek ternama sejak abad ke-20 pun
baru berkarya terbaik setelah usia 40-an.
Akan ada banyak kesempatan lain untukmu di masa depan.
Jika Anda memberikan kesempatan itu kepadaku,
kujamin
aku yakin bisa membuat Anda terkesan.
Aku akan membuat rancangan desain untuk museum ini.
Dari semua museum yang pernah Anda lihat dan ingat,
jika ada sedikit saja kemiripan, aku akan langsung mundur.
Semua orang juga bersiap dengan tekad seperti itu.
Saat penilaian, aku akan mengajukan rancangan desain yang berbeda.
Seperti tadi, jika itu bukan museum yang belum pernah Anda lihat,
tolong langsung eliminasi aku.
Mohon pertimbangkan ini baik-baik. Sepertinya ini terlalu dini.
Para arsitek kelas dunia yang Anda sebutkan itu pun
pasti pernah melalui masa sepertiku,
saat mereka berjuang keras untuk membuktikan diri.
Pasti ada satu orang yang mengakui usaha mereka. Aku sekarang pun
sangat membutuhkan satu orang itu.
Ryu Jun Ho?
Ya.
Apa nama perusahaanmu?
Mono Architecture.
Mono?
Mono yang kukenal itu?
Hei! Sudah berapa lama kita tidak bertemu?
Sudah lama, ya.
Aku benar-benar sakit hati dengan kalian.
Kenapa kalian berdua tiba-tiba memutus kontak bersamaan?
Aku benar-benar kecewa.
Bukan begitu.
- Aku sakit dan istirahat. - Sungguh?
Lalu bagaimana dengan yang kaya itu?
Maksudmu Hee Soo?
Tentu saja. Siapa lagi selain kalian berdua?
Begini,
Hee Soo juga sakit, jadi, dia dirawat di rumah sakit.
Kalian begitu akrab
sampai sakit pun bersamaan.
Berarti untuk sementara, kamu akan sendirian di sanggar.
- Sanggar? - Ya.
Ya, kalian setiap hari melukis bersama di sanggar.
Kamu mau ke sana, 'kan?
Sidik jarimu bahkan sudah didaftarkan ke pintunya.
Bagaimana bisa kamu melupakan tempat ini?
Aku hanya bingung sesaat.
Sekarang aku sudah ingat lagi.
Ya, baiklah.
Aku baru pertama kali melihat lukisan ini.
Yang di sebelah kanan kamu, 'kan?
Melihat ada tulisan H di sana,
temanmu yang kaya pasti yang melukisnya.
Aku harus pergi. Kamu akan datang lagi, bukan?
Setelah selesai, apa kamu ada waktu untuk bicara denganku?
Waktu? Kenapa?
- Aku mau tanya soal Hee Soo. - Apa? Kepadaku?
Kamu yang paling akrab dengannya, kenapa bertanya padaku?
Aku benar-benar harus pergi.
Baiklah.
Tapi lukisan ini bagus sekali.
Keahlian kalian berdua memang hebat.
Kamu datang bukan karena merindukanku, 'kan?
Kenapa? Ada yang ingin kamu tanyakan kepadaku?
Benar. Aku ingat.
Hee Soo.
Kami jelas bersama.
Cepat kemari.
Hei, lucu sekali, bukan?
Tidak ada yang tahu tempat ini.
Tidak masuk akal.
Tempat seindah ini, kenapa orang-orang tidak tahu?
Jangan-jangan kamu yang melarang orang datang kemari?
Aku sungguh ingin melakukannya.
Apa tidak ada caranya?
Bicara saja dengan ayahmu untuk bangun satu vila lagi di sini.
Maka seluruh area ini akan menjadi pantai pribadi, 'kan?
Ham Myo Jin.
Kamu genius.
Ayahku pasti mau melakukan hal itu.
Benarkah?
Tentu saja.
Hei. Apa kamu bicara seperti itu karena tahu seperti apa ayahku?
Kamu terdengar seolah sudah tahu.
Aku hanya bercanda.
Jangan katakan padanya. Nanti dia pikir aku aneh.
Dia pasti belum tahu siapa aku.
Tidak.
Aku sudah menceritakan tentangmu. Ayah juga ingin bertemu denganmu.
Benarkah?
Ya. Katanya kita berlibur bersama saat dia pulang nanti.
Pasti menyenangkan. Aku juga bisa menyapanya.
Tapi, entahlah. Jadwalnya sangat tidak menentu.
Jadi, kamu sama sekali tidak tahu kapan dia akan pulang?
Ya. Kadang dia tiba-tiba pulang.
Sekarang pun tidak ada kabar kapan dia akan datang?
Hei. Kamu penasaran sekali, ya? Tentang kapan ayahku akan datang?
Kamu selalu menanyakannya setiap ada kesempatan.
Bukan begitu.
Jangan sampai hubungan baik kita jadi canggung.
Aku ingin berteman denganmu,
bukan menjadi keluarga.
Apa yang kamu katakan?
Tapi sepertinya itu akan menyenangkan juga.
Kalau kamu melahirkan adik untukku.
Aku bisa memanggilmu Ibu, kan?
- Hei! - Ibu!
- Sini kamu, hei! - Ibu, aku mau adik laki-laki!
Ibu!
Kamu kehilangan tas berisi ponsel lama dan dompetmu.
Sepertinya itu hilang di minimarket tempat kerja si pencuri itu.
Hei.
Wanita itu datang lagi.
No comments yet. Be the first to leave one.